Selasa, 02 Juni 2026

Sudut Pandang 𝗣𝗲𝗷𝗮𝗯𝗮𝘁 𝗚𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮𝘄𝗶 𝗛𝗼𝗯𝗶

Sudut Pandang 𝗣𝗲𝗷𝗮𝗯𝗮𝘁 𝗚𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮𝘄𝗶 𝗛𝗼𝗯𝗶

PENGANTAR
Pernah mendengar bbrp keluh kesah majelis Lereh yang mengatakan bingung bahkan sakit-sakitan kalau lereh tidak jadi majelis, ingin segera setahun lagi agar bisa terpilih lagi sebagai majelis, ada yang juga yg berkeluh kesah kalau Lereh majelis tidak ada lagi cara untuk izin keluar rumah dan tidak ada kesibukan lagi, ada lagi yang bergurau: saya tidak mau memangku jabatan gerejawi, lah ...... kenapa? Tanya saya, jawabnya, karena itu kan panggilan Tuhan mas, aku gak mau mati sekarang mas ...... Wk ..... Wk.  Entah mengapa anggota pejabat gerejawi itu banyak yang takut melawan kejahatan moral yang dilakukan oleh sesama pejabat gerejawi atau bahkan sekelompok pejabat gerejawi. Setidaknya sepengetahuan saya. Padahal tak berisiko. Tak mungkin ia dianiaya. Takut dipecat? 𝘞𝘰𝘯𝘨 pejabat gerejawi itu 𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘨𝘢𝘬 dibayar, kan 𝘨𝘢𝘬 ada pesangon. Bacaan ekumunis untuk Minggu, 21 Juni 2026, diambil dari Matius 10:24-39. Tiga kali Yesus memberi wejangan: jangan takut! Jangan takut kepada siapa? Kepada mereka yang menolak Yesus, kepada yang tidak mau meneladan Yesus, walaupun sesama pejabat gerejawi, sesama majelis. Dalam satu episode 𝘓𝘢𝘸 & 𝘖𝘳𝘥𝘦𝘳: 𝘚𝘱𝘦𝘤𝘪𝘢𝘭 𝘝𝘪𝘤𝘵𝘪𝘮𝘴 𝘜𝘯𝘪𝘵 yang saya hobi tonton Asisten Jaksa Rafael Barba sedang melakukan 𝘱𝘳𝘰𝘧𝘪𝘭𝘪𝘯𝘨 terhadap seorang pejabat gereja. Ternyata orang itu sehari-hari bekerja sebagai manajer perusahaan keamanan dan menjalankan tugas pejabat gerejanya tanpa menerima gaji. Barba menali mengatakan bahwa jabatan gereja orang tersebut bukan profesi, bukan pelayanan, melainkan hobi karena tidak menerima gaji.
Kesimpulan Barba di atas sangat menggelitik. Tentu tanpa menutup mata cukup banyak pejabat gereja yang tidak menerima gaji, tetapi mengabdikan diri dengan sungguh-sungguh. Dalam pada itu komentar Barba itu mengandung pertanyaan yang menarik: kapan sebuah jabatan gerejawi dijalani sebagai tanggung jawab, dan kapan jabatan gerejawi berubah menjadi sekadar hobi? Maka, saya menuliskan apa itu pengelolaan tugas dalam kemajelisan berdasarkan kisah para rasul.
PEMAHAMAN 
Ada yang menyebut rata-rata penatua (Penatua Pengatur Rumah Allah), diaken, bahkan sebagian pendeta (Penatua Pengajar), tidak memahami ajaran dan identitas Gerejanya sendiri secara memadai. Saya sendiri pernah melihat pendeta (Penatua Pengajar) yang bersemangat mengajar tentang identitas Gerejanya, tetapi ketika berhadapan dengan persoalan nyata di Gerejanya justru memilih diam, tidak peduli, antikritik. Jika demikian, yang patut dipertanyakan bukan pengetahuannya saja, melainkan rasa tanggung jawabnya. Saya hobi menonton olah raga beladiri. Saya bisa berkomentar panjang-lebar-tinggi tentang sebuah klub beladiri. Namun, ketika klub beladiri itu kalah, saya tidak ikut memikul tanggung jawab organisasi, moral, dan keuangan. Saya hanya penonton. Hobi tidak menuntut pertanggungjawaban, 

HOBI TIDAK MENUNTUT PERTANGGUNGJAWABAN MORAL BAHKAN ETIKA.

Sebaliknya, jabatan gerejawi seharusnya menuntut kesediaan untuk ikut menanggung beban, bermoral dan beretika. Ketika terjadi ketidakadilan, penyimpangan moral, pelanggaran etika atau kerusakan tata kelola, pejabat gerejawi (Penatua Pengajar dan Penatua Pengatur Rumah Allah bahkan diaken) tidak cukup hanya tampil di depan mimbar atau rapat pleno. Mereka dituntut untuk berdarah-darah membela kebenaran dan menanggung konsekuensinya. Jika tidak, orang boleh bertanya: apakah jabatan itu sungguh dijalani sebagai pelayanan, atau hanya sebagai 𝗵𝗼𝗯𝗶 yang memberi kesempatan berdiri di depan banyak orang? Lebih laknat lagi kalau jabatan gerejawi hanya untuk aktualisasi diri.  Mari kita lihat lebih mendalam pembagian tugas dalam kemajelisan, dan apa itu majelis, secara Alkitab Iyah dalam kisah Rasul, agar jabatan gerejawi itu bukanlah sekedar hobi. Lebih laknat lagi, apabila jabatan gerejawi hanya untuk menciptakan komunitas, circle bahkan club, sangat jahat kalau hanya untuk aktualisasi diri. Acap kita baca kalimat"... oleh pendeta dan penatua". Sebenarnya itu kurang tepat, sebab seorang pendeta adalah penatua. Kitab Perjanjian Baru tidak mengenal istilah pendeta, namun istilah penatua disebut 67 kali dalam berbagai arti dan konteks. Jabatan penatua atau presbiter (Yunani : presbuteros, harfiah:
yang dituakan, yang berpikir matang, sesepuh, yang memimpin, yang bertindak arif) diambil alih dari tradisi
agama Yahudi dan mulai dipakai di gereja mungkin sekitar satu dasa warsa setelah kelahiran gereja pertama. Laporan pertama tentang adanya presbiter terdapat di Kisah Para
Rasul 11:30 (laporan tentang tahun 40) dan Kisah Para Rasul 15:1-34 (laporan tentang tahun 50). Di sini belum disebut tentang pembedaan tugas di antara para presbiter. Kemudian terjadi perkembangan.
Dalam surat terbitan tahun 140, yakni 1 dan 2 Timotius serta Titus, mulai disebut tentang diferensiasi atau pembedaan dalam jabatan presbiter. Di situ tertulis, "Penatua-penatua yang baik pimpinannya patut
dihormati dua kali lipat, terutama mereka yang dengan jerih payah berkhotbah dan mengajar" (1 Tim. 5:17). Dalam teks aslinya lebih tampak adanya dua macam penatua, yaitu "proestootes presbuteroi"
(harfiah: penatua-penatua pengatur {rumah Allah}) dan logoo kai didaskalia presbuteroi (harfiah: penatua-penatua pengkhotbah dan pengajar). Jabatan penatua pengatur {rumah Allah} disebut lagi dalam Titus 1:5-9 ketika dicatat prasyarat jabatan penatua. Dalam ayat 7 tertulis, "Sebab sebagai
pengatur rumah Allah ..." (Yunani: oos theou oikonomon). Boleh dikata pekerjaan penatua pengajar (didaskalia presbutero) pada zaman itu sejajar dengan apa yang sekarang kita sebut pendeta. Empat belas abad kemudian, sebagai bagian dari upaya reformasi, Calvin menghidupkan kembali diferensiasi jabatan presbiter, yaitu di satu pihak presbiter pengajar (teaching elder, lerend ouderling) dan di lain pihak presbiter pengatur (ruling elder, heersend ouderling). Selanjutnya, presbiter pengajar lambat-laun berkembang menjadi pelayan sabda atau prediker dan kemudian menjadi predikant atau pendeta. Dengan adanya aksentuasi dan diferensiasi jabatan presbiter oleh Calvin itu, gereja-gereja yang berdoktrin Calvinisme biasanya bersistem
presbiterial. Dalam gereja bersistem presbiterial pengambilan keputusan dan pimpinan bukan ada pada dua atau tiga orang tertentu,
melainkan pada suatu presbiterium atau sidang para presbiter atau majelis para presbiter. Dalam 1 Timotius 4:14 dipakai istilah "sidang penatua" (Yunani: tou presbutoriou, harfiah: rapat para presbiter atau majelis para presbiter). Majelis presbiter ini terdiri dari presbiter pengajar dan presbiter pengatur (tapi tradisi GKJ memasukan diaken ke dalam majelis, sebetulnya kurang tepat, tetapi GKJ memiliki alasannya tersendiri). Sesuai dengan prinsip presbiterial
yang tidak mengenal hierarki, maka di antara para presbiter pengajar dàn presbiter pengatur tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Büku The Duties of the Ruling Elders karangan Paul Wright mencatat,
with equal authority but with division of responsibility".
Berbeda dengan sistem klerikal, di mana pendeta menjadi pembuat keputusan dan ketua, dalam gereja bersistem presbiterial pengambilan keputusan ada di tangan rapat para presbiter dan yang
menjadi ketua bukanlah pendeta atau presbiter pengajar melainkan presbiter pengatur, dalam susunan seperti mungkin kita kenali dengan sebutan Majelis Pengurus Harian, sebetulnya Penatua Pengajar/Pendeta tidak perlu ada di situ, jadi sebetulnya aneh ketika penatua Pengajar/pendeta ada dalam susunan majelis pengurus harian. Pendeta dibebaskan dari segala jabatan struktural supaya bisa berfokus pada mutu pengajaran umat. Pada awal abad ke-20 banyak gereja di Asia, meskipun bersistem presbiterial namun masih dipimpin oleh pendeta atau penatua pengajar, tapi itu pada zaman dahulu ketika blom semaju sekarang dengan alasan kekurangan sumber daya manusia, tetapi rasanya untuk sekarang seharusnya tidak, logika atau jembatan nalarnya adalah  seharusnya yg sudah tidak perlu seperti itu, sebab sekarang sumber daya manusia di gereja banyak sesuai dengan kapasitas nya masing-masing, dan juga tidak mungkin seorang penatua pengajar atau pendeta multilenta untuk ngurusi semuanya. Zaman dahulu penatua pengajar atau pendeta yg menjadi ketua majelis atau ada diantara majelis pengurus harian yaitu misionaris asing, sebab banyak penatua biasa masih buta huruf, zaman berubah, tetapi kemudian pimpinan diserahkan ke tangan para presbiter pengatur, baik di tingkat lokal, maupun tingkat klasis, sinode regional. dan sinode nasional, repotnya lagi ada sinode zaman sekarang yg decision maker atau pengambil keputusannya malah penatua pengajar atau pendeta semua, sebetulnya itu bukan sinode tetapi perkumpulan pendeta atau penatua pengajar.
Prinsip "equal authority, different responsibility" (sama otoritas,
beda tugas) tampak dari ketentuan yang berbeda. Penatua pengatur
boleh mempunyai mata pencarian sekuler, sedangkan penatua pengajar bekerja penuh waktu untuk gereja sehingga "patut mendapat
upahnya" (1 Tim. 5:18).
Pada prinsipnya, baik jabatan penatua pengatur maupun penatua pengajar adalah sepanjang hidup. Kurun waktu untuk penatua
pengatur ditata dengan masa jabatan dan masa selang. Sedangkan kurun waktu untuk penatua pengajar ditata dengan mutasi dan emeritasi, yaitu penghentian tugas tanpa pencabutan sebutan, sehingga sebutan pendeta masih boleh dipakai dengan dibubuhi kata Latin emeritus (harfiah: undur dari tugas namun tetap dihargai). Supaya kita tidak silau terhadap jabatan-jabatan gerejawi itu, sebaiknya kita membuat keseimbangan dengan membaca ketiga
Surat Yohanes. Ketiga surat anonim ini bersikap skeptis terhadap jabatan struktural gereja dan lebih mengutamakan peran kharismatis kaum awam / jemaat, yaitu seluruh umat gereja. Agaknya ketiga surat ini ditulis oleh dua orang sesepuh berbeda, namun editornya sama. Penulis tanpa nama ini mengajak gereja bersikap kritis karena di antara pemangku jabatan yang merasa diri diurapi oleh Kristus itu bisa saja "telah bangkit banyak antikristus" (lih. kasus seorang presbiter di 3 Yoh. 1:9-10 dan acuan tak langsungnya di 1 Yoh. 2:18-19). Kedua penulis ini mengajak seluruh umat untuk bersikap kritis sebab meskipun umat tidak mempunyai jabatan gerejawi, seluruh umat tetap mempunyai seluruh
otoritas dan tugas dari Kristus. Tulisnya, "Tetapi kamu telah beroleh pengurapan dari Yang Kudus, dan dengan demikian kamu semua mengetahuinya" (1 Yoh. 2:20). Pada hakikatnya, otoritas dan tugas bukan ada di tangan penatua pengajar atau penatua pengatur, melainkan di tangan seluruh anggota biasa.

KEMUDIAN PERTANYAAN MUNCUL SIAPA YANG PALING PENTING DI DALAM GEREJA?

Pertanyaan ini sering muncul, meskipun tidak selalu diucapkan secara langsung. Apakah pendeta (Penatua Pengajar) yang paling penting? Majelis (Penatua Pengatur)? Pemain musik? Pemimpin pujian? Tim multimedia? Guru Sekolah Minggu? Atau justru jemaat? Jawabannya adalah, tidak ada seorang pun yang paling penting, karena setiap orang memiliki peran yang penting di hadapan Tuhan. Alkitab menggambarkan gereja sebagai satu tubuh. Di dalam tubuh, setiap anggota memiliki fungsi yang berbeda, tetapi semuanya saling membutuhkan. Mata tidak dapat berkata kepada tangan, "Aku tidak membutuhkan engkau." Demikian juga kepala tidak dapat berkata kepada kaki, "Aku tidak membutuhkan engkau." Oleh karena itu kenapa secara alkitabiah, sebetulnya tidak perlu seorang penatua pengajar atau pendeta ada di dalam majelis pengurus harian. Pendeta atau Penatua Pengajar memiliki tanggung jawab pendampingan, pastoral dan utamanya mengajarkan firman Tuhan, meningkatkan pengetahuan umat. Majelis (Penatua Pengatur) membantu memimpin, mengelola organisasi gereja, mengatur karyawan gereja, mengelola keuangan gereja dan melayani kebutuhan jemaat. Dalam rapat majelis baik sidang pleno maupun sidang MPH, baik yg berstatus penatua pengajar maupun penatua pengatur harus  hadir, karena mereka hanya beda tugas. Sehingga sebetulnya sistim voting itu keliru didalam ranah kemajelisan gereja, karena suara 1 penatua pengajar berimbang sama kuat dan kedudukannya dengan suara seribu atau sejuta penatua pengurus, jadi memang tidak bisa digunakan sistim voting, sama tanggung jawab, sama kuasa wewenangnya tetapi beda tugas. Pemusik dan pemimpin pujian menolong jemaat memuliakan Tuhan. Tim multimedia, petugas kebersihan, penyambut tamu, guru Sekolah Minggu, petugas parkir, hingga jemaat yang setia berdoa, semuanya memiliki peran yang berharga. Bayangkan jika salah satu bagian berhenti menjalankan tugasnya. Pelayanan gereja tidak akan berjalan dengan baik. Karena itu, tidak seharusnya ada persaingan mengenai siapa yang paling penting. Yang seharusnya ada adalah semangat untuk saling menghargai, saling melengkapi, dan saling mendukung. Di dalam gereja, ukuran kebesaran bukanlah jabatan, melainkan kesediaan untuk berkarya dengan rendah hati. Semakin besar tanggung jawab seseorang, semakin besar pula panggilannya untuk menjadi pelayan bagi sesama. Namun di atas semuanya itu, ada Pribadi yang paling utama di dalam gereja, yaitu Yesus Kristus, Sang Kepala Gereja. Dialah pusat ibadah, pusat pelayanan, dan alasan mengapa gereja ada. Semua pekarya gereja, apa pun jabatannya, hanyalah rekan sekerja yang dipanggil untuk memuliakan Dia. Karena itu, jangan sibuk mencari siapa yang paling penting, repot lagi kalau sok sibuk dan sok penting tapi gak ngerti yg dikerjakannya, di dalam gereja. Marilah kita bertanya, "Apakah saya sudah setia menjalankan bagian yang Tuhan percayakan kepada saya?" Sebab ketika setiap orang setia pada bagiannya, tubuh Kristus akan bertumbuh dengan sehat dan nama Tuhan dimuliakan.

"Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus." (1 Korintus 12:12)
(25062026)(TUS)

Sudut Pandang prosa dan puisi dalam Perjanjian Lama (PL) serta perumpamaan dalam Perjanjian Baru (PB)

Sudut Pandang prosa dan puisi dalam Perjanjian Lama (PL) serta perumpamaan dalam Perjanjian Baru (PB) PENGANTAR  merupakan bidang kajian pen...