Sabtu, 22 Agustus 2026

Sudut Pandang Sibuk Protes, Sibuk Meramal Hingga Kehilangan Kepekaan Iman DiTengah Dukacita Flores Nusa Bunga

Sudut Pandang Sibuk Protes, Sibuk Meramal Hingga Kehilangan Kepekaan Iman DiTengah Dukacita Flores Nusa Bunga

PENGANTAR
“Kita terlalu sibuk mempersoalkan orang lain hingga kehilangan rasa empati dan keutamaan bela rasa.”

Setelah ibadah di lingkungan STTBI di Cepogo dalam ruang dialog mahasiswa, sejak lama udah tidak menjejakkan kaki di sini sejak saya tidak lagi mengajar hanya menjadi peneliti dan pembicara, ada mahasiswa yang bertanya kepada saya; “pak apakah benar video yang beredar tentang ramalan seorang pemuda di pelabuhan Aimere dengan mengatasnamakan St. Mikhael?” Kebetulan perwakilan sinode Baptis Injili ada di Kupang, sebelah barat pulau Timor, sedangkan sinode pusat ada di Switzerland (Baptistengemeinde Züric, Alamat:Steinwiesstrasse 34, 8032 Zürich, Swiss, Eglise Réformée Baptiste de Lausanne, Alamat: Chemin d'Entre-Bois 31, CH-1018 Lausanne, Swiss). Saya menjawab; “Soal pernyataan itu benar atau tidak, sebelum atau sesudah gempa kita tidak perlu menghakimi atau mempercayai begitu saja. Karena yang paling penting sekarang adalah bersatu dalam doa dan meringankan beban penderitaan saudara-saudari kita. Gempa sudah terjadi dan berbagai Analisa tidak pernah akan mengembalikan Flores seperti sedia kala sebelum gempa.” Dan ketika dalam perjalanan pulang; kolega dosen yang mengantarkan kami pulang ke Salatiga mengatakan bahwa; “pak, bencana gempa tahun ini rasanya seperti biasa-biasa saja, kurang menggema solidaritas dan bela rasa.”
Saya kemudian menjawab; “betul bro, karena kebanyakan orang lebih sibuk mempersoalkan video pemuda soal ramalan gempa, memprotes kehadiran partai politik yang membantu meringankan penderitaan saudara-saudari kita yang terdampak bencana alam gempa bumi, mempersalahkan pemerintah, mempersalahkan orang lain, mempersalahkan pesta, mempersoalkan kepercayaan orang dan patung Gereja Katolik daripada mengajak berdoa dan membangun solidaritas serta bela rasa.”
PEMAHAMAN 
Kita sibuk mempersoalkan segala sesuatu yang sejatinya tidak ada hubungan dan kaitan dengan bencana alam gempa bumi yang melanda Flores Nusa Bunga 15 Agustus 2026 yang lalu. Kita sibuk mencari penyebab adanya gempa bumi dan mulai menghakimi kepercayaan leluhur dan menjelekkan diri kita sendiri. Kita lupa satu hal bahwa gempa bumi adalah kondisi alam yang datangnya tidak pernah direncanakan bahkan tidak pernah kita ketahui dan perginyapun tidak ada manusia yang bisa menghalanginya.
Jika gempa bumi dikaitkan dengan kepercayaan pada roh leluhur, pesta dan hal lainnya, mengapa Sumba yang masih kuat dengan kepercayaan pada roh leluhur atau wilayah Kalimantan misalnya tidak pernah mengalami bencana alam gempa bumi. Bahwa ada dampak getaran ke wilayah Sumba atau Kalimantan ya tetapi tidak bisa disimpulkan sebagai akibat dari kepercayaan pada roh leluhur atau mentalitas pesta.
Flores Nusa Bunga tidak akan pernah terlepas dari yang namanya gempa bumi karena hampir semua wilayah Flores memiliki gunung berapi dan wilayah kepulauan yang rawan bencana alam gempa bumi. Maka lebih baik STOP melakukan analisa, penghakiman dan protes yang semuanya itu menunjukkan kepada kita bahwa kita tidak memiliki kepekaan iman yang mewujud dalam solidaritas dan bela rasa bersama saudara-saudari kita yang menjadi korban bencana alam gempa bumi.

Adakah Iman?

Ketika gempa bumi melanda Flores Nusa Bunga, pertanyaan pertama yang muncul dalam benak saya adalah; “Akankah Tuhan Menemukan Iman di tanah Nusa Bunga?” Iman yang dimaksud di sini adalah tentang Keteguhan, Kesabaran, Ketabahan dalam menghadapi bencana alam gempa bumi dan Solidaritas serta Bela Rasa.
Bencana alam gempa bumi yang melanda Flores, seharusnya membuat kita semakin yakin bahwa Allah ada dan menyertai Flores Nusa Bunga. Betul bahwa ada korban baik materi dan korban jiwa. Namun dibalik itu ada satu hal yang tidak bisa dilupakan adalah bahwa; “semakin beriman kepada Allah, maka semakin besar dan banyak tantangan yang dihadapi.” 
Lantas apakah Allah yang menghadirkan bencana gempa bumi tersebut? Jika Allah Maha baik, lantas mengapa Ia menciptakan gempa bumi? Allah tidak pernah menghadirkan bencana gempa bumi untuk kita umat-Nya. Kalau kita menyadari bahwa selama manusia masih berziarah di dunia ini selalu hidup dan berhadapan dengan hal-hal yang baik dan buruk (Mat 13:24-30) maka demikian juga situasi alam selalu berada dalam situasi seperti ini, bahwa ada saatnya di mana ada keharmonisan dan ketidakharmonisan. Itu adalah bagian dari kehidupan manusia siklus alam semesta yang diakibatkan oleh ulah manusia sendiri.
Bahkan sudah sejak penciptaan Allah memberikan kuasa kepada manusia untuk tidak hanya memanfaatkan alam semesta beserta isinya tetapi juga menjaga dan merawatnya sebagai Citra Allah (Kej 1:26-28). Allah memang memberikan kuasa kepada manusia namun Allah juga tidak meninggalkan dan membiarkan manusia bekerja dan berusaha sendiri. Maka ketika adanya bencana alam seperti gempa bumi itu bukan karya Allah untuk mempertobatkan manusia. Bahwa dalam Perjanjian Lama, cara Allah untuk mempertobatkan bangsa Mesir dengan tulah-tulah karena tindakan mereka yang menindas dan membelenggu bangsa Israel sebagai bangsa terpilih dan Allah menunjukkan keadilan atas kesombongan Firaun dan menyatakan diri bahwa hanya Allah yang disembah (Kel bab 7-12). Jika Pendeta Mell Atok (maaf saya sebut nama, wong udah ramai di medsos) mengatakan bahwa gempa bumi di Flores adalah cara Allah mempertobatkan umat yang menyembah berhala (patung-patung) lantas gempa dan tsunami yang menimpa Palu pada Oktober 2018 yang lalu di mana ada masjid dan juga Gereja Protestan Indonesia di Donggala (GPID) ikut mengalami kerusakan; apakah karena umat Islam dan Protestan di Palu juga menyembah berhala? Maka pernyataan Pendeta ini juga sangat tidak benar meski dengan alasan Pertobatan. 
Atau terbakarnya gereja Bethel Tabernakel di Minake-Mamasa-Sulawesi Barat apakah juga karena mereka menyembah berhala sehingga kebakaran terjadi sebagai jalan mempertobatkan mereka, walau secara ilmiah sudah dikatakan penyebab kebakaran adalah diduga arus listrik yang korsleting.
Tidak bisa dipungkiri dan dibantah; masyarakat Flores menyembah Allah yang Esa. Masyarakat Flores adalah masyarakat yang majemuk pula dalam hal agama. Bahwa kemudian adat isitiadat masih dihormati tidak berarti melunturkan iman masyarakat Flores Nusa Bunga kepada Allah yang Esa. Maka ketika Pdt. Mel Atok, dkk menghubungkan gempa bumi dengan pertobatan, sejatinya Pdt. Mel Atok, dkk sedang mengkhianati Sola Scriptura yang mereka agungkan dimana dalamnya tertulis dengan jelas bahwa pertobatan semata-mata karena belas kasih, rahmat dan kebaikan Allah (Rom 2:4; Ef 2:4-5) dan bukan karena bencana gempa bumi. Jika mengatakan gempa bumi adalah cara Allah mempertobatkan masyarakat Flores maka sejatinya Pdt. Mel Atok, dkk sedang mewartakan Allah sebagai Allah yang jahat dan bukan Allah yang Maha Kasih, Maha Rahim dan Maha Baik. Maka ketika ada yang mengaitkan gempa bumi dengan ungkapan iman agama tertentu sebagaimana disampaikan Pdt. Mell Atok, dkk itu adalah sebuah kesalahan informasi bahkan pembohongan dan penyesatan atas kebenaran ajaran Kristus yang digunakan sebagai dalih untuk memperkuat pandangannya. Padahal saya juga yakin seyakin-yakinnya bahwa Pdt. Mel Atok, dkk juga tahu dan sadar bahwa fenomena gempa bumi di wilayah Flores adalah murni akibat aktivitas pergerakan lempeng bumi dan jalur patahan aktif secara geologis. Sejatinya di tengah duka yang dialami oleh saudara-saudari kita di Flores, kehadiran kita entah dalam bahasa maupun tindakan semakin menguatkan dan meneguhkan iman dan harapan saudara-saudari kita sehingga merekapun tetap mengimani bahwa Allah sungguh menyertai mereka. Dalam situasi duka seperti ini, sejatinya solidaritas dan bela rasa kita sebagai perwujudan iman semakin meneguhkan kesabaran dan ketabahan bagi saudara-saudari kita di tanah Flores Nusa Bunga agar mereka tidak kehilangan iman dan harapan.

Stop Mempersalahkan, Stop Menghakimi!!

“Adakah iman di temukan di Nusa Bunga Tanah Flores yang sedang berdukacita?” (bdk. Luk 18:8). Kalau kita masih sibuk mempersalahkan, menghakimi dan membuat analisa-analisa sesat beraroma kesalehan maka sejatinya kita sedang kehilangan dan menghilangkan iman dalam wujud solidaritas dan bela rasa. Maka berhentilah untuk mempersalahkan dan menghakimi! Kalaupun tidak bisa membantu dengan kehadiran dan dana atau material lainnya maka doa menjadi sumbangan terbesar bagi saudara-saudari kita di tanah Flores Nusa Bunga yang sedang berduka untuk menegaskan bahwa dalam situasi duka; iman tetap ada, iman kepada Allah semakin bertumbuh subur. Jika para pendeta kehilangan bahan untuk berkotbah, maka stop juga untuk menjadikan dukacita masyarakat Flores sebagai bahan untuk berkotbah sebagai pembenaran penghakiman yang sesat dan penuh kebohongan terkait gempa bumi di Tanah Flores.

“Jika tak mampu untuk memberi, maka doa menjadi pemberian paling berharga. Jika tak mampu menguatkan dan meneguhkan iman dan harapan mereka, maka berhentilah untuk mempersalahkan dan menghakimi. Jika tak mampu menghibur, maka jangan menambah luka dan duka dengan menggunakan ayat-ayat suci hanya untuk menghakimi dan mempersalahkan yang semakin menunjukkan bahwa Anda tidak memiliki iman!”

(20 Agustus 2026)(TUS), (menulis penuh amarah untuk jawab atas tulisan pendeta Mel Atok, dkk di FBG Teologia Publik Pulau Timor)

Sudut Pandang Sibuk Protes, Sibuk Meramal Hingga Kehilangan Kepekaan Iman DiTengah Dukacita Flores Nusa Bunga

Sudut Pandang Sibuk Protes, Sibuk Meramal Hingga Kehilangan Kepekaan Iman DiTengah Dukacita Flores Nusa Bunga PENGANTAR “Kita te...