PENGANTAR
Kejadian 12:1-9 merupakan mitos, yakni genre sastra untuk mengungkap realitas ilahi atau identitas suatu bangsa yang dalam hal ini bangsa Israel.
Petulis Kejadian 12:1-9 pasti tidak menulis dengan membayangkan: Gereja abad ke-21, khotbah Minggu, kehidupan jemaat Kristen modern. Redaktur tradisi Abram sedang mengerjakan sesuatu yang lain. Mereka sedang menjawab pertanyaan:
▶️ Siapakah Israel?
▶️ Mengapa Israel memiliki hubungan khusus dengan Tanah Kanaan?
▶️ Mengapa Israel menyebut Abraham sebagai leluhur iman?
Jadi fungsi utamanya bersifat 𝗲𝘁𝗶𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶𝘀 dan 𝙞𝙙𝙚𝙣𝙩𝙞𝙩𝙮-𝙛𝙤𝙧𝙢𝙞𝙣𝙜. Dalam bahasa akademis:
Narasi panggilan Abram merupakan cerita asal-usul (𝘰𝘳𝘪𝘨𝘪𝘯 𝘯𝘢𝘳𝘳𝘢𝘵𝘪𝘷𝘦) yang mengonstruksi identitas kolektif Israel sebagai umat yang dipanggil, diberkati, dan dijanjikan tanah oleh YHWH.
Di situ belum ada Gereja. Belum ada Kristen. Belum ada konsep khotbah Minggu.
Saya sering melihat banyak khotbah atau renungan tentang Kejadian 12:1-9 sebagai bacaan tunggal langsung meloncat:
▶️ Dari Abram meninggalkan Haran langsung ke
▶️ Saudara harus berani keluar dari zona nyaman. 🤣
Padahal jarak historis penulisan teksnya sekitar tiga ribu tahun. Belum lagi fungsi teksnya berbeda.
Bahkan kalau dibaca sebagai mitos identitas bangsa fokusnya bukan pada psikologi Abram. Fokusnya adalah pada Israel. Abram adalah representasi Israel.
Perhatikan polanya:
▶️ dipanggil keluar (12:1),
▶️ menerima janji tanah (12:7),
▶️ menerima janji keturunan (12:2),
▶️ menerima janji berkat bagi bangsa-bangsa (12:3).
Jadi, sebenarnya tokoh utama narasi itu bukan Abram sebagai individu, tetapi masa depan Israel.
Kejadian 12:1-9 menjadi bacaan tunggal untuk renungan/khotbah di sebuah gereja dan saya membaca konsep penjadwalan ayat utamanya dari gereja tsb. Saya belum membaca produk renungannya dalam 𝘞𝘢𝘳𝘵𝘢 𝘑𝘦𝘮𝘢𝘢𝘵 7 Juni 2026. Tema yang diangkat adalah 𝙄𝙢𝙖𝙣: 𝙏𝙖𝙖𝙩 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙍𝙚𝙣𝙘𝙖𝙣𝙖 𝙏𝙪𝙝𝙖𝙣.
Namun, patut diduga penafsirannya langsung meloncat dengan memaksa Abram menjadi orang Kristen:
"Abram taat. Mari kita taat."
Lalu selesai.
Tema yang diusung di atas tentu tidak salah. Masalahnya tema itu tidak berangkat dari teks, bahkan tema di atas menggeser pusat teks. Secara historis teks itu bukan ditulis untuk mengajar warga gereja tentang ketaatan individual. Teks itu adalah bagian dari narasi identitas Israel.
Secara homiletik tema 𝙏𝙖𝙖𝙩 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙍𝙚𝙣𝙘𝙖𝙣𝙖 𝙏𝙪𝙝𝙖𝙣 juga mudah jatuh ke persoalan yang sering muncul dalam khotbah-khotbah pietistis:
Tuhan punya rencana.
Abram taat.
Maka kita harus taat.
Lalu jemaat pulang dengan pertanyaan: 𝘙𝘦𝘯𝘤𝘢𝘯𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘯𝘢?😄
Seluruh warga jemaat tidak menerima firman langsung seperti Abram: "𝘗𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘯𝘦𝘨𝘦𝘳𝘪𝘮𝘶..."
Mereka menghadapi: pekerjaan, keluarga, penyakit, pendidikan anak, pensiun, cicilan rumah, iuran RT, kolekte, dll. Tema 𝙏𝙖𝙖𝙩 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙍𝙚𝙣𝙘𝙖𝙣𝙖 𝙏𝙪𝙝𝙖𝙣 terdengar indah tetapi sulit dioperasionalkan dalam kehidupan nyata.
Di sinilah kepentingan penerapan RCL. RCL membunyikan Kejadian 12:1-9 bagi kehidupan gerejawi dengan menghubungkan ke Injil Matius 9:-13, 18-26.
Dengan penerapan RCL tiba-tiba pertanyaan berubah. Bukan lagi 𝘈𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘣𝘳𝘢𝘮?, tetapi 𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘱𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘸𝘶𝘫𝘶𝘥𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘬𝘦𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬𝘪 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴?
Jawaban Matius sangat menarik: "𝙔𝙖𝙣𝙜 𝙆𝙪𝙠𝙚𝙝𝙚𝙣𝙙𝙖𝙠𝙞 𝙞𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙚𝙡𝙖𝙨 𝙠𝙖𝙨𝙞𝙝𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙨𝙚𝙢𝙗𝙖𝙝𝙖𝙣 " (Mat. 9:13). Belas kasihan lebih penting daripada mezbah-mezbah yang dibangun oleh Abram.
Akhirnya pagi ini, Saya dapat membaca sebuah konsep renungan/khotbah di sebuah gereja diambil dari Kejadian 12:1-9, 𝗜𝗺𝗮𝗻: 𝗧𝗮𝗮𝘁 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗥𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗧𝘂𝗵𝗮𝗻 𝙏𝙚𝙧𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙧 𝙞𝙣𝙙𝙖𝙝 𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙩𝙖𝙠 𝙤𝙥𝙚𝙧𝙖𝙩𝙞𝙛, bahwa Kejadian 12:1-9 merupakan mitos, yakni genre sastra untuk mengungkap realitas ilahi atau identitas suatu bangsa yang dalam hal ini bangsa Israel. Gereja yang mengambil perikop ini sebagai bacaan tunggal untuk khotbah patut diduga penafsirannya langsung melompat, mengambil bahan khotbah dari Kejadian 12:1-9 sebagai bacaan tunggal. Seperti yang saya duga dalam penafsirannya langsung melompat seperti yang tercermin dalam renungan tsb.
Kalau dibaca secara kritis, renungan itu melakukan lompatan hermeneutik yang sangat besar:
▶️ Langkah 1: Teks Kejadian 12:1-9 berbicara tentang Abram.
▶️ Langkah 2: Abram menjadi model "ketaatan".
▶️ Langkah 3: Ketaatan Abram langsung diterapkan kepada pembaca masa kini.
▶️ Langkah 4: Lalu lahirlah tema
𝗜𝗺𝗮𝗻: 𝗧𝗮𝗮𝘁 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗥𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗧𝘂𝗵𝗮𝗻
Padahal justru di antara Langkah 2 dan Langkah 3 itulah terdapat jurang tafsir yang sangat lebar. Perhatikan kalimat awal: 𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘪𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘬𝘪𝘵𝘢...
Pertanyaannya, bagaimana cara mengetahui bahwa Tuhan sedang memerintahkan sesuatu? Nah, pertanyaan itu sama sekali tidak dibahas.
Akibatnya pembaca diarahkan kepada asumsi:
▶️ Tuhan punya rencana spesifik untuk hidup saya.
▶️ Saya harus menemukannya.
▶️ Setelah menemukannya saya harus taat.
Masalahnya itu bukan isi Kejadian 12. Dalam Kejadian 12 Abram menerima firman yang sangat spesifik: " 𝘗𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘯𝘦𝘨𝘦𝘳𝘪𝘮𝘶 ... (ay. 1)
Narator mengetahui itu, karena ia sedang menceritakan kisah asal-usul Israel. Pembaca modern tidak berada dalam posisi yang sama dengan Abram. Kita tidak sedang menerima wahyu pendirian bangsa perjanjian.
Renungan tsb, itu akhirnya masuk ke pola khotbah yang sangat umum:
▶️ Tuhan punya rencana.
▶️ Kita harus taat.
▶️ Jangan takut.
▶️ Tuhan akan memberkati.
Secara pastoral terdengar bagus, tetapi penafsirannya tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Yang menggelikan (atau menggelitik ya?) adalah bagian akhir renungan tsb:
𝘒𝘦𝘵𝘢𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘢𝘮𝘱𝘢𝘬 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘵𝘢...
Ini sudah mendekati pola 𝘁𝗲𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶 𝗿𝗲𝘁𝗿𝗶𝗯𝘂𝘀𝗶: 𝗧𝗮𝗮𝘁 𝗯𝗲𝗿𝗮𝗿𝘁𝗶 𝗯𝗲𝗿𝗸𝗮𝘁.
Padahal dalam Alkitab sendiri nasabahnya tidak sesederhana itu.
▶️ Yeremia taat. Dipenjara.
▶️ Yesus taat. Disalib.
▶️ Paulus taat. Dipukul dan dipenjara.
🤣
Jadi, ketaatan tidak otomatis menghasilkan kehidupan yang lebih nyaman.
Kalau saya bisa langsung bertemu dengan petulis renungan dan ia mau mendengar, saya akan bertanya:
▶️ Mengapa Kejadian 12 harus dibaca sebagai "rencana Tuhan bagi hidup pribadi"?
Mengapa bukan:
▶️ Bagaimana Israel memahami identitas dirinya sebagai umat pilihan?
Secara homiletik tema 𝙏𝙖𝙖𝙩 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙍𝙚𝙣𝙘𝙖𝙣𝙖 𝙏𝙪𝙝𝙖𝙣 yang dibuat mudah jatuh ke persoalan yang sering muncul dalam khotbah-khotbah pietistis:
Tuhan punya rencana.
Abram taat.
Maka kita harus taat.
Lalu jemaat pulang dengan pertanyaan: 𝘙𝘦𝘯𝘤𝘢𝘯𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘯𝘢?😄
Seluruh warga jemaat tidak menerima firman langsung seperti Abram: "𝘗𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘯𝘦𝘨𝘦𝘳𝘪𝘮𝘶..."
Mereka menghadapi: pekerjaan, keluarga, penyakit, pendidikan anak, pensiun, cicilan rumah, iuran RT, kolekte, dll. Tema 𝙏𝙖𝙖𝙩 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙍𝙚𝙣𝙘𝙖𝙣𝙖 𝙏𝙪𝙝𝙖𝙣 terdengar indah tetapi sulit dioperasionalkan dalam kehidupan nyata.
Di sinilah kepentingan penerapan RCL. RCL membunyikan Kejadian 12:1-9 bagi kehidupan gerejawi dengan menghubungkan ke Injil Matius 9:-13, 18-26. Dengan penerapan RCL tiba-tiba pertanyaan berubah. Bukan lagi 𝘈𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘣𝘳𝘢𝘮?, tetapi 𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘱𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘸𝘶𝘫𝘶𝘥𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘬𝘦𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬𝘪 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴?
Jawaban Matius sangat menarik: "𝙔𝙖𝙣𝙜 𝙆𝙪𝙠𝙚𝙝𝙚𝙣𝙙𝙖𝙠𝙞 𝙞𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙚𝙡𝙖𝙨 𝙠𝙖𝙨𝙞𝙝𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙨𝙚𝙢𝙗𝙖𝙝𝙖𝙣" (Mat. 9:13). Belas kasihan lebih penting daripada mezbah-mezbah yang dibangun oleh Abram. Siang ini ketemu dengan petulisnya dan yang akan khotbah besok, tertawa .... tawa dia, ketika diskusi dilakukan .... Wk ..... Wk .... Wk salah sendiri minta diskusi dan masukan ... Xii ..... Xi ....... Xi, enaknya diskusi lewat vidcall, Salatiga - Jakarta gak perlu pakai uang transportasi .... Ha .... Ha
(06062026)(TUS)