SUDUT PANDANG MARKUS 10:17-31, ðšð»ðð® ðºð²ð¹ð²ðð®ðð¶ ð¹ðð¯ð®ð»ðŽ ð·ð®ð¿ððº
Yesus dalam mengajar kerap menggunakan perumpamaan baik dalam bentuk cerita maupun satu kalimat yang mudah diingat. Perumpamaan merupakan bahasa kiasan atau analogi untuk pembandingan baik sejajar maupun berlawanan secara hiperbolik. Contoh, mengeluarkan balok kayu di dalam mata sebelum menghakimi orang lain. ðð®ð¢ð¯ðšð¯ðºð¢ balok kayu dapat masuk ke mata?
Hari ini adalah Minggu kedua puluh satu setelah Pentakosta. Bacaan ekumenis diambil dari Markus 10:17-31 yang didahului dengan Amos 5:6-7, 10-15, Mazmur 90:12-17, dan Ibrani 4:12-16.
Perikop bacaan Minggu ini yang diberi judul oleh LAI ðð³ð¢ð¯ðš ð¬ð¢ðºð¢ ðŽð¶ð¬ð¢ð³ ð®ð¢ðŽð¶ð¬ ð¬ðŠ ððŠð³ð¢ð«ð¢ð¢ð¯ ðððð¢ð© merupakan sambungan bacaan Minggu lalu. Kita masih ingat satu perikop Minggu lalu tentang ð ðŠðŽð¶ðŽ ð®ðŠð®ð£ðŠð³ð¬ð¢ðµðª ð¢ð¯ð¢ð¬-ð¢ð¯ð¢ð¬ bernasabah langsung dan hendak dikontraskan dengan bacaan Minggu ini. Bacaan harus dipandang dalam narasi ð±ðŠð³ð«ð¢ðð¢ð¯ð¢ð¯ ð ðŠðŽð¶ðŽ ð®ðŠð¯ð¶ð«ð¶ ð ðŠð³ð¶ðŽð¢ððŠð®.
Pengulasan bacaan dibagi ke dalam empat bagian:
ð Menuruti semua perintah (ay. 17-20)
ð Juallah hartamu! (ay. 21-22)
ð Unta melewati lubang jarum (ay. 23-27)
ð Harga mengikut Yesus (ay. 28-30)
ð ð²ð»ðð¿ððð¶ ðð²ðºðð® ðœð²ð¿ð¶ð»ðð®ðµ (ay. 17-20)
Sesudah Yesus memberkati anak-anak (ay. 16), Yesus meneruskan perjalanan-Nya menuju Yerusalem. Datanglah seseorang berlari-lari mendapatkan Yesus dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya, “ðð¶ð³ð¶ ðºð¢ð¯ðš ð£ð¢ðªð¬, ð¢ð±ð¢ ðºð¢ð¯ðš ð©ð¢ð³ð¶ðŽ ð¬ð¶ð±ðŠð³ð£ð¶ð¢ðµ ð¶ð¯ðµð¶ð¬ ð®ðŠð®ðŠð³ð°ððŠð© ð©ðªð¥ð¶ð± ðºð¢ð¯ðš ð¬ðŠð¬ð¢ð?” (ay. 17) Jawab Yesus, “ððŠð¯ðšð¢ð±ð¢ ð¬ð¢ð¶ð¬ð¢ðµð¢ð¬ð¢ð¯ ðð¬ð¶ ð£ð¢ðªð¬? ðð¢ð¬ ðŽðŠð°ð³ð¢ð¯ðš ð±ð¶ð¯ ðºð¢ð¯ðš ð£ð¢ðªð¬ ðŽðŠðð¢ðªð¯ ðððð¢ð© ðŽð¢ð«ð¢.” (ay. 18)
Perlu kita perhatikan bahwa teks tidak menyebut apa pun tentang status orang yang berlari-lari mendapati Yesus itu. Yang dapat kita tafsir di sini bahwa Yesus adalah rabi terkenal sehingga membuat orang itu bergegas mendapati-Nya. Orang itu hendak berkonsultasi dengan Yesus dan sikapnya sangat serius dengan bertelut di hadapan Yesus. Sampai-sampai ia menyebut Yesus dengan sapaan ðð¶ð³ð¶ ðºð¢ð¯ðš ð£ð¢ðªð¬. Sapaan dengan sebutan ðºð¢ð¯ðš ð£ð¢ðªð¬ sangatlah tak lazim di kalangan Yahudi. Di dalam Yudaisme sebutan ðºð¢ð¯ðš ð£ð¢ðªð¬ hanya untuk Allah, satu-satunya sumber norma kebaikan. Itu sebabnya Yesus menolak sebutan itu.
Pertanyaan orang itu bercorak eskatologis, tetapi melihat pertanyaannya ð¢ð±ð¢ ðºð¢ð¯ðš ð©ð¢ð³ð¶ðŽ ð¬ð¶ð±ðŠð³ð£ð¶ð¢ðµ bertolak belakang dengan hidup kekal yang semata-mata pemberian Allah (lih. ay. 15). Frase ð®ðŠð®ðŠð³ð°ððŠð© ð©ðªð¥ð¶ð± ðºð¢ð¯ðš ð¬ðŠð¬ð¢ð diterjemahkan dari ð»oeð¯ ð¢ðªoð¯ðªð°ð¯ ð¬ðeð³ð°ð¯ð°ð®eðŽo yang berarti literal ð®ðŠðžð¢ð³ðªðŽðª ðð¢ð¯ð¢ð© ððŠð³ð«ð¢ð¯ð«ðª. Menurut pandangan orang-orang Farisi hidup kekal dapat diwarisi dengan melakukan petunjuk-petunjuk hukum Taurat dan adat istiadat. Tampaknya orang ini meminta penegasan dari Yesus.
Kata Yesus, “ðð¯ðšð¬ð¢ð¶ ðµðŠð¯ðµð¶ ð®ðŠð¯ðšðŠðµð¢ð©ð¶ðª ð±ðŠð³ðªð¯ðµð¢ð©-ð±ðŠð³ðªð¯ðµð¢ð© ðªð¯ðª: ð«ð¢ð¯ðšð¢ð¯ ð®ðŠð®ð£ð¶ð¯ð¶ð©, ð«ð¢ð¯ðšð¢ð¯ ð£ðŠð³ð»ðªð¯ð¢, ð«ð¢ð¯ðšð¢ð¯ ð®ðŠð¯ð€ð¶ð³ðª, ð«ð¢ð¯ðšð¢ð¯ ð®ðŠð®ð£ðŠð³ðª ð¬ðŠðŽð¢ð¬ðŽðªð¢ð¯ ð±ð¢ððŽð¶, ð«ð¢ð¯ðšð¢ð¯ ð®ðŠð¯ðªð±ð¶ ð°ð³ð¢ð¯ðš, ð©ð°ð³ð®ð¢ðµðªðð¢ð© ð¢ðºð¢ð© ð¥ð¢ð¯ ðªð£ð¶ð®ð¶!” (ay. 19) Yesus tidak meremehkan orang itu dalam hal pengetahuannya tentang hukum Taurat. Ini dapat dilihat ucapan Yesus atas pertanyaannya ð¢ð±ð¢ ðºð¢ð¯ðš ð©ð¢ð³ð¶ðŽ ð¬ð¶ð±ðŠð³ð£ð¶ð¢ðµ. Bahkan Yesus menegaskan pengetahuannya dengan ungkapan ðµðŠð¯ðµð¶ ð®ðŠð¯ðšðŠðµð¢ð©ð¶ðª (ð°ðªð¥ð¢ðŽ). Semua perintah itu merujuk hubungan antar-sesama.
Jawab orang itu kepada Yesus, “ðð¶ð³ð¶, ðŽðŠð®ð¶ð¢ð¯ðºð¢ ðªðµð¶ ð¬ð¶ðµð¶ð³ð¶ðµðª ðŽðŠð«ð¢ð¬ ð®ð¢ðŽð¢ ð®ð¶ð¥ð¢ð¬ð¶.” (ay. 20) Tepat sekali perkataan Yesus bahwa orang itu sudah menuruti semua hukum Taurat sejak masa mudanya, yang dalam tradisi Yahudi sejak berusia 12. Jawabannya pun penuh percaya diri.
ððð®ð¹ð¹ð®ðµ ðµð®ð¿ðð®ðºð! (ay. 21-22)
Atas jawaban orang itu yang penuh percaya diri Yesus memandang dia dan mengasihinya, lalu kata Yesus kepadanya, “ðð¢ð¯ðºð¢ ðŽð¢ðµð¶ ð¬ðŠð¬ð¶ð³ð¢ð¯ðšð¢ð¯ð®ð¶: ððŠð³ðšðªðð¢ð©, ð«ð¶ð¢ððð¢ð© ð¢ð±ð¢ ðºð¢ð¯ðš ð¬ð¢ð¶ð®ðªððªð¬ðª ð¥ð¢ð¯ ð£ðŠð³ðªð¬ð¢ð¯ðð¢ð© ðªðµð¶ ð¬ðŠð±ð¢ð¥ð¢ ð°ð³ð¢ð¯ðš-ð°ð³ð¢ð¯ðš ð®ðªðŽð¬ðªð¯, ð®ð¢ð¬ð¢ ðŠð¯ðšð¬ð¢ð¶ ð¢ð¬ð¢ð¯ ð®ðŠð®ðªððªð¬ðª ð©ð¢ð³ðµð¢ ð¥ðª ðŽð¶ð³ðšð¢, ð¬ðŠð®ð¶ð¥ðªð¢ð¯ ð¥ð¢ðµð¢ð¯ðšðð¢ð© ð¬ðŠð®ð¢ð³ðª ð¥ð¢ð¯ ðªð¬ð¶ðµðð¢ð© ðð¬ð¶.” (ay. 21) Atas perkataan itu mukanya muram, lalu ia pergi dengan sedih, sebab banyak harta miliknya. (ay. 22) Baru di bagian ini kita mengetahui bahwa orang itu sangat kaya yang disampaikan oleh narator ðŽðŠð£ð¢ð£ ð£ð¢ð¯ðºð¢ð¬ ð©ð¢ð³ðµð¢ ð®ðªððªð¬ð¯ðºð¢.
Dikatakan bahwa Yesus ð®ðŠð¯ðšð¢ðŽðªð©ðªð¯ðºð¢. Tidak dijelaskan oleh Markus bentuk kasih Yesus. Mungkin Yesus tidak mau memermalukannya dengan ucapan ð©ð¢ð¯ðºð¢ ðŽð¢ðµð¶ ð¬ðŠð¬ð¶ð³ð¢ð¯ðšð¢ð¯ð®ð¶. Perintah Yesus ini sering dimaknai atau ditafsir kiasan oleh kaum Kristen fundamentalis. Mereka memilih teks-teks yang seolah-olah mendukung ideologi mereka, tetapi menutup mata atau menafikan teks yang dipandang oleh banyak ahli sebagai ucapan Yesus-historis. Bagaimana memahami teks ini?
Sejak episode ððŠð¯ðšð¢ð¬ð¶ð¢ð¯ ððŠðµð³ð¶ðŽ di pasal 8, tema besar Injil Markus berpautan dengan ð±ðŠð³ð«ð¢ðð¢ð¯ð¢ð¯ ð ðŠðŽð¶ðŽ ð®ðŠð¯ð¶ð«ð¶ ð ðŠð³ð¶ðŽð¢ððŠð®. Yesus mengajarkan implikasi menjadi murid-murid-Nya. Pengajaran Yesus kepada murid-murid-Nya radikal!
• Murid Yesus harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut-Nya. Mengikut-Nya berarti berjalan di belakang-Nya, bukan di depan-Nya.
• Murid Yesus harus menjadi yang terakhir dan pelayan bagi sesama
• Murid Yesus yang menyesatkan ð°ð³ð¢ð¯ðš ð¬ðŠð€ðªð ditendang keluar dari jemaat
• Murid Yesus yang menceraikan pasangannya, ia berzina
Nah, persis sebelum bacaan Minggu ini Yesus mengajarkan bagaimana sikap murid menyambut kehadiran Kerajaan Allah, yang dengan kata lain hidup kekal. Kata Yesus, “ððŠðŽð¶ð¯ðšðšð¶ð©ð¯ðºð¢ ðð¬ð¶ ð£ðŠð³ð¬ð¢ðµð¢ ð¬ðŠð±ð¢ð¥ð¢ð®ð¶: ððªð¢ð±ð¢ ðŽð¢ð«ð¢ ðºð¢ð¯ðš ðµðªð¥ð¢ð¬ ð®ðŠð¯ðºð¢ð®ð£ð¶ðµ ððŠð³ð¢ð«ð¢ð¢ð¯ ðððð¢ð© ðšðð¥ðð§ð©ð ðšðð€ð§ðð£ð ðð£ðð ð ðððð¡, ðªð¢ ðµðªð¥ð¢ð¬ ð¢ð¬ð¢ð¯ ð®ð¢ðŽð¶ð¬ ð¬ðŠ ð¥ð¢ðð¢ð®ð¯ðºð¢.” (Mrk. 10:15).
Seperti anak-anak itu kayak apa sih? Kata anak-anak di ayat 14-15 diterjemahkan dari ð±ð¢ðªð¥ðªð¢, kata yang sama dengan anak di Markus 9:36. Kata paidia juga merujuk budak, orang-orang marginal, atau dengan kata lain orang-orang yang tak berdaya. Anak-anak tanpa orangtua atau orang dewasa menjadi tak berdaya. Mereka tidak mampu berdiri sendiri. Anak-anak membutuhkan pertolongan, perlindungan, belarasa dari pihak yang kuat dhi. orangtua atau orang dewasa. Tentu saja anak-anak bersukacita menyambut saat melihat ada pertolongan, perlindungan, dan belarasa tiba. Hidup kekal atau masuk ke dalam Kerajaan Allah semata-mata anugerah Allah. Allah memberi anugerah, manusia menyambut; sambutan meriah seperti anak-anak, orang-orang tak berdaya, tak punya apa-apa.
Sikap seperti anak-anak di atas ð±ð¶ðžðŒð»ðð¿ð®ððžð®ð» dengan orang yang percaya diri karena kaya, banyak hartanya, dan menuruti segala perintah hukum Taurat. Apakah orang kaya itu pelit? Tampaknya tidak pelit, karena dengan menuruti segala perintah hukum Taurat ia pastilah bersedekah. Bersedekah sendiri dipandang sebagai harta di surga yang menjamin hidup kekal. Namun, bagi Yesus itu belum cukup untuk mengikuti-Nya. Yesus memberi tantangan sangat radikal: ð«ð¶ð¢ððð¢ð© ð¢ð±ð¢ ðºð¢ð¯ðš ð¬ð¢ð¶ð®ðªððªð¬ðª ð¥ð¢ð¯ ð£ðŠð³ðªð¬ð¢ð¯ðð¢ð© ðªðµð¶ ð¬ðŠð±ð¢ð¥ð¢ ð°ð³ð¢ð¯ðš-ð°ð³ð¢ð¯ðš ð®ðªðŽð¬ðªð¯ … ð¥ð¢ð¯ ðªð¬ð¶ðµðð¢ð© ðð¬ð¶.
Berkebalikan dengan orang-orang tak berdaya, orang kaya dan orang yang selalu menuruti peintah hukum Taurat, sangat percaya diri sehingga tak perlu meminta-minta. Padahal hidup kekal itu anugerah Allah dan terbuka bagi orang yang mau menyambut dan menerimanya. Orang tidak dilarang untuk menjadi kaya, tetapi ia perlu mengubah wawasan untuk peka menolong, melindungi, berbelarasa kepada orang-orang tak berdaya, tidak sekadar menuruti segala perintah hukum Taurat. Tuntutan Yesus memang radikal, yang menghendaki manusia seutuhnya. Hal-hal yang dipandang akan menjadi batu sandungan atau menerbitkan skandal, seperti banyak harta, harus disingkirkan.
ðšð»ðð® ðºð²ð¹ð²ðð®ðð¶ ð¹ðð¯ð®ð»ðŽ ð·ð®ð¿ððº (ay. 23-27)
Percakapan Yesus dengan orang kaya itu berakhir negatif sehingga mengundang percakapan baru antara Yesus dan murid-murid-Nya. Yesus memandang mereka dan berkata, “ððð¢ð¯ðšð¬ð¢ð© ðŽð¶ð¬ð¢ð³ð¯ðºð¢ ð°ð³ð¢ð¯ðš ðºð¢ð¯ðš ð£ð¢ð¯ðºð¢ð¬ ð©ð¢ð³ðµð¢ ð®ð¢ðŽð¶ð¬ ð¬ðŠ ð¥ð¢ðð¢ð® ððŠð³ð¢ð«ð¢ð¢ð¯ ðððð¢ð©.” Mereka tercengang mendengar perkataan Yesus, tetapi Ia berkata lagi, “ðð¯ð¢ð¬-ð¢ð¯ð¢ð¬-ðð¶, ð¢ðð¢ð¯ðšð¬ð¢ð© ðŽð¶ð¬ð¢ð³ð¯ðºð¢ ð®ð¢ðŽð¶ð¬ ð¬ðŠ ð¥ð¢ðð¢ð® ððŠð³ð¢ð«ð¢ð¢ð¯ ðððð¢ð©. ððŠð£ðªð© ð®ð¶ð¥ð¢ð© ðŽðŠðŠð¬ð°ð³ ð¶ð¯ðµð¢ ð®ðŠððŠðžð¢ðµðª ðð¶ð£ð¢ð¯ðš ð«ð¢ð³ð¶ð® ð¥ð¢ð³ðªð±ð¢ð¥ð¢ ðŽðŠð°ð³ð¢ð¯ðš ð¬ð¢ðºð¢ ð®ð¢ðŽð¶ð¬ ð¬ðŠ ð¥ð¢ðð¢ð® ððŠð³ð¢ð«ð¢ð¢ð¯ ðððð¢ð©.” (ay. 23-25) Mereka makin tercengang dan berkata seorang kepada yang lain, “ððªð¬ð¢ ð¥ðŠð®ðªð¬ðªð¢ð¯, ðŽðªð¢ð±ð¢ð¬ð¢ð© ðºð¢ð¯ðš ð¥ð¢ð±ð¢ðµ ð¥ðªðŽðŠðð¢ð®ð¢ðµð¬ð¢ð¯?” (ay. 26)
Mengapa murid-murid tercengang? Orang-orang Yahudi meyakini kekayaan justru tanda berkat Allah (Ayb. 1:10; Mzm. 128; Yes. 3:10). Mereka tidak pernah membayangkan kekayaan dapat menjadi batu sandungan atau skandal untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Orang saleh adalah orang yang memberi sedekah, berpuasa, dan berdoa. Bagaimana mungkin orang dapat bersedekah, jika tidak memiliki apa-apa? Hal ini sangat mengejutkan para murid sehingga mereka tercengang. Ketercengangan murid-murid bertambah ketika Yesus menyampaikan perumpamaan tentang seekor unta melewati lubang jarum. Hewan terbesar di Tanah Yudea bisa melewati lubang sangat kecil?
Kata unta diterjemahkan dari ð¬ð¢ð®eðð°ð¯, yang bunyinya mirip dengan ð¬ð¢ð®ðªðð°ð¯ (tali kapal). Ada yang menafsir bahwa teks ini merujuk tali kapal, bukan unta. Ada juga yang menafsir lubang jarum (ðµð³ðºð®ð¢ððªð¢ðŽ ðµeðŽ ð³ð©ð¢ð±ð©ðªð¥ð°ðŽ) sebagai sebutan untuk pintu kecil pada gerbang tembok kota Yerusalem. Tafsir ini tampak masuk akal. Namun, teks kiasan ini sebenarnya hendak ðºð²ð»ðŽðŒð»ðð¿ð®ððžð®ð» perbandingan secara hiperbolik. Apabila ð¬ð¢ð®eðð°ð¯ dimaknai sebagai tali kapal dan lubang jarum ditafsir sebagai pintu kecil tidak akan membuat para murid makin tercengang.
Kiasan hiporbolik dari Yesus itu menimbulkan pertanyaan bercorak eskatologis dari murid-murid-Nya. Jika demikian atau jika memang benar (lebih mudah seekor unta masuk ke lubang jarum), maka tak seorang pun mendapat hidup kekal, kata mereka. Mendengar itu Yesus memandang mereka dan berkata, “ðð¢ðšðª ð®ð¢ð¯ð¶ðŽðªð¢ ð©ð¢ð ðªðµð¶ ðµð¢ð¬ ð®ð¶ð¯ðšð¬ðªð¯ ðµðŠð³ð«ð¢ð¥ðª, ðµðŠðµð¢ð±ðª ð£ð¶ð¬ð¢ð¯ ð¥ðŠð®ðªð¬ðªð¢ð¯ ð£ð¢ðšðª ðððð¢ð©, ðŽðŠð£ð¢ð£ ðŽðŠðšð¢ðð¢ ðŽðŠðŽð¶ð¢ðµð¶ ð®ð¶ð¯ðšð¬ðªð¯ ð£ð¢ðšðª ðððð¢ð©.” (ay. 27)
Hidup kekal adalah anugerah Allah dan terbuka bagi siapa saja yang menyambutnya. Oleh karena anugerah dalam menyambut dan menerima haruslah bersikap seperti anak-anak, tak berdaya, karena tidak ada upaya apa pun dari manusia untuk dapat meraihnya. Dengan mengakui tak berdaya hal yang tak mungkin menjadi mungkin.
ðð®ð¿ðŽð® ðºð²ð»ðŽð¶ðžðð ð¬ð²ððð (ay. 28-30)
Atas ucapan Yesus kepada orang kaya itu dan pengajuan perumpamaan tentang unta kepada para murid lalu Petrus berkata kepada-Nya, “ðð¢ð®ðª ðªð¯ðª ðµðŠðð¢ð© ð®ðŠð¯ðªð¯ðšðšð¢ðð¬ð¢ð¯ ðŽðŠðšð¢ðð¢ ðŽðŠðŽð¶ð¢ðµð¶ ð¥ð¢ð¯ ð®ðŠð¯ðšðªð¬ð¶ðµ ðð¯ðšð¬ð¢ð¶!” (ay. 28 ) Pernyataan Petrus, yang kerap dianggap mewakili rekan-rekannya, mengusung kebanggaan sekaligus kegalauan. Bangga karena mereka lebih berani daripada orang kaya itu untuk meninggalkan segalanya demi mengikut Yesus. Galau karena sulit sekali mendapat hidup kekal bagai unta melewati lubang jarum. Jawaban Yesus pun melegakan sekaligus menantang mereka.
Jawab Yesus kepada mereka, “ððŠðŽð¶ð¯ðšðšð¶ð©ð¯ðºð¢ ðð¬ð¶ ð£ðŠð³ð¬ð¢ðµð¢ ð¬ðŠð±ð¢ð¥ð¢ð®ð¶: ððŠðµðªð¢ð± ð°ð³ð¢ð¯ðš ðºð¢ð¯ðš ð¬ð¢ð³ðŠð¯ð¢ ðð¬ð¶ ð¥ð¢ð¯ ð¬ð¢ð³ðŠð¯ð¢ ðð¯ð«ðªð ð®ðŠð¯ðªð¯ðšðšð¢ðð¬ð¢ð¯
• ð³ð¶ð®ð¢ð©ð¯ðºð¢ ð¢ðµð¢ð¶
• ðŽð¢ð¶ð¥ð¢ð³ð¢ð¯ðºð¢ ðð¢ð¬ðª-ðð¢ð¬ðª ð¢ðµð¢ð¶
• ðŽð¢ð¶ð¥ð¢ð³ð¢ð¯ðºð¢ ð±ðŠð³ðŠð®ð±ð¶ð¢ð¯ ð¢ðµð¢ð¶
• ðªð£ð¶ð¯ðºð¢ ð¢ðµð¢ð¶
• ð£ð¢ð±ð¢ð¯ðºð¢ ð¢ðµð¢ð¶
• ð¢ð¯ð¢ð¬-ð¢ð¯ð¢ð¬-ð¯ðºð¢ ð¢ðµð¢ð¶
•ðð¢ð¥ð¢ð¯ðšð¯ðºð¢
ð°ð³ð¢ð¯ðš ðªðµð¶ ð±ð¢ð¥ð¢ ð»ð¢ð®ð¢ð¯ ðªð¯ðª ð«ð¶ðšð¢ ð¢ð¬ð¢ð¯ ð®ðŠð¯ðŠð³ðªð®ð¢ ð¬ðŠð®ð£ð¢ððª ðŽðŠð³ð¢ðµð¶ðŽ ð¬ð¢ððª ððªð±ð¢ðµ
• ð³ð¶ð®ð¢ð©,
• ðŽð¢ð¶ð¥ð¢ð³ð¢ ðð¢ð¬ðª-ðð¢ð¬ðª,
• ðŽð¢ð¶ð¥ð¢ð³ð¢ ð±ðŠð³ðŠð®ð±ð¶ð¢ð¯,
• ðªð£ð¶,
• ð¢ð¯ð¢ð¬, ð¥ð¢ð¯
• ðð¢ð¥ð¢ð¯ðš
ðŽðŠð¬ð¢ððªð±ð¶ð¯ ð¥ðªðŽðŠð³ðµð¢ðª ð£ðŠð³ð£ð¢ðšð¢ðª ð±ðŠð¯ðšð¢ð¯ðªð¢ðºð¢ð¢ð¯ ð¥ð¢ð¯ ð±ð¢ð¥ð¢ ð»ð¢ð®ð¢ð¯ ðºð¢ð¯ðš ð¢ð¬ð¢ð¯ ð¥ð¢ðµð¢ð¯ðš ðªð¢ ð¢ð¬ð¢ð¯ ð®ðŠð¯ðŠð³ðªð®ð¢ ð©ðªð¥ð¶ð± ðºð¢ð¯ðš ð¬ðŠð¬ð¢ð.” (ay. 29-30)
Markus menyajikan daftar hal-hal yang ditinggalkan oleh para murid. Dalam kekristenan perdana ucapan Yesus itu benar-benar terpenuhi. Para murid dianiaya oleh penguasa karena menjadi pengikut Yesus dan mengabarkan Injil. Namun, mereka mendapat ganjaran seratus kali lipat. Sebagai contoh, mereka yang kehilangan saudara mendapat saudara yang baru di dalam keluarga Allah dhi. jemaat Kristen. Ratusan! Harta yang ditinggalkan juga diganti seratus kali lipat karena harta jemaat adalah harta bersama. Tidak disebut ayah karena Allah adalah Bapa.
Itu duluuu dalam masa kekristenan perdana. Dalam kehidupan Gereja modern hal itu hampir mustahil terjadi. Pejabat gerejawi hanya mengamankan diri mereka sendiri. Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada pejabat gerejawi mau mendengarkan.
(13102024)(TUS)