Selasa, 14 April 2026

Sudut Pandang Melawan Lupa kita duduk sejenak membaca kisah fenomena Cut Zahara Fona.

Sudut Pandang Melawan Lupa kita duduk sejenak membaca kisah 
fenomena Cut Zahara Fona. 

PENGANTAR
Membaca sebuah buku tentang kisah lama, bagaimana sebuah bangsa bisa menjadi sangat bodoh karena jembatan nalarnya rusak. Menarik untuk menjadi pembelajaran bagi masyarakat bahkan institusi agama bahwa umat dan pemimpinnya harus cerdas berpengetahuan, jangan membuat umat bodoh dengan memgkurung pengetahuan apalagi demi kepentingan. Buatlah umat itu cerdas. Dasar dari kecerdasan adalah membaca, kronologi kata pandai bukan dari sudut menyeleseikan permasalahan atau menjawab persoalan tetapi dari ide untuk memunculkan pertanyaan-pertanyaan kritis untuk didiskusikan jembatan nalar bagi jawabnya shg tercipta sistimatika nalarnya.
PEMAHAMAN
Kisah ini bukan sekadar catatan tentang penipuan massal pada dekade 1970-an, melainkan sebuah cermin historis yang sangat jujur tentang psikologi manusia, kekuasaan, dan betapa rapuhnya akal sehat ketika dihadapkan pada keputusasaan serta harapan yang berlebihan.

Berdasarkan literatur sejarah dan arsip pemberitaan kredibel masa itu, berikut adalah kisah lengkap hoaks "Janin Mengaji" Cut Zahara Fona, dari awal kemunculannya hingga akhir yang menggantung.

I. Awal Mula Kemunculan dari Serambi Mekkah

Kisah ini berpusat pada seorang perempuan muda bernama Cut Zahara Fona, yang berasal dari kawasan Sigli, Kabupaten Pidie, Aceh. Pada tahun 1970, usianya sekitar 23 tahun. Secara latar belakang pendidikan, ia tercatat tidak tamat Sekolah Dasar (SD) sebuah fakta yang kelak membuat banyak orang tak menyangka ia mampu merancang skema penipuan tingkat nasional.

Pada bulan Mei 1970, Cut Zahara sebenarnya baru saja melahirkan bayi laki-laki secara normal, membuat perutnya masih terlihat sedikit membesar. Memasuki pertengahan tahun 1970, ia tiba-tiba membuat klaim yang menggemparkan: ia menyatakan sedang mengandung lagi, namun janin di dalam rahimnya memiliki mukjizat, yakni mampu bersuara, menangis, melantunkan azan, hingga mengaji.

Awalnya, kabar ini hanya beredar dari mulut ke mulut di desanya. Kepada warga yang penasaran, ia mempersilakan mereka mendekat dan menempelkan telinga ke perutnya yang dibalut kain batik tebal. Saat itulah, diam-diam ia menyalakan tape recorder (alat pemutar kaset) berukuran mini yang disembunyikan di balik pakaiannya. Pada masa itu, tape recorder mini adalah barang mewah dan sangat tidak lazim dikenal oleh masyarakat pedesaan. Karena ketidaktahuan teknologi, warga yang mendengar suara sayup-sayup itu serta-merta percaya bahwa suara tersebut benar-benar berasal dari dalam rahim. Testimoni demi testimoni pun meledak, menyebar ke seluruh penjuru Aceh.

II. Histeria Massal dan Keuntungan Finansial

Fase ini adalah titik di mana kebohongan Cut Zahara bermetamorfosis menjadi "industri" penipuan. Berita ini segera diendus oleh surat kabar lokal dan nasional, menciptakan narasi "mukjizat" yang membuat jutaan penduduk Indonesia penasaran.

Cut Zahara mulai melakukan "tur keajaiban" ke berbagai kota besar seperti Banda Aceh, Medan, hingga Jakarta. Di setiap kota, kedatangannya disambut bak tokoh suci. Jalanan macet total, dan orang-orang berdesakan terutama mereka yang sakit, cacat, dan miskin yang datang membawa keputusasaan. Banyak yang menangis histeris, sujud syukur, dan mencium tangannya setelah mendengar suara dari balik kain batiknya.

Di balik kedok spiritualitas, aliran uang berupa sedekah, sumbangan sukarela, dan hadiah barang berharga mengalir deras. Ia difasilitasi penginapan gratis dan jamuan mewah oleh tokoh-tokoh lokal. Namun, keuntungan terbesarnya adalah kredibilitas. Ketika tokoh agama dan pejabat daerah menyatakan percaya bahwa "ini adalah kebesaran Tuhan," masyarakat awam pun semakin mantap mematikan daya kritis mereka.

III.  Menembus Jantung Kekuasaan

Manuver Cut Zahara mencapai puncaknya ketika ia diundang ke ibu kota. Kedatangannya tidak diperlakukan seperti rakyat biasa, melainkan tamu penting pembawa anugerah.

Batu loncatan terbesarnya adalah validasi dari Menteri Agama saat itu, KH. Mohamad Dachlan, yang memberikan komentar di media yang cenderung mengamini fenomena tersebut. Puncak ironi terjadi ketika tokoh nasional sekelas Adam Malik (Menteri Luar Negeri) mengundang Cut Zahara ke Istana. Di hadapan saksi, Adam Malik bersedia membungkuk, menempelkan telinganya ke perut Cut Zahara, dan mengaku takjub mendengar suara azan.

Skala kehebohan ini bahkan memancing perhatian Presiden Soeharto, lingkaran Cendana, hingga Perdana Menteri Malaysia, Tengku Abdul Rahman. Validasi dari tokoh-tokoh sentral ini menjadi "stempel resmi" yang membuat kebohongan ini mustahil dibantah oleh rakyat biasa.

IV.  Akal Sehat yang Terkucilkan

Di tengah histeria ini, ada harga mahal yang harus dibayar oleh kewarasan. Dunia kedokteran tahu bahwa klaim itu tidak masuk akal, namun mayoritas akademisi memilih bungkam karena takut melawan arus massa.

Satu sosok yang berani tampil adalah Dr. Herman Susilo, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Dengan nalar medis sederhana, ia menjelaskan bahwa janin hidup di dalam air ketuban dan bernapas melalui plasenta. Jika janin membuka mulut untuk bersuara, air ketuban akan masuk ke paru-paru dan janin itu pasti mati tenggelam.

Nahasnya, penjelasan logis ini dibalas dengan reaksi brutal. Masyarakat menyerang dan mencaci maki Dr. Herman, menuduhnya arogan, menentang kekuasaan Tuhan, bahkan memberinya cap anti-agama. Praktik medis dan nyawanya terancam, memaksanya mengasingkan diri ke daerah Ciganjur. Kehancuran reputasi sosialnya ini menciptakan spiral of silence (lingkaran keheningan) di mana para intelektual lain memilih tutup mulut rapat-rapat.

V. Terbongkarnya Kedok Sang Penipu

Tirai kebohongan akhirnya terkoyak pada Oktober 1970, bermula di Banjarmasin. Brigjen Pol. Abdul Hamid Swasono, Kapolda Kalimantan Selatan, meragukan fenomena ini dengan tegas. Ia memerintahkan aparatnya melakukan investigasi penyamaran.

Beberapa Polisi Wanita (Polwan) berpura-pura menjadi warga yang takjub dan ingin mendengarkan suara janin. Dalam pengamatan jarak dekat, mereka berhasil menemukan sumber suara tersebut: sebuah tape recorder mini yang diselipkan di perut dan ditutupi kain batik. Cut Zahara dengan cekatan menekan tombol play setiap kali ada yang menempelkan telinga.

Temuan telak ini dilanjutkan dengan pemeriksaan medis paksa di RSPAD Jakarta pada 20 Oktober 1970. Hasilnya memalukan bagi para pengikutnya: Cut Zahara Fona sama sekali tidak sedang hamil. Pemerintah akhirnya mengumumkan secara resmi bahwa fenomena tersebut adalah murni penipuan.

VI. Fakta Gelap dan Akhir yang Menggantung

Sejarah sering kali menyisakan fakta terselubung. Di balik hebohnya kasus ini, ada beberapa detail kelam yang terabaikan:

- Waktu Kehamilan yang Mustahil: Cut Zahara melakoni peran ini lebih dari satu tahun, namun ribuan orang mengabaikan logika dasar bahwa usia kehamilan normal hanyalah 9 bulan.

- Legitimasi Terselubung: Ulama besar Buya Hamka sebenarnya ragu, namun pernyataannya yang diplomatis bahwa "apapun bisa terjadi jika Tuhan berkehendak" justru dipelintir oleh massa sebagai bentuk dukungan penuh.

- Nasib Tragis Sang Pembongkar Mitos: Brigjen Swasono, pahlawan akal sehat yang membongkar hoaks ini, justru menemui nasib tragis. Ia dipensiunkan dini dan meninggal di usia 52 tahun, dengan desas-desus kuat bahwa ia diracun karena telah membuat malu elite politik Orde Baru.

Setelah kebohongannya terbongkar, Cut Zahara ditahan. Namun, proses hukumnya berjalan sangat senyap demi menyelamatkan muka para petinggi negara yang telanjur terbuai. Pertanyaan tentang siapa aktor intelektual yang memodali tape recorder mahal tersebut tak pernah terjawab.

Setelah masa hukumannya selesai, Cut Zahara Fona lenyap tanpa jejak. Di saat yang sama, bangsa ini mengalami amnesia kolektif. Jutaan masyarakat, akademisi, dan pejabat yang dulunya histeris dan menangis haru mendadak bungkam total. Rasa malu sosial yang teramat besar membuat semua orang sepakat untuk mengubur peristiwa ini dalam-dalam.

VII. Refleksi Kedewasaan

Kisah Cut Zahara Fona adalah pengingat abadi bahwa kebenaran tidak selalu dimenangkan oleh suara terbanyak. Tragedi sesungguhnya bukan pada kelihaian seorang penipu, melainkan pada bagaimana manusia dengan suka rela menyerahkan kemandirian berpikir mereka. Ketika keputusasaan berpadu dengan fanatisme ketokohan, logika menjadi hal pertama yang dikorbankan.

Alat penipunya mungkin telah berevolusi dari pemutar kaset menjadi algoritma dan deepfake di era modern, namun kerentanan psikologis kita tetap sama. Selama kita malas memverifikasi fakta dan lebih suka menelan narasi yang memanjakan emosi kita, sejarah akan selalu menemukan cara untuk mengulang dirinya sendiri. Mempertahankan akal sehat dan bersikap skeptis yang proporsional adalah satu-satunya jangkar yang kita miliki di tengah derasnya arus informasi.. 😄😊🙏
(15042026)(TUS)

Sudut Pandang Melawan Lupa kita duduk sejenak membaca kisah fenomena Cut Zahara Fona.

Sudut Pandang Melawan Lupa kita duduk sejenak membaca kisah  fenomena Cut Zahara Fona.   PENGANTAR Membaca sebuah buku tentang k...