PENGANTAR
Memang susah mengajarkan sesuatu yang berstandard ganda, apalagi itu terkait liturgi, untuk menghayati apalagi mengekspresikan sesuatu yg ambigu, susah. Setiap 𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗣𝗮𝗹𝗲𝗺 kita menyanyikan 𝙃𝙤𝙨𝙖𝙣𝙖 dengan penuh sukacita. Suasana dibuat meriah. Ada arak-arakan, ada daun palem, ada nyanyian yang terdengar seperti pujian kemenangan. Namun, justru di titik ini terjadi pergeseran yang serius, yang sudah begitu lama dianggap wajar. Kata 𝘏𝘰𝘴𝘢𝘯𝘢 yang kita nyanyikan itu bukanlah kata pujian. Ia adalah doa yang mendesak, bukan deklarasi kemenangan. Dalam Injil Matius 21:9 orang banyak berseru, “𝘏𝘰𝘴𝘢𝘯𝘢 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘋𝘢𝘶𝘥!” Hosana dinyanyikan sebagai pujian, karena kita selalu yakin akan pertolonganNya, tanpa menutup mata akan kesulitan/tantangan/resiko yang sedang dihadapi dalam hidup beriman.
PEMAHAMAN
Seruan itu bukan sekadar ekspresi religius yang indah. Secara etimologis 𝘏𝘰𝘴𝘢𝘯𝘢 berasal dari ungkapan Ibrani 𝘩𝘰𝘴𝘩𝘪‘𝘢 𝘯𝘢, yang berarti literal “𝙏𝙤𝙡𝙤𝙣𝙜𝙡𝙖𝙝, 𝙨𝙚𝙡𝙖𝙢𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙧𝙖𝙣𝙜!” Dalam Injil Matius 21:9 seruan itu muncul dalam bentuk 𝘩o𝘴𝘢𝘯𝘯𝘢 𝘵o 𝘩𝘶𝘪o 𝘋𝘢𝘶𝘪𝘥, yang jika diterjemahkan secara bebas berarti, “𝘞𝘢𝘩𝘢𝘪 𝘔𝘦𝘴𝘪𝘢𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘫𝘢𝘯𝘫𝘪𝘬𝘢𝘯, 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘥𝘢𝘬𝘭𝘢𝘩! 𝘚𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪!”
Variasi lain ucapan 𝘏𝘰𝘴𝘢𝘯𝘢 adalah 𝙃𝙤𝙨𝙞𝙖𝙣𝙖. Ini adalah seruan permohonan, atau lebih tepat disebut sebagai jeritan yang mendesak, lahir dari situasi yang tidak beres dan membutuhkan tindakan segera.
Menariknya dalam praktik liturgi Gereja arus-utama (protestan reformir) 𝘏𝘰𝘴𝘪𝘢𝘯𝘢 tidak ditempatkan sebagai pujian seperti 𝘏𝑎𝘭𝑒𝘭𝑢𝘺𝑎. Dalam tradisi liturgi Gereja arus-utama, seperti di GKI, GKJ, GPIB, dlsb sebagai misal, 𝘏𝘰𝘴𝘪𝘢𝘯𝘢 justru muncul dalam musim Pra-Paska, masa refleksi, pertobatan, dan penantian. Sesudah pendeta membacakan Kitab Suci, umat menanggapi: 𝙃𝙤𝙨𝙞𝙖𝙣𝙖, 𝙃𝙤𝙨𝙞𝙖𝙣𝙖, 𝙃𝙤𝙨𝙞𝙖𝙣𝙖. Ini menunjukkan bahwa secara liturgis pun 𝘏𝘰𝘴𝘢𝘯𝘢 lebih dekat dengan permohonan keselamatan daripada pujian kemenangan. Jika 𝘏𝘰𝘴𝘢𝘯𝘢 adalah pujian, mengapa ia tidak ditempatkan pada musim sukacita seperti Natal dan Paska?
Ketika orang banyak berseru 𝘏𝘰𝘴𝘢𝘯𝘢 saat Yesus tiba di Yerusalem, mereka tidak sedang memuji dalam pengertian liturgis seperti kata 𝘏𝑎𝘭𝑒𝘭𝑢𝘺𝑎. Mereka sedang memohon pertolongan. Mereka sedang berseru agar Allah bertindak. Di sinilah letak ketegangan yang sering hilang dalam praktik liturgi 𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗣𝗮𝗹𝗲𝗺.
Dalam narasi Injil Matius seruan 𝘏𝘰𝘴𝘢𝘯𝘢 muncul dalam konteks harapan yang sangat konkret. Orang banyak menyebut Yesus sebagai 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘋𝘢𝘶𝘥 (Mat. 21:9), sebuah gelar mesianik yang sarat muatan historis, politis, dan teologis. Mereka berharap akan keselamatan yang nyata, yang dapat dirasakan, yang dapat mengubah keadaan dan status mereka.
Dalam Matius 21:9 orang banyak tidak hanya berseru 𝘏𝘰𝘴𝘢𝘯𝘢, tetapi juga mengutip Mazmur 118:26 sebagai bagian dari tradisi liturgis Israel 𝘛𝘦𝘳𝘱𝘶𝘫𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘋𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘯𝘢𝘮𝘢 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯. Ini menunjukkan bahwa seruan itu adalah campuran antara permohonan keselamatan dan pujian. Namun, 𝘏𝘰𝘴𝘢𝘯𝘢 tidak otomatis berubah menjadi pujian. 𝘏𝘰𝘴𝘢𝘯𝘢 tetap membawa makna dasarnya di dalam rangkaian seruan tersebut. Sebagai analogi sederhana saat orang berdoa mengucap, “𝘛𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘺𝘢, 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯! 𝘋𝘪𝘬𝘶𝘥𝘶𝘴𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘯𝘢𝘮𝘢-𝘔𝘶!”
Namun, arah cerita Injil tidak mengikuti harapan itu. Alih-alih menuju kemenangan yang segera terlihat, narasi bergerak menuju konflik, penolakan, dan akhirnya penyaliban. Ini berarti bahwa sejak awal sudah ada ketegangan antara apa yang diminta oleh orang banyak melalui 𝘏𝘰𝘴𝘢𝘯𝘢 dan bagaimana keselamatan itu diwujudkan dalam jalan Yesus.
Dengan kata lain 𝘏𝘰𝘴𝘢𝘯𝘢 dalam narasi ini bukan hanya seruan iman, tetapi juga seruan yang ambigu: benar dalam permohonan, tetapi tidak sepenuhnya memahami jalan jawabannya. Ironisnya dalam praktik liturgi 𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗣𝗮𝗹𝗲𝗺 justru menghilangkan seluruh ketegangan ini. 𝘏𝘰𝘴𝘢𝘯𝘢 dinyanyikan sebagai pujian kemenangan, seolah-olah ini adalah momen euforia iman. Padahal dalam alur naratif Injil ini adalah awal dari ketegangan yang akan memuncak pada salib.
Pergeseran makna ini bahkan dapat dilihat dengan jelas dalam lagu-lagu rohani yang kerap dinyanyikan. Misal, dalam sebuah lagu rohani populer berjudul 𝘉𝘦𝘵𝘢𝘱𝘢 𝘉𝘢𝘪𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯
𝘏𝘰𝘴𝘢𝘯𝘢, 𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘫𝘪 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯
𝘏𝘰𝘴𝘢𝘯𝘢, 𝘬𝘶𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴
𝘏𝘰𝘴𝘢𝘯𝘢, 𝘩𝘰𝘴𝘢𝘯𝘢, 𝘩𝘰𝘴𝘢𝘯𝘢
Dalam lirik lagu itu 𝘏𝘰𝘴𝘢𝘯𝘢 secara eksplisit dipahami sebagai tindakan memuji dan meninggikan. Bahkan lagu ini dinyanyikan dengan riang gembira, dalam suasana penuh sukacita, yang ironisnya bertolak belakang dengan makna asli 𝘏𝘰𝘴𝘢𝘯𝘢 sebagai jeritan minta diselamatkan. Dalam narasi Injil Matius 21:9 𝘏𝘰𝘴𝘢𝘯𝘢 bukanlah seruan pujian, melainkan permohonan keselamatan. Dengan demikian penggunaan kata yang sama dalam konteks yang berbeda ini menunjukkan bahwa telah terjadi pergeseran makna yang cukup jauh dari akar biblisnya.
Hal ini tidak berarti bahwa lagu tersebut harus ditolak, tetapi menunjukkan bahwa bahasa iman yang kita pakai dalam nyanyian modern tidak selalu identik dengan makna yang dimaksud dalam teks Alkitab. Justru di sinilah diperlukan kesadaran teologis, agar apa yang kita nyanyikan tidak kehilangan kedalaman makna yang terkandung dalam narasi Kitab Suci. Tanpa disadari kita tidak hanya menyanyikan iman, tetapi juga menafsirnya, dan kadang menyederhanakannya.
Ketika 𝘏𝘰𝘴𝘢𝘯𝘢 direduksi menjadi pujian, kita tidak lagi merasakan urgensinya. Kita tidak lagi mendengar nada putus asa di dalamnya. Kita tidak lagi menangkap bahwa kata itu lahir dari situasi yang mendesak, dari kebutuhan akan pertolongan yang nyata.
Lebih daripada itu kita juga kehilangan matra kritisnya. Narasi ini menunjukkan bahwa manusia berseru dengan kata yang benar, tetapi tetap salah memahami apa yang mereka harapkan. Mereka memanggil Mesias, tetapi membayangkan Mesias menurut kerangka mereka sendiri, bukan menurut jalan Allah.
Di sini persoalannya bukan sekadar apakah kita menyanyikan 𝘏𝘰𝘴𝘢𝘯𝘢 atau tidak, tetapi apakah kita masih memahami apa yang kita ucapkan. Dalam terang Injil Matius 𝘏𝘰𝘴𝘢𝘯𝘢 bukanlah kata yang ringan. Ia adalah seruan yang lahir dari kebutuhan, dari tekanan, dari harapan yang mendesak. Ia adalah doa yang belum terjawab, bukan perayaan atas jawaban yang sudah selesai.
𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗣𝗮𝗹𝗲𝗺 bukan sekadar hari untuk bersukacita. Ia adalah hari ketika iman tampil dalam bentuk yang paling jujur: sebagai jeritan yang berharap, tetapi belum melihat. Barangkali di situlah kita perlu memula lagi. Dari jeritan, bukan dari euforia.
Hasil bbrp diskusi di kelas sejarah, sastra, dan arkeologi Alkitab, karena liturgi adalah bagian dari warisan arkeologi gereja dan tradisi yg bisa dinikmati hingga sekarang.
Yang penting dari awal sudah ada kesadaran: ini bukan sekadar arak2an meriah, tapi kita sedang mengiringi Yesus yg sedang menuju penderitaan.
Jadi suasananya boleh kok: ada sukacita, ada lambaian daun palem, bahkan terasa hidup
Tapi jangan sampai jadi kayak pesta yang lepas dari makna. Tetap ada rasa khidmat di dalam sukacita itu.
Anggap saja begini: kita ikut bersorak “Hosana!”, tapi di hati kita sadar, jalan yang ditempuh Yesus itu bukan menuju mahkota dunia, tapi salib.
(27032026)(TUS)