Selasa, 09 Juni 2026

SUDUT PANDANG WASPADA PREMANISME DALAM KEKRISTENAN!

SUDUT PANDANG WASPADA PREMANISME DALAM KEKRISTENAN!

PENGANTAR
Kita sering mengaitkan Istilah "premanisme" dengan aksi jalanan: pemalakan, intimidasi fisik, tato, dan kekerasan di lorong-lorong gelap. Namun, jika kita membawa isu ini ke dalam ruang-ruang suci (gereja, sinode, yayasan, dan organisasi Kristen) kita akan menemukan sebuah ironi yang tidak nyaman.
Ada bentuk premanisme yang mengalami domestikasi dan spiritualisasi. Ia tidak memakai jaket kulit, melainkan jubah pelayanan atau jas yang rapi. Ia tidak menggunakan senjata tajam, melainkan ayat-ayat Kitab Suci yang dipelintir.
PEMAHAMAN
Mari kita bedah sisi lain dari "premanisme rohani" (spiritual thuggism) dalam kekristenan yang jarang dibahas secara jujur di mimbar-mimbar kita.

1. Doktrin berkat sebagai upeti, dan upaya keberagaman macam persembahan
Dalam premanisme jalanan, ada konsep "uang jaminan keamanan" atau upeti agar bisnis anda aman. Dalam konteks organisasi dan gereja tertentu, praktik ini sering kali mengalami kristenisasi menjadi manipulasi teologis atas nama persembahan atau taburan benih, kasus tabur tuai. Belum lagi istilah janji iman, berjanji nanti kalau sudah ada uangnya maka akan dipersembahkan untuk gereja, dan kemudian gereja menagih. Belum lagi, pemaksaan keharusan tentang iuran untuk sinode atau yayasan dari gereja-gereja yang lebih kecil, umat didesak dengan pengertian untuk peduli pada yayasan lewat gereja-gereja, gereja yg lebih kecil harus menyokong gereja yang lebih besar karena gereja kecil blom punya pendeta (lah ..... kuwalik malah), kemudian macam dan keragaman persembahan.

Konsep Alkitab adalah persembahan sekecil apapun disyukuri dan dikelola dengan baik, bukan seberapa besar dana masuk tetapi seberapa besar kita bersyukur atas pengakuan kita akan Tuhan yang maha kuasa akan mencukupkan, kuncinya di pengelolaan dan tidak bermewah - mewah, ugahari, kesederhanaan, makanya, konsep di Alkitab itu kita hanya pengelola, diberi kepercayaan mengelola, bukan pemilik, pemiliknya Tuhan atas segala sesuatu. Makanya, ada istilah penata layanan, dlsb. Kalau Alkitab masih relevan bagi kita, maka kita kembalikan dasarnya pada Alkitab.

Umat diintimidasi secara psikologis dan spiritual. Khotbah-khotbah didesain sedemikian rupa untuk menimbulkan rasa bersalah (guilt-trip), jika tidak memberi dalam jumlah tertentu, maka pintu berkat tertutup, atau hidupnya akan kena kutuk. Bahan khotbah disiapkan sedemikian rupa, dg tema agar umat tergerak hatinya. Sisi kritisnya, Tuhan diposisikan tidak lebih dari "bos preman besar" yang hanya akan melindungi dan memberkati jika upetinya lancar. Ini adalah degradasi radikal terhadap anugerah (grace) yang cuma-cuma, mengubah relasi iman menjadi transaksi kekuasaan yang koersif (memaksa).

2. Intimidasi rohani: "Jangan menyentuh/ mengusik orang yang diurapi"
Preman mengandalkan hukum rimba: siapa yang paling kuat dan memegang wilayah, kata-katanya adalah hukum. Di dalam komunitas Kristen, hal ini sering kali muncul dalam bentuk kekuasaan absolut pemimpin yang anti-kritik.
Ayat dari 1 Tawarikh 16:22 ("Jangan menyentuh orang-orang yang Kuurapi") kerap dijadikan tameng kekebalan hukum dan moral. Ketika ada jemaat atau staf yayasan yang mempertanyakan transparansi keuangan, tata kelola organisasi, atau penyimpangan perilaku moral pemimpin, mereka segera dicap "pemberontak", "pahit", atau "sedang dipakai iblis."
Ini adalah premanisme sistemik yang membunuh daya kritis komunitas. Alkitab mencatat nabi-nabi justru bertugas mengkritik raja (pemimpin) yang melenceng. Ketika struktur gereja melarang evaluasi dan akuntabilitas, gereja bukan lagi tubuh Kristus, melainkan KARTEL spiritual yang melindungi kepentingan elite sekte.

3. Ekploitasi dan "perbudakan" berkedok pelayanan
Di banyak yayasan, organisasi, atau gereja besar, terdapat praktik eksploitasi tenaga kerja yang luar biasa kasar, namun dibungkus dengan narasi "pengorbanan untuk Tuhan" atau "tuntutan kedewasaan rohani."
Staf atau aktivis pelayanan dituntut bekerja melebihi kapasitas manusiawi (lembur tanpa kompensasi, upah jauh di bawah standar layak, tanpa jaminan kesehatan), sementara para elit organisasi menikmati fasilitas kelas atas. Jika staf tersebut mengeluh, senjata spiritual segera ditembakkan: "Kamu kurang berserah," atau "Upahmu besar di surga."
Ini adalah pelanggaran keadilan sosial yang sangat ditentang oleh nabi-nabi Perjanjian Lama (bdk. Amos 5). Menggunakan nama Tuhan untuk menjustifikasi pemotongan hak-hak dasar manusia adalah bentuk "pemalakan" energi dan hidup orang lain demi kelangsungan institusi.

4. Perebutan "lahan" dan kanibalisme pelayanan
Di dunia hitam, perang antar-geng terjadi karena perebutan wilayah kekuasaan (territorial dispute). Sadar atau tidak, ini terjadi di antara organisasi dan gereja Kristen. Kompetisi antar-gereja untuk menarik jemaat (terutama yang kaya) sering kali dilakukan dengan cara-cara tidak sehat, meski dibungkus dengan label "penginjilan" atau "kebangkitan/ kebangunan rohani." Ada intimidasi terselubung, penyebaran rumor untuk menjatuhkan reputasi lembaga lain, atau monopoli jaringan pelayanan agar bantuan dana (dari donor) tidak lari ke yayasan sebelah. Ego sektarian ini mengkhianati doa Yesus dalam Yohanes 17 agar umat-Nya "menjadi satu." Ketika gereja bertindak seperti korporasi yang agresif mencaplok pangsa pasar, mereka sedang mengadopsi mentalitas preman yang melihat pelayanan sebagai ladang bisnis dan persaingan kekuasaan.

Premanisme, pada akarnya, adalah tentang pemaksaan kehendak melalui dominasi kekuasaan.

Kekristenan, secara paradoks, lahir dari penolakan total terhadap model kekuasaan seperti itu. Yesus Kristus tidak datang sebagai preman kosmik yang memaksa manusia tunduk dengan kepalan tangan. Dia menyatakan diri-Nya melalui Salib, sebuah simbol pelepasan hak, kerapuhan (vulnerability), dan pelayanan yang mengosongkan diri (kenosis). Dalam Markus 10:42-43, Yesus dengan sangat tegas memperingatkan murid-murid-Nya:
"Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi... Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu."
Ketika gereja,  sinode, yayasan, dan organisasi Kristen mulai menggunakan manipulasi psikologis, pembungkaman suara kritis, eksploitasi manusia, dan keserakahan struktural, mereka sebenarnya sedang mengalami murtad fungsional. Mereka mungkin masih menyebut nama "Yesus", tetapi metode yang mereka gunakan adalah metode dunia hitam.
Gereja perlu bertobat dari godaan menjadi "makelar rohani" yang menggunakan cara-cara premanisme untuk mempertahankan institusi. Sudah saatnya komunitas Kristen berani membongkar kekerasan yang rapi ini, dan kembali pada esensi komunitas yang radikal dalam kasih, transparan dalam kelola, dan setara di kaki salib.

SUDUT PANDANG WASPADA PREMANISME DALAM KEKRISTENAN!

SUDUT PANDANG WASPADA PREMANISME DALAM KEKRISTENAN! PENGANTAR Kita sering mengaitkan Istilah "premanisme" dengan aksi jalanan: pem...