PENGANTAR
Minggu 12 Juli 2026, 𝗞𝗲𝘀𝗲𝗺𝗽𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗲𝗺𝗮𝘀 𝗽𝗲𝗻𝗴𝗸𝗵𝗼𝘁𝗯𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗵𝗮𝗸𝗶𝗺𝗶 𝘂𝗺𝗮𝘁. Yesus mengajar dengan banyak metode, yang di antaranya adalah lewat perumpamaan-perumpamaan. Menurut banyak ahli Yesus-historis tidak pernah menjelaskan perumpamaan yang diajarkan-Nya. Saya ambil contoh 𝘗𝘦𝘳𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘯𝘢𝘣𝘶𝘳 (Mat. 13:3b-9). Jika memang Yesus-historis tidak pernah menjelaskan, mengapa dalam Matius 13:18-23 perumpamaan itu dijelaskan? Penulis Injil Matius memodifikasi 𝘗𝘦𝘳𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘯𝘢𝘣𝘶𝘳 Injil Markus. Matius menafsir perumpamaan itu. “Nasib” benih yang ditaburkan menurut empat jenis tanah dibagankan. Benih adalah metafora untuk firman, sedang jenis tanah metafora untuk jenis pendengar.
1️⃣ Benih di pinggir jalan. Pendengar tidak mengerti, lalu datanglah si jahat merampas dalam hati orang itu. (ay. 19)
2️⃣ Benih di tanah berbatu-batu. Firman segera diterima dengan gembira, tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan karena firman itu, orang itu pun segera murtad. (ay. 20-21)
3️⃣ Benih di semak duri. Orang mendengar firman itu, lalu kekhawatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan mengimpitnya sehingga tak berbuah. (ay. 22)
4️⃣ Benih di tanah yang baik. Orang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu berbuah, ada yang 100 kali lipat, ada yang 60 kali lipat, ada yang 30 kali lipat. (ay. 23)
Nah, di sinilah pengkhotbah memiliki kesempatan emas untuk menghakimi warga jemaat sebagai 𝗽𝗲𝗻𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗿 𝗳𝗶𝗿𝗺𝗮𝗻 𝘁𝗶𝗽𝗲 𝟭 – 𝟯 dengan merujuk penjelasan Matius di atas. Dalam kehidupan Gereja modern hal sebaliknya sering justru acap dijumpai. Tanahnya baik dalam arti para pendengar atau warga jemaat sudah menyiapkan diri beribadah. Mereka menerima 𝗯𝗲𝗻𝗶𝗵 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗯𝗲𝗿𝗺𝘂𝘁𝘂 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗺𝗶𝗺𝗯𝗮𝗿 𝗚𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮, karena 𝗽𝗲𝗻𝗮𝗯𝘂𝗿𝗻𝘆𝗮 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗯𝗲𝗿𝗺𝘂𝘁𝘂. Tepatlah ayat penutup perumpamaan menyebut, “𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘦𝘭𝘪𝘯𝘨𝘢, 𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳!” (ay. 9). Banyak orang ketika menjadi pengkhotbah atau pemimpin gereja tidak mau lagi menggawaikan telinga. Tak sudi mendengar. Maunya 𝘯𝘨𝘰𝘮𝘰𝘯𝘨 𝘮𝘶𝘭𝘶. Para penabur hendaklah juga selalu belajar untuk meningkatkan mutu. Perumpamaan (𝘱𝘢𝘳𝘢𝘣𝘰𝘭e𝘯 atau 𝘱𝘢𝘳𝘢𝘣𝘭𝘦) merupakan metafor, perbandingan. Sumber metafor dari yang ada di alam atau kegiatan sehari-hari. Keunggulan perumpamaan adalah menampilkan subjek yang hendak dijelaskan secara hidup, lugas, tetapi memberi ruang bagi pendengar untuk menafsir sendiri. Untuk itulah banyak ahli Perjanjian Baru (PB) berpendapat bahwa Yesus-historis tidak pernah menjelaskan arti perumpamaan-perumpamaan yang disampaikan-Nya. Penafsiran dilakukan oleh pengarang Injil untuk kepentingan pastoral bagi jemaat penulis Injil.
Hari ini adalah Minggu ketujuh sesudah Pentakosta. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Matius 13:1-9, 18-23 yang didahului dengan Yesaya 55:10-13, Mazmur 65:(1-8), 9-13, dan Roma 8:1-11.
Konteks terdekat bacaan Injil Matius 13:1-9, 18-23 adalah seluruh pasal 13 yang berisi perumpamaan-perumpamaan yang berujung penolakan terhadap Yesus oleh bangsa sendiri (ay. 53-58). Pasal 13 dalam susunan Injil Matius dapat dimasukkan sebagai wejangan ketiga. Seperti yang pernah saya sampaikan bahwa wejangan pertama adalah 𝘒𝘩𝘰𝘵𝘣𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘉𝘶𝘬𝘪𝘵 (Mat. 5-7) dan wejangan kedua adalah 𝘗𝘦𝘳𝘶𝘵𝘶𝘴𝘢𝘯 (Mat. 10). Ada lima wejangan.
Jumlah perumpamaan di Injil Matius pasal 13 adalah tujuh. Sumber utamanya dari Markus 4 yang berisi tiga perumpamaan. Empat perumpamaan lain diambil oleh pengarang Injil Matius dari sumbernya sendiri atau perumpamaan-perumpamaan yang memang sudah beredar secara lepas di kalangan jemaat Kristen. Tentu saja Yesus-historis tidak mengajarkan ketujuh perumpamaan sekaligus dalam satu pasal. Meskipun perumpamaan-perumpamaan dalam Injil sinoptik tampak mirip, tetapi tujuan penyampaian perumpamaan berbeda, bergantung pada teologi yang diusung oleh pengarang Injil dan persoalan di jemaat penulis Injil.
Bagan perumpamaan dalam bacaan Injil Matius 13:1-9, 18-23:
▶️ Pengantar (ay. 1-3a)
▶️ Perumpamaan tentang penabur (ay. 3b-9; bdk. Mrk. 4:3-9)
▶️ Tanya-jawab murid-murid dan Yesus (ay. 10-17)
▶️ Penjelasan perumpamaan tentang penabur (ay. 18-23)
Dalam bacaan Injil Minggu ini ayat 10-17 dilompati.
𝗠𝗮𝘁𝗶𝘂𝘀 𝟭𝟯:𝟭-𝟯𝗮
Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau. Lalu datanglah orang banyak berbondong-bondong dan mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedang orang banyak semuanya berdiri di pantai. Ia mengucapkan banyak hal perumpamaan kepada mereka. (ay. 1-3a)
Frase 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘵𝘶 mirip dengan 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘪𝘵𝘶 sebagai penghubung peralihan adegan atau episode. Sebelum episode ini Yesus berbicara dengan orang banyak di dalam rumah, sedang ibu dan saudara-saudara-Nya berdiri di luar. Rumah siapa? Tidak jelas karena tidak disebutkan nama pemilik rumah (lih. Mat. 12:46-49). Tidak jelas juga tujuan Yesus keluar dari rumah dan duduk di tepi danau (Galilea). Saya membayangkan Yesus hendak bersantai 𝘯𝘺𝘳𝘶𝘱𝘶𝘵 kopi panas dan mengisap sebatang kretek.
Rupanya imajinasi saya ambyar. Yesus tak jadi bersantai. Orang banyak berbondong-bondong dan mengerumuni Dia. Untuk apa? Apa lagi kalau bukan minta petuah? Situasi seperti ini mirip menjelang 𝘒𝘩𝘰𝘵𝘣𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘉𝘶𝘬𝘪𝘵 (lih. Mat. 4:25 – 5:1). Menjelang 𝘒𝘩𝘰𝘵𝘣𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘉𝘶𝘬𝘪𝘵 Yesus naik ke gunung (𝘰𝘳𝘰𝘴) dan duduk, sedang dalam wejangan ketiga ini Yesus naik ke perahu dan duduk. Di dalam kitab-kitab Injil disebut bahwa Yesus duduk mengajar.
𝗠𝗮𝘁𝗶𝘂𝘀 𝟭𝟯:𝟯𝗯-𝟵
Kata-Nya, “𝘈𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘯𝘢𝘣𝘶𝘳 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘣𝘶𝘳. 𝘗𝘢𝘥𝘢 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘣𝘶𝘳, 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘯𝘪𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘫𝘢𝘵𝘶𝘩 𝘥𝘪 𝘱𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘶𝘳𝘶𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘩𝘢𝘣𝘪𝘴. 𝘚𝘦𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘵𝘶𝘩 𝘥𝘪 𝘵𝘢𝘯𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘢𝘵𝘶-𝘣𝘢𝘵𝘶, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘯𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘪𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘱𝘶𝘯 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘳𝘢 𝘵𝘶𝘮𝘣𝘶𝘩 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘵𝘢𝘯𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘱𝘪𝘴. 𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯, 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘪𝘵, 𝘭𝘢𝘺𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘯𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘬𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘬𝘢𝘳. 𝘉𝘦𝘯𝘪𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘫𝘢𝘵𝘶𝘩 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘶𝘳𝘪, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘮𝘱𝘪𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘮𝘢𝘵𝘪. 𝘉𝘦𝘯𝘪𝘩-𝘣𝘦𝘯𝘪𝘩 𝘭𝘢𝘪𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘫𝘢𝘵𝘶𝘩 𝘥𝘪 𝘵𝘢𝘯𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘪𝘬, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘩: 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 100 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘭𝘪𝘱𝘢𝘵, 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 60 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘭𝘪𝘱𝘢𝘵, 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 30 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘭𝘪𝘱𝘢𝘵. 𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘦𝘭𝘪𝘯𝘨𝘢, 𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳!” (ay. 3b-9)
Membaca perumpamaan hendaklah membacanya sebagai perumpamaan. Tidak perlu membuat pembelaan bahwa ladang atau lahan tanam di daerah Palestina pada zaman itu memang seperti itu sehingga penabur atau petani saat menabur benih akan tersebar ke tanah-tanah seperti itu.
Dalam sastra kuno Israel kerap judul karangan diambil dari kalimat atau frase di awal kalimat, meskipun judul kadang tidak mencerminkan keseluruhan isi. Mirip-miriplah dengan judul-judul nyanyian gerejawi seperti 𝘒𝘪𝘥𝘶𝘯𝘨 𝘑𝘦𝘮𝘢𝘢𝘵 yang mengambil kalimat atau frase di awal nyanyian. Dalam bacaan judul perumpamaan adalah perumpamaan tentang penabur. Padahal benih, jenis tanah, dan hasil lebih diperhatikan. Perumpamaan ini hendak membandingkan atau memertentangkan benih-benih yang jatuh ke tiga bagian tanah yang tak menghasilkan dengan benih yang jatuh ke tanah yang baik dan berbuah banyak.
Dalam Injil Markus kegagalan sedikit benih (tunggal) di tanah tak subur dipertentangkan dengan hasil makin dahsyat (30, 60, 100 kali lipat) banyak benih (jamak) di tanah yang baik (Mrk. 4:3-8). Perumpamaan dalam Injil Markus mengesankan hasil yang fantastis pada saat penyelesaian pewartaan Injil Kerajaan Allah, meskipun ada yang mengecewakan pada masa pemberitaan. Namun, Matius tampaknya menghadapi persoalan berbeda. Urutan hasil dibalik oleh Matius menjadi 100, 60, dan 30. Matius tidak lagi berbicara tentang panen makin melimpah pada saat penyelesaian Injil Kerajaan Allah, tetapi mengenai ukuran hasil yang berbeda-beda bagi pendengar masing-masing.
Perumpamaan ditutup dengan 𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘦𝘭𝘪𝘯𝘨𝘢, 𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳! Pendapat ahli PB tampaknya cukup beralasan bahwa Yesus-historis tidak pernah menjelaskan makna perumpamaan yang diwartakan-Nya. Yesus memberi ruang penafsiran bagi pendengar. Dalam konteks masa kini pesan penutup itu sangat cocok untuk pimpinan gerejawi, yang banyak lebih suka berbicara ketimbang mendengar.
𝗠𝗮𝘁𝗶𝘂𝘀 𝟭𝟯:𝟭𝟴-𝟮𝟯
Bagian ini merupakan penjelasan perumpamaan tentang penabur. Tentu ini pendapat penulis Injil Matius atas penafsirannya terhadap perumpamaan itu. Saya bagankan “nasib” benih yang ditaburkan menurut empat jenis tanah. Benih adalah metafor untuk firman, sedang jenis tanah metafor untuk jenis pendengar.
▶️ Benih di pinggir jalan. Pendengar tidak mengerti, lalu datanglah si jahat merampas dalam hati orang itu. (ay. 19)
▶️ Benih di tanah berbatu-batu. Firman segera diterima dengan gembira, tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan karena firman itu, orang itu pun segera murtad. (ay. 20-21)
▶️ Benih di semak duri. Orang mendengar firman itu, lalu kekhawatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan mengimpitnya sehingga tak berbuah. (ay. 22)
▶️ Benih di tanah yang baik. Orang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu berbuah, ada yang 100 kali lipat, ada yang 60 kali lipat, ada yang 30 kali lipat. (ay. 23)
Penjelasan perumpamaan tentang penabur bukan di buku-buku tafsir, melainkan langsung di teks Injil Matius. Saya tak perlu menafsir lagi, namun memberi sedikit catatan gaya penafsiran Matius (dan ini pun sebenarnya adalah kegiatan menafsir). Dari penjelasan itu tampaknya Matius tidak lagi berbicara tentang Injil Kerajaan Allah, melainkan cara-cara orang mendengar berita tentang Kerajaan Allah. Misal, Matius mengontraskan 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳𝘵𝘪 (ay. 19) dan 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳𝘵𝘪 (ay. 23). Tidak mengerti, maka tidak berbuah. Mengerti, maka berbuah banyak, berlipat-lipat. Dalam kehidupan Gereja modern hal sebaliknya acap dijumpai. Tanahnya baik dalam arti para pendengar atau warga jemaat sudah menyiapkan diri beribadah dan karya bergereja. Umat hidup dari keteladanan pimpinannya. Mereka menerima benih yang tidak bermutu dari mimbar dan pimpinan Gereja. Bagaimana ini? Tepatlah ayat penutup perumpamaan 𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘦𝘭𝘪𝘯𝘨𝘢, 𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳! (ay. 9) Para penabur hendaklah juga mendengar untuk meningkatkan mutu.
(07072026)(TUS)