PENGANTAR
frasa “tidak binasa” sering dipahami hanya sebagai jaminan bahwa orang percaya tidak akan masuk neraka. Namun Alkitab memakai kata yang jauh lebih dalam dari sekadar selamat dari hukuman. Dalam bahasa Yunani Perjanjian Baru, kata yang dipakai adalah "apolētai", dari akar kata "apollymi", yang berarti hancur, rusak total, kehilangan tujuan keberadaan. Jadi “binasa” bukan hanya soal kematian fisik, tetapi tentang kehidupan yang kehilangan arah, makna, dan tujuan ilahi.
PEMAHAMAN
Jika kita melihat latar belakang konsep ini dalam Perjanjian Lama, kata yang sering dipakai adalah "ʾābad" dalam bahasa Ibrani. Kata ini berarti hilang, musnah, lenyap, atau tersesat hingga tidak lagi berada pada tempat yang seharusnya. Menariknya, kata ini juga dipakai untuk menggambarkan sesuatu yang tersesat dari jalur yang benar. Dengan kata lain, kebinasaan bukan hanya peristiwa akhir, tetapi proses ketika manusia menjauh dari Allah, sumber kehidupan itu sendiri, keterpisahan dg Allah itulah kematian, artinya dalam konsep PL itu akibat ke tidak taat an pada Allah.
Di sinilah Injil menjadi radikal. Ketika Yesus berkata bahwa setiap orang yang percaya kepada-Nya “tidak binasa” (Yohanes 3:16), Ia tidak hanya menjanjikan masa depan setelah kematian. Ia sedang memulihkan manusia dari keadaan apollymi—kehidupan yang rusak dan kehilangan tujuan. Keselamatan berarti dikembalikan pada desain Allah: hidup yang terarah kepada kemuliaan-Nya, kembali serupa dan segambar dengan Allah.
Ironisnya, banyak orang tidak menyadari bahwa hidupnya sedang menuju kebinasaan, karena secara moral terlihat baik dan tertata. Namun Alkitab menunjukkan bahwa kebinasaan sering tampak seperti kehidupan yang normal, mapan, bahkan saleh secara lahiriah, sibuk berkarya di gereja—tetapi tanpa relasi yang hidup dengan Allah. Kehidupan seperti ini bisa tampak berhasil di mata dunia, namun tetap berada dalam keadaan ʾābad: tersesat dari tujuan kekal yang Allah tetapkan.
Karena itu, Injil bukan hanya kabar bahwa kita tidak masuk neraka, tetapi bahwa di dalam Kristus, hidup kita tidak lagi menuju kehancuran makna. Orang yang percaya dipanggil untuk hidup dalam arah yang baru—hidup yang dipulihkan, diarahkan, dan akhirnya dimuliakan. “Tidak binasa” berarti hidup yang kembali menemukan tujuan sejatinya di dalam Allah.
(11032026)(TUS)