Kamis, 16 Juli 2026

Sudut Pandang memahami konsep kedaulatan keadilan Allah dalam Kitab Ayub dan Kitab Yesaya 44:6–8

Sudut Pandang memahami konsep kedaulatan keadilan Allah dalam  Kitab Ayub dan Kitab Yesaya 44:6–8

PENGANTAR
Membanding dua karya sastra memang kerjaannya study biblika Sastra, sejarah dan arkeologi, karena kalau kemaren saya menulis perbandingan antara Kitab Ayub dan perumpamaan lalang dan gandum, sekarang saya membandingkan Kitab Ayub dan kitab Yesaya. Kita melihat konsep-konsep yg dibentuk dari kitab kejadian sampai Wahyu kepada Yohanes. Alkitab itu terhubung oleh konsep utama yg diperkaya oleh konsep-konsep kecil dari kitab kejadian sampai Wahyu kepada Yohanes. Walaupun saya selalu mengatakan sebuah kitab atau bagian Injil dan surat-surat memiliki kisah teologis dari masing-masing penulisnya yang tidak bisa dicampur adukan, tetapi tetap ada konsep universal atau konsep umum yg menghubungkan sebagai benang merah dari kitab kejadian sampai Wahyu kepada Yohanes. Saya pernah menulis bahwa Alkitab dapat menafsir dirinya sendiri, ya karena ada benang merahnya, sehingga saya harus mengatakan tidak relevan mencomot satu ayat dan menafsirkan nya serta menganggap itulah konsep seluruh Alkitab. Tafsir awam teologipun sangat disarankan jangan mencomot satu ayat saja, harus ada penguatan dan pilar pendukung dari ayat Alkitab yg lain. Oleh karena itu kenapa kita dilatih dalam bacaan sabda leksionari. Kitab Ayub termasuk dalam sastra hikmat (wisdom literature) Ibrani, bersama Amsal dan Pengkhotbah. Bahasa Ibrani yang digunakan dalam Ayub sangat puitis, dengan struktur paralelisme dan metafora yang kompleks. Menurut John E. Hartley dalam The Book of Job (NICOT, 1988), gaya bahasanya menunjukkan kedalaman refleksi teologis tentang penderitaan dan keadilan Allah. Sementara Kitab Yesaya 44:6–8 merupakan bagian dari Deutero-Yesaya (Yesaya 40–55), ditulis dalam konteks pembuangan Babel. Bahasa Ibrani di sini menekankan monoteisme absolut dengan frasa:  

“Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku.” (Yesaya 44:6, TB)  

Ungkapan ini menegaskan kedaulatan dan kemahakuasaan Allah atas sejarah dan bangsa-bangsa. Providentia Dei.
PEMAHAMAN
Kitab Ayub mencerminkan tradisi Timur Dekat Kuno di mana penderitaan sering dikaitkan dengan dosa, Kesalahan dan hukuman. Namun, narasi Ayub menantang pandangan retributif itu. Allah tidak menghukum Ayub karena dosa, melainkan mengizinkan penderitaan sebagai sarana pemurnian iman (lih. Ayub 23:10).  
Dalam konteks Yesaya 44, bangsa Israel sedang mengalami krisis identitas di pembuangan. Allah menegaskan diri-Nya sebagai satu-satunya Penebus dan Pencipta, menolak dewa-dewa Babel. Ini menunjukkan kedaulatan Allah atas sejarah dan bangsa-bangsa, bukan hanya atas individu. Dalam Ayub 38–41, Allah menampakkan diri dan menunjukkan kebesaran ciptaan-Nya, menegaskan bahwa hikmat dan kuasa-Nya melampaui pemahaman manusia.  Dalam Yesaya 44:6–8, Allah menyatakan diri sebagai “Yang Awal dan Yang Akhir”, menegaskan otoritas-Nya atas waktu dan keberadaan.  Ayub mempertanyakan keadilan Allah, tetapi akhirnya menyadari bahwa keadilan ilahi tidak selalu dapat diukur dengan logika manusia.Gustavo Gutiérrez dalam On Job: God-Talk and the Suffering of the Innocent (1987) menafsirkan bahwa penderitaan Ayub membuka ruang bagi iman yang murni, bukan iman yang bersyarat.  Penderitaan sebagai Pemurnian Iman: Ayub 23:10 menegaskan: “Apabila Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.” Penderitaan menjadi alat pendidikan rohani, C.S. Lewi dalam The Problem of Pain (1940) menyebut penderitaan sebagai “megaphone of God”  sarana Allah berbicara kepada manusia yang keras hati.  
Dalam konteks modern, penderitaan sering dipahami sebagai absurditas. Namun, kitab Ayub dan Yesaya mengajarkan bahwa Allah tetap berdaulat dan adil, bahkan ketika manusia tidak memahami jalan-Nya.  
Kedaulatan Allah memberi penghiburan bahwa hidup manusia tidak berada di luar kendali-Nya. Penderitaan, bila dihayati dalam iman, menjadi sarana pendewasaan rohani dan pemurnian karakter. Kedaulatan Allah mengajarkan bahwa tidak ada penderitaan yang sia-sia. Dalam setiap ujian, Allah sedang membentuk iman yang murni dan karakter yang teguh. Seperti Ayub, umat percaya dipanggil untuk tetap setia, sebab Allah yang berdaulat juga adalah Allah yang adil dan penuh kasih.

Referensi Akademik dan Teologis
- Hartley, John E. The Book of Job (NICOT, Eerdmans, 1988).  
- Gutiérrez, Gustavo. On Job: God-Talk and the Suffering of the Innocent (Orbis Books, 1987).  
- Brueggemann, Walter. Isaiah 40–66 (Westminster John Knox, 1998).  
- Childs, Brevard S. Isaiah (OTL, Westminster Press, 2001).  
- Lewis, C.S. The Problem of Pain (HarperOne, 1940).  

(16072026)(TUS)




Sudut Pandang Yehezkiel 18:1-4, Filipi 2:1-13, dan Matius 21:23-32

Sudut Pandang Yehezkiel 18:1-4, Filipi 2:1-13, dan Matius 21:23-32 PENGANTAR Allah menghendaki pertobatan nyata. Gereja dipanggi...