Jumat, 05 Juni 2026

Sudut Pandang 𝗠𝗲𝗺𝗮𝗸𝘀𝗮 𝗔𝗯𝗿𝗮𝗺 𝗠𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝗲𝗻, Kaitan Kejadian 12:1-9 dan Matius 9 :9 - 13,18 - 26

Sudut Pandang 𝗠𝗲𝗺𝗮𝗸𝘀𝗮 𝗔𝗯𝗿𝗮𝗺 𝗠𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝗲𝗻, Kaitan Kejadian 12:1-9 dan Matius 9 :9 - 13,18 - 26

Kejadian 12:1-9 merupakan mitos, yakni genre sastra untuk mengungkap realitas ilahi atau identitas suatu bangsa yang dalam hal ini bangsa Israel.

Petulis Kejadian 12:1-9 pasti tidak menulis dengan membayangkan: Gereja abad ke-21, khotbah Minggu, kehidupan jemaat Kristen modern. Redaktur tradisi Abram sedang mengerjakan sesuatu yang lain. Mereka sedang menjawab pertanyaan:
▶️ Siapakah Israel?
▶️ Mengapa Israel memiliki hubungan khusus dengan Tanah Kanaan?
▶️ Mengapa Israel menyebut Abraham sebagai leluhur iman?

Jadi fungsi utamanya bersifat 𝗲𝘁𝗶𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶𝘀 dan 𝙞𝙙𝙚𝙣𝙩𝙞𝙩𝙮-𝙛𝙤𝙧𝙢𝙞𝙣𝙜. Dalam bahasa akademis:
Narasi panggilan Abram merupakan cerita asal-usul (𝘰𝘳𝘪𝘨𝘪𝘯 𝘯𝘢𝘳𝘳𝘢𝘵𝘪𝘷𝘦) yang mengonstruksi identitas kolektif Israel sebagai umat yang dipanggil, diberkati, dan dijanjikan tanah oleh YHWH.

Di situ belum ada Gereja. Belum ada Kristen. Belum ada konsep khotbah Minggu.

Saya sering melihat banyak khotbah atau renungan tentang Kejadian 12:1-9 sebagai bacaan tunggal langsung meloncat:
▶️ Dari Abram meninggalkan Haran langsung ke
▶️ Saudara harus berani keluar dari zona nyaman. 🤣

Padahal jarak historis penulisan teksnya sekitar tiga ribu tahun. Belum lagi fungsi teksnya berbeda.

Bahkan kalau dibaca sebagai mitos identitas bangsa fokusnya bukan pada psikologi Abram. Fokusnya adalah pada Israel. Abram adalah representasi Israel.

Perhatikan polanya:
▶️ dipanggil keluar (12:1), 
▶️ menerima janji tanah (12:7), 
▶️ menerima janji keturunan (12:2), 
▶️ menerima janji berkat bagi bangsa-bangsa (12:3). 

Jadi, sebenarnya tokoh utama narasi itu bukan Abram sebagai individu, tetapi masa depan Israel.

Kejadian 12:1-9 menjadi bacaan tunggal untuk renungan/khotbah di GKI Kebayoran Baru. Saya belum membaca produk renungannya dalam 𝘞𝘢𝘳𝘵𝘢 𝘑𝘦𝘮𝘢𝘢𝘵 7 Juni 2026. Tema yang diangkat adalah 𝙄𝙢𝙖𝙣: 𝙏𝙖𝙖𝙩 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙍𝙚𝙣𝙘𝙖𝙣𝙖 𝙏𝙪𝙝𝙖𝙣.

Namun, patut diduga penafsirannya langsung meloncat dengan memaksa Abram menjadi orang Kristen:

"Abram taat. Mari kita taat."
Lalu selesai.

Tema yang diusung di atas tentu tidak salah. Masalahnya tema itu tidak berangkat dari teks, bahkan tema di atas menggeser pusat teks. Secara historis teks itu bukan ditulis untuk mengajar warga gereja tentang ketaatan individual. Teks itu adalah bagian dari narasi identitas Israel.

Secara homiletik tema 𝙏𝙖𝙖𝙩 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙍𝙚𝙣𝙘𝙖𝙣𝙖 𝙏𝙪𝙝𝙖𝙣 juga mudah jatuh ke persoalan yang sering muncul dalam khotbah-khotbah pietistis:

Tuhan punya rencana.
Abram taat.
Maka kita harus taat.

Lalu jemaat pulang dengan pertanyaan: 𝘙𝘦𝘯𝘤𝘢𝘯𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘯𝘢?😄

Seluruh warga jemaat GKI Kebayoran Baru tidak menerima firman langsung seperti Abram: "𝘗𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘯𝘦𝘨𝘦𝘳𝘪𝘮𝘶..."

Mereka menghadapi: pekerjaan, keluarga, penyakit, pendidikan anak, pensiun, cicilan rumah, iuran RT, kolekte, dll. Tema 𝙏𝙖𝙖𝙩 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙍𝙚𝙣𝙘𝙖𝙣𝙖 𝙏𝙪𝙝𝙖𝙣 terdengar indah tetapi sulit dioperasionalkan dalam kehidupan nyata.

Di sinilah kepentingan penerapan RCL. RCL membunyikan Kejadian 12:1-9 bagi kehidupan gerejawi dengan menghubungkan ke Injil Matius 9:-13, 18-26.

Dengan penerapan RCL tiba-tiba pertanyaan berubah. Bukan lagi 𝘈𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘣𝘳𝘢𝘮?, tetapi 𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘱𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘸𝘶𝘫𝘶𝘥𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘬𝘦𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬𝘪 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴?

Jawaban Matius sangat menarik: "𝙔𝙖𝙣𝙜 𝙆𝙪𝙠𝙚𝙝𝙚𝙣𝙙𝙖𝙠𝙞 𝙞𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙚𝙡𝙖𝙨 𝙠𝙖𝙨𝙞𝙝𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙨𝙚𝙢𝙗𝙖𝙝𝙖𝙣 " (Mat. 9:13). Belas kasihan lebih penting daripada mezbah-mezbah yang dibangun oleh Abram.

𝘛𝘩𝘦 𝘥𝘦𝘷𝘪𝘭 𝘪𝘴 𝘪𝘯 𝘵𝘩𝘦 𝘥𝘦𝘵𝘢𝘪𝘭.

Wassalam,
MDS (05062026)
𝘔𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘬𝘳𝘪𝘵𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘳𝘢𝘯𝘴𝘧𝘦𝘳

Sudut Pandang 𝗠𝗲𝗺𝗮𝗸𝘀𝗮 𝗔𝗯𝗿𝗮𝗺 𝗠𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝗲𝗻, Kaitan Kejadian 12:1-9 dan Matius 9 :9 - 13,18 - 26

Sudut Pandang 𝗠𝗲𝗺𝗮𝗸𝘀𝗮 𝗔𝗯𝗿𝗮𝗺 𝗠𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝗲𝗻, Kaitan Kejadian 12:1-9 dan Matius 9 :9 - 13,18 - 26 Kejadian 12:1-9...