Sudut Pandang Yohanes 14:1-14, Bumi Masuk Ruang ICU
PENGANTAR
Di medsos saya mengamati, bbrp pendeta GKJ memasang status sbb :
1. Para pendeta, yang bergelar akademis minimal Sarjana teologi, master teologi, doktor teologi bahkan banyak yang multi gelar akademis, kok ngusung pengajaran : Paskah ekologi, pertobatan ekologi, pemulihan alam semesta, dan alam merupakan Rumah Allah.
Kok seperti ndak pernah sekolah teologi, seperti ndak mbaca apalagi memahami teologi Alkitab. Kesasar kok akut. Bacaan Alkitab ndak cocok dan bertentangan kok nekat. Mesti ora bakal oncat seko bendu.Dadi guru kok mbalilu, gonyak-ganyuk ngadang bendu.
2.Dengan Paskah ekologi, gereja menebar "wisa" anti Kristus, "wisa" Paganisme modern dan ikut proyek konsorsium dunia yang sedang membangun "menara Babel modern".
3.Paskah ekologi adalah paganisme modern yang distempel seolah-olah "firman allah". Grejo ngono iku seperti bait Suci, paska Salomo, tapi isi dan praktek pemujaan pada baal. Penasaran akut sing ora bakal oncat seko maneka bendu, sinendal mayang.
Padaleman Suci kaisi maneka bathang: dadi jember, banger lan suker kang njalari tentrem rahayu kapundut lan kaki dian emas kajabel seko enggone.
4. Paskah ekologi adalah paganisme modern yang distempel seolah-olah "firman allah". Grejo ngono iku seperti bait Suci, paska Salomo, tapi isi dan praktek pemujaan pada baal. Penasaran akut sing ora bakal oncat seko maneka bendu, sinendal mayang.
Padaleman Suci kaisi maneka bathang: dadi jember, banger lan suker kang njalari tentrem rahayu kapundut lan kaki dian emas kajabel seko enggone.
5.Paskah ekologi itu narasi anti Kristus, muaranya samodra geni lan welirang tumrap juru nasar lan sing kesasar.
6.Paskah ekologi Prasat mimbar ratu kinarya kipu babu, Prasat kebon anggur manis kinarya nandur kembang bathang.
Keliatannya, ada bbrp pendeta GKJ yg tidak setuju dengan konsep Paskah Ekologi. Entah, .... lupa pendeta-pendeta ini di medsos, apakah nyampai ke pembesar-pembesar sinode GKJ.
Menarik, karena hari Minggu 03 Mei 2026, kita menggumuli teks-teks sabda yg meruntuhkan organisasi Bait Allah mentransformasikan ke tubuh Kristus. Dengan latar belakang diusirnya komunitas murid Yesus karena dianggap sekte atau bidat Yahudi, makanya jangan suka mengatakan beda denominasi sesat, sekte, atau bidat ..... Lah .... kita sendiri sekte atau bidat Yahudi. Apa kaitannya dengan ekologi? Alam sekitar kita?
Yohanes 14:6 dalam bahasa
Ἐγώ εἰμι ἡ ὁδός, καὶ ἡ ἀλήθεια, καὶ ἡ ζωή· οὐδεὶς ἔρχεται πρὸς τὸν πατέρα, εἰ μὴ δι᾽ ἐμοῦ.
Ego eimi he hodos, kai he aletheia, kai he zoe; oudeis erchetai pros ton patera, ei me di' emou.
"Aku adalah jalan, dan kebenaran, dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku."
Ada kabar duka yang belum sempat diumumkan secara resmi: bumi sedang krisis dan kritis berat, harus dirawat segera di ruang ICU. Bukan ruang ICU biasa, tetapi ICU kosmik. Tubuhnya terkapar tidak berdaya. Tarikan napasnya satu-satu dan terdengar semakin berat. Kabel-kabel bantuan pernafasan di sekujur tubuhnya yang lesu. Terdengar bunyi tit… tit… tit… yang makin melemah dari layar monitor.
Dokter-dokter iklim berlarian. Perawat biodiversitas panik. Hutan Amazon megap-megap seperti pasien asma akut. Hutan Papua dan Kalimantan lenyap ratusan juta hektar. Lautan batuk mikroplastik. Makhluk hidup di dalamnya mati dalam keputusasaan. Gunung es demam tinggi. Sungai-sungai muntah limbah. Udara kota-kota besar seperti paru-paru yang dipaksa mengisap knalpot 24 jam sehari.
Dan ironisnya, di ruang tunggu, manusia masih sibuk berdebat:
“Ini benar krisis, atau hanya cuaca buruk biasa?”
Sambil memesan kopi extra ice, memakai AC 16 derajat, dan membuka seminar bertema lingkungan di hotel bintang lima dengan 700 mobil tamu parkir rapi di basement.
Melihat bumi menjadi pesakitan di ruang ICU John B. Cobb Jr. mulai ragu pada masa depan manusia. Dia curahkan isi hatinya dalam buku Is It Too Late? A Theology of Ecology (1972). Dan dalam buku yang dia tulis bersama Herman Daly 'For the Common Good' (1989), Cobb menyimpulkan: yang sakit bukan hanya bumi, yang rusak adalah peradaban manusia. Ya, kitalah yang secara moral rusak, dan kita merusakkan dan membunuh bumi ini.
Kalau Laudato Si, dokumen Gereja Roma Katolik yang menyoroti krisis ekologi (2015), dan khusus ditulis oleh Paus Franciscus menyatakan: bumi sedang menjerit, dan orang miskin menjerit lebih keras. Yang menderita bukan hanya bumi, kata Paus Franciscus, tetapi juga kaum 'disadvantage.' Semua jadi korban!
Tetapi kita ini bagian dari umat manusia yang paling hebat dalam satu hal: pandai mengubah tragedi menjadi seremoni.
Banjir? Seminar.
Longsor? Webinar.
Hutan terbakar? Simposium.
Laut tercemar? Focus Group Discussion dengan snack box ramah lingkungan—dibungkus plastik tiga lapis.
Planet terbakar, tetapi notulen rapat kita sangat rapi.
Lebih lucu lagi, sebagian gereja kadang merasa tugas sucinya sudah selesai ketika selesai menanam 50 bibit pohon sambil berfoto dengan spanduk: “Menyelamatkan Ciptaan.” Besoknya, pendingin ruangan gereja tetap menyala di ruangan kosong, gelas plastik tetap dipakai ribuan, halaman gereja tetap jadi lautan beton, dan khotbah tetap bicara surga sambil lupa bahwa bumi sedang sekarat.
Kita seolah sedang berkata kepada Tuhan:
“Ya Tuhan, kami rindu langit dan bumi baru—karena yang lama sudah kami rusakkan.”
Ironi terbesar zaman ini adalah manusia menyebut dirinya makhluk berakal, tetapi bertindak seperti penyewa kos yang hendak pindah besok pagi: tembok dicorat-coret, lantai dirusak, taman dicabut, lalu pergi sambil berkata, “Bukan urusan saya.”
Padahal bumi bukan properti.
Bumi adalah rahim, rumah, altar, bahkan ibu kita sendiri. Menghancurkan bumi adalah menghancurkan diri kita sendiri.
*Tobat Ekologis*
Kalau gereja mau, lakukanlah segera pertobatan ekologis, sebelum segalanya terlambat, ada beberapa langkah penting yang harus dibuat segera. Langkah ini bukan langkah kecil seperti membersihkan sampah, meski ini juga penting. Bumi sudah masuk ICU. Situasi sudah emergency! Jadi yang dibutuhkan langkah cepat dan berani, serta out of the box:
Pertama, jadikan setiap gereja klinik pemulihan bumi: panel surya, kebun pangan, bank sampah, penampungan air hujan, dan ruang teduh publik. Gereja menjadi paru-paru kota.
Kedua, buat Persepuluhan Karbon: bukan hanya 10% uang, tetapi 10% pengurangan jejak emisi tiap jemaat.
Ketiga, luncurkan gerakan Satu Baptisan, Satu Pohon; Satu Pernikahan, Sepuluh Pohon.
Keempat, bentuk Tim 'Nabi' Ekologi: teolog, ilmuwan, pengacara, aktivis, yang berani menegur tambang rakus, hutan gundul, dan sungai yang dijadikan tempat sampah industri.
Kelima, ubah liturgi: bukan hanya “angkatlah hati kepada Tuhan,” tetapi juga angkatlah sampah dari sungai, angkatlah beton dari tanah, angkatlah keserakahan dari jiwa.
Karena jika bumi benar-benar masuk ICU,
gereja tidak cukup datang membawa bunga duka.
Gereja tidak bisa juga mengambil langkah yang biasa-biasa saja
Gereja harus 'gercep,' datang membawa oksigen kehidupan.
Sebelum monitor itu berbunyi panjang:
Tiiiiiiiiiiiiit…
30 April 2026 TUS