Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 10:24-39, [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗜𝗩 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], 𝗕𝗲𝗿𝗮𝗻𝗶 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗸𝘂𝗶
Minggu 21 Juni 2026, Apabila kita membaca kisah Natal di Injil Lukas, suasana yang kita dapati adalah kesederhanaan, teduh, dan damai. Suasana itu berbeda di Injil Matius. Kisah Natal di Injil Matius dalam suasana teror. Kalau kita meneruskan membaca Injil Matius, maka kita akan menemukan ayat bahwa Yesus datang tidak membawa damai, melainkan pedang.
Hari ini adalah Minggu keempat sesudah Pentakosta. Bacaan secara ekumenis diambil dari Injil Matius 10:24-39 yang didahului dengan Kejadian 21:8-21, Mazmur 86:1-10, 16-17, dan Roma 6:1b-11.
Injil Matius ditulis pada masa sesudah Bait Allah II diruntuhkan oleh pasukan Romawi pada 70 ZB. Secara cerita penulisannya dalam bentuk narasi dan wejangan. Ada lima bagian wejangan dalam Injil Matius.
▶️ Wejangan I tentang kebenaran sejati dalam 𝘒𝘩𝘰𝘵𝘣𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘉𝘶𝘬𝘪𝘵 (Mat. 5-7)
▶️ Wejangan II tentang pengutusan para rasul dan tantangannya (Mat. 10)
▶️ Wejangan III tentang perumpamaan-perumpamaan (Mat. 13:1-52)
▶️ Wejangan IV tentang hidup berjemaat (Mat. 18)
▶️ Wejangan V tentang akhir zaman (Mat. 24-25)
Bacaan Injil hari ini, Matius 10:24-39, dimasukkan ke dalam bagian Wejangan II. Ada dua bacaan atau perikop penting sebelum masuk ke Wejangan II:
▶️ Belas kasihan Yesus terhadap orang banyak (Mat. 9:35-38)
▶️ Yesus memanggil ke-12 rasul (Mat. 10:1-4)
Wejangan II dapat dibagi lagi ke dalam lima seksi:
▶️ Seksi 1: Pengutusan ke-12 rasul (Mat. 10:5-16)
▶️ Seksi 2: Menghadapi penganiaya (Mat. 10:17-25)
▶️ Seksi 3: Janganlah takut (Mat. 10:26-31)
▶️ Seksi 4: Mengakui atau menyangkal Yesus (Mat. 32-39)
▶️ Seksi 5: Upah bagi yang menyambut utusan Yesus (Mat. 40-42)
Itu berarti bacaan Injil Minggu ini masuk ke seksi 2 bagian akhir, seksi 3, dan seksi 4. Dalam seksi 2 pengarang Injil Matius merujuk Markus 13:9-13, tetapi melepaskan teks dari konteksnya. Dalam Injil Markus (juga Luk. 21:12-19) konteksnya adalah eskatologis atau tentang akhir zaman, sedang dalam Injil Matius konteksnya pengutusan para rasul. Mengapa?
Tidak ada bukti para murid mengalami kekerasan selama Yesus masih hidup. Baru kemudian sesudah kematian Yesus, para murid mengalami penganiayaan dahsyat. Pengarang Injil Matius memasukkan anasir penganiayaan ke dalam wejangan pengutusan para rasul (seksi 2) untuk menyampaikan bahwa saat Injil Matius ditulis terjadi penganiayaan dahsyat terhadap jemaat Kristen. Dengan kata lain mengikuti Yesus dan melakukan misi-Nya tidak akan pernah membebaskan para murid dari derita dan aniaya.
Pengubahan konteks Markus oleh Matius dilatarbelakangi oleh situasi Jemaat Matius yang harus berhadapan dengan lawan kuat, yaitu jemaat Yahudi di sinagog. Matius menyebut sinagog sebagai 𝘴𝘪𝘯𝘢𝘨𝘰𝘨 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 untuk membedakan jemaat Yahudi dan Kristen (lih. Mat. 4:23; 9:35; 10:17; 12:9; 13:54). Ancaman aniaya bukan hanya dari luar, tetapi juga dari dalam keluarga.
Para murid Yesus akan dibenci karena nama-Nya, tetapi kesetiaan kepada-Nya akan menyelamatkan mereka. Yang mereka akan alami sudah dialami oleh Yesus. Itulah sebabnya Yesus berkata, “𝘚𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘨𝘶𝘳𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘮𝘣𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘶𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢.” (Mat. 10:24). Jadi, kalau ada pendeta 𝘤𝘳𝘢𝘻𝘺 𝘳𝘪𝘤𝘩 yang tak punya belarasa kepada masyarakat miskin berarti ia melebihi Yesus dan bukan murid lagi.
Dalam bacaan Injil Minggu ini, secara khusus seksi 3 (Mat. 10:26-31), Yesus mengatakan 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵 sebanyak tiga kali di ayat 26, 28, dan 31. Jangan takut terhadap siapa? Pada teks disebut 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢. Siapakah mereka? Dalam Matius 10:17-18 mereka adalah orang-orang yang menyerahkan murid Yesus kepada Majelis Agama, orang-orang yang mencambuk murid Yesus di rumah ibadat mereka, penguasa-penguasa, dan raja-raja. Mereka di sini secara umum adalah orang-orang yang menolak dan menentang Yesus.
𝗝𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗸𝗮𝗺𝘂 𝘁𝗮𝗸𝘂𝘁 (𝟭)
Matius 10:26-27 “𝘑𝘢𝘥𝘪, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘱𝘶𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘭𝘶𝘣𝘶𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘱𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘱𝘶𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘺𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘬𝘦𝘵𝘢𝘩𝘶𝘪. 𝘏𝘢𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘨𝘦𝘭𝘢𝘱, 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘥𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘣𝘪𝘴𝘪𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦 𝘵𝘦𝘭𝘪𝘯𝘨𝘢𝘮𝘶, 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩.”
Di Lukas 12:2 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘭𝘶𝘣𝘶𝘯𝘨 … 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘺𝘪 merujuk orang-orang Farisi. Di Injil Matius subjeknya adalah hal yang dikatakan Yesus dalam bentuk perumpamaan dalam lingkaran kecil para murid (lih. Mrk. 4:22) diberitakan 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩. Di Palestina kuno pengumuman kepada masyarakat lazim dilakukan dari atas atau atap rumah yang rata.
𝗝𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗸𝗮𝗺𝘂 𝘁𝗮𝗸𝘂𝘁 (𝟮)
Matius 10:28 “𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘶𝘢𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩 𝘫𝘪𝘸𝘢, 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘋𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘶𝘢𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘪𝘯𝘢𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘫𝘪𝘸𝘢 𝘮𝘢𝘶𝘱𝘶𝘯 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩 𝘥𝘪 𝘯𝘦𝘳𝘢𝘬𝘢.”
Tentu kita sering mendengar kampanye kaum evangelikal 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘪𝘸𝘢-𝘫𝘪𝘸𝘢. Kampanye ini tak alkitabiah. Teologi Kristen berkesinambungan dengan teologi Yahudi bahwa tubuh dan jiwa adalah satu kesatuan, satu entitas, tidak dibedakan. Ayat 28 di atas hendak mengontraskan antara manusia yang membunuh dan Allah yang membinasakan; Manusia tidak dapat membunuh hidup itu sendiri. Ayat 28 juga adalah pernyataan kedua menyangkut keberanian murid Yesus menjadi martir atau mati syahid untuk tetap mengakui-Nya. Risiko penyangkalan adalah binasa tubuh sekaligus jiwa. Umat Kristen menanti kebangkitan tubuh dan jiwa sama seperti Yesus (Mat. 28:6, 9. Bdk. 1Kor. 15:35-44).
𝗝𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗸𝗮𝗺𝘂 𝘁𝗮𝗸𝘂𝘁 (𝟯)
Matius 10:29-31 “𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘥𝘶𝘢 𝘦𝘬𝘰𝘳 𝘣𝘶𝘳𝘶𝘯𝘨 𝘱𝘪𝘱𝘪𝘵 𝘥𝘪𝘫𝘶𝘢𝘭 𝘴𝘦𝘩𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘪𝘯𝘨 𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭? 𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯, 𝘴𝘦𝘦𝘬𝘰𝘳 𝘱𝘶𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘵𝘶𝘩 𝘬𝘦 𝘣𝘶𝘮𝘪 𝘥𝘪 𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘬𝘦𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬 𝘉𝘢𝘱𝘢𝘮𝘶. 𝘉𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘮𝘣𝘶𝘵 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢𝘮𝘶 𝘱𝘶𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘩𝘪𝘵𝘶𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢. 𝘖𝘭𝘦𝘩 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵! 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘣𝘶𝘳𝘶𝘯𝘨 𝘱𝘪𝘱𝘪𝘵.”
Burung pipit dimakan oleh masyarakat miskin karena harganya termurah. Ungkapan hiperbola 𝘙𝘢𝘮𝘣𝘶𝘵 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢𝘮𝘶 𝘱𝘶𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘩𝘪𝘵𝘶𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 adalah pepatah lama yang merujuk kitab 1Samuel 14:45 dan 2Samuel 14:11b 𝘋𝘦𝘮𝘪 𝘛𝘜𝘏𝘈𝘕 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘴𝘦𝘩𝘦𝘭𝘢𝘪 𝘳𝘢𝘮𝘣𝘶𝘵 𝘱𝘶𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘢𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘵𝘶𝘩 𝘬𝘦 𝘣𝘶𝘮𝘪. Hal kecil saja tidak ditinggalkan Allah, apalagi hal besar. Ungkapan khas Yahudi ini – membandingkan hal kecil dengan hal besar – digunakan untuk pastoral kepada jemaat Kristen (dhi. Jemaat Matius) untuk tidak ragu-ragu apabila harus menjadi martir. Bagi pegiat lingkungan hidup ayat ini juga dapat menjadi penguat bahwa Allah saja memelihara makhluk hidup yang lemah, demikian juga sepatutnya manusia.
Seksi 4 (Mat. 32-39) bertema 𝘔𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘭 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴. Pengulasan seksi 4 ini saya bagi dua bagian: Matius 10:32-33 dan Matius 10:34-39.
Matius 10:32-33 𝘚𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢, 𝘈𝘬𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘉𝘢𝘱𝘢-𝘒𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘳𝘨𝘢. 𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯, 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘭 𝘈𝘬𝘶 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢, 𝘈𝘬𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘭𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘉𝘢𝘱𝘢-𝘒𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘳𝘨𝘢.
Kata 𝘢𝘬𝘢𝘯 merujuk Hari Penghakiman, yang seluruh umat manusia akan diadili oleh Allah. Menariknya di sini Yesus bukan sebagai hakim, melainkan semacam pembela atau perantara (memang sulit mencari kata yang tepat). “Rekomendasi” atau “verifikasi” dari Yesus menentukan nasib seseorang. Dalam konteks Injil Matius ini adalah kesejajaran dengan pengadilan di dunia. Dalam pengadilan di Mahkamah Agama para murid akan dilihat, apakah mereka akan mengakui atau menyangkal Yesus? Hal ini bukan melulu soal pengadilan formal. Dalam makna lebih luas berlaku juga pada berbagai kesempatan para pengikut memberitakan atau menyembunyikan Injil Yesus kepada lingkungannya. Ada contoh di Injil Matius ketika Petrus menyangkali Yesus sampai tiga kali di halaman Imam Besar (lih. Mat. 26:70-72). Memberitakan Injil Yesus bukan saja lewat perbuatan, tetapi juga berani berbicara 𝘈𝘬𝘶 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 di hadapan para penganiaya.
Dalam bagian kedua (Mat. 10:34-39) seksi 4 ada ayat yang tidak populer di kalangan Kristen, bahkan sering dipalingkan, dan ayat ini acap digunakan oleh orang lain untuk mendiskreditkan Kristen. Matius 10:34-36 “𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘥𝘢𝘮𝘢𝘪 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘣𝘶𝘮𝘪; 𝘈𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘥𝘢𝘮𝘢𝘪, 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨, 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘈𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘴𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘺𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢, 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘣𝘶𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘵𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘣𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘵𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘶𝘴𝘶𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘪𝘴𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢.”
Kita perlu memahami hal yang disampaikan Yesus, bukan untuk memalingkan hal yang disampaikan-Nya. Untuk mencoba memahaminya mari kita membaca ayat-ayat sebelumnya, karena pengarang Injil Matius menulisnya satu kesatuan wejangan. Ayat-ayat sebelumnya menjelaskan mengenai penganiayaan yang akan terjadi terhadap para pengikut Yesus. Dalam pada itu ayat 38 yang masih dalam perikop bacaan kita 𝘉𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘬𝘶𝘭 𝘴𝘢𝘭𝘪𝘣𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘈𝘬𝘶, 𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘭𝘢𝘺𝘢𝘬 𝘣𝘢𝘨𝘪-𝘒𝘶.
Jadi, apa yang dimaksudkan Yesus datang tidak membawa damai? Tentu saja kedatangan Yesus mengusik dan meruntuhkan kemapanan dan struktur sosial. Pertama-tama yang terusik adalah di dalam lingkungan keluarga orang-orang Yahudi. Mengusik keluarga Yahudi berarti mengusik Yudaisme. Para imam Yahudi yang merupakan pemimpin umat tentu saja tersinggung dan merasa terancam. Mengusik tatanan sosial sama saja artinya menista agama dan ancamannya adalah hukuman mati.
Untuk itu juga Yesus mengingatkan para pengikut-Nya untuk siap memikul salib (ayat 38). Ada konsekuensi berat mengikut Yesus, dari dimusuhi, difitnah, sampai penganiayaan yang berakibat kematian (bdk. dengan 𝘜𝘤𝘢𝘱𝘢𝘯-𝘶𝘤𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢 di Mat. 5:1-12). Yesus sudah memberikan contoh menerima risiko dan mati di kayu salib. Jadi, memang benar Yesus datang tidak membawa damai.
Bukanlah isapan jempol bahwa orang Kristen amat sangat sulit menjadi Presiden RI, kalau tak mau dikatakan mustahil, meskipun konstitusi memungkinkan hal itu. Bacaan Injil Minggu ini menyampaikan itulah harga yang harus dibayar menjadi pengikut Kristus. Janganlah takut untuk mengakui Yesus. Janganlah menjual Yesus hanya untuk mendapat jabatan.