Jumat, 05 Juni 2026

Ada sebuah kenyataan pahit yang mengganjal di dalam benak banyak orang, yaitu bahwa tidak semua orang yang mengaku dirinya Kristen adalah orang yang baik.

Kesenjangan antara pengakuan iman (profesi) dan tindakan nyata (praksis) ini kerap memicu batu sandungan, skeptisime, bahkan trauma religius. 

Kekristenan sering kali dipersempit hanya sebatas label agama belaka. Menjadi Kristen kerap dianggap selesai ketika seseorang dibaptis, rajin ke gereja, atau fasih mengucapkan jargon-jargon rohani. Ini adalah bentuk iman yang mendua.

Dalam kitab Nabi Yesaya yang kemudian dikutip Yesus dalam Matius 15:8, tertulis kritik yang sangat tajam:

"Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku."

Ketika kekristenan hanya menjadi identitas sosiologis atau budaya, "menjadi Kristen" tidak lagi berdampak pada transformasi moral. Seseorang bisa sangat ortodoks (benar dalam doktrin) tetapi mengalami kebangkrutan ortopraksis (salah dalam tindakan). Label Kristen tanpa buah Roh hanyalah sebuah topeng religius yang menyembunyikan kebusukan karakter.

Untuk memahami mengapa orang Kristen bisa berbuat jahat, kita perlu kembali pada teologi tentang manusia (antropologi teologis). Martin Luther memperkenalkan konsep Simul Iustus et Peccator, yaitu bahwa manusia yang telah dibenarkan oleh Kristus, pada saat yang sama, masih tetap seorang berdosa.

Menjadi Kristen tidak secara otomatis menghapus kebebasan kehendak manusia untuk memilih yang jahat, tidak juga membuat seseorang langsung kebal dari keserakahan, egoisme, atau manipulasi. Gereja bukanlah kumpulan "orang-orang suci yang sempurna", melainkan "rumah sakit bagi orang-orang yang terluka dan sakit secara rohani".

Tapi, status sebagai orang berdosa yang diampuni tidak boleh dijadikan sekoci penyelamat atau permakluman untuk terus hidup dalam kejahatan.

Salah satu bentuk kejahatan yang paling merusak adalah ketika agama dijadikan alat untuk memanipulasi orang lain. Seseorang yang "mengaku Kristen" bisa menggunakan ayat-ayat Alkitab, kharisma mimbar, atau status kepemimpinan gerejawi untuk melancarkan penipuan, kekerasan domestik, korupsi, atau penindasan terstruktur.

Dietrich Bonhoeffer, seorang teolog Jerman, menyebut fenomena ini sebagai bagian dari "Anugerah yang Murahan" (Cheap Grace). Yaitu, mengkhotbahkan pengampunan tanpa menuntut pertobatan, baptisan tanpa disiplin gereja, dan persekutuan tanpa salib. Ketika anugerah Allah dibuat jadi murah, kekristenan kehilangan taring moralnya, dan ruang gereja menjadi tempat persembunyian yang aman bagi para pelaku kejahatan moral.

Yesus sendiri memberikan parameter yang sangat klop dan sederhana untuk menguji iman seseorang dalam Matius 7:16: 
"Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka."

Yesus tidak mengatakan "dari kartu anggotanya", "dari seberapa keras mereka berdoa", atau "dari posisi mereka di struktur gereja". Teologi yang sehat menempatkan etika kasih di atas legalisme formal. Jika seseorang mengaku Kristen namun hidupnya menghasilkan buah penindasan, ketidakadilan, dan kebencian, maka secara teologis eksistensial, pengakuannya sedang mengalami kontradiksi performatif (apa yang dikatakan bertolak belakang dengan apa yang dilakukan).

Menghadapi kenyataan bahwa ada orang Kristen yang tidak baik seharusnya tidak membuat kita kehilangan iman pada Kristus, melainkan membuat kita kehilangan ilusi terhadap "institusi kemanusiaan" yang absolut.

Perenungan ini mengundang kita semua untuk melakukan otokritik (introspeksi ke dalam):

Apakah kita sedang menghidupi iman yang transformatif, atau sekadar menikmati kenyamanan status religius?

Apakah kehadiran kita membawa syalom (damai sejahtera), atau justru menjadi alasan mengapa orang lain enggan mengenal Tuhan?

Pada akhirnya, kekristenan yang sejati tidak diukur dari seberapa suci kita melabeli diri kita, melainkan dari seberapa besar kasih Kristus yang nyata terwujud melalui tangan dan kaki kita bagi sesama, tanpa topeng, tanpa kepalsuan.

Sudut Pandang 𝗠𝗲𝗺𝗮𝗸𝘀𝗮 𝗔𝗯𝗿𝗮𝗺 𝗠𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝗲𝗻, Kaitan Kejadian 12:1-9 dan Matius 9 :9 - 13,18 - 26

Sudut Pandang 𝗠𝗲𝗺𝗮𝗸𝘀𝗮 𝗔𝗯𝗿𝗮𝗺 𝗠𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝗲𝗻, Kaitan Kejadian 12:1-9 dan Matius 9 :9 - 13,18 - 26 Kejadian 12:1-9...