Pernyataan bahwa "setiap orang yang berjumpa dengan Yesus pasti hidupnya berubah dan tidak akan sama lagi" telah menjadi semacam aksioma atau rumus baku dalam teologi populer dan khotbah-khotbah kontemporer atau perbincangan-perbincangan di medsos dan komunitas kristen. Sepintas, kalimat ini terdengar sangat beriman dan memotivasi.
Namun, jika kita membedahnya secara kritis berdasarkan narasi Alkitab, rumus otomatisasi ini menghadapi tantangan besar. Realitas teks Alkitab menunjukkan bahwa perjumpaan dengan Yesus TIDAK SELALU menghasilkan "perubahan hidup" yang positif. Perjumpaan dengan Yang Ilahi menuntut respons moral dan kehendak bebas (free will) manusia; Yesus BUKANLAH MANTRA penjamin perubahan otomatis.
Untuk memahami mengapa perubahan tidak terjadi secara mekanis, kita perlu melihat bagaimana Alkitab menggambarkan esensi dari perubahan hidup yang sejati.
• Metanoia (Pertobatan) vs. Perubahan Eksternal
Dalam Perjanjian Baru, perubahan hidup yang dikehendaki oleh Yesus selalu berakar dari kata metanoia, yang secara harfiah berarti "perubahan pikiran" atau "arah pandang yang baru" (dari kata meta = sesudah/berubah, dan noieo = berpikir).
Metanoia bukan sekadar perubahan perilaku moralistis yang tampak dari luar, melainkan transformasi radikal pada pusat eksistensi manusia (hati dan pikiran).
Artinya, seseorang bisa saja "berjumpa" secara fisik atau emosional dengan Yesus, namun jika ia MENOLAK mengalami metanoia, hidupnya tidak akan berubah ke arah yang dikehendaki Allah.
• Epistrophe (Berbalik)
Kata lain yang sering disandingkan adalah epistrophe, yang berarti "berbalik kembali" kepada Allah. Perjumpaan dengan Yesus adalah sebuah undangan (panggilan). Undangan ini membutuhkan tindakan aktif dari manusia untuk epistrophe, berbalik dari jalan yang lama. Tanpa adanya keputusan untuk berbalik, perjumpaan tersebut hanya akan menjadi sebuah peristiwa historis yang lewat begitu saja tanpa dampak transformatif.
Alkitab mencatat dengan sangat jujur bahwa banyak orang mengalami perjumpaan intim dan intens dengan Yesus, namun hidup mereka tidak berubah menjadi lebih baik, atau bahkan berakhir tragis.
- Yudas Iskariot
Yudas adalah bantahan paling telak terhadap rumus otomatisasi perubahan. Dia tidak hanya "berjumpa" dengan Yesus dalam satu Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) atau sesi konseling. Yudas hidup, makan, berjalan, mendengar pengajaran terjujur, dan melihat mukjizat Yesus secara langsung selama tiga tahun.
Secara kedekatan fisik dan intelektual, perjumpaan Yudas sangat maksimal.
Namun, hatinya tetap terikat pada keserakahan (Yohanes 12:6). Perjumpaannya dengan Yesus tidak mengubah karakternya; justru kedekatan itu berakhir pada pengkhianatan yang tragis. Yudas mengalami perubahan, tetapi bukan perubahan menuju kekudusan, melainkan kebinasaan karena penolakan batinnya terhadap hakikat mesianis Yesus.
- Pemuda kaya (Matius 19:16-22)
Seorang penguasa muda yang kaya datang langsung dan berlutut di hadapan Yesus. Ia mengalami perjumpaan pribadi yang sangat dialogis. Yesus bahkan "memandang dia dan menaruh kasih kepadanya" (Markus 10:21). Yesus menawarkan transformasi total: "Jual apa yang kaumiliki... dan ikutlah Aku."
Bagaimana hasil perjumpaan itu? Pemuda itu pergi dengan sedih dan masygul karena hartanya banyak.
Perjumpaan dengan Yesus tidak otomatis mengubah hidupnya menjadi seorang murid yang radikal. Kelekatan pada berhala duniawi (kekayaan) menutup pintu bagi metanoia.
- Penduduk Nazaret dan para pemimpin agama
Yesus mengajar di rumah ibadat di Nazaret, kampung halaman-Nya sendiri (Lukas 4:16-30). Mereka berjumpa, mendengar hikmat-Nya, namun perjumpaan itu justru memicu penolakan, bahkan mereka mencoba melempar-Nya dari tebing. Demikian pula dengan orang-orang Farisi dan ahli Taurat; mereka sering berdebat tatap muka dengan Yesus, melihat kuasa-Nya, tetapi hati mereka justru semakin keras dan merencanakan pembunuhan-Nya.
Dalam tradisi teologi Puritan, gagasan bahwa perubahan hidup terjadi secara otomatis atau mekanis tanpa perjuangan batin ditentang dengan sangat keras. Thomas Watson, dalam karyanya The Doctrine of Repentance, menegaskan bahwa banyak orang terjebak pada apa yang ia sebut sebagai counterfeit repentance (pertobatan tiruan/semu).
Pernyataan bahwa hidup "pasti berubah" hanya karena sebuah momen perjumpaan emosional dengan Yesus sering kali terjebak dalam jebakan mistisisme magis ini, seolah-olah perjumpaan dengan Kristus adalah sebuah transaksi instan, sekali mengalami histeria spiritual atau jamahan sesaat, hidup langsung otomatis kudus tanpa adanya proses mematikan dosa (mortification of sin) dan perjuangan iman yang konsisten.
Watson mengingatkan bahwa esensi dari perjumpaan yang menyelamatkan selalu melahirkan kedukaan yang ilahi atas dosa (godly sorrow). Pertobatan sejati bagi kaum Puritan bukanlah peristiwa sekali jadi, melainkan sebuah "bencana rohani" yang menghancurkan kesombongan manusia dan ego kedagingannya untuk kemudian dibangun kembali oleh Roh Kudus. Jika seseorang mengaku telah berjumpa Yesus namun mengabaikan kekudusan hidup, Watson menyebutnya sebagai orang yang memiliki "iman yang mati" yang hanya memoles bagian luar cawan, namun membiarkan dalamnya penuh dengan kebusukan.
Lukas 9:23
Kata-Nya kepada mereka semua: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku."
Selaras dengan pandangan Puritan, Yesus sendiri tidak pernah menjanjikan perubahan otomatis tanpa penderitaan batin. Kata "harus" dalam ayat di atas menggunakan penekanan imperatif yang menuntut kehendak aktif manusia:
• Menyangkal diri (aparneomai): secara radikal berkata "tidak" pada kedaulatan diri sendiri
• Memikul salib setiap hari: proses mematikan dosa (mortification) yang berlangsung seumur hidup, bukan sekadar pelarian emosional sesaat.
Perubahan hidup terjadi bukan karena peristiwa perjumpaannya secara magis, melainkan karena anugerah Allah yang memampukan manusia untuk taat, memikul salib, dan berperang melawan dosanya setiap hari pasca-perjumpaan tersebut.
--------------------
Kalimat "orang yang berjumpa Yesus hidupnya pasti berubah" perlu dikoreksi secara teologis agar tidak menjadi slogan iman yang naif. Perjumpaan dengan Yesus adalah titik awal menawarkan kemungkinan perubahan (potensi transformasi), tetapi bukan jaminan mekanis yang meniadakan tanggung jawab manusia.
Tuhan menghargai kehendak bebas yang Ia ciptakan dalam diri manusia. Perjumpaan dengan Yesus menuntut respons: apakah kita mau menanggalkan manusia lama seperti Paulus di jalan menuju Damsyik, atau justru mengeraskan hati seperti Yudas Iskariot dan pemuda kaya yang memilih pergi menjauh. Pada akhirnya, yang mengubah hidup bukan sekadar fakta bahwa kita pernah "berjumpa" dengan-Nya, melainkan sejauh mana kita bersedia "takluk dan mengikut" Dia setiap hari.