Theotokos dan Keperawanan Kekal Maria: Benarkah Gereja Orthodox Bertentangan dengan Alkitab, atau Justru Menjaga Iman Para Rasul?
"Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik." (1 Tesalonika 5:21)
Salah satu keberatan yang paling sering diajukan oleh banyak saudara dari kalangan denominasi Protestan adalah bahwa Gereja Orthodox dianggap "meninggikan Maria secara berlebihan". Gelar Theotokos (Bunda Allah) ditolak, demikian pula ajaran bahwa Maria tetap perawan sepanjang hidupnya (Aeiparthenos). Ayat-ayat seperti Matius 1:25, Markus 6:3, dan Matius 13:55–56 sering dijadikan dasar untuk menyatakan bahwa Maria memiliki anak-anak lain.
Namun, pertanyaannya bukanlah "Apa yang saya pikirkan ketika membaca ayat itu?" Pertanyaan yang lebih penting adalah: "Bagaimana Gereja para Rasul memahami ayat tersebut?"
Sebab Alkitab tidak turun dari langit dalam bentuk sebuah buku lengkap. Kitab Suci lahir di tengah Gereja, dijaga oleh Gereja, disalin oleh Gereja, dan kanonnya ditegaskan oleh Gereja. Karena itu, penafsiran Gereja Perdana tidak dapat dipisahkan dari Kitab Suci.
Kesalahpahaman Pertama: "Maria Tidak Mungkin Disebut Bunda Allah"
Keberatan yang paling sering terdengar adalah:
«"Allah tidak mempunyai awal. Jadi Maria tidak mungkin menjadi Bunda Allah."»
Sekilas pernyataan ini terdengar benar. Namun sebenarnya itu menyerang sesuatu yang tidak pernah diajarkan Gereja Orthodox.
Gereja tidak pernah mengatakan bahwa Maria adalah asal-usul Allah atau bahwa Maria menciptakan keilahian Putra Allah.
Yang diajarkan Gereja adalah:
Pribadi yang dilahirkan Maria adalah Putra Allah yang kekal, yang mengambil kodrat manusia melalui rahimnya.
Injil Yohanes berkata:
«"Pada mulanya adalah Firman... Firman itu adalah Allah." (Yohanes 1:1)»
Lalu:
«"Firman itu telah menjadi manusia." (Yohanes 1:14)»
Pertanyaannya sederhana:
Siapakah yang lahir di Betlehem?
Apakah hanya manusia Yesus?
Ataukah Firman Allah yang telah menjadi manusia?
Jika jawabannya adalah Firman Allah yang menjadi manusia, maka Maria memang melahirkan Pribadi yang adalah Allah Putra.
Karena itu gelar Theotokos bukanlah penghormatan berlebihan kepada Maria, tetapi perlindungan terhadap ajaran bahwa Yesus Kristus adalah satu Pribadi ilahi.
Menolak Theotokos berarti mempertaruhkan Kristologi.
Kesalahpahaman Kedua: "Maria Hanya Bunda Kristus"
Ini sebenarnya adalah ajaran yang pernah diajarkan Nestorius.
Menurut Nestorius, Maria hanya melahirkan manusia Yesus, sedangkan Firman Allah hanya tinggal di dalam manusia tersebut.
Masalahnya sangat serius.
Jika demikian, maka Yesus bukan lagi satu Pribadi, melainkan dua pribadi yang bekerja bersama.
Tetapi Alkitab tidak pernah berbicara tentang dua Yesus.
Yang lahir...
Yang disalib...
Yang bangkit...
Yang naik ke surga...
adalah satu dan Pribadi yang sama.
Karena itulah Konsili Efesus (431) menegaskan Maria sebagai Theotokos, bukan demi Maria, tetapi demi mempertahankan iman yang benar mengenai Kristus.
Kesalahpahaman Ketiga: "Theotokos Tidak Ada di Alkitab"
Benar.
Kata "Trinitas" juga tidak ada di Alkitab.
Kata "Inkarnasi" juga tidak ada.
Kata "Omnipotent" juga tidak.
Tetapi apakah karena istilah-istilah itu tidak tertulis, maka ajarannya otomatis salah?
Yang harus dibuktikan bukan keberadaan istilahnya, melainkan apakah maknanya diajarkan oleh Kitab Suci.
Ketika Elisabet dipenuhi Roh Kudus ia berkata:
«"Mengapa ibu Tuhanku datang kepadaku?" (Lukas 1:43)»
Ia tidak berkata:
"Ibu manusia Yesus."
Ia berkata:
"Ibu Tuhanku."
Jika Yesus adalah Tuhan...
dan Maria adalah ibu Yesus...
maka kesimpulannya tidak sulit.
Kesalahpahaman Keempat: "Maria Memiliki Anak-Anak Lain"
Inilah argumen yang paling populer.
Mari kita lihat satu per satu.
Matius 1:25
«"Yusuf tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan seorang anak laki-laki."»
Banyak orang menganggap kata "sampai" (ἕως / heōs) berarti setelah itu hubungan suami-istri pasti terjadi.
Tetapi apakah Alkitab memakai kata itu demikian?
Tidak.
Contohnya:
«"Aku menyertai kamu sampai akhir zaman." (Matius 28:20)»
Apakah setelah akhir zaman Kristus berhenti menyertai Gereja?
Tidak.
Contoh lain:
«"Mikal tidak mempunyai anak sampai hari matinya." (2 Samuel 6:23)»
Apakah sesudah meninggal ia baru mempunyai anak?
Jelas tidak.
Jadi secara tata bahasa Yunani maupun penggunaan Alkitab, kata heōs tidak otomatis menunjukkan perubahan keadaan setelah titik waktu tersebut.
Markus 6:3
«"Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon adalah saudara-saudara Yesus."»
Kata Yunani yang dipakai adalah adelphoi.
Tetapi apakah adelphoi selalu berarti saudara kandung?
Tidak.
Dalam Septuaginta, Abraham dan Lot disebut adelphoi, padahal Lot adalah keponakan Abraham (Kejadian 13:8).
Dalam budaya Semitik, kerabat dekat sering disebut "saudara."
Jadi penggunaan kata adelphoi sama sekali tidak cukup untuk membuktikan bahwa Maria mempunyai anak kandung lain.
Siapa Sebenarnya Yakobus dan Yoses?
Markus 15:40 menyebut:
«"Maria ibu Yakobus Muda dan Yoses."»
Yohanes 19:25 menyebut:
«"Maria istri Klopas."»
Artinya Yakobus dan Yoses justru dikenal sebagai anak Maria yang lain, bukan Maria ibu Yesus.
Jika Alkitab sendiri membedakan dua Maria ini, mengapa masih memaksa menyimpulkan bahwa mereka adalah anak Maria, ibu Yesus?
Yohanes 19:26–27
Di kayu salib Yesus menyerahkan Maria kepada Rasul Yohanes.
Mengapa?
Jika Maria benar mempunyai empat anak laki-laki dan beberapa anak perempuan seperti yang sering diklaim, tindakan Yesus justru bertentangan dengan kewajiban keluarga Yahudi.
Mengapa seorang ibu diserahkan kepada murid yang bukan saudara kandungnya apabila ia masih mempunyai banyak anak?
Jawaban yang paling sederhana adalah:
Maria memang tidak mempunyai anak kandung selain Yesus.
"Anak Sulung"
Lukas menyebut Yesus sebagai "anak sulung."
Sebagian menganggap ini bukti adanya anak kedua.
Namun menurut hukum Taurat, setiap anak pertama yang membuka kandungan disebut anak sulung (πρωτότοκος / prototokos) meskipun ia menjadi anak tunggal sepanjang hidupnya (lihat Keluaran 13:2).
Jadi istilah itu adalah status hukum, bukan jumlah anak.
Mengapa Hampir Seluruh Gereja Perdana Percaya Maria Tetap Perawan?
Inilah pertanyaan yang jarang diajukan.
Jika para Rasul benar mengajarkan bahwa Maria mempunyai banyak anak, mengapa hampir seluruh Bapa Gereja justru mengajarkan sebaliknya?
Mengapa Athanasius, Basilius Agung, Gregorius dari Nazianzus, Gregorius dari Nyssa, Epifanius, Hieronimus, Ambrosius, Kirilus dari Aleksandria, bahkan banyak penulis Gereja abad kedua dan ketiga, semuanya mempertahankan keperawanan kekal Maria?
Apakah mungkin seluruh Gereja yang hidup jauh lebih dekat dengan zaman para Rasul tiba-tiba melupakan fakta bahwa Maria mempunyai anak-anak lain?
Ataukah justru penafsiran modern yang muncul jauh berabad-abad kemudian perlu diuji kembali?
Masalah Sesungguhnya Adalah Otoritas
Perdebatan ini pada akhirnya bukan hanya tentang Maria.
Melainkan tentang pertanyaan yang lebih mendasar.
Siapa yang memiliki otoritas menafsirkan Kitab Suci?
Apakah setiap orang bebas memberikan makna sendiri terhadap ayat-ayat Alkitab?
Ataukah kita harus mendengarkan Gereja yang menerima iman itu langsung dari para Rasul?
Gereja Orthodox tidak membangun ajarannya hanya dari satu atau dua ayat yang dipisahkan dari konteks.
Sebaliknya, Gereja membaca Kitab Suci dalam terang bahasa aslinya, budaya Yahudi, kesaksian para Rasul, liturgi Gereja, dan suara bulat para Bapa Gereja.
Kesimpulan
Mengakui Maria sebagai Theotokos bukan berarti menyembah Maria.
Mengakui Maria tetap Aeiparthenos bukan berarti mengurangi kemuliaan Kristus.
Sebaliknya, kedua ajaran ini justru menjaga dua kebenaran besar iman Kristen:
Bahwa Yesus Kristus adalah Allah sejati yang sungguh menjadi manusia.
Dan,
bahwa iman Gereja tidak berubah mengikuti zaman, tetapi tetap berdiri di atas ajaran para Rasul yang telah dipelihara selama dua ribu tahun.
Seperti yang dikatakan Rasul Paulus:
«"Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah kepada tradisi-tradisi yang kamu terima dari kami, baik secara lisan maupun melalui surat kami." (2 Tesalonika 2:15)»
Maka pertanyaannya bukanlah, "Apakah ajaran Gereja Orthodox sesuai dengan pendapat saya?" Pertanyaan yang lebih penting adalah, "Apakah saya bersedia menerima iman yang telah dihidupi, dijaga, dan diwariskan oleh Gereja sejak zaman para Rasul?"