Kamis, 30 April 2026

𝗕𝗲𝗿𝗽𝗲𝗻𝗴𝗮𝗹𝗮𝗺𝗮𝗻 𝘃𝘀. 𝗕𝗲𝗿𝗸𝗮𝗿𝗮𝘁

Guru A sudah mengajar selama sepuluh tahun. Dari tahun kesatu sampai tahun kesepuluh cara mengajarnya sama. Guru B baru mengajar selama empat tahun. Setiap akhir tahun ajaran ia mengevaluasi cara mengajarnya. Kekuatan mengajarnya dipertahankan, kelemahan mengajar ia perbaiki. Kerap ia mendatangi pensiunan guru untuk berkonsultasi.

Manakah dari kedua guru di atas dapat disebut guru berpengalaman? Guru B, meski ia baru mengajar selama empat tahun. Berpengalaman berarti ia menghayati, mengalami cara mengajarnya sendiri. Oleh karena ia mengalami, maka ia tahu yang sudah dilakukan itu sudah jitu atau kurang mempan. Guru A, meski ia sudah mengajar selama sepuluh tahun, ia 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 menghayati apa yang dialaminya.

Dalam pekerjaan apa pun orang disebut berpengalaman bukan ditunjukkan dengan rentang waktu pekerjaan yang dilakukannya, termasuk pendeta.

Seorang warga senior Gereja pernah bercerita, “𝘚𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘢𝘥𝘢 𝘶𝘴𝘶𝘭 𝘥𝘪 𝘳𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘢𝘫𝘦𝘭𝘪𝘴, 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘦𝘵𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣: 𝘚𝘢𝘺𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘦𝘵𝘢, 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘯𝘪."

Pertanyaannya: “𝘚𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘯𝘪, 𝘫𝘦𝘮𝘢𝘢𝘵 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘤𝘦𝘳𝘥𝘢𝘴. 𝘉𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯-𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘦𝘵𝘢 𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢𝘪𝘯 𝘢𝘫𝘢?”

Sudah sangat terang dari jawaban pendeta itu ia bukanlah orang yang berpengalaman. Apabila disebut jemaat tidak dibuat cerdas, mungkin berlebihan. Namun, pengalaman pendeta itu dapat diukur secara objektif lewat khotbah dan tulisannya dalam renungan gereja.

Khotbahnya kosong, hanya parafrase bacaan lalu melompat ke aplikasi yang 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 gayut. Bikin renungan makin kelihatan aras pengetahuannya. Dari tulisannya sama sekali 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 ada jejak ia pernah bersekolah teologi dan berpengalaman. 𝘕𝘨𝘨𝘢𝘬 ada bekas bergumul dengan teks. 𝘕𝘨𝘨𝘢𝘬 pernah belajar, 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 mau mendengar. Ini bukan berpengalaman, tapi berkarat.

Padahal pendeta ini digaji, diberi fasilitas rumah dan mobil. Pengadaan itu bersumber dari kolekte jemaat. Kolekte itu keringat jemaat. Tukang ojek, guru honorer, penjual gorengan. Mereka tak jarang memberi kolekte dengan mengurangi jatah jajan anak. 𝘒𝘰𝘬 ya pendeta tidak ada komitmen moral untuk memberikan pengajaran bermutu?

Lukas 12:48 “𝘚𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘣𝘦𝘳𝘪, 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘵𝘶𝘯𝘵𝘶𝘵 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢.”

Pendeta diberi banyak. Yang dibalasnya: khotbah kaleng-kaleng.

Seperti yang pernah saya katakan bahwa sejujurnya saya sudah 𝘩𝘰𝘱𝘦𝘭𝘦𝘴𝘴 bakal ada perbaikan pada diri pendeta yang sok berpengalaman itu. Namun, saya masih punya sedikit harapan pada warga Gereja yang mau hidup bergereja lebih menggereja.

Untuk itu:

▶️ 𝗪𝗮𝗿𝗴𝗮 𝘂𝗷𝗶𝗹𝗮𝗵 𝗽𝗲𝗻𝗱𝗲𝘁𝗮

Khotbahnya bikin kamu makin kenal Kristus atau makin kenal dia? Tulisannya bikin kamu tambah cerdas dalam beriman atau tetap 𝘤𝘩𝘪𝘭𝘥𝘪𝘴𝘩? Kalau 10 tahun terakhir 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 ada progres, ia bukan gembalamu. Itu fosil. (Ibr. 6:1)

▶️ 𝗪𝗮𝗿𝗴𝗮 𝘀𝘁𝗼𝗽 𝗯𝗶𝗹𝗮𝗻𝗴: “𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘯𝘵𝘪𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘬𝘶 𝘥𝘪𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘪”

Kalau khotbahnya kosong, hatimu bukan diberkati. Hatimu dibius. Mabuk rohani itu bahaya. Pas sadar, sudah jauh dari Kebenaran. (Why. 18:4)

▶️ 𝗣𝗮𝗿𝗮 𝗽𝗲𝗻𝗮𝘁𝘂𝗮, 𝗸𝗮𝗺𝘂 𝗽𝘂𝗻𝘆𝗮 𝘁𝗮𝗻𝗴𝗴𝘂𝗻𝗴 𝗷𝗮𝘄𝗮𝗯

1Timotius 5:20 “𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘥𝘰𝘴𝘢 𝘵𝘦𝘨𝘰𝘳𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨”. Dosa kemalasan mimbar itu dosa kepada publik. Kolekte itu uang publik. Kalau kalian diam saja, kalian ikut tanggung dosanya. (Yeh. 3:18)

Berpengalaman itu diukur dari bekas luka belajar, bukan dari tahun SK. Kalau 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 pernah ngaca, kamu bukan berpengalaman. Kamu berkarat.

𝗕𝗲𝗿𝗽𝗲𝗻𝗴𝗮𝗹𝗮𝗺𝗮𝗻 𝘃𝘀. 𝗕𝗲𝗿𝗸𝗮𝗿𝗮𝘁 Guru A sudah mengajar selama sepuluh tahun. Dari tahun kesatu sampai tahun kesepuluh cara ...