Kamis, 11 Juni 2026

Sudut Pandang Sola Scriptura

Sudut Pandang Sola Scriptura
PENGANTAR
Dalam perdebatan tentang Sola Scriptura, sering kali kita mendengar argumen seperti ini:

"Kalau Sola Scriptura benar, bagaimana Anda tahu kitab-kitab dalam Alkitab itu benar? Bukankah Gereja yang menetapkan kanon? Bukankah itu berarti Gereja lebih tinggi dari pada Kitab Suci?"
PEMAHAMAN 
Sekilas argumen ini terdengar kuat. Namun sebenarnya ada kekeliruan mendasar yang sering tidak disadari. Gereja memang mengakui kanon Kitab Suci. Tetapi mengakui bukan berarti menciptakan. Seorang ahli perhiasan tidak menciptakan berlian ketika ia menyatakan bahwa sebuah batu adalah berlian asli. Ia hanya mengenali apa yang memang sudah ada. Demikian pula, konsili-konsili gereja tidak menciptakan otoritas Kitab Suci. Mereka mengakui kitab-kitab yang sejak semula telah diterima sebagai tulisan apostolik dan Firman Allah.
Surat-surat Paulus telah dibacakan di gereja-gereja jauh sebelum Konsili Hippo atau Kartago. Injil-injil telah beredar dan digunakan sebagai otoritas oleh jemaat mula-mula. Bahkan Petrus sendiri menyebut tulisan Paulus sebagai "Kitab Suci" (2 Petrus 3:16), berabad-abad sebelum bapa-bapa gereja menetapkan daftar kanon secara formal. Karena itu, mengatakan bahwa Gereja menciptakan otoritas Alkitab sama seperti mengatakan bahwa seorang hakim menciptakan hukum hanya karena ia mengesahkannya.
Lalu ada yang menunjuk kepada Konsili Yerusalem dalam Kisah Para Rasul 15. Mereka berkata, "Lihat, Gereja yang memutuskan persoalan doktrin, bukan Kitab Suci."

Benarkah demikian?

Jika kita membaca teksnya dengan teliti, Yakobus tidak menutup perdebatan dengan berkata, "Petrus sudah berbicara, jadi persoalan selesai." Sebaliknya, ia berkata:
"Hal itu sesuai dengan perkataan para nabi seperti yang ada tertulis..."
Kemudian ia mengutip Nabi Amos. Kesaksian Petrus tidak mengesahkan Kitab Suci. Justru Kitab Suci yang mengesahkan kesaksian Petrus. Inilah prinsip yang sejak awal dipegang oleh kaum Protestan: semua pengalaman rohani, semua tradisi, semua keputusan gereja harus diuji oleh Firman Allah. Bahkan ketika Paulus berhadapan dengan Petrus dalam Galatia 2, Petrus tidak kebal terhadap koreksi. Paulus menegurnya secara terbuka karena tindakannya tidak sejalan dengan kebenaran Injil. Jika Petrus dapat salah, mengapa kita harus percaya bahwa setiap "penerus Petrus" tidak mungkin salah? Demikian halnya seluruh murid Yesus baik dulu dan sekarang. Jika gereja-gereja dalam Wahyu 2 dan 3 dapat ditegur langsung oleh Kristus karena penyimpangan mereka, mengapa kita menganggap bahwa institusi gereja pada masa berikutnya tidak mungkin menyimpang? Kharismatik Pentakosta mengajarkan bahwa yang diurapi tidak dapat salah, betulkah? Selama itu manusia pasti tak ada kesempurnaan. Roma Katolik mengajarkan bahwa Magisterium tidak dapat salah karena dipimpin Roh Kudus.
Pertanyaannya... Bagaimana kita tahu Magisterium dipimpin Roh Kudus? Mereka akan menjawab: Karena Gereja mengajarkannya. Lalu bagaimana kita tahu Gereja benar ketika mengajarkan hal itu? Mereka akan menjawab lagi: Karena Magisterium mengatakannya. Di sinilah muncul masalah sirkularitas: Gereja membenarkan dirinya sendiri dengan otoritasnya sendiri.

Sebaliknya, Sola Scriptura menegaskan bahwa harus ada standar yang lebih tinggi dari pada gereja, manusia yang diurapi, dlsb yaitu Firman Allah yang tertulis. Bukan karena kami meremehkan gereja, atau menolak orang yg diurapi.
Justru karena kami menghormati gereja, dan menghormati orang yg diurapi.
Kami percaya gereja adalah tiang penopang kebenaran. Tetapi tiang tidak menciptakan bangunan yang ditopangnya. Gereja bertugas memelihara, memberitakan, dan mempertahankan kebenaran, bukan menjadi sumber kebenaran itu sendiri. Sebab pada akhirnya hanya ada satu otoritas yang benar : yaitu Firman Allah, Alkitab, menjadi pusat tumpuan pembelajaran tentang kehendak Allah, dan itupun tergantung pada tafsirnya. Gereja harus tunduk kepadanya, orang yg diurapi harus tunduk kepadanya.
Paus harus tunduk kepadanya.
Konsili harus tunduk kepadanya. Tradisi harus tunduk kepadanya. Dan kita semua harus tunduk kepadanya. Karena ketika Gereja dan Kitab Suci ditempatkan berhadapan, pertanyaan yang harus dijawab bukanlah: "Apa kata gereja?" Melainkan, "Apa yang telah Allah firmankan?" "Apa yang ada dalam kitab suci?" Itulah inti Sola Scriptura.


Gereja seringkali terjebak pada angka. Kita merasa sukses jika bangku ibadah penuh dan suasana ibadah meriah. Namun, ada bahaya laten yang t...