Sudut Pandang (Minggu VIII sesudah Pentakosta, Tahun A), Kelumit Taman Pendidikan
Mengapa Ki Hajar Dewantara menamai lembaga sekolah yang dibuatnya dengan Taman Siswa? Beliau adalah pengagum tokoh besar pendidikan Friedrich Fröbel, Bapak Taman Kanak-Kanak.
Bacaan Minggu ini secara ekumenis diambil dari Injil Matius 13:31-33, 44-52 yang didahului dengan Kejadian 29:15-28, Mazmur 105:1-11, 45b, dan Roma 8:26-39.
Dalam Injil Matius sangat terang bahwa pusat pemberitaan atau pengajaran Yesus adalah Kerajaan Surga atau Kerajaan Allah. Kerajaan Allah sukar diperikan dengan kata-kata. Untuk itulah Yesus mengajar mengenai Kerajaan Allah lewat perumpamaan-perumpamaan dan tindakan. Masih di seputar Danau Galilea Yesus mengajar tentang Kerajaan Allah. Saya tetap membayangkan Yesus mengajar dengan ditemani secangkir kopi panas. Barangkali kalau zaman itu sudah ada rokok, Yesus sangat bolehjadi akan menyulut sebatang rokok. Dua Minggu berturut-turut bacaan kita tentang Kerajaan Allah yang diperumpamakan dengan kisah penabur.
Pada Minggu ini bacaan Injil (Matius 13:31-33, 44-52) tentang lima perumpamaan Yesus yang kesemuanya untuk memerikan (describe) Kerajaan Surga/Allah. Kendati demikian pemerian (description) Kerajaan Allah lewat perumpamaan-perumpamaan itu masih belum memadai. Hal itu menunjukkan bahwa pengertian Kerajaan Allah sebagai suatu kenyataan baru (dalam konteks Perjanjian Baru) yang sukar diperikan dengan kata-kata, karena ia jauh melampaui pikiran.
Pertama, hal Kerajaan Surga itu seumpama biji sesawi … yang ditabur di ladang … yang paling kecil dari segala jenis benih … apabila sudah tumbuh menjadi pohon …burung-burung di udara datang bersarang (ay. 31-32). Kedua, hal Kerajaan Surga itu seumpama ragi yang diambil dari seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu sebanyak 40 liter sampai mengembang seluruhnya (ay. 33). Ketiga, hal Kerajaan Surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang yang ditemukan orang, lalu dipendamnya lagi…ia pergi menjual seluruh miliknya untuk membeli ladang itu (ay. 44). Keempat, hal Kerajaan Surga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya ia menjual seluruh miliknya untuk membeli mutiara yang indah itu (ay. 45-46). Kelima, , hal Kerajaan Surga itu seumpama jala yang ditebarkan ke laut … setelah penuh ikan, jala itu diseret ke pantai … ikan yang baik dimasukkan ke tempayan, ikan yang tidak baik dibuang (ay. 47-48).
Di lingkungan orang Kristen tertentu Kerajaan Surga/Allah diberi makna sempit pada Gereja. Gereja kemudian menjatidiri sebagai Kerajaan Allah di dunia ini untuk melaksanakan kekuasaan dan wewenang ilahi menghadapi kekuatan dan wewenang sekuler. Padahal dalam tulisan Injil Yesus sama sekali tidak memaknai Kerajaan Surga sebagai lembaga tertentu. Yang mau disampaikan oleh Yesus ialah Kerajaan Surga itu tindakan-tindakan atau pekerjaan-pekerjaan Allah. Ini dapat dilihat dari perumpamaan-perumpamaan di atas. Biji sesawi tumbuh, ragi mengembangkan tepung terigu, menjual-membeli, serta jala ditebarkan dan diseret.
Dalam mengakhiri perumpamaan-perumpamaan tentang Kerajaan Surga Yesus menutupnya dengan perumpamaan juga “Setiap ahli Taurat (maksudnya orang yang membaca Kitab Suci – MDS) yang menerima pelajaran tentang Kerajaan Surga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya.” (ay. 52). Artinya, orang yang pecaya kepada Allah yang diperkenalkan oleh Yesus dan menerima-Nya melakukan tindakan-tindakan yang sudah dilakukan Allah, yang diwujudkan lewat tindakan-tindakan Yesus secara penuh seumpama “mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya”. Seperti kata Pemazmur dalam leksionari Minggu ini yang memegang segala pengajaran-Nya (Mzm. 105:45). Tindakan-tindakan itu ialah menghadirkan keadilan sosial, perdamaian, dan keutuhan ciptaan. Dengan demikian Gereja bukanlah Kerajaan Surga, melainkan hamba misi Kerajaan Surga.
Menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Surga itu bukanlah memersiapkan warga jemaat menyongsong hari kiamat, kemudian menakut-nakuti agar banyak orang datang ke gereja itu untuk memberikan uang kolekte dan membeli minyak urapan. Menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Surga itu bukan beramai-ramai promosi kebaktian virtual dalam masa pandemi dengan menayangkan nomor rekening gereja.
Dua buku sangat tebal “Sejarah Pemikiran Pendidikan Kristen” karangan Robert R. Boehlke merenteng tokoh-tokoh besar pendidikan dan memerikan secara rinci pemikiran dan praktik pendidikan mereka. Tentu saja Boehlke di awal-awal buku menguntai Yesus sebagai Pendidik dan Pengajar Agung seperti diperikan oleh kelumit bacaan Injil di atas. Satu tokoh besar lainnya dalam pendidikan Kristen yang dieksploitasi oleh Boehlke adalah Friedrich Fröbel (1782-1852). Fröbel berhasrat menyiapkan anak-anak untuk bersekolah, tetapi ia menolak wadah yang dibuatnya disebut sekolah. Anak-anak hendaknya bertumbuh lebih bebas seperti tanaman sampai ia berbunga indah. Tentu saja yang ia maksudkan tidak bebas sama sekali, tetapi membiarkan mereka untuk menikmati kehidupan di bawah pengawasan dengan penuh kasih.
Pada suatu hari Fröbel berjalan dengan dua rekannya, Johann Barop dan WilhelmMiddendorf, di suatu lembah yang penuh ditumbuhi bunga-bunga. Mata Fröbel berbinar-binar dan berteriak, “Saya sudah menemukannya. Taman Kanak-Kanak! (die Kindergarten)” Suaranya tidak saja terdengar dua rekannya di lembah itu, tetapi berkumandang ke seluruh dunia. Bahkan dalam bahasa Inggris Taman Kanak-Kanak tetap menyerap bahasa aslinya Kindergarten. Pemikiran dan praktik Fröbel ini juga yang menginspirasi Ki Hajar Dewantara mendirikan Taman Siswa.
Apa artinya itu semua? Misi Kerajaan Surga yang perlu dilakukan gereja sejajar dengan apa yang dilakukan oleh para nabi pada masa Perjanjian Lama dan Yesus pada masa Perjanjian Baru untuk menyuarakan kehendak Allah, yaitu keadilan dan damai sejahtera. Menghadirkan Kerajaan Surga itu setia melayani masyarakat dengan menegakkan keadilan, mengembangkan kebebasan dari penindasan, dan meratakan kesejahteraan sosial, serta memberdayakan masyarakat pinggiran seperti yang dilakukan oleh Yesus.
Dalam sejarah pemikiran pendidikan gereja tampak merajai (dominate) arah sistem pendidikan di dunia. Yang mengherankan gereja di Indonesia diam saja ketika sistem pendidikan Indonesia rusak (corrupt). Gereja di Indonesia diam saja ketika para pembuat kebijakan pendidikan nasional berpesta pora anggaran yang besarnya konon 20% dari APBN. Bagi saya pengunduran diri Muhammadyah dan Nahdlatul Ulama dari program dana hibah POP adalah tamparan bagi gereja yang tetap ndomblong dan tidak menggawaikan telinga. Ucapan Yesus dalam Matius 13:13 sangat menohok gereja, “Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti.”
26072020