PENGANTAR
Kerap menyembul tuduhan dari kalangan Protestan sendiri ketika liturgi Protestan memiliki bentuk yang teratur, simbol yang kuat, atau tata perayaan hari raya yang khidmat, maka itu dianggap sebagai 𝘵𝘪𝘳𝘶-𝘵𝘪𝘳𝘶 𝘒𝘢𝘵𝘰𝘭𝘪𝘬. Tuduhan semacam ini, selain tak bermutu, lahir dari cara pandang yang terlalu sederhana terhadap sejarah dan budaya.
PEMAHAMAN
𝗞𝗲𝘀𝗮𝘁𝘂. Tidak ada tradisi yang lahir dari ruang hampa. Dalam sejarah iman Kristen saling belajar dan saling menyerap adalah keniscayaan. Protestan tidak mungkin berdiri tanpa sejarah Gereja sebelumnya. Seperti halnya Gereja Katolik pun tidak pernah berkembang tanpa bersainglindak dengan budaya-budaya di sekitarnya dan sudah barang tentu dengan Gereja Protestan.
Tiru-meniru bukanlah tanda kelemahan. Ia bagian dari dinamika kebudayaan. Liturgi selalu hidup dalam dialog dengan Kitab Suci, dengan sejarah Gereja, dengan konteks sosial, bahkan dengan praktik keagamaan yang lebih luas.
𝗞𝗲𝗱𝘂𝗮. Kemiripan bukan berarti kehilangan jatidiri. Terlihat ada anasir yang tampak serupa seperti struktur ibadah, kalender gerejawi, simbol, dan warna liturgis tidak otomatis berarti penyeragaman teologi. Dalam banyak hal kemiripan justru menunjukkan akar yang sama dalam tradisi Kristen purba. Identitas tidak dibangun dengan meniadakan kesamaan, melainkan dengan memberi makna teologis yang panggah (𝘤𝑜𝘯𝑠𝘪𝑠𝘵𝑒𝘯𝑡) di dalamnya.
𝗞𝗲𝘁𝗶𝗴𝗮. Liturgi pada dasarnya bersifat hibrida. Ia bukan artefak steril. Liturgi merupakan hasil perjumpaan panjang antara Injil dan kebudayaan. Pertanyaannya bukan lagi 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘳𝘶 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢, tetapi 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢 𝘶𝘯𝘴𝘶𝘳 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪 dan 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘪𝘢 𝘥𝘪𝘮𝘢𝘬𝘯𝘢𝘪. Yang menentukan bukan asal-usul bentuknya, melainkan orientasi dan isi iman yang dihayati di dalamnya.
Persoalannya acap bukan pada kemiripan bentuk, tetapi pada kecemasan jatidiri. Orang terlalu cepat menyebut 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘳𝘶-𝘯𝘪𝘳𝘶 ketika melihat kesamaan lahiriah, tetapi jarang bertanya 𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘬𝘯𝘢 𝘵𝘦𝘰𝘭𝘰𝘨𝘪𝘴 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘦𝘥𝘢. Dua tradisi dapat menggunakan bentuk yang serupa, tetapi bergerak dari fondasi yang berbeda.
Untuk itulah memandang budaya lain secara positif bukanlah ancaman bagi kemurnian iman. Keterbukaan yang kritis justru memerkaya dan meneguhkan tradisi sendiri. Mentradisikan budaya dengan menguji, menyaring, dan memaknainya dalam terang Injil adalah bagian dari kedewasaan Gereja.
Jika setiap kemiripan dianggap pengkhianatan, Gereja akan terjebak dalam politik jatidiri liturgis. Jika setiap perbedaan dipelihara demi jarak, maka hanya melahirkan ketakutan.
Liturgi yang dewasa tidak sibuk membuktikan dirinya berbeda, tetapi setia pada kebenaran yang dirayakannya. Ia tidak hidup dari semangat anti, melainkan dari keterpaduan.
Sering yang mereka sebut 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘳𝘶-𝘯𝘪𝘳𝘶 bukanlah soal teologi. Mereka sebenarnya mengidap alergi historis yang belum selesai. Jika fondasi iman kokoh, maka tidak perlu takut pada kemiripan bentuk. Yang perlu ditakuti justru liturgi yang keras membedakan diri, tetapi miskin makna dan kedalaman.
(11032026)(TUS)