𝗣𝗲𝗷𝗮𝗯𝗮𝘁 𝗚𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮𝘄𝗶 𝗛𝗼𝗯𝗶
Dalam satu episode 𝘓𝘢𝘸 & 𝘖𝘳𝘥𝘦𝘳: 𝘚𝘱𝘦𝘤𝘪𝘢𝘭 𝘝𝘪𝘤𝘵𝘪𝘮𝘴 𝘜𝘯𝘪𝘵 yang saya hobi tonton Asisten Jaksa Rafael Barba sedang melakukan 𝘱𝘳𝘰𝘧𝘪𝘭𝘪𝘯𝘨 terhadap seorang pejabat gereja. Ternyata orang itu sehari-hari bekerja sebagai manajer perusahaan keamanan dan menjalankan tugas pejabat gerejanya tanpa menerima gaji. Barba menali bahwa jabatan gereja orang tersebut bukan profesi, bukan pelayanan, melainkan hobi karena tidak menerima gaji.
Kesimpulan Barba di atas sangat menggelitik. Tentu tanpa menutup mata cukup banyak pejabat gereja yang tidak menerima gaji, tetapi mengabdikan diri dengan sungguh-sungguh. Dalam pada itu komentar Barba itu mengandung pertanyaan yang menarik: kapan sebuah jabatan gerejawi dijalani sebagai tanggung jawab, dan kapan jabatan gerejawi berubah menjadi sekadar hobi?
Ada yang menyebut rata-rata penatua GKI, bahkan sebagian pendeta, tidak memahami ajaran dan identitas GKI secara memadai. Saya sendiri pernah melihat pendeta yang bersemangat mengajar tentang identitas GKI, tetapi ketika berhadapan dengan persoalan nyata di GKI Kebayoran Baru justru memilih diam. Jika demikian, yang patut dipertanyakan bukan pengetahuannya saja, melainkan rasa tanggung jawabnya.
Saya hobi menonton sepakbola. Saya bisa berkomentar panjang-lebar-tinggi tentang sebuah klub. Namun, ketika klub itu kalah, saya tidak ikut memikul tanggung jawab organisasi, moral, dan keuangan. Saya hanya penonton. Hobi tidak menuntut pertanggungjawaban.
Sebaliknya, jabatan gerejawi seharusnya menuntut kesediaan untuk ikut menanggung beban. Ketika terjadi ketidakadilan, penyimpangan moral, atau kerusakan tata kelola, pejabat gerejawi tidak cukup hanya tampil di depan mimbar atau rapat. Mereka dituntut untuk berdarah-darah membela kebenaran dan menanggung konsekuensinya.
Jika tidak, orang boleh bertanya: apakah jabatan itu sungguh dijalani sebagai pelayanan, atau hanya sebagai 𝗵𝗼𝗯𝗶 yang memberi kesempatan berdiri di depan banyak orang?
(03062026)