Jumat, 05 Juni 2026

Sudut Pandang Kejadian 3:1-24, Konsekuensi Diam

Sudut Pandang Kejadian 3:1-24, Konsekuensi Diam

PENGANTAR 
Saya selalu mengatakan, lawan dari KASIH itu bukan benci atau dendam, lawan dari KASIH adalah KETIDAK PEDULIAN, menurut apa yang dipaparkan Alkitab dalam kisah teologis penulisnya. Coba kita tengok Kitab Kejadian 3:1-24 
PEMAHAMAN
Menurutmu, dulu Adam kemana? Kenapa dibiarkannya istrinya Hawa ngobrol sama ular?Pertanyaan ini terdengar lucu, tapi makin dipikir, makin dalam.Karena banyak dari kita tumbuh dengan bayangan bahwa Hawa sendirian waktu digoda ular, seolah Adam lagi pergi entah kemana.Karena banyak dari kita tumbuh dengan bayangan bahwa Hawa sendirian waktu digoda ular, seolah Adam lagi pergi entah kemana.Padahal kalau dilihat ceritanya di kitab kejadian, ada detail yang sering kelewat.Setelah Hawa mengambil buah itu, tertulis bahwa dia memberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia.

Kejadian 3:6 (TB) Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya. 

Artinya, kemungkinan besar Adam ada di sana.Dia mendengar percakapannya.Dia tahu ada yang aneh.Dia lihat ular mulai memelintir perkataan Tuhan.Tapi, dia diam, Adam tidak peduli, tahu ada yg salah, ada sesuatu tapi diam, membiarkan, tidak peduli.Dan jujur ya, kadang diam itu lebih mahal akibatnya daripada salah bicara, lebih mahal akibatnya daripada dicap reaktif atau tukang ribut, tau ada yg salah diam saja, di Alkitab dikatakan sama saja dengan melakukan dosa tsb, maka teladan Kristus itu emang ..... tukang rewel, tukang kritik, tukang ribut terhadap kaum farisi. Ular waktu itu juga menarik. Dia nggak datang dengan ancaman, dia datang dengan kharisma dan pengetahuan, ular datang dengan kepandaian dan tebar pesona, alias pencitraan. Dia datang dengan pertanyaan. Benarkah Tuhan berkata begitu? Pelan, halus, nggak terdengar jahat. Sering kita anti dengan yang suka teriak, kasar, suaranya keras pedas atau bengokan kata orang Jawa, tapi Alkitab menyaksikan ular datang dengan halus, sok jaim, sok berkarya, bahkan berpengetahuan lagi. Karena memang banyak kehancuran dalam hidup nggak dimulai dengan sesuatu yang kelihatan menyeramkan. Tapi dari percakapan kecil yang dibiarkan tumbuh.Awalnya cuma dengar, lalu mulai mempertimbangkan, lalu merasa kayaknya nggak ada apa-apa, lalu akhirnya jatuh.Dan Adam ada di sana menyaksikan semuanya bergerak pelan-pelan, tapi Adam diam gak peduli.Mungkin dia bingung, mungkin dia ragu, mungkin dia takut bikin suasana jadi nggak enak.Tapi akhirnya, pasifnya Adam tetap punya konsekuensi. Ketidak pedulian Adam membawa kurban yang lebih besar, kehancuran total.Makanya cerita ini sebenarnya bukan cuma soal buah terlarang.Ini tentang tanggung jawab, tentang keberanian bersuara saat sesuatu mulai mengencing, dan tentang bagaimana kejahatan sering menang bukan karena terlalu kuat, tapi karena orang yang seharusnya bertindak memilih diam, tidak bersuara, tidak peduli.Coba pikir berapa banyak hubungan rusak, kerusakan sebuah persekutuan, kerusakan rumah tangga, hancurnya keluarga karena ada yang tahu masalahnya tetapi memilih diam, tidak bicara, tidak peduli. Sehingga sekarang, saya paham : Dulu aku pernah salah paham.  Saya pikir yang menyiksa manusia di neraka itu iblis. Saya pikir dia yang pegang kendali. Saya pikir dia yang tertawa melihat manusia menderita.Ternyata saya keliru. Alkitab tidak pernah menggambarkan Iblis sebagai penguasa neraka, sebaliknya dia adalah pihak yang akan dihakimi. Dia bukan algucu .... Eh ... Algojo, dia terdakwa. Dan di titik itu, saya mulai sadar sesuatu yang sering aku hindari. Bahwa persoalan terbesar manusia bukan iblis, tapi hubungan saya dengan Tuhan. Seringkali saya terlalu fokus melawan iblis, seolah-olah semua masalah hidup datang darinya. Padahal ada hal yang lebih serius dari itu. Bukan soal siapa yang menyiksa di neraka, tapi kenapa seseorang bisa sampai ke sana.Bukan tentang siapa pelakunya, tapi tentang keputusan hidup saya hari ini.Karena pada akhirnya yang menentukan arah kegagalanku bukan iblis, tapi apakah saya hidup mengenal Tuhan atau hanya tahu tentang Tuhan tanpa pernah sungguh-sungguh berjalan bersamanya. Ini bukan pesan untuk menakut-nakuti, tapi ini pesan untuk menyadarkan bahwa hidup ini bukan sekedar bertahan, tapi sedang menuju sesuatu. Maka, sudut pandang GKJ dalam pokok ajaran nya, terkait dg memahi Tritunggal, tidaklah sesat, karena hidup ini perjalanan keselamatan, bukan mencari selamat tetapi bertanggung jawab atas anugerah keselamatan, Allah Tritunggal yang tak terbatas ruang dan waktu menyertai umatNya, Immanuel, dari Adam, Israel, sampai sekarang dalam peranNya masing-masing dalam hakikat yang sama. Karna ziarah kehidupan atau perjalanan keselamatan tsb menuju pada kembaliNya Kristus agar kita bisa bersamaNya, makan perjalanan keselamatan atau perjalanan hidup umat harus diisi sikap-sikap etis atas kehidupan yang meneladan Kristus dan menhikmati ajaran Kristus.
(06062026)(TUS)

Sudut Pandang Kejadian 3:1-24, Konsekuensi Diam

Sudut Pandang Kejadian 3:1-24, Konsekuensi Diam PENGANTAR  Saya selalu mengatakan, lawan dari KASIH itu bukan benci atau dendam, lawan dari ...