Rabu, 08 Juli 2026

Sudut Pandang Penafsiran Alkitab Kontekstual Berdasarkan Ayat Terkait dan Penggunaan Leksionari

Sudut Pandang Penafsiran Alkitab Kontekstual Berdasarkan Ayat Terkait dan Penggunaan Leksionari

PENGANTAR
Dalam setiap kebaktian Minggu pada Gereja-gereja Protestan Reformir atau mainstream atau arus utama kerap diterapkan tema-tema. Misal,  selalu menerapkan tema saban Minggu dan hari raya liturgi.
Saya 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗺𝗲𝗻𝗲𝗻𝘁𝗮𝗻𝗴 tema. Persoalannya adalah tema itu datang dari mana? Tema itu seharusnya datang dari dalam teks atau sesuai dengan teks. Kalau datang dari luar teks, ada kecenderungan teks hanya 𝗱𝗶𝗽𝗲𝗿𝗮𝗹𝗮𝘁 untuk mendukung tema tersebut.
Contoh Kebaktian Minggu, 28 Juni 2026 di sebuah gereja arus utama atau protestan reformir atau gereja mainstream yang menggunakan bacaan sabda RCL seperti GKJ, gereja tsb  kemudian memasang  khotbah bertema 𝘔𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘳𝘨𝘢𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘩𝘢𝘳𝘨𝘢𝘪-𝘕𝘺𝘢 dengan Matius 10:40-42 sebagai teks bacaan. Tema di sini menggiring umat untuk menghargai para pelayan. Kalau mau sedikit bersusah-payah untuk menafsir sesuai konteks, Matius 10:40-42 justru mengecam pejabat-pejabat gerejawi yang lebih menyukai “misi besar”, “projek besar”, "progam wooowww keren", peristiwa besar, kegiatan bergengsi ketimbang melayani warga kecil, warga tak berdaya di lingkungan jemaat sendiri, warga sekeng di gerejanya, tidak mau berpikir bagaimana mengentaskan kemiskinan umatnya yg kekurangan. Padahal dengan melayani orang-orang kecil itu, orang tersingkirkan seperti kata Yesus, pejabat Gerejawi itu tidak kehilangan upahnya, tidak kehilangan gengsinya (bdk. ay. 42). Contoh kedua Kebaktian Minggu, 5 Juli 2026 di sebuah gereja arus utama yg menggunakan bacaan sabda RCL, khotbah bertema 𝘔𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 dengan Matius 11:16-19, 25-30 sebagai teks bacaan. Tema 𝘔𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 tampaknya menafsir ayat 28 “𝘔𝘢𝘳𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘒𝘶, 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘦𝘵𝘪𝘩 𝘭𝘦𝘴𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘦𝘣𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘵, 𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘭𝘦𝘨𝘢𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶.” Ini terlihat dalam renungan di 𝙒𝙖𝙧𝙩𝙖 𝙅𝙚𝙢𝙖𝙖𝙩 gereja tsb, tema 5 Juli 2026 pada gereja tsb. Pertanyaannya 𝗺𝗲𝗻𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮𝗹𝗸𝗮𝗻 𝗮𝗽𝗮? Tidak ada perintah 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 dari Yesus baik eksplisit maupun implisit dalam seluruh bacaan. Alih-alih menyuruh menanggalkan, Yesus malah memasang kuk tepat sesudah ayat 28. Yesus tidak hendak mencopot kuk. Kuk adalah keniscayaan. Oleh karena itu persoalannya bukan ada atau tidak ada tema. Persoalannya adalah arah penafsirannya. Tema yang lahir dari teks akan membuka kekayaan firman. Sebaliknya tema yang dipaksakan ke dalam teks hanya akan memersempit firman menjadi pembenaran bagi gagasan yang sudah dimiliki sebelumnya. Pada aras itu Alkitab tidak lagi menjadi subjek 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝗲𝗴𝘂𝗿 𝗚𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮, melainkan 𝗼𝗯𝗷𝗲𝗸 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶𝗽𝗲𝗿𝗮𝗹𝗮𝘁 𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗚𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮. Saya memang ada pada prinsip tidak ada tafsir yang benar apalagi salah, yang ada hanya tafsir yang dapat dipertanggung jawabkan, dipertanggung jawabkan dengan argumentasi dan jembatan nalar yg baik. Dalam studi teologi biblika, penafsiran Alkitab (hermeneutika) menuntut pendekatan intertekstual dan kontekstual, yaitu membaca satu ayat dalam terang keseluruhan Kitab Suci. Prinsip ini dikenal sebagai Scriptura sui ipsius interpres— “Alkitab menafsirkan dirinya sendiri.” Artinya, makna sejati dari satu teks tidak dapat dilepaskan dari keseluruhan narasi penyelamatan Allah dari Kitab Kejadian hingga Wahyu kepada Yohanes, itu terkait dengan pengenaan kini sesuai zamannya.  Maka, itulah Bacaan Sabda Leksionari digunakan dalam liturgi.
PEMAHAMAN
Coba kita tapaki jejaknya, bahwa Alkitab bisa menafsirkan dirinya sendiri, 1 Korintus 2:10 (TB) “Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyii dalam diri Allah.” Ayat ini menegaskan bahwa penafsiran sejati berasal dari Roh Kudus, bukan dari logika manusia semata. Roh Kudus menyingkapkan makna terdalam dari firman Allah melalui keterpaduan seluruh Kitab Suci, dari kitab kejadian sampai Wahyu kepada Yohanes. Maka, setiap ayat harus dibaca dalam terang keseluruhan wahyu Allah. Konsep keselamatan , konsep Allah, konsep anugerah dlsb itu terpaut benang merah dari kitab kejadian sampai Wahyu kepada Yohanes. Yohanes 6:63b (TB). “Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.” Penginjil yg memakai sumber cerita tentang Yesus menegaskan bahwa firman Allah memiliki dimensi rohani dan hidup. Karena itu, penafsiran tidak boleh berhenti pada arti literal, tetapi harus mencari makna rohani yang hidup dalam konteks keseluruhan wahyu Alkitab atau Ilham Alkitab. Yesaya 34:16 (TB) “Carilah dalam kitab TUHAN dan bacalah: satu pun dari semuanya itu tidak akan ketinggalan, yang satu tidak akan kehilangan pasangannya, sebab mulut-Nyalah yang memberi perintah dan Roh-Nyalah yang mengumpulkan mereka.” Ayat ini menunjukkan bahwa setiap bagian Kitab Suci saling melengkapi. Tidak ada ayat yang berdiri sendiri; semuanya memiliki pasangan dan keterkaitan dalam rencana Allah. Yesaya 28:13 (TB). “Maka bagi mereka firman TUHAN akan jadi: ‘Harus ini, harus itu, mesti begini, mesti begitu; sedikit di sana, sedikit di sini,’ supaya mereka berjalan dan jatuh telentang, supaya mereka luka parah, tertangkap dan tertawan.”
Ayat ini menggambarkan prinsip “sedikit di sana, sedikit di sini”, yaitu bahwa kebenaran Alkitab dipahami melalui penggabungan banyak ayat. Penafsiran yang hanya mengandalkan satu teks tanpa konteks akan menyesatkan. Jembatan Nalar Teologis Secara akademik, hermeneutika modern menekankan empat dimensi:

1. Konteks Historis, memahami latar budaya, bahasa, dan situasi penulis.  
2. Konteks Literer, melihat struktur, genre, dan hubungan antar bagian teks.  
3. Konteks Kanonik, menafsirkan teks dalam keseluruhan kanon Alkitab.  
4. Konteks Kekinian, tafsir harus mendarat pada pengenaan kekinian, jurang penulisan sekian abad harus dapat dimaknai sesuai zamannya, makanya Alkitab disebut buku sepanjang zaman.

Dengan demikian, penafsiran yang benar harus memperhatikan benang merah keselamatan Allah yang konsisten dari Kitab Kejadian (penciptaan dan kejatuhan manusia) hingga Wahyu kepada Yohanes (pemulihan dan kerajaan kekal). Bacaan Sabda Leksionari, Leksionari Gerejawi (misalnya dalam tradisi Katolik dan Protestan liturgis) disusun berdasarkan prinsip keterpaduan ayat-ayat. Setiap hari Minggu, bacaan dari Perjanjian Lama, Mazmur, Surat, dan Injil saling menafsirkan satu sama lain. Ini adalah bentuk praktis dari hermeneutika kontekstual membaca Alkitab dalam kesatuan narasi keselamatan, dikaji dalam pengenaan kekinian. Menafsirkan Alkitab secara kontekstual berarti:
- Tidak memisahkan satu ayat dari keseluruhan wahyu Allah / Ilham Allah atau berita keselamatan.  
- Mengandalkan bimbingan Roh Kudus dalam memahami makna rohani, membuka dengan dia dan menutup dg doa.  
- Menghormati kesatuan Kitab Suci sebagai firman yang hidup, tidak mencomot ayat favorit serta memaksakan tafsir tidak sesuai konteks teks nya.  
- Menggunakan bacaan Leksionari sebagai sarana untuk melihat keterpaduan pesan Allah, dikaitkan dg pengenaan kekinian.  

Dengan demikian, penafsiran yang benar membawa kita kepada pengertian yang utuh tentang kasih, kebenaran, dan keselamatan Allah, bukan kepada tafsir pribadi yang terpisah dari konteks ilahi.
(20072026)(TUS)

𝗣𝗲𝗻𝗱𝗲𝘁𝗮 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗯𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗯𝗲𝗿𝗽𝗼𝗹𝗶𝘁𝗶𝗸? Kita sering mendengar lontaran dari kalangan warga Kristen bahwa pendeta tidak bo...