SEPERTI APA PENGAJARAN SESAT DI DALAM GEREJA?
Salah satu bahaya terbesar yang dihadapi gereja bukan hanya penganiayaan dari luar, tetapi juga munculnya pengajaran sesat dari dalam. Itulah sebabnya Alkitab berulang kali mengingatkan orang percaya untuk berjaga-jaga terhadap ajaran yang menyimpang dari Injil.
Lalu, seperti apa pengajaran sesat itu?
Pengajaran sesat tidak selalu terdengar aneh atau mudah dikenali. Justru banyak di antaranya dibungkus dengan ayat-ayat Alkitab, kata-kata rohani, bahkan disampaikan oleh orang yang tampak saleh.
Karena itu, ukuran kebenaran bukanlah siapa yang berkhotbah atau seberapa menarik penyampaiannya, melainkan apakah ajaran itu sesuai dengan seluruh firman Tuhan.
Pengajaran dapat disebut sesat ketika mulai mengurangi, menambah, atau memutarbalikkan kebenaran firman Tuhan demi kepentingan tertentu.
Misalnya, ketika Tuhan Yesus tidak lagi diberitakan sebagai satu-satunya jalan keselamatan.
Ketika keselamatan dianggap bisa dibeli, diusahakan, atau diperoleh melalui perbuatan manusia.
Ketika Injil hanya dipakai untuk menjanjikan kekayaan, kesuksesan, dan kenyamanan dunia tanpa berbicara tentang pertobatan, kekudusan, dan memikul salib.
Ketika pengalaman pribadi ditempatkan lebih tinggi daripada otoritas Alkitab.
Atau ketika seorang pemimpin menuntut ketaatan mutlak kepada dirinya, seolah-olah dirinya tidak boleh dikoreksi oleh firman Tuhan.
Pengajaran sesat juga sering membuat manusia semakin berpusat pada dirinya sendiri, bukan kepada Kristus. Yang dikejar adalah sensasi, popularitas, keuntungan, atau kuasa, bukan kemuliaan Tuhan.
Karena itu, setiap orang percaya harus bertumbuh dalam pengenalan akan firman Tuhan. Jangan mudah menerima setiap ajaran hanya karena disampaikan dengan fasih atau sedang populer. Ujilah segala sesuatu dengan Alkitab.
Di sisi lain, kita juga harus berhati-hati agar tidak sembarangan memberi label "sesat" kepada setiap orang yang memiliki perbedaan penafsiran atas hal-hal yang tidak mendasar. Tidak semua perbedaan doktrin berarti pengajaran sesat. Ada banyak perbedaan di antara gereja-gereja mengenai hal-hal sekunder, tetapi tetap berpegang pada Injil yang sama.
Karena itu, marilah kita menjadi jemaat yang mencintai kebenaran, rendah hati untuk terus belajar, dan setia berpegang pada firman Tuhan.
Sebab gereja yang kuat bukanlah gereja yang kebal terhadap pengajaran sesat.
Gereja yang kuat adalah gereja yang mengenal kebenaran sehingga tidak mudah disesatkan.
"Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah, sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia." (1 Yohanes 4:1)