Sudut Pandang lesu nya ekonomi dg pemahaman teologi kemakmuran
PENGANTAR
Lesunya kondisi ekonomi nasional serta menurunnya daya beli masyarakat ternyata tidak hanya berdampak pada dunia usaha dan rumah tangga, tetapi juga pada gereja. Dalam beberapa kesempatan, saya mendengar informasi (dari ordal) bahwa sejumlah pemimpin gereja atau pejabat mengakui adanya defisit dalam keuangan gereja yang dimana mereka berada.
Dan itu muncul dari beberapa gereja yang selama ini mengajarkan teologi kemakmuran (Prosperity Gospel) terdengar pengakuan: "Keuangan gereja sedang defisit."
Bagi banyak gereja teologi arus utama/mainstream/ protestan reformir bahkan khatolik dan orthodoks pernyataan itu mungkin hanya merupakan laporan keuangan yang wajar. Karena mereka bertumpu pada pemahaman Allah yang maha kuasa akan mencukupkan, bukan masalah seberapa besar dana masuk tetapi seberapa kecilpun dana masuk akan disyukuri dan dikelola sebaik mungkin, ketakutan akan seberapa kecil dana masuk hanya mengkerdilkan pemahaman mempercayakan diri pada Allah yang maha kuasa berlandas kitab suci. Sehingga yang terpenting bagi gereja -gereja dg pemahaman teologi seperti ini adalah transparansi keuangan bukan perkara besaran dana masuk. Namun bagi gereja yang membangun sebagian besar narasi pelayanannya di atas janji kelimpahan materi, kata defisit bukan sekadar persoalan angka. Ia menyentuh jantung dari konstruksi teologi yang selama ini diajarkan.
PEMAHAMAN
Ketika sebuah sistem teologi terus-menerus mengaitkan iman dengan keberhasilan finansial, maka krisis keuangan bukan hanya krisis administrasi, melainkan juga krisis makna. Di titik itulah perlu diajukan pertanyaan-pertanyaan teologis yang lebih mendasar.
Salah satu ciri teologi kemakmuran adalah kecenderungannya menyederhanakan relasi manusia dengan Allah menjadi sebuah pola sebab-akibat:
Memberi lebih banyak → Beriman lebih besar → Menerima berkat lebih besar.
Masalah muncul ketika realitas tidak berjalan sesuai rumus tersebut. Jika kelimpahan finansial selalu dianggap sebagai bukti iman dan penyertaan Allah, bagaimana menjelaskan kondisi ketika gereja yang mengajarkan prinsip itu justru mengalami defisit?
Situasi ini memperlihatkan bahwa Allah tidak bekerja berdasarkan formula mekanis yang dapat dikendalikan manusia. Berkat Allah tidak dapat direduksi menjadi sistem transaksi rohani, seolah-olah persembahan tertentu otomatis menghasilkan keuntungan finansial tertentu.
Defisit keuangan mengingatkan bahwa Allah bukanlah mesin yang dapat diprogram oleh iman manusia. Ia adalah Tuhan yang berdaulat, yang bertindak menurut kehendak-Nya, bukan menurut kalkulasi manusia.
Teologi kemakmuran sering kali bertahan melalui narasi keberhasilan. Kesaksian-kesaksian tentang peningkatan pendapatan, promosi jabatan, atau kepemilikan aset dijadikan bukti bahwa sistem tersebut bekerja.
Namun ketika gereja menghadapi tekanan finansial, muncul beberapa persoalan serius.
Pertama, ada kecenderungan untuk membebankan tanggung jawab kepada jemaat melalui narasi bahwa mereka belum cukup memberi atau belum cukup beriman. Akibatnya, persembahan tidak lagi dipahami sebagai respons syukur kepada Allah, melainkan sebagai sarana untuk memperoleh keuntungan.
Kedua, banyak gereja yang berorientasi pada kemakmuran tidak memiliki ruang yang memadai bagi teologi penderitaan. Padahal Alkitab penuh dengan kisah orang-orang saleh yang mengalami kesulitan, kehilangan, bahkan kemiskinan tanpa kehilangan kasih Allah.
Ketika keberhasilan finansial dijadikan ukuran utama berkat, maka penderitaan menjadi sulit dipahami. Akibatnya, baik jemaat maupun pemimpin dapat mengalami kebingungan rohani ketika menghadapi kegagalan atau krisis ekonomi.
Tidak semua defisit terjadi karena kurangnya pemasukan. Dalam beberapa kasus, persoalan muncul karena pola pengelolaan yang tidak sehat, gaya hidup institusi yang terlalu mahal, atau prioritas pelayanan yang bergeser.
Gedung yang semakin megah, produksi acara yang semakin besar, teknologi yang semakin mahal, dan budaya pencitraan yang terus meningkat dapat membuat gereja kehilangan fokus terhadap panggilan dasarnya.
Di sinilah kritik para nabi Perjanjian Lama tetap relevan.
"Jauhkanlah dari pada-Ku keramaian nyanyian-nyanyianmu... Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir." (Amos 5:23-24)
Pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya, "Mengapa kas gereja defisit?" tetapi juga, "Untuk apa sumber daya gereja selama ini digunakan?"
Apakah dana yang dipercayakan jemaat dipakai untuk melayani, memuridkan, dan menolong mereka yang membutuhkan? Ataukah lebih banyak diarahkan untuk mempertahankan citra keberhasilan yang harus selalu terlihat mengesankan?
Ironisnya, defisit justru dapat menjadi MOMEN ANUGERAH.
Krisis sering kali membongkar ilusi yang selama ini tidak terlihat. Ia memaksa gereja untuk kembali mengevaluasi dasar-dasar teologinya.
Momen seperti ini dapat menjadi kesempatan untuk:
- Kembali kepada Injil yang berpusat pada Kristus, bukan pada kemakmuran materi.
- Memahami bahwa berkat Allah mencakup jauh lebih banyak daripada kekayaan finansial.
- Menghidupi kembali Theologia Crucis (Teologi Salib), yang mengakui bahwa kesetiaan kepada Kristus tidak selalu berjalan bersama kenyamanan dan kelimpahan.
- Membangun budaya transparansi, akuntabilitas, dan pengelolaan keuangan yang sehat.
Kristus sendiri lahir dalam kesederhanaan, hidup tanpa kemewahan, dan memanggil murid-murid-Nya untuk memikul salib. Karena itu, kemakmuran materi tidak pernah menjadi ukuran utama keberhasilan Kerajaan Allah.
Ketika sebuah gereja yang selama ini mengidentikkan iman dengan kelimpahan materi harus mengakui bahwa keuangannya sedang defisit, pengakuan itu menjadi lebih dari sekadar laporan finansial. Ia menjadi cermin yang menguji validitas narasi teologis yang telah lama dibangun.
Mungkin pertanyaan yang paling penting bukanlah bagaimana mengubah defisit menjadi surplus. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apakah gereja sedang membangun iman jemaat kepada Kristus, atau kepada janji-janji kemakmuran yang tidak pernah dijamin oleh Injil?
Karena kesehatan sebuah gereja tidak diukur dari saldo kasnya, melainkan dari kesetiaannya pada Kristus, integritas pengelolaannya, dan dampaknya dalam menghadirkan kasih, keadilan, serta kebenaran Allah di tengah dunia.
A.W. Tozer menegaskan realitas pahit yang sering terjadi:
'Kita terlalu kaya, terlalu nyaman... Kita menggantikan kuasa rohani dengan kemakmuran finansial.'
Sudah saatnya gereja kembali pada esensinya, bukan pada eksistensi hartanya.