Minggu, 09 Agustus 2026

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 15:21-28 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗫𝗜𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔] 𝘾𝙧𝙤𝙨𝙨 𝙘𝙪𝙡𝙩𝙪𝙧𝙚

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 15:21-28, [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗫𝗜𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], 𝘾𝙧𝙤𝙨𝙨 𝙘𝙪𝙡𝙩𝙪𝙧𝙚

Dasar pemikiran penerapan bacaan ekumenis atau leksionari (RCL) ialah agar umat lebih banyak, lebih beraneka mendapat pembacaan Alkitab, sehingga harta kitab suci benar-benar dibukakan bagi umat. Pembacaan Alkitab untuk ibadah tidak ditentukan secara spontan atau itu-itu saja sesuai selera pendeta. Pembacaan menjadi teratur dalam kalender liturgi sehingga selebrasi bercerita tentang karya Allah di dalam Kristus dan membimbing umat mengikuti alur tahun liturgi. Narasi merupakan kekuatan sistem leksionari.

Satu-satunya “masalah” pada leksionari adalah ia tak jarang menyodor bacaan yang sulit untuk dikhotbahkan. Itulah sebabnya cukup banyak pendeta menolak penerapan leksionari, karena mereka malas belajar dan mendengar.

Hari ini adalah Minggu keduabelas sesudah Pentakosta. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Matius 15:21-28 yang didahului dengan Yesaya 56:1, 6-8, Mazmur 67, dan Roma 11:1-2a, 29-32.

Bacaan Injil Minggu ini, Matius 15:21-28, perikopnya diberi judul oleh LAI 𝘗𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘒𝘢𝘯𝘢𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢. Pengarang Injil Matius mengadopsi kisah itu dari Injil Markus 7:30 𝘗𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘚𝘪𝘳𝘰-𝘍𝘦𝘯𝘪𝘴𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢, lalu memodifikasi kisah itu agar sesuai dengan teologi yang diusung oleh Matius.

Kisah 𝘗𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘒𝘢𝘯𝘢𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢 dalam Injil Matius ini termasuk teks yang sulit untuk dikhotbahkan. Apalagi jika pengkhotbah memandang kisah Natal dalam Injil Matius dan Injil Lukas sama saja. Kalau mereka memandang sama saja, maka teks bacaan Injil Minggu ini dapat dipastikan akan dikhotbahkan tidak sesuai dengan teologi Matius. Banyak hal yang akan dilewati. Tidak mengherankan cukup banyak pendeta menghindari menggunakan bacaan ekumenis (RCL) dan memilih bacaan yang disesuaikan ideologi mereka.

Latar belakang penulisan Injil Matius adalah penghancuran Bait Allah II oleh Jenderal Titus dari Roma. Jemaat Matius banyak dari kalangan Yahudi. Umat Kristen kebingungan, karena mereka tidak sepaham dengan orang Yahudi pada pihak satu, tetapi mereka berakar kuat dalam Yudaisme pada pihak lain. Mereka menjadi kelompok asing di lingkungan mereka sendiri. Dalam pada itu banyak orang kafir menerima Kristus. Mereka berbeda dari orang-orang Yahudi dan mereka tidak mau menerima gaya hidup Yudaisme, karena mereka dari budaya Grika. Umat Kristen dari kalangan Yahudi seperti kehilangan jatidiri. Dalam krisis inilah penulis Injil Matius hendak mengatasinya. Banting stir!

Pengarang Injil Matius membimbing Jemaatnya bahwa Injil bukan untuk orang-orang Yahudi saja, melainkan untuk segala bangsa. Pada mulanya Injil diwartakan kepada orang-orang Yahudi, tetapi ditolak, kemudian Injil diberitakan kepada bangsa lain. Mereka justru menerima. Hal ini dapat dilihat dari pembukaan Injil Matius yang orang-orang Majus datang menyembah Yesus, sedang Raja Herodes malah hendak membunuh bayi Yesus. Sejajar dengan kisah Musa. Matius mengusung teologi bahwa Yesus adalah 𝘔𝘶𝘴𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘳𝘶 untuk menggembala 𝘶𝘮𝘢𝘵 𝘐𝘴𝘳𝘢𝘦𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘳𝘶.

Dengan latar belakang itu mari kita mengulas bacaan Injil Minggu ini. Bacaan dapat kita bagi dalam lima bagian.

🛑 Matius 15:21 Latar
🛑 Matius 15:22 Permohonan pertama perempuan Kanaan
🛑 Matius 15:23-24 Hasutan murid-murid Yesus
🛑 Matius 15:25-26 Permohonan kedua perempuan Kanaan
🛑 Matius 15:27-28 Tanggapan akhir Yesus kepada perempuan Kanaan

𝗟𝗮𝘁𝗮𝗿 (Mat. 15:21)

Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon. (Mat. 15:21, TB II 2023)

Lokasi Yesus sebelum ayat ini di Genesaret (Mat. 14:34). Tempat ini di sebelah barat laut Danau Galilea. Yesus pergi dari Genesaret dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon. Kata 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘪𝘯𝘨𝘬𝘪𝘳 beberapa kali digunakan dalam Injil Matius (Mat. 2:12-14, 22; 12:16; 14:13). Yesus menyingkir, jika hidup-Nya terancam. Yesus terancam menyusul pembunuhan Yohanes Pembaptis oleh Raja Herodes Antipas (lih. Mat. 14:1-13).

Tirus dan Sidon terletak di pesisir Laut Tengah, sebelah barat Danau Galilea. Barangkali Yesus tidak tepat di kedua kota itu, karena teks hanya menyebut 𝘥𝘢𝘦𝘳𝘢𝘩 𝘛𝘪𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘚𝘪𝘥𝘰𝘯. Kedua kota itu didiami oleh orang-orang kafir.

𝗣𝗲𝗿𝗺𝗼𝗵𝗼𝗻𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝘁𝗮𝗺𝗮 𝗽𝗲𝗿𝗲𝗺𝗽𝘂𝗮𝗻 𝗞𝗮𝗻𝗮𝗮𝗻 (Mat. 15:22)

Lalu datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berteriak, “𝘒𝘢𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶, 𝘺𝘢 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘋𝘢𝘶𝘥! 𝘈𝘯𝘢𝘬𝘬𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘳𝘢𝘴𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘵𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢.” (Mat. 15:22, TB II 2023)

Orang-orang Kanaan kerap disebut di Perjanjian Lama (PL), sedang di Perjanjian Baru (PB) hanya di sini. Pada zaman PB tidak ada lagi negeri Kanaan, tetapi orang-orang Fenisia menyebut diri orang-orang Kanaan. Tidak terlalu jelas batas wilayah Kanaan.

“𝘒𝘢𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶, 𝘺𝘢 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘋𝘢𝘶𝘥!” bukan sekadar seruan minta dikasihani dan tolong. Ini adalah liturgi. 𝘒𝘺́𝘳𝘪𝘦 𝘦𝘭𝘦́𝘦̄𝘴𝘰𝘯. Seruan ini juga didapati di Mazmur 6:2, 9:13, 31:9, 86:3, dan 123:3 versi Septuaginta. Tampaknya pengarang Injil Matius selalu merujuk PL versi Septuaginta. Kata 𝘒𝘺́𝘳𝘪𝘦 aslinya bermakna 𝘵𝘶𝘢𝘯. Injil Matius ditulis sudah dalam warna kristiani sehingga dicerap 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯. 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘋𝘢𝘶𝘥 merupakan gelar yang diberikan kepada Mesias oleh bangsa Israel sehingga tampak aneh diucapkan oleh orang Kanaan, orang kafir. Untuk itulah kisah ini jangan dibaca sekadar narasi biasa.

Pada zaman itu kuasa gaib mengendalikan hidup orang. Anak perempuan itu dipercaya 𝘬𝘦𝘳𝘢𝘴𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘵𝘢𝘯 dapat dipahami dikendalikan oleh kuasa gaib sehingga sangat menderita. Namun, orang modern tidak perlu memaknainya sebagai orang dalam gangguan jiwa. Apa tanggapan Yesus?

𝗛𝗮𝘀𝘂𝘁𝗮𝗻 𝗺𝘂𝗿𝗶𝗱-𝗺𝘂𝗿𝗶𝗱 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 (Mat. 15:23-24)

Namun, Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya, “𝘚𝘶𝘳𝘶𝘩𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘪𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘦𝘳𝘪𝘢𝘬-𝘵𝘦𝘳𝘪𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵𝘪 𝘬𝘪𝘵𝘢.” Jawab Yesus, “𝘈𝘬𝘶 𝘥𝘪𝘶𝘵𝘶𝘴 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢-𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘶𝘮𝘢𝘵 𝘐𝘴𝘳𝘢𝘦𝘭.” (Mat. 15:23-24, TB II 2023)

Dalam versi Injil Markus Yesus tidak digambarkan bungkam. Namun, dalam Injil Matius sangat jelas Yesus bungkam atas permintaan perempuan Kanaan itu. Ini petunjuk penting untuk memerkuat latar belakang penulisan Injil Matius seperti yang sudah dijelaskan di atas. Injil pada dasarnya diberitakan hanya kepada orang-orang Israel menurut Injil Matius. Belakangan menjadi Injil untuk segala bangsa, karena umat Israel menolak Injil Yesus.

Penekanan Matius dimula dari permintaan murid-murid Yesus yang bernada hasutan agar Yesus mengabaikan perempuan itu, karena ia bukan orang Israel. Frase 𝘪𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘦𝘳𝘪𝘢𝘬-𝘵𝘦𝘳𝘪𝘢𝘬 diterjemahkan dari 𝘬𝘳𝘢𝘻𝘦𝘪, yang berarti literal menjerit. Karuan saja para murid Yesus berang kepada perempuan itu, karena ia membuat ribut dan kisruh.

Tanggapan Yesus atas permintaan murid-murid-Nya menguatkan teologi Matius bahwa Injil hanya dikabarkan kepada umat Israel. Matius menggunakan istilah 𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢-𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘶𝘮𝘢𝘵 𝘐𝘴𝘳𝘢𝘦𝘭 atau 𝘵𝘢 𝘱𝘳𝘰𝘣𝘢𝘵𝘢 𝘵𝘢 𝘢𝘱𝘰𝘭𝘰̄𝘭𝘰𝘵𝘢 𝘰𝘪𝘬𝘰𝘶 𝘐𝘴𝘳𝘢𝘦̄𝘭. Ungkapan ini merupakan metafora umat yang tidak tahu arah hidupnya, karena mereka tidak memiliki pemimpin yang memberikan petunjuk atau arahan. Umat tanpa gembala. Dalam Matius 10:5-6 dikatakan misi Yesus hanya untuk umat Israel yang kehilangan arah hidup.

𝗣𝗲𝗿𝗺𝗼𝗵𝗼𝗻𝗮𝗻 𝗸𝗲𝗱𝘂𝗮 𝗽𝗲𝗿𝗲𝗺𝗽𝘂𝗮𝗻 𝗞𝗮𝗻𝗮𝗮𝗻 (Mat. 15:25-26)

Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata, “𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘵𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶.” Jawab Yesus, “𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘢𝘵𝘶𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘳𝘰𝘵𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘥𝘪𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘢𝘯𝘢𝘬-𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘮𝘱𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘯𝘫𝘪𝘯𝘨.” (Mat. 15:25-26)

Kata 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘮𝘣𝘢𝘩 di sini adalah terjemahan dari 𝘱𝘳𝘰𝘴𝘦𝘬𝘺𝘯𝘦𝘪, kata yang sama digunakan untuk orang-orang Majus menyembah Yesus (lih. Mat. 2:2, 11). Matius membangkitkan ingatan pembaca pada kisah awal Injil Matius: 𝘉𝘢𝘯𝘨𝘴𝘢 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘮𝘣𝘢𝘩, 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘰𝘭𝘢𝘬, 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴. Perlu diingat pula bahwa Yesus menyingkir ke Tirus dan Sidon karena menghindari ancaman pembunuhan dari Herodes. Dalam versi Injil Markus tidak ada adegan perempuan itu menyembah Yesus. Di sinilah kepiawaian penulis Matius menggoreng cerita untuk menyampaikan teologinya.

Kata Yesus “𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘢𝘵𝘶𝘵” diterjemahkan dari 𝘖𝘶𝘬 𝘦𝘴𝘵𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘰𝘯, yang oleh Jerusalem Bible dan NRSV diterjemahkan menjadi “𝘐𝘵 𝘪𝘴 𝘯𝘰𝘵 𝘧𝘢𝘪𝘳”. Bukan soal salah atau benar. Terjemahan LAI “𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘢𝘵𝘶𝘵” sudah cukup memadai. Tanggapan Yesus kepada perempuan Kanaan itu menjadi sulit ditafsirkan, jika tidak memahami latar belakang penulisan Injil Matius.

Dalam dunia PL anjing merupakan metafora orang asing seperti yang dikatakan oleh Goliat (1Sam. 17:42), orang dengan status lebih rendah (2Raj. 8:13). Roti merupakan makanan pokok bangsa Israel. Misi Yesus adalah memberi roti (Injil) pertama-tama dan utama kepada umat Israel seperti dikatakan oleh Yesus dalam Matius 10:5-6, bukan untuk bangsa asing. Saat itu misi Yesus belum selesai. Anak-anak belum selesai makan, belum kenyang. Tentu tidak patut melemparkan jatah roti anak-anak kepada anjing. Jadi, memang itu yang hendak disampaikan oleh Matius lewat ucapan Yesus. Tidak perlu merohani-rohanikan atau menghaluskan ucapan Yesus demi apologetik atau pembelaan.

𝗧𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮𝗽𝗮𝗻 𝗮𝗸𝗵𝗶𝗿 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗽𝗲𝗿𝗲𝗺𝗽𝘂𝗮𝗻 𝗞𝗮𝗻𝗮𝗮𝗻 (Mat. 15:27-28)

Kata perempuan itu, “𝘉𝘦𝘯𝘢𝘳, 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯. 𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯, 𝘢𝘯𝘫𝘪𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘳𝘦𝘮𝘢𝘩-𝘳𝘦𝘮𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘵𝘶𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘦𝘫𝘢 𝘵𝘶𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢.” Lalu Yesus berkata kepadanya, “𝘏𝘢𝘪 𝘐𝘣𝘶, 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘪𝘮𝘢𝘯𝘮𝘶, 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘫𝘢𝘥𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶𝘬𝘦𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬𝘪.” Seketika itu juga anaknya sembuh. (Mat. 15:27-28, TB II 2023)

Perempuan itu tidak saja gigih beradu argumen dengan Yesus, tetapi juga cerdas dalam memanfaatkan 𝘤𝘳𝘰𝘴𝘴 𝘤𝘶𝘭𝘵𝘶𝘳𝘦 secara jenaka. Anjing di kehidupan Grika kuno sudah menjadi hewan domestik atau peliharaan. Dua budaya yang berbeda berjumpa. Yesus berargumen dengan dasar budaya Yahudi, sedang perempuan itu berargumen dengan budaya kafir 𝘢𝘯𝘫𝘪𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘳𝘦𝘮𝘢𝘩-𝘳𝘦𝘮𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘵𝘶𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘦𝘫𝘢 𝘵𝘶𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. Yesus menerima argumen perempuan Kanaan itu.

Akhir cerita versi Injil Markus berbeda dari Injil Matius. Injil Markus lebih menekankan mukjizat, sedang Injil Matius menekankan percakapan lintas budaya. Perempuan kafir itu mengakui Yesus sebagai Anak Daud, yang merupakan pengakuan iman Yahudi untuk mesias, sekaligus ia menggunakan budaya kafir untuk membuka pintu bagi Injil Yesus. Apabila orang-orang di luar umat Israel mengakui Yesus adalah Anak Daud, Sang Mesias, dan mau menerima Injil Yesus, tidak ada alasan bagi Yesus untuk tidak menerima permintaannya, meskipun Yesus harus “melanggar” misi utama-Nya. Untuk menyelamatkan bangsa-bangsa lain, Yesus segera banting stir.

Ada sedikitnya 1.340 suku bangsa di Indonesia. Ketika semuanya mengakui Pancasila sebagai dasar negara, sepatutnya tidak ada lagi teriakan 𝘬𝘰𝘧𝘢𝘳-𝘬𝘢𝘧𝘪𝘳.

 (20082023)

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 15:21-28 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗫𝗜𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔] 𝘾𝙧𝙤𝙨𝙨 𝙘𝙪𝙡𝙩𝙪𝙧𝙚

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 15:21-28, [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗫𝗜𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], 𝘾𝙧𝙤𝙨𝙨 𝙘𝙪𝙡𝙩𝙪𝙧𝙚 Da...