Selasa, 02 Juni 2026

Sudut Pandang tentang keberadaan Allah

Sudut Pandang tentang keberadaan Allah

PENGANTAR
Mungkin, kita perlu belajar tentang keberadaan (ontologi) Allah dari dasar untuk memahami tritunggal. Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa Allah itu esa, tetapi keesaan Allah bukan berarti Allah hanya satu Pribadi. Allah itu esa dalam hakikat-Nya sebagai Allah, tetapi tiga dalam Pribadi-Nya, yaitu Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Jadi yang esa adalah hakikat Allah: satu Allah, satu kemuliaan, satu kuasa, satu kekudusan, satu kekekalan, (Esa, Sama, Setara) . Tetapi yang dibedakan adalah Pribadi-Nya: Bapa bukan Anak, Anak bukan Roh Kudus, dan Roh Kudus bukan Bapa.
PEMAHAMAN 
Inilah inti dari pengajaran Tritunggal: satu hakikat, tiga Pribadi. Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah, dan Roh Kudus adalah Allah. Tetapi Bapa bukan Anak, Anak bukan Roh Kudus, dan Roh Kudus bukan Bapa. Mereka tidak boleh dipisahkan seolah-olah menjadi tiga Allah, tetapi juga tidak boleh dicampuradukkan seolah-olah hanya satu Pribadi yang berganti-ganti peran. Alkitab menyatakan keduanya secara bersamaan: Allah itu esa, tetapi Bapa, Anak, dan Roh Kudus sungguh berbeda sebagai Pribadi.

Ulangan 6:4 berkata, “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa.” Ayat ini menegaskan bahwa hanya ada satu Allah. Iman Kristen tidak pernah mengajarkan tiga Allah. Allah bukan kumpulan tiga ilah yang bekerja sama. Allah itu satu. Tetapi keesaan Allah ini tidak meniadakan kenyataan bahwa di dalam diri Allah yang esa itu ada Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Jadi ketika Alkitab menyebut Bapa sebagai Allah, Anak sebagai Allah, dan Roh Kudus sebagai Allah, itu bukan berarti ada tiga Allah, melainkan satu Allah yang kekal dalam tiga Pribadi.

Perjanjian Baru menyatakan hal ini dengan sangat jelas. Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Matius 28:19). Perhatikan, Yesus tidak berkata “dalam nama-nama,” tetapi “dalam nama.” Satu nama ilahi, namun disebutkan tiga Pribadi: Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Ini menunjukkan bahwa Bapa, Anak, dan Roh Kudus memiliki kesatuan ilahi yang sama, tetapi tetap dibedakan sebagai Pribadi yang berbeda.

Pada waktu Yesus dibaptis, ketiga Pribadi Tritunggal juga dinyatakan secara bersamaan. Anak dibaptis di sungai Yordan, Roh Allah turun seperti burung merpati, dan suara Bapa dari sorga berkata, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Matius 3:16–17). Di sini kita melihat bahwa Bapa bukan Anak, Anak bukan Roh Kudus, dan Roh Kudus bukan Bapa. Mereka tampil berbeda sebagai Pribadi, tetapi bekerja dalam satu kesatuan ilahi yang sempurna.

Anak jelas dinyatakan sebagai Allah. Yohanes 1:1 berkata, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Firman itu bersama-sama dengan Allah, berarti Ia dapat dibedakan dari Bapa. Tetapi Firman itu adalah Allah, berarti Ia memiliki hakikat ilahi yang sama. Lalu Yohanes 1:14 berkata bahwa Firman itu telah menjadi manusia. Ini menunjuk kepada Yesus Kristus, Anak Allah yang kekal, yang masuk ke dalam dunia menjadi manusia tanpa berhenti menjadi Allah.

Roh Kudus juga jelas dinyatakan sebagai Allah, bukan sekadar kuasa, tenaga, atau perasaan rohani. Dalam Kisah Para Rasul 5:3–4, Petrus berkata kepada Ananias bahwa ia telah mendustai Roh Kudus, lalu berkata bahwa ia bukan mendustai manusia, melainkan mendustai Allah. Ini menunjukkan bahwa Roh Kudus adalah Allah. Roh Kudus juga disebut sebagai Pribadi karena Ia mengajar, memimpin, bersaksi, menginsafkan, menghibur, dan dapat didukakan. Yesus berkata bahwa Roh Kudus akan mengajarkan segala sesuatu dan mengingatkan murid-murid kepada semua yang telah Ia katakan (Yohanes 14:26). Pekerjaan seperti ini bukan pekerjaan benda mati, melainkan pekerjaan Pribadi ilahi.

Perjanjian Lama juga sudah memberi data bahwa Allah yang esa itu bukan Allah yang hanya satu Pribadi. Memang penyataan tentang Tritunggal menjadi paling terang dalam Perjanjian Baru, tetapi benih-benihnya sudah ada sejak Perjanjian Lama. Dalam Kejadian 1:1–3, Allah menciptakan langit dan bumi, Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air, dan Allah mencipta melalui firman-Nya. Di sini kita sudah melihat Allah, Roh Allah, dan Firman Allah hadir dalam karya penciptaan. Perjanjian Baru kemudian menjelaskan bahwa Firman itu adalah Kristus, dan segala sesuatu dijadikan oleh Dia (Yohanes 1:3; Kolose 1:16).

Ini berarti Anak tidak baru ada ketika Yesus lahir di Betlehem. Yang lahir di Betlehem adalah Anak Allah yang kekal mengambil natur manusia. Sebelum menjadi manusia, Anak sudah ada bersama Bapa dalam kekekalan. Yohanes 17:5 mencatat doa Yesus: “Permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.” Ayat ini menunjukkan bahwa Anak sudah memiliki kemuliaan bersama Bapa sebelum dunia diciptakan. Jadi Anak bukan ciptaan, bukan nabi biasa, dan bukan makhluk tertinggi. Anak adalah Allah yang kekal.

Perjanjian Lama juga menubuatkan Anak sebagai Mesias ilahi. Mazmur 2:7 berkata, “Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini.” Mazmur 2:12 juga berkata, “Ciumlah kaki-Nya dengan gemetar.” Ini menunjukkan bahwa Sang Anak menerima penghormatan yang sangat tinggi sebagai Raja yang diurapi Allah. Mazmur ini bukan hanya berbicara tentang raja biasa, tetapi menunjuk kepada Mesias, yaitu Kristus, yang akan memerintah atas bangsa-bangsa.

Mazmur 110:1 juga berkata, “TUHAN berfirman kepada tuanku: Duduklah di sebelah kanan-Ku.” Yesus sendiri memakai ayat ini untuk menunjukkan bahwa Mesias bukan hanya anak Daud secara manusia, tetapi juga Tuhan atas Daud (Matius 22:41–46). Artinya, Perjanjian Lama sudah menyatakan bahwa Mesias memiliki kedudukan yang melampaui manusia biasa. Ia datang dari garis keturunan Daud menurut tubuh, tetapi Ia juga adalah Tuhan yang kekal.

Daniel 7:13–14 juga memberi gambaran tentang “seorang seperti anak manusia” yang datang dengan awan-awan dari langit dan menerima kekuasaan, kemuliaan, serta kerajaan yang kekal. Dalam Alkitab, awan kemuliaan sering berkaitan dengan kehadiran Allah. Maka Anak Manusia dalam Daniel bukan sekadar manusia biasa, tetapi Pribadi surgawi yang menerima pemerintahan kekal. Yesus kemudian memakai gelar “Anak Manusia” untuk diri-Nya, menunjukkan bahwa nubuat itu digenapi di dalam Dia.

Roh Kudus juga sudah ada dan bekerja dalam Perjanjian Lama. Kejadian 1:2 berkata bahwa Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Mazmur 104:30 berkata, “Apabila Engkau mengirim roh-Mu, mereka tercipta.” Ini menunjukkan bahwa Roh Kudus terlibat dalam karya penciptaan. Daud juga berdoa, “Janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku” (Mazmur 51:13). Yesaya 63:10 menyatakan bahwa umat Israel memberontak dan mendukakan Roh Kudus-Nya. Semua ini menunjukkan bahwa Roh Kudus bukan baru ada pada hari Pentakosta. Roh Kudus sudah ada sejak kekekalan dan sudah bekerja dalam sejarah umat Allah.

Perjanjian Lama bahkan memberi beberapa bagian yang menunjukkan adanya pembedaan Pribadi dalam karya Allah. Yesaya 48:16 berkata, “Dan sekarang, Tuhan ALLAH mengutus aku dengan Roh-Nya.” Di sini terlihat ada Tuhan ALLAH, ada Pribadi yang diutus, dan ada Roh-Nya. Yesaya 61:1 juga berkata, “Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku.” Yesus kemudian membaca ayat ini di Nazaret dan berkata bahwa nas itu digenapi dalam diri-Nya (Lukas 4:18–21). Ini menunjukkan bahwa Mesias diutus oleh Tuhan dan diurapi oleh Roh Kudus.

Jadi Perjanjian Lama tidak hanya berbicara tentang Bapa seolah-olah Anak dan Roh Kudus belum ada. Perjanjian Lama memang belum menyatakan Tritunggal seterang Perjanjian Baru, tetapi sudah menunjukkan bahwa Firman Allah bekerja, Roh Allah hadir, Anak dijanjikan, Mesias ilahi akan datang, dan Roh Tuhan mengurapi Sang Mesias. Perjanjian Baru kemudian membuka dengan jelas bahwa Firman itu adalah Kristus, Anak Allah yang kekal, dan Roh Kudus adalah Pribadi ilahi yang bersama Bapa dan Anak bekerja dalam penciptaan, penebusan, dan pengudusan.

Bapa, Anak, dan Roh Kudus juga setara dalam hakikat ilahi. Bapa bukan lebih Allah daripada Anak. Anak bukan lebih rendah daripada Bapa dalam keallahan-Nya. Roh Kudus bukan lebih kecil daripada Bapa dan Anak. Yang berbeda adalah Pribadi dan peran dalam karya keselamatan, bukan derajat keallahan. Bapa merancang keselamatan, Anak menggenapi keselamatan melalui hidup, kematian, dan kebangkitan-Nya, dan Roh Kudus menerapkan keselamatan itu dalam hati orang percaya. Tetapi ketiganya tetap satu Allah, satu hakikat, satu kemuliaan, dan satu kehendak ilahi.

Karena itu, ketika Yesus berdoa kepada Bapa, itu bukan berarti Yesus bukan Allah. Itu menunjukkan bahwa Anak berbeda Pribadi dari Bapa dan sebagai manusia sejati Ia hidup dalam ketaatan sempurna kepada Bapa. Ketika Roh Kudus diutus, itu bukan berarti Roh Kudus lebih rendah sebagai Allah. Itu menunjukkan peran Roh Kudus dalam karya keselamatan, yaitu menerapkan karya Kristus kepada umat percaya. Perbedaan peran tidak berarti perbedaan hakikat. Dalam hakikat-Nya, Bapa, Anak, dan Roh Kudus sama-sama Allah yang kekal, kudus, dan mulia.

Dengan demikian, Alkitab menegaskan:

👉 Allah itu esa, bukan tiga Allah (Ulangan 6:4)
👉 Bapa, Anak, dan Roh Kudus disebut bersama dalam satu nama ilahi (Matius 28:19)
👉 Bapa, Anak, dan Roh Kudus dinyatakan berbeda sebagai Pribadi (Matius 3:16–17)
👉 Anak adalah Allah yang kekal dan menjadi manusia (Yohanes 1:1; Yohanes 1:14)
👉 Anak sudah memiliki kemuliaan bersama Bapa sebelum dunia ada (Yohanes 17:5)
👉 Segala sesuatu diciptakan melalui Anak (Yohanes 1:3; Kolose 1:16)
👉 Roh Kudus adalah Allah, bukan sekadar kuasa (Kisah Para Rasul 5:3–4)
👉 Roh Kudus mengajar, mengingatkan, dan bekerja sebagai Pribadi ilahi (Yohanes 14:26)
👉 Roh Allah sudah bekerja dalam penciptaan sejak Perjanjian Lama (Kejadian 1:2; Mazmur 104:30)
👉 Perjanjian Lama menubuatkan Anak/Mesias yang ilahi dan kekal (Mazmur 2:7; Mazmur 110:1; Daniel 7:13–14)
👉 Mesias diutus dan diurapi oleh Roh Tuhan (Yesaya 61:1; Lukas 4:18–21)

Karena itu, Tritunggal bukan berarti Allah terbagi menjadi tiga, dan bukan juga berarti satu Pribadi memakai tiga topeng. Tritunggal berarti Allah yang esa itu hidup secara kekal sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Yang esa adalah hakikat-Nya; yang tiga adalah Pribadi-Nya. Dalam hakikat, Bapa, Anak, dan Roh Kudus tidak dapat dipisahkan karena ketiganya adalah satu Allah yang sama, setara, kekal, kudus, dan mulia. Tetapi dalam Pribadi, mereka dapat dibedakan: Bapa bukan Anak, Anak bukan Roh Kudus, dan Roh Kudus bukan Bapa.

Maka inti pengajaran Alkitab tentang Tritunggal adalah ini: kita menyembah satu Allah, bukan tiga Allah; tetapi Allah yang satu itu bukan satu Pribadi saja. Ia adalah Bapa yang mengutus Anak, Anak yang menebus umat-Nya, dan Roh Kudus yang menghidupkan serta menguduskan orang percaya. Dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru, Allah menyatakan diri-Nya sebagai Allah yang esa dalam hakikat dan tiga dalam Pribadi. Inilah Allah yang menciptakan, menebus, memelihara, dan membawa umat-Nya kepada hidup yang kekal.
(02062015)(TUS)

Sudut Pandang tentang keberadaan Allah

Sudut Pandang tentang keberadaan Allah PENGANTAR Mungkin, kita perlu belajar tentang keberadaan (ontologi) Allah dari dasar untu...