Selasa, 02 Juni 2026

Sudut Pandang melihat perjalanan keselamatan dalam susunan Alkitab (Perkara Surat Roma)

Sudut Pandang melihat perjalanan keselamatan dalam susunan Alkitab (perkara surat Roma)

 PENGANTAR
Dalam pemahaman tentang keberadaan (ontologi) Allah, pokok-pokok ajaran GKJ menurut saya selangkah maju dalam perkembangan nalar, tapi bagi yang kurang literasi  terkadang dianggap sesat, pdhl ... ini hanyalah perkara tafsir, sesat tidak sesat itu perkara sudut pandang. Pokok-pokok ajaran GKJ secara ringkas ingin melihat hidup sebagai perjalanan keselamatan, bukan perjalanan mencari selamat, tetapi perjalanan atau ziarah kehidupan bergumul juang mempertanggung jawabkan keselamatan yg sudah dianugerahkan, bertanggung jawab lewat sikap etis atas kehidupan atau etika kehidupan umat beriman. Kalau kita melihat susunan Alkitab, sebetulnya secara tak sadar kita melihat bagaimana GKJ memandang Allah yang setia pada umat, Allah yang merencanakan keselamatan umatNya, Allah yang adalah Immanuel. Masa Israel (PL) adalah Allah yang disebut Bapa oleh Yesus, berusaha merancang keselamatan manusia secara garis besar lewat Israel, Injil (PB) adalah bagaimana Allah merancang keselamatan manusia lewat Yesus, dan surat-surat (PB) adalah Allah merancang keselamatan manusia lewat Roh Kudus hingga saat ini. Bagi GKJ, TRITUNGGAL ADALAH MISTERI ALLAH DALAM MENYELAMATKAN MANUSIA. GKJ memandang Tritunggal sebagai misteri Allah menyelamatkan manusia dan itu dihubungkan dg waktu, jejak Bapa-Bapa gereja ada itu, Anglikan memakainya. Bedanya, Anglikan memandang manusia yg sudah mati tetap melakukan perjalanan yg sama, GKJ gak mau ngrembuk yg sudah mati, nah ..... di sini calvinisnya gkj. Kalau GKJ memandang hidup sebagai suatu perjalanan keselamatan, bukan menuju selamat, tetapi sebuah perjalanan dalam proses keselamatan yg sudah dianugerahkan, dalam proses upaya Allah menyelamatkan manusia, jadi perjalanan keselamatan itu dimaknai sebagai inisiatif Allah menyelamatkan manusia, kalau itu inisiatif Allah maka 1 hakekat 3 pribadi ini akan berkarya bersama baik dalam kesatuan maupun dalam kebedaan, dalam peran yg berbeda tapi satu hakikat maka dalam perjalanan keselamatan tsb manusia dalam kerapuhannya akan jatuh bangun pada pertanggungan jawab pada Allah atas anugerah keselamatan tsb, maka dimanakah Allah? Allah ada dalam sepanjang perjalanan keselamatan tsb, baik sebagai Bapa dalam PL, baik sebagai Putra di masa Yesus di bumi (Injil/PB), baik sebagai Roh Kudus di masa Rasul dan gereja saat ini (surat-surat). Artinya hakekat Allah (Bapa, Putra, Roh Kudus) yang akan terus menyelamatkan manusia akan ada sepanjang waktu, tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu, tak terbatas tetapi dalam kesatuan misi menyelamatkan  manusia pada perbedaan peran penyelamatan. Salah satu sifat Allah itu setia, maka Allah tidak akan dapat mengingkari sifat ngaturnya sendiri, maka IMMANUEL, Allah beserta manusia dalam ziarah kehidupan manusia, Allah beserta manusia dalam perjalanan hidup manusia, lihat kitab kejadian sampai Wahyu kepada Yohanes. 3 Pribadi ini 1 hakekat ada dalam setiàp ruang dan waktu perjalanan keselamatan, dg tugas yg berbeda, tapi hakekatnya sama. Perjalanan keselamatan itu dapat dilihat pada Allah, sebagai Bapa yg sayang pada anakNya, ciptaanNya, manusia sudah dianugerahkan keselamatan pada Adam tetapi Adam gagal bertanggung jawab atas anugerah itu karena keinginan bebasnya, proses penyelamatan diambil inisiatif oleh Bapa lewat bangsa Israel, agar bangsa Israel menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain, lewat Imam, Nabi, Raja, bahkan hakim-hakim, tetapi oleh karena kebebalan Israel maka Israel pun gagal, Allah berinisiatif untuk mencabut hak istimewa Israel, dan memberikan anugerah langsung pada bangsa-bangsa lainnya, itulah kenapa anugerah keselamatan bersifat universal, agar Israel cemburu dan kembali ke Allah. Maka, inisiatif Allah kembali untuk memberikan SabdaNya yg menjadi manusia, Yesus agar manusia mengerti Allah yang menyelamatkan. Seperti nubuatan Yoel, Roh Allah, Roh Kudus pun dicurahkan kepada semua bangsa (tidak eksklusive Israel lagi), agar manusia memiliki pengenalan akan Allah yang menyelamatkan lewat teladan Yesus Kristus.

Ibrani 1:1-4 (TB)
1 Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi,
2 maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta.
3 Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi, 
4 jauh lebih tinggi dari pada malaikat-malaikat, sama seperti nama yang dikaruniakan kepada-Nya jauh lebih indah dari pada nama mereka.

Salah satu konsep dasar, konsepnya GKJ dan ANGLIKAN itu ada di sini Ibrani 1 :1-4, dan itu sudah diangkat oleh Bapa gereja Tertualius, termasuk konsep kehendak bebas dan predestinasi, jadi ...... protestan reformir bahkan saksi yehova ( pemahaman Arius) itu hanya mengulang sejarah, semua dogma yg sekarang ada, kalau ditelusur pada tulisan Bapa-Bapa gereja sudah pernah ada semua, perhatikan Ibrani 1 ayat 2, "...... Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta." perhatian di kejadian 1 : 3, 6, 9, 11, 14, 20, 24,26, dan 29, apa yang ada di situ, dalam ayat itu, berulang kali dituliskan oleh penulis "BERFIRMANLAH ALLAH ......" Dengan begitu FIRMAN atau SABDA ALLAH itu ada sejak penciptaan, dan terus ada sampai saat ini, maka itu semua dipandang sebagai sebuah perjalanan keselamatan. Perjalanan keselamatan terlihat pula dari kitab Kejadian sampai Wahyu pada Yohanes. BAPA, firman itu menyatu sebagai perkataan Allah, bahkan untuk mencipta semesta, sbg awal anugerah keselamatan itu, sabda yg sama itu juga tertuju pada Adam scr langsung, Nuh, Abraham, Musa, dan kepada bangsa Israel lewat Hakim-hakim, imam, nabi, dan raja, sebagai PUTRA, firman itu menjadi daging atau manusia, memberikan teladan agar manusia mengasihi sesamanya dan itu mengasihi Allah, sebagai ROH KUDUS, akan terus mengingatkan dan mengajarkan keteladanan Kristus, hingga sekarang, ıtulah nurani yg akan selalu bersitegang tapi penyeimbang serta pendorong bagi ego / jiwa dan akal budi kita. Mari kita melihat perjalanan keselamatan itu lewat Alkitab
PEMAHAMAN 
Saya tidak memulai dari awal susunan Alkitab, tetapi saya mulai dg sebuah Pertanyaan pada surat-surat di Alkitab. Ketika membuka Perjanjian Baru, kita akan menemukan bahwa Surat Roma menempati posisi pertama dalam kumpulan surat-surat Paulus. Bagi sebagian orang, hal ini mungkin tampak biasa saja. Namun bagi yang memperhatikan susunan kitab-kitab Alkitab, muncul sebuah pertanyaan menarik: mengapa Surat Roma ditempatkan paling awal? Apakah karena jemaat di Roma memiliki kedudukan khusus? Apakah ada alasan teologis tertentu di balik penempatannya? Ataukah ada pertimbangan lain yang digunakan oleh gereja mula-mula ketika menyusun kumpulan kitab Perjanjian Baru? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu memahami terlebih dahulu bahwa susunan kitab-kitab dalam Alkitab tidak disusun secara sembarangan. Urutan yang kita miliki saat ini bukanlah hasil kebetulan, melainkan mencerminkan sebuah logika yang membantu pembaca melihat kesatuan pesan Alkitab secara utuh. Perjanjian Lama, misalnya, dapat dipahami sebagai kisah panjang tentang persiapan Allah bagi kedatangan Sang Mesias. Sejak manusia jatuh ke dalam dosa, Alkitab mulai memperkenalkan janji demi janji mengenai Penebus yang akan datang. Melalui para nabi, sistem korban, berbagai peristiwa sejarah, dan beragam gambaran simbolis, Perjanjian Lama terus mengarahkan perhatian kepada pribadi yang akan menjadi pusat rencana keselamatan Allah. Namun Perjanjian Lama berakhir tanpa memberikan jawaban yang lengkap. Janji itu masih menunggu penggenapannya. Karena itulah Perjanjian Baru dimulai dengan kitab-kitab Injil. Di dalamnya kita menemukan jawaban atas seluruh pengharapan yang telah dibangun sepanjang Perjanjian Lama. Yesus Kristus hadir sebagai penggenapan dari janji-janji Allah. Apa yang dahulu dinubuatkan, kini digenapi. Setelah kitab-kitab Injil, kita menemukan Kisah Para Rasul. Jika Injil berbicara tentang karya Kristus selama pelayanan-Nya di bumi, maka Kisah Para Rasul menunjukkan bagaimana berita tentang Kristus mulai menyebar ke berbagai daerah melalui pelayanan para rasul dan gereja mula-mula. Lalu muncullah gereja-gereja di berbagai kota. Jemaat-jemaat baru itu membutuhkan pengajaran, pengarahan, teguran, dan penguatan. Karena itulah setelah Kisah Para Rasul kita menemukan surat-surat para rasul, khususnya surat-surat Paulus. Dari sudut pandang ini, susunan Perjanjian Baru sebenarnya membentuk sebuah alur yang sangat indah. Injil memperkenalkan Kristus. Kisah Para Rasul memberitakan Kristus. Surat-surat para rasul menjelaskan karya Kristus bagi gereja. Dan Kitab Wahyu menutup semuanya dengan gambaran kemenangan Kristus yang sempurna pada akhir zaman.

Di tengah alur besar itulah Surat Roma menempati tempat yang penting.

Menariknya, posisi Surat Roma sebagai surat pertama dalam kumpulan surat-surat Paulus bukan terutama karena kota Roma dianggap paling penting. Para ahli Perjanjian Baru umumnya melihat bahwa surat-surat Paulus disusun berdasarkan beberapa pertimbangan praktis. Pertama, surat-surat yang ditujukan kepada jemaat ditempatkan lebih dahulu daripada surat-surat yang ditujukan kepada individu seperti Timotius, Titus, dan Filemon. Kedua, dalam kelompok surat kepada jemaat tersebut, urutannya secara umum mengikuti panjang surat. Surat yang lebih panjang ditempatkan terlebih dahulu, sedangkan yang lebih pendek ditempatkan kemudian. Dalam hal ini, Surat Roma adalah surat Paulus yang paling panjang. Karena itulah surat tersebut berada di posisi pertama, kemudian diikuti oleh 1 Korintus, 2 Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, dan seterusnya. Penjelasan ini juga membantu kita memahami bahwa urutan kitab-kitab Perjanjian Baru tidak selalu mengikuti kronologi penulisan. Bahkan banyak ahli meyakini bahwa beberapa surat Paulus ditulis sebelum kitab-kitab Injil diselesaikan. Namun gereja tidak menyusun Perjanjian Baru berdasarkan urutan waktu penulisan, melainkan berdasarkan fungsi dan hubungan teologis antar kitab. Meski demikian, bukan berarti Surat Roma hanya kebetulan berada di urutan pertama. Di antara seluruh surat Paulus, Roma memang memiliki kedalaman teologis yang luar biasa. Dalam surat ini Paulus menjelaskan kondisi manusia yang berdosa, karya keselamatan Allah di dalam Kristus, pembenaran oleh iman, kehidupan baru orang percaya, kedaulatan Allah dalam sejarah penebusan, hingga bagaimana orang Kristen seharusnya hidup di tengah dunia. Tidak berlebihan jika banyak tokoh gereja sepanjang sejarah menganggap Surat Roma sebagai salah satu penjelasan Injil yang paling lengkap di dalam seluruh Alkitab. Ketika membaca Surat Roma, kita seperti diajak melihat gambaran besar karya keselamatan Allah. Paulus menunjukkan bahwa semua manusia telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Namun Allah, melalui kasih karunia-Nya, menyediakan keselamatan di dalam Yesus Kristus. Keselamatan itu diterima bukan karena jasa manusia, melainkan karena anugerah Allah yang diterima melalui iman. Karena itulah Surat Roma telah memainkan peranan yang sangat penting dalam sejarah gereja. Melalui surat inilah banyak orang percaya dari berbagai zaman kembali menemukan keindahan Injil dan kedalaman kasih karunia Allah. Pada akhirnya, alasan utama mengapa Surat Roma ditempatkan pertama dalam kumpulan surat-surat Paulus bukanlah karena kedudukan khusus kota Roma, melainkan karena pertimbangan penyusunan yang digunakan dalam pengumpulan surat-surat tersebut, terutama panjang surat dan pengelompokan berdasarkan jenis penerimanya. Jadi surat Roma ditempatkan pada urutan pertama dalam surat-surat Paulus bukan karena primasi gereja Roma Katolik.
(03062026)(TUS)


Sudut Pandang prosa dan puisi dalam Perjanjian Lama (PL) serta perumpamaan dalam Perjanjian Baru (PB)

Sudut Pandang prosa dan puisi dalam Perjanjian Lama (PL) serta perumpamaan dalam Perjanjian Baru (PB) PENGANTAR  merupakan bidang kajian pen...