Rabu, 03 Juni 2026

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 9:9-13,18-26 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗜𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔] ditambah Matius 25:31-46, 𝗕𝗲𝗹𝗮𝘀 𝗸𝗮𝘀𝗶𝗵𝗮𝗻 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗽𝗲𝗻𝘁𝗶𝗻𝗴 𝗱𝗮𝗿𝗶𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗶𝗯𝗮𝗱𝗮𝗵

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 9:9-13,18-26 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗜𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔] ditambah Matius 25:31-46, 𝗕𝗲𝗹𝗮𝘀 𝗸𝗮𝘀𝗶𝗵𝗮𝗻 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗽𝗲𝗻𝘁𝗶𝗻𝗴 𝗱𝗮𝗿𝗶𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗶𝗯𝗮𝗱𝗮𝗵

PENGANTAR
Minggu 07 Juni 2026, Saya selalu mengatakan hidup ini tidak ideal, bahkan lebih sering lucu menggemaskan alias wagu (Jawa). Dalam kondisi ketidak idealan tsb kita dituntut sikap etis atas kehidupan yang mendemonstrasikan bahwa Alkitab masih relevan dalam hidup orang beriman lewat proses juang meneladan Kristus dan mewujudkan hikmat pengajaranNya dalam hidup. Sangat membagongkan , sebuah sinode yg berseru ada dalam gerak kebersamaan atau gerak ekuminis menggunakan kalender liturgi dan liturgi leksionari, tetapi saat membuat bahan khotbah malah menggeser bacaan Injil, Matius 25 : 31-46 adalah bacaan Injil untuk Minggu 26 setelah Pentakosta, susunan itu sudah diatur sedemikian rupa, lah ..... Kok malah digeser menjadi bacaan Injil Minggu 2 setelah Pentakosta  (Matius 9 :9-13,18-26), kan .... kalau mau usaha dikit kan ya seharusnya solusinya lebih manis, membagongkan kemudian menulis dalam tulisan miring dalam kurung di bahan khotbah sbb : (Untuk keperluan Bulan Kesaksian dan Pelayanan, bacaan yang 
digunakan adalah Matius 25:31-46/ di luar leksionari). Padahal, Sinode ini memakai bahan Matius 25:31-46 untuk mengusung tema lembaga Kristen yang berdampak sebagai pergumulan dalam bulan kesaksian dan pelayanan, yg dalam sudut pandang saya pribadi tema itu malah lebih tepat memakai Matius 9:9-13,18-26). Maka, perkenankan saya mengulas 1 bacaan Injil Matius 9:9-13,18-26, lumayan panjang agar dapat diperbandingkan dg arah tema bulan kesaksian dan pelayanan. Kemudian tulisan berikutnya saya akan mengulas Matius 25:31-26, sebagai pembanding thp arah tema bulan kesaksian dan pelayanan.
PEMAHAMAN 
Kalau kita hendak mengenali satu sosok, misal pesepakbola idola, bintang film idola, tentulah kita tidak akan puas dengan membaca satu buku dari satu pengarang tentang sosok yang kita idolai itu. Kita akan mencari buku lain atau kisah lain dari penulis lain. Demikian halnya pada Yesus. Kita beruntung Alkitab menyediakan empat buku tentang kehidupan dan karya Yesus dari penulis atau pengarang yang berbeda. Injil Matius dipandang oleh banyak ahli Perjanjian Baru sebagai kitab Injil paling teratur. Hal ini juga mengisyaratkan Jemaat Matius merupakan Gereja yang sudah tertata cukup rapi baik organisasi maupun liturgi. Justru sudah tertata cukup rapi itulah Jemaat Matius bergejolak baik karena tekanan eksternal maupun internal, mirip Gereja mapan masa kini. Pengarang Injil Matius menulis Injilnya untuk mengatasi persoalan itu.
Hari ini adalah Minggu kedua sesudah Pentakosta. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Matius 9:9-13, 18-26 yang didahului dengan Kejadian 12:1-9, Mazmur 33:1-12, dan Roma 4:13-25.

Bacaan Injil Minggu ini terdiri atas dua perikop: Matius 9:9-13 𝘔𝘢𝘵𝘪𝘶𝘴 𝘱𝘦𝘮𝘶𝘯𝘨𝘶𝘵 𝘤𝘶𝘬𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 dan Matius 9:18-26 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘪𝘣𝘢𝘥𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘢𝘳𝘢𝘩𝘢𝘯. Konteks terdekat bacaan adalah Matius pasal 8 – 9 yang bertema 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘮𝘣𝘶𝘩𝘬𝘢𝘯 atau dapat juga diberi tema 𝘒𝘶𝘮𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘴𝘢𝘩 𝘮𝘶𝘬𝘫𝘪𝘻𝘢𝘵. Kedua pasal itu berbentuk narasi. Latar tempat di Kapernaum dengan merujuk Matius 8:5; 9:1.

𝗠𝗮𝘁𝗶𝘂𝘀 𝟵:𝟵-𝟭𝟯

Setelah Yesus pergi dari situ (tempat Yesus menyembuhkan orang lumpuh), Ia melihat seorang bernama Matius duduk di tempat pemungutan cukai, lalu Ia berkata kepadanya, “𝘐𝘬𝘶𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘈𝘬𝘶.” Matius pun berdiri dan mengikut Yesus. (ay. 9)

Nama Matius di sini tidak ada hubungannya dengan nama pengarang Injil Matius. Nama Matius itu juga tidak perlu disamakan dengan nama Lewi di Injil Markus (Mrk. 2:14). Mereka adalah sosok menurut penulis Injil masing-masing.

Ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya (ay. 10). Dalam bahasa aslinya tidak disebut 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘔𝘢𝘵𝘪𝘶𝘴, melainkan 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 (𝘦𝘯 𝘵o 𝘰𝘪𝘬𝘪𝘢). Mungkin penerjemah LAI berprapaham bahwa Yesus tidak memiliki rumah, maka langsung dianggap itu rumah milik Matius. Makan di sini sebenarnya penafsiran dari 𝘢𝘯𝘢𝘬𝘦𝘪𝘮𝘦𝘯𝘰𝘶 yang berarti literal sedikit rebahan (𝘳𝘦𝘤𝘭𝘪𝘯𝘪𝘯𝘨). Kita yang biasa naik bus malam disediakan kursi yang dapat direbahkan (𝘳𝘦𝘤𝘭𝘪𝘯𝘪𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘢𝘵). Mengapa 𝘢𝘯𝘢𝘬𝘦𝘪𝘮𝘦𝘯𝘰𝘶 ditafsir makan? Pada zaman itu hanya meja makan tanpa bangku atau kursi. Orang makan secara 𝘭e𝘴e𝘩𝘢𝘯 atau duduk di tempat semacam kasur dengan sedikit rebahan.

Dalam ayat 10 tidak disebut secara eksplisit bahwa Matius adalah pemungut cukai. Namun, karena ia berada di tempat pemungutan cukai, maka sangat bolehjadi teman-teman dari kalangan pemungut cukai ada banyak dan mereka bergabung makan bersama dengan Yesus. Pemungut cukai dipandang sebagai pengkhianat oleh orang-orang Farisi karena bekerja untuk Pemerintah Roma. Rabi-rabi Yahudi bahkan menyebut pemungut cukai adalah pencuri. Selain para pemungut cukai disebut juga orang berdosa bergabung ke rumah itu. Jadi, ada dua kelompok orang berdosa. Pertama, orang berdosa secara spesifik yang bekerja sebagai pemungut cukai. Kedua, orang berdosa secara umum. Apakah kelompok kedua ini adalah para pelanggar hukum Taurat? Tampaknya bukan itu. Orang berdosa kelompok kedua ini adalah orang-orang buangan, orang-orang kasta rendah dalam sistem kesucian Yudaisme seperti para penunggang unta, pelaut, gembala, pemilik toko, tukang daging, dlsb.

Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus, “𝘔𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢 𝘎𝘶𝘳𝘶𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘮𝘶𝘯𝘨𝘶𝘵 𝘤𝘶𝘬𝘢𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘰𝘴𝘢?” (ay. 11) Di Palestina perjamuan makan merupakan saat utama terjadinya persekutuan antar-manusia. Pada zaman itu suatu perjamuan makan membolehkan orang lain untuk menonton. Di antara penonton itu ada orang-orang Farisi. Menurut mereka makan bersama dengan para pendosa berarti Yesus melanggar aturan yang ditetapkan oleh kaum Farisi.

Yesus mendengar perkataan orang Farisi itu dan berkata, “𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘩𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘳𝘭𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘣𝘪𝘣, 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵. 𝘑𝘢𝘥𝘪, 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘭𝘢𝘫𝘢𝘳𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘧𝘪𝘳𝘮𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪: 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬𝘪 𝘪𝘢𝘭𝘢𝘩 𝙗𝙚𝙡𝙖𝙨 𝙠𝙖𝙨𝙞𝙝𝙖𝙣 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘣𝘢𝘩𝘢𝘯, 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘈𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳, 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘰𝘴𝘢.” (ay. 12-13). Dengan berkata 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘭𝘢𝘫𝘢𝘳𝘪𝘭𝘢𝘩, Yesus hendak mengajak para pendengar-Nya menangkap makna perbuatan-Nya. Firman di ayat itu mengutip kitab Hosea 6:6.

Siapakah 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 itu? Tentu saja yang dimaksud adalah orang-orang Farisi yang sudah merasa benar. Kalau sudah benar, untuk apa lagi butuh belas kasihan? 

Dalam pada itu para pemungut cukai dan pendosa dikucilkan dari ibadah dan kurban persembahan. Pada episode sebelumnya dalam 𝘒𝘩𝘰𝘵𝘣𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘉𝘶𝘬𝘪𝘵 Yesus mengatakan, “𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶𝘳𝘣𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘮𝘦𝘻𝘣𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶, 𝙩𝙞𝙣𝙜𝙜𝙖𝙡𝙠𝙖𝙣𝙡𝙖𝙝 𝙥𝙚𝙧𝙨𝙚𝙢𝙗𝙖𝙝𝙖𝙣𝙢𝙪 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘻𝘣𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘢𝘮𝘢𝘪 𝘥𝘢𝘩𝘶𝘭𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢𝘮𝘶” (Mat. 23-24). Jadi, yang dimaksud oleh Yesus 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬𝘪 𝘪𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘣𝘢𝘩𝘢𝘯 adalah 𝗶𝗯𝗮𝗱𝗮𝗵 𝘂𝗿𝘂𝘀𝗮𝗻 𝗻𝗼𝗺𝗼𝗿 𝗱𝘂𝗮, sedang nomor satu adalah belas kasihan (𝘮𝘦𝘳𝘤𝘺) dan rekonsiliasi.

𝗠𝗮𝘁𝗶𝘂𝘀 𝟵:𝟭𝟴-𝟮𝟲

Bacaan melompat dari ayat 13 ke ayat 18 di pasal atau bab yang sama. Latar tempat masih di rumah tempat perjamuan makan Yesus dengan para pendosa. Perikop ini bersumber dari Injil Markus 5:21-43. Pengarang Injil Matius menyingkatnya dari 23 ayat menjadi 9 ayat saja.

Datanglah seorang kepala rumah ibadat menyembah Yesus dan berkata, “𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘭𝘦𝘵𝘢𝘬𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯-𝘔𝘶 𝘢𝘵𝘢𝘴𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱.” Yesus pun bangun dan mengikuti orang itu bersama dengan murid-murid-Nya. (ay. 18-19)

Seorang kepala rumah ibadat (TB 1974 dan TB II 1997) atau kepala sinagog diterjemahkan dari 𝘢𝘳𝘤𝘩o𝘯. NRSV juga sama menerjemahkan 𝘢𝘳𝘤𝘩o𝘯 sebagai 𝘢 𝘭𝘦𝘢𝘥𝘦𝘳 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘴𝘺𝘯𝘢𝘨𝘰𝘨𝘶𝘦. Kepala sinagog adalah pejabat penting. Ia menentukan pembaca kitab suci dan pengajar/pengkhotbah untuk ibadah di sinagog. Dalam Injil Markus kepala sinagog itu bernama Yairus, tetapi di perikop ini Matius tidak menyebut namanya.

Dalam kekristenan kepala sinagog itu sejajar dengan koster, yang bertanggung jawab untuk mengurus sakristi, bangunan gereja, dan isinya. Sakristi adalah sebuah ruang untuk menyimpan vestimentum (pakaian) seperti alba, stola, dan kasula. Sakristi juga dipergunakan untuk menyimpan perabotan gereja lainnya termasuk barang-barang suci dan catatan jemaat. Dalam 𝘊𝘢𝘵𝘩𝘰𝘭𝘪𝘤 𝘌𝘯𝘤𝘺𝘤𝘭𝘰𝘱𝘦𝘥𝘪𝘢 (Vol.13) Paus Gregorius IX mengatakan koster adalah jabatan terhormat. Dalam buku 𝘊æ𝘳𝘦𝘮𝘰𝘯𝘪𝘢𝘭𝘦 𝘦𝘱𝘪𝘴𝘤𝘰𝘱𝘰𝘳𝘶𝘮  terdapat aturan bahwa koster dalam gereja-gereja katedral dan perguruan tinggi adalah seorang imam. Tugas-tugasnya berpautan dengan sakristi, hosti kudus, bejana baptis, minyak suci, relikui suci, dekorasi gereja untuk setiap perayaan dan masa yang berbeda, persiapan kebutuhan beragam upacara, membunyikan lonceng gereja, memelihara keteraturan dalam gereja, dan mengatur jadwal ibadah. Di Gereja-Gereja Protestan di Indonesia koster turun dahsyat menjadi pesuruh atau 𝘰𝘧𝘧𝘪𝘤𝘦 𝘣𝘰𝘺 Gereja.

Kepala sinagog itu datang menyembah Yesus. Menyembah di sini menerjemahkan 𝘱𝘳𝘰𝘴𝘦𝘬𝘺𝘯𝘦𝘪 yang berarti bertelut (𝘬𝘯𝘦𝘦𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘰𝘸𝘯). Menyembah di sini bukan bermakna sujud menyembah raja. Orang itu sedang berputus asa dan Yesus adalah pengharapannya terakhir. Itulah sebabnya ia bertelut, memohon dengan sangat kepada Yesus. Ia meyakini dengan penumpangan tangan Yesus di kepala anak perempuannya, ia akan hidup lagi.

Mari kita lihat reaksi Yesus. Ia langsung bangun. Kok bangun? Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya bahwa pada zaman itu orang makan secara 𝘭e𝘴e𝘩𝘢𝘯 atau duduk di tempat semacam kasur dengan sedikit rebahan. Di tempat perjamuan itu sebelumnya Yesus berkata bahwa hanya orang sakit yang membutuhkan tabib. Yesus memegang perkataan-Nya dengan bereaksi langsung bertindak.

Dalam perjalanan ke rumah kepala sinagog itu bukan saja murid-murid Yesus yang mengikuti-Nya, melainkan banyak orang karena ingin melihat yang akan terjadi. Di keramaian itu ada seorang perempuan yang sudah 12 tahun menderita pendarahan. Secara diam-diam perempuan itu hendak menjamah jumbai jubah Yesus dari belakang. Katanya dalam hati, “𝘈𝘴𝘢𝘭 𝘬𝘶𝘴𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘫𝘶𝘣𝘢𝘩-𝘕𝘺𝘢, 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘣𝘶𝘩.” (ay. 20-21)

Ada perbedaan tegas antara kepala sinagog dan perempuan itu dalam hal menginginkan mukjizat dari Yesus. Kepala sinagog meminta terus terang sampai ia bertelut, sedang perempuan itu tidak mengucap dan menginginkan mendapat mukjizat secara diam-diam seperti hendak mencuri. Sangat dipahami status perempuan itu sangat rendah menurut sistem kesucian Yudaisme. Perempuan dalam keadaan menstruasi adalah najis (lih. Im. 15:19, 20, 25). Perempuan itu tidak seperti perempuan normal yang mendapat menstruasi hanya pada masa-masa tertentu, tetapi terus-menerus selama 12 tahun. Setiap hari ia najis. Orang yang disentuhnya juga menjadi najis. Perempuan itu malu berbicara dengan Yesus. Tidak ada cara lain kecuali menyentuh jumbai jubah Yesus secara diam-diam.

Apa itu jumbai? Jumbai (𝘧𝘳𝘪𝘯𝘨𝘦) bersinonim dengan gunjai, jurai, rumbai-rumbai, umbai, bunjai, gunci (Tesamoko, hlm. 304). Ada empat jumbai yang harus dipasang di ujung jubah laki-laki Yahudi; Jumbai harus diberi benang ungu kebiru-biruan (lih. Bil. 15:37-41).

Sesudah perempuan itu menyentuh jumbai jubah-Nya, Yesus menoleh dan memandangnya, “𝘛𝘦𝘨𝘶𝘩𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘮𝘶, 𝘩𝘢𝘪 𝘢𝘯𝘢𝘬-𝘒𝘶. 𝘐𝘮𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯𝘮𝘶.” Sejak saat itu perempuan itu sembuh. (ay. 22)

Pengarang Injil Matius tampaknya hendak menyampaikan dengan terang bahwa Yesus tidak pilih kasih, tidak tebang pilih. Perempuan najis pun diterima oleh Yesus. Di sini Matius hendak mengontraskan antara kepala sinagog yang terhormat dan perempuan najis itu sama-sama diterima oleh Yesus. Gereja pun sepatutnya demikian, tidak hanya memumpunkan pelayanan kepada orang-orang kaya dan pejabat negara.

Yesus melanjutkan perjalanan menuju rumah kepala sinagog. Ketika Ia tiba di sana dan melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak ribut, berkatalah Yesus, “𝘗𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘵𝘪, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘶𝘳.” Mereka menertawai Yesus. Sesudah mereka keluar, Yesus masuk dan memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu. Tersebarlah kabar itu ke seluruh daerah itu. (ay. 23-26)

Disebutkan dalam ayat di atas 𝘱𝘦𝘯𝘪𝘶𝘱-𝘱𝘦𝘯𝘪𝘶𝘱 𝘴𝘦𝘳𝘶𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬. Pada masa itu suasana perkabungan Yahudi harus dilengkapi dengan peniup-peniup seruling dan perempuan peratap. Dalam ayat di atas tidak disebut perempuan peratap karena sangat bolehjadi perempuan peratap adalah 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 itu atau di antara 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 itu. Di dalam 𝘔𝘪𝘴𝘺𝘯𝘢 (buku peraturan ahli Taurat) dikatakan bahwa orang miskin juga harus menyewa sekurang-kurangnya dua peniup seruling dan seorang perempuan peratap dalam perkabungan. Kepala sinagog itu bukan orang miskin sehingga tampaknya jumlah peniup seruling dan perempuan peratap yang disewanya cukup banyak dengan merujuk frase 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘳𝘪𝘣𝘶𝘵 (ay. 23).

Di ayat 18 kepala sinagog mengatakan bahwa anaknya sudah meninggal, tetapi di ayat 24 Yesus mengatakan bahwa anaknya tidur. Di sini tampaknya Matius hendak menyampaikan kepada jemaatnya bahwa kematian bukanlah menakutkan karena hanya tidur sementara di kubur. Pengarang Injil Matius juga menempatkan kisah ini di pasal 9 untuk menyiapkan ucapan Yesus di Matius 11:5 “…𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨  𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵𝘬𝘢𝘯 …”.

Dari bacaan Minggu ini kita dapat membayangkan orang-orang Kristen masa kini, misal dari kalangan Tongis, jika hidup pada masa Yesus sangat bolehjadi mereka masuk di dalam kisah Injil sebagai faksi utama Yahudi, selain Farisi, yang menentang Yesus. Di sini Yesus sangat liberal dan radikal. Yesus sesat! Yesus melanggar hukum Taurat dengan menafsir ulang. Yesus bergaul dengan kalangan orang najis. Keselamatan ditafsir oleh Yesus bukan dengan memelihara ideologi ketidakkeliruan Kitab Suci atau 𝘪𝘯𝘦𝘳𝘳𝘢𝘯𝘤𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘣𝘪𝘣𝘭𝘦. Belas kasihan dan rekonsiliasi jauh lebih penting ketimbang ibadah, menenggelamkan ideologi 𝘪𝘯𝘦𝘳𝘳𝘢𝘯𝘤𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘣𝘪𝘣𝘭𝘦.

(03062026)(TUS)