Gereja seringkali terjebak pada angka. Kita merasa sukses jika bangku ibadah penuh dan suasana ibadah meriah. Namun, ada bahaya laten yang tidak kita sadari: kita mahir mencetak "penonton" atau konsumen agama, tetapi gagal melahirkan pencetak murid.
Menjadi orang Kristen yang sekadar datang duduk diam itu mudah. Tetapi, dipanggil menjadi pencetak murid berarti siap mengajar, mendampingi, dan menularkan iman kita kepada orang lain agar mereka pun bisa melakukan hal yang sama.
Jika iman kita berhenti di diri kita sendiri, ada yang salah dengan kekristenan kita.
Namun ada hal yang juga berbahaya, yaitu "Pendeta-Sentris"
Kritik paling tajam dari perenungan ini mengarah pada struktur gereja kita. Banyak dari kita mengira gereja yang sehat adalah gereja yang pendetanya sangat sibuk mengurusi segala hal, mulai dari khotbah, konseling, kunjungan, hingga urusan administratif.
Secara teologis, ini adalah ilusi yang berbahaya. Mengapa?
- Mengerdilkan jemaat
Ketika semua hal bertumpu pada pendeta, jemaat menjadi pasif, manja, dan tidak pernah dewasa secara rohani.
- Topeng spiritualitas
Kesibukan pendeta yang luar biasa itu terlihat sangat suci di permukaan. Padahal, itu adalah ketergantungan yang tidak sehat. Pendeta menjadi "pahlawan tunggal," sementara jemaat hanya menjadi penonton yang ketergantungan.
Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa pelayanan hanya milik mereka yang bergelar teologi atau yang berdiri di mimbar. Efesus 4:11-12 dengan jelas menyatakan bahwa tugas pemimpin jemaat adalah melengkapi orang-orang kudus (jemaat) untuk melakukan pekerjaan pelayanan.
Tugas pendeta bukan melakukan segalanya, melainkan melatih jemaat agar mandiri dan mampu menggembalakan sesamanya.
Pemuridan yang sejati tidak mengikat orang kepada figur seorang pendeta, melainkan mengikat orang kepada Kristus.
Gereja harus bertobat dari kenyamanan semu ini. Suksesnya sebuah gereja tidak diukur dari seberapa besar jumlah jemaat yang bergantung pada pendetanya, melainkan dari seberapa banyak jemaat yang sudah matang rohaninya dan bergerak menjadi pencetak murid di tengah keluarga, tempat kerja, dan komunitas mereka.