Sabtu, 27 Juni 2026

PEMILIHAN PENDETA OLEH JEMAAT DALAM TRADISI CALVINIS:
SUATU PRAKTIK YANG ALKITABIAH, REFORMATORIS, DAN EKLESIOLOGIS

Dalam tradisi Gereja-gereja Reformasi, termasuk Gereja Kristen Sumba (GKS), pemilihan pendeta oleh jemaat bukanlah sebuah penyimpangan dari tatanan gereja, melainkan perwujudan dari keyakinan teologis yang mendalam mengenai hakikat Gereja sebagai tubuh Kristus dan imamat am orang percaya.

Dasar pemikiran ini berangkat dari pengakuan bahwa Kristus adalah satu-satunya Kepala Gereja (Efesus 1:22-23; Kolose 1:18). Karena itu, otoritas tertinggi dalam Gereja tidak terletak pada seorang uskup, paus, atau hierarki tertentu, melainkan pada Kristus sendiri yang memerintah Gereja-Nya melalui Firman dan Roh Kudus.

Dalam perspektif Calvinis, panggilan seorang pendeta memiliki dua dimensi yang tidak dapat dipisahkan:

Pertama, vocatio interna (panggilan batin).
Seseorang harus terlebih dahulu dipanggil oleh Allah untuk melayani. Tidak seorang pun dapat mengangkat dirinya sendiri menjadi pelayan Firman.

Kedua, vocatio externa (panggilan eksternal).
Panggilan batin tersebut harus diuji, diakui, dan dikukuhkan oleh Gereja. 
Di sinilah jemaat berperan sebagai tubuh Kristus yang diberikan karunia untuk membedakan dan menguji pelayan yang akan menggembalakan mereka.

Prinsip ini memiliki dasar Alkitab yang kuat. 
Dalam Kisah Para Rasul 1:15-26, seluruh persekutuan orang percaya terlibat dalam proses pemilihan pengganti Yudas. 
Dalam Kisah Para Rasul 6:1-6, para rasul meminta jemaat memilih orang-orang yang layak untuk pelayanan diakonia. 
Bahkan dalam Kisah Para Rasul 14:23, penetapan penatua berlangsung dalam konteks kehidupan jemaat setempat.

Tradisi Reformasi memahami bahwa jabatan gerejawi tidak diberikan secara magis melalui suatu rantai historis tertentu, melainkan melalui panggilan Allah yang dikenali dan diteguhkan oleh Gereja. Oleh sebab itu, pemilihan oleh jemaat bukanlah sumber jabatan pendeta, melainkan sarana yang dipakai Kristus untuk menyatakan kehendak-Nya bagi Gereja.

John Calvin sendiri menegaskan bahwa pemilihan pelayan gereja oleh jemaat merupakan praktik Gereja kuno. Dalam Institutes of the Christian Religion (IV.3.15), Calvin menunjukkan bahwa pada masa Gereja awal, umat berpartisipasi dalam pemilihan para pelayan gereja agar tidak ada seorang pun dipaksakan kepada jemaat tanpa persetujuan mereka.

Dengan demikian, ketika GKS memberikan ruang kepada jemaat untuk memilih pendeta, hal itu bukan berarti jemaat "menciptakan" pendeta atau menjadi sumber otoritas pelayanan. Jemaat hanya menjalankan fungsi pengakuan dan peneguhan terhadap panggilan yang berasal dari Allah. 

Penahbisan tetap dilakukan oleh Gereja melalui tata gereja yang sah, setelah proses pengujian teologis, moral, dan pastoral yang ketat.

Sering kali muncul kritik bahwa model ini tidak menjamin kesinambungan apostolik sebagaimana dipahami dalam tradisi Katolik Roma. Namun Gereja-gereja Reformasi membedakan antara suksesi apostolik historis dan suksesi apostolik doktrinal. 

Yang dianggap esensial bukanlah rantai penumpangan tangan yang tidak terputus secara fisik, melainkan kesetiaan kepada ajaran para rasul yang termuat dalam Kitab Suci.

Menurut pandangan Reformasi, Gereja tetap apostolik apabila memberitakan Injil yang apostolik, melayankan sakramen dengan benar, dan menjalankan disiplin gereja sesuai Firman Tuhan. 

Apostolisitas pertama-tama terletak pada kesetiaan kepada ajaran para rasul, bukan semata-mata pada garis institusional.

Karena itu, pemilihan pendeta oleh jemaat dalam GKS bukanlah bentuk demokrasi sekuler yang dipindahkan ke dalam Gereja, melainkan ekspresi keyakinan bahwa Roh Kudus bekerja dalam seluruh tubuh Kristus. 
Kristus memanggil pelayan-Nya, 
Gereja menguji panggilannya, 
jemaat mengakuinya, 
dan Gereja menahbiskannya untuk melayani umat Allah.

Dengan demikian, praktik ini berdiri di atas fondasi 
teologis Reformasi yang kokoh: 
Kristus adalah Kepala Gereja, 
Firman adalah otoritas tertinggi, 
dan jemaat sebagai tubuh Kristus turut ambil bagian dalam mengenali serta meneguhkan mereka yang dipanggil Allah untuk menggembalakan Gereja-Nya.

Sudut Pandang kenapa dalam kisah Alkitab sering digambarkan Allah memihak anak bungsu

Sudut Pandang kenapa dalam kisah Alkitab sering digambarkan Allah memihak anak bungsu PENGANTAR  Dalam analisis bahasa sastra tradisi, perha...