Sudut Pandang perbedaan konsep “pencobaan” dan “ujian” dalam Kitab Ayub dan Surat Yakobus, dilihat dari aspek bahasa, sastra, budaya, dan konteks teologis.
PENGANTAR
Kitab Ayub 1:12 (TB)
“Maka firman TUHAN kepada Iblis: ‘Nah, segala yang dipunyainya ada dalam kuasamu; hanya janganlah engkau mengulurkan tanganmu terhadap dirinya.’ Maka pergilah Iblis dari hadapan TUHAN.”
Yakobus 1:13 (TB) Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: "Pencobaan ini datang dari Allah!" Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun.
Namun, untuk konteks “pencobaan” dalam Yakobus, ayat yang lebih relevan adalah Yakobus 1:2–3, 12–14, karena di sanalah istilah “pencobaan” (peirasmos-kata benda) dibahas secara eksplisit.
Yakobus 1:2–3 (TB)
“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.”
Dalam Yakobus 1:2-3, masih menggunakan kata Yunani peirasmos sebagai kata benda tetapi konteksnya lain. Dalam bahasa Ibrani kata pencobaan ada 2 yaitu nasah dan masah, nasah digunakan untuk pencobaan dalam artian ujian untuk memurnikan iman, seperti dalam kitab Ayub dan Yakobus 1:2-3, sedangkan masah adalah kata pencobaan dalam artian godaan sehingga manusia melakukan dosa ini yg dipakai dalam Yakobus 1:13, tetapi dalam bahasa Yunani hanya ada satu kata peiramos, shg dalam bahasa Yunani perbedaan dalam arti pencobaan di lihat dari konteks teks nya. Ibrani (Ayub):
Kata yang digunakan untuk “mencobai” atau “menguji” adalah נָסָה (nasah), yang berarti menguji, membuktikan, atau menguji kesetiaan. Dalam konteks Ayub, “ujian” datang dari izin Allah, tetapi pelaksanaannya oleh Iblis. Tujuannya bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk membuktikan kemurnian iman Ayub. Yunani (Yakobus): Kata yang digunakan adalah πειρασμός (peirasmos), yang memiliki dua makna:
(1) ujian untuk membentuk dan memurnikan iman,
(2) pencobaan yang menggoda manusia untuk berbuat dosa.
Konteks menentukan maknanya.
Dalam Kitab Ayub, nasah berarti ujian iman, sedangkan dalam Yakobus 1:13 berarti godaan dosa, dalam bahasa ibraninya masah, peiramos (kata benda) lebih ke bahasa Ibrani masah. Kitab Ayub ditulis dalam bentuk prosa dan puisi hikmat Ibrani, dengan latar budaya Timur Dekat kuno yang memahami penderitaan sebagai ujian kesetiaan kepada Allah. Dalam budaya itu, penderitaan sering dianggap sebagai sarana pembuktian moral dan spiritual. Ayub diuji untuk menunjukkan integritasnya di hadapan Allah dan Iblis. Surat Yakobus ditulis dalam konteks komunitas Yahudi-Kristen abad pertama, di mana penderitaan dan tekanan sosial dianggap sebagai kesempatan untuk meneguhkan iman. Yakobus menekankan bahwa Allah tidak menggoda manusia untuk berbuat dosa; karena itu melawan natur Allah yg tidak menghendaki manusia berbuat dosa, pencobaan yang menjatuhkan berasal dari keinginan manusia sendiri (Yak. 1:14), iblis itu keinginan manusia sendiri, dosa natur manusia untuk memberontak pada Allah.
Dapat diperjelas hal tsb dalam referensi sbb :
1. John E. Hartley, *The Book of Job (NICOT, Eerdmans, 1988) – membahas “nasah” sebagai ujian ilahi yang menyingkapkan kesetiaan manusia.
2. Douglas J. Moo, The Letter of James (Pillar New Testament Commentary, Eerdmans, 2000) – menjelaskan “peirasmos” sebagai konsep ganda: ujian iman dan godaan dosa.
3. David J.A. Clines, Job 1–20 (Word Biblical Commentary, 1989) – menyoroti struktur sastra dan teologi penderitaan dalam konteks budaya Timur Dekat.
4. Ralph P. Martin, James (Word Biblical Commentary, 1988) – menekankan perbedaan semantik “peirasmos” dalam konteks etika Kristen awal.
Dalam konteks kehidupan modern, “ujian” dapat dipahami sebagai proses pembentukan karakter dan iman melalui kesulitan hidup, sedangkan “pencobaan” adalah dorongan moral atau spiritual yang menjauhkan manusia dari kehendak Allah. Nilai moral yang dapat diambil: iman yang murni tumbuh melalui ujian, bukan melalui kejatuhan dalam pencobaan. Kata Ibrani: נָסָה (nasah).
Akar dan Bentuk Morfologis:
- Akar kata: נ־ס־ה (nun–samekh–he)
- Bentuk dasar: nasah (verba, qal)
- Kategori: verba triliteral (tiga konsonan akar)
- Pola morfologis: Qal (bentuk dasar aktif), tetapi juga muncul dalam Niphal (pasif/refleksif) dan Piel (intensif) dalam beberapa konteks. Makna dasar:
- Menguji, mencoba, membuktikan, menguji kesetiaan atau kemurnian seseorang.
- Dalam konteks teologis, nasah tidak berarti menggoda untuk berbuat dosa, melainkan menguji untuk membuktikan iman atau ketaatan. Contoh penggunaan:
- Kejadian 22:1 (TB): “Setelah semuanya itu Allah mencobai (nasah) Abraham.”
Di sini, nasah berarti “menguji” iman Abraham, bukan menggoda untuk berbuat dosa.
- Ulangan 8:2: “...untuk menguji engkau (nasoteka), untuk mengetahui apa yang ada di dalam hatimu.”
Dalam morfologi Ibrani, nasah sering digunakan dalam konteks relasi perjanjian antara Allah dan manusia. Ujian ini bersifat pedagogis (mendidik)— untuk menyingkapkan kualitas iman, bukan menjatuhkan.
Kata Yunani: πειρασμός (peirasmos). Akar dan Bentuk Morfologis:
- Akar kata: πειράω (peiraō) atau πειράζω (peirazō)
- Bentuk dasar: peirasmos (nomina maskulin, deklinasi kedua)
- Bentuk genitif: πειρασμοῦ (peirasmou)
- Bentuk verba terkait: πειράζω (mencobai, menguji). Makna dasar:
- Ujian, percobaan, cobaan, godaan.
- Dalam konteks positif: ujian yang menguatkan iman.
- Dalam konteks negatif: godaan yang menjerumuskan ke dalam dosa. Contoh penggunaan:
- Yakobus 1:2 (TB): “...apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan (peirasmois).” → bermakna ujian iman. Contoh kata yang sama peiramos tetapi bermakna masah, pencobaan yg merupakan godaan yg mendatangkan dosa
- Yakobus 1:13 (TB): “Apabila seorang dicobai (peirazetai), janganlah ia berkata: ‘Pencobaan ini datang dari Allah!’” bermakna godaan dosa, masah dalam bahasa ibrani.
Dalam morfologi Yunani, peirasmos berasal dari akar yang berarti “mencoba” atau “menguji dengan maksud mengetahui kualitas sesuatu.” Namun, dalam konteks etis, maknanya bergeser menjadi “godaan” — tergantung pada subjek dan tujuan tindakan.
Nasah menekankan proses pembuktian iman melalui ujian yang diizinkan Allah.
- Peirasmos memiliki dua dimensi semantik : ujian yang membangun (positif) dan godaan yang menjatuhkan (negatif).
- Secara morfologis, nasah adalah verba aktif yang menandakan tindakan Allah, sedangkan peirasmos adalah nomina yang menandakan kondisi atau situasi ujian.
Perbedaan itu diperjelas lagi dalam referensi sbb :
1. Brown, Driver, Briggs. Hebrew and English Lexicon of the Old Testament (BDB, 1906) – entri נָסָה.
2. HALOT (Koehler & Baumgartner, 1994) – definisi nasah sebagai “to test, to prove.”
3. Bauer, Danker, Arndt, Gingrich. A Greek-English Lexicon of the New Testament and Other Early Christian Literature (BDAG, 3rd ed., 2000) – entri peirasmos.
4. Louw & Nida, Greek-English Lexicon of the New Testament Based on Semantic Domains (1989) – domain 27.46–27.50 tentang testing/temptation.
Dalam terang Alkitab, ujian (nasah/peirasmos) adalah sarana Allah untuk memurnikan iman, sedangkan pencobaan yang menjatuhkan berasal dari keinginan manusia sendiri, sering disebut sebagai bersumber dari iblis dalam Alkitab. Iman yang teguh tumbuh melalui kesetiaan dan ketaatan dalam menghadapi ujian, bukan dengan menghindarinya.
Inti jawabannya secara singkat, konsep pencobaan di Alkitab itu ada 2 : satu, pencobaan yg menaikan tingkatan iman atau upgrade iman, sering disebut ujian, yang kedua, percobaan yang membuat manusia jatuh ke dalam dosa. Di kitab Ayub itu yang pertama, di surat Yakobus itu yang kedua. Allah tidak mungkin melawan naturnya, Allah pasti tidak menginginkan manusia jatuh dalam dosa. Maka, dalam Alkitab yang kedua itu tidak mungkin dilakukan oleh Allah. Terus yang kedua, dilakukan oleh siapa? Yang kedua, dilakukan oleh dominasi keinginan dan nafsu manusia sendiri, dimana sering kali disebut berasal dari iblis, karena iblis itu arti katanya kan PENGGODA, manusia selalu tergoda oleh keinginan dan nafsu ya sendiri
Makanya, manusia itu lebih hebat dari iblis, dia bisa berdoa dan berbuat dosa dalam satu tarikan nafas. Kalau dalam bahasa Ibrani beda, yg pertama NASAH, yg kedua MASAH, kalau dalam bahasa Yunani cuman PERIAUMOS/PEIRASMOS, jadi kalau bahasa Yunani harus dilihat konteks teks penggunaannya, ketika kita membandingkan Alkitab Ibrani dan Yunani itu keliatan. Sebagai penutup, saya akan melihat dari sudut filsafat keTuhanan, Pertanyaan ini sebenarnya sudah diajukan filsuf Yunani, Epicurus, ribuan tahun sebelum kita lahir. Kalau Tuhan mau menghapus kejahatan tapi tidak bisa, Dia tidak Maha Kuasa. Kalau Dia bisa tapi tidak mau, Dia tidak Maha Baik. Dilema ini dikenal sebagai problem of evil, persoalan tertua dalam filsafat ketuhanan. Di sinilah letak keresahannya. Tiga hal ini sulit berdiri bersamaan: Tuhan Maha Kuasa, Tuhan Maha Baik, dan penderitaan yang tidak adil tetap terjadi di depan mata. Anak yang lapar tidak memilih nasibnya. Koruptor yang tertawa di atas hasil curian juga tidak menanggung akibat instan. Logika kita protes. Sebagian filsuf menjawab lewat argumen kehendak bebas. Tuhan memberi manusia kebebasan memilih, termasuk memilih korupsi, memilih serakah, memilih menutup mata pada yang lapar. Kejahatan moral, kata mereka, lahir dari pilihan manusia, bukan dari kegagalan Tuhan. Tapi jawaban ini belum menjelaskan kelaparan akibat bencana alam yang tak seorang pun memilihnya. Ada juga pandangan bahwa penderitaan punya makna tersembunyi, semacam ruang bagi jiwa untuk tumbuh, berempati, dan belajar welas asih. Tapi makna itu terasa berat diucapkan di depan ibu yang kehilangan anaknya karena lapar. Filsafat ketuhanan tidak selalu memberi jawaban yang menenangkan, kadang ia hanya menawarkan cara bertanya yang lebih jujur. Mungkin pertanyaan ini tidak untuk dijawab tuntas, tapi untuk terus dipeluk sepanjang hidup. Orang yang berani bertanya kenapa Tuhan mengizinkan penderitaan, sebenarnya sedang mencari Tuhan dengan cara paling jujur.
(23072026)(TUS)
Baca juga:
https://titusroidanto.blogspot.com/2026/09/kesimpulan-singkat-surat-yakobus-tidak.html
https://titusroidanto.blogspot.com/2026/09/lokasi-ayat-yakobus-516-tb-karena-itu.html
https://titusroidanto.blogspot.com/2026/09/sudut-pandang-kebahagiaan-di-tengah.html
https://titusroidanto.blogspot.com/2026/09/sudut-pandang-eksposisi-kritis-surat.html
https://titusroidanto.blogspot.com/2026/09/sudut-pandang-eksposisi-kritis-surat.html
https://titusroidanto.blogspot.com/2026/09/sudut-pandang-kebahagiaan-di-tengah.html
https://titusroidanto.blogspot.com/2026/09/sudut-pandang-eksposisi-kritis-surat.html