Senin, 08 Juni 2026

Sudut Pandang tidak melakukan hal besar, cukup setia pada hal kecil

Sudut Pandang tidak melakukan hal besar, cukup setia pada hal kecil

PENGANTAR
Ada kisah menarik dalam Alkitab, Roma 16:12 (TB). “Salam kepada Trifena dan Trifosa, yang bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan. Salam kepada Persis, yang kukasihi, yang telah bekerja sangat keras dalam pelayanan Tuhan.”  Ayat ini merupakan bagian dari penutup surat Paulus kepada jemaat di Roma, di mana ia menyebut nama-nama pribadi yang berjasa dalam pelayanan. Secara linguistik, kata “bekerja membanting tulang” (Yunani: kopiล) berarti “berjerih lelah sampai letih”, menunjukkan intensitas pelayanan yang dilakukan dengan kerendahan hati, bukan untuk kemuliaan diri.  Dalam tradisi gereja mula-mula, penyebutan nama perempuan seperti Trifena, Trifosa, dan Persis menunjukkan pengakuan terhadap peran aktif perempuan dalam pelayanan Injil. Namun, Paulus tidak menonjolkan status atau kedudukan mereka, melainkan menekankan kerendahan dan kesetiaan dalam kerja bagi Tuhan.  Roma 16:12 hanya satu kalimat pendek dalam 1 Kitab suci yg tebal, tetapi sarat makna moral. Paulus tidak memuji mereka karena jabatan atau prestasi, bukan pengakuan melainkan karena kerja keras yang tulus. Ini sejalan dengan prinsip “tidak bermegah” sebagaimana ditegaskan dalam 

1 Korintus 1:31 (TB):  
“Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.”  

Dengan demikian, ayat ini menampilkan teladan kerendahan hati dalam pelayanan — bekerja keras tanpa mencari pujian manusia, melainkan memuliakan Tuhan.  Kerendahan dalam konteks Roma 16:12 bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan rohani yang lahir dari kasih dan kesetiaan kepada Tuhan. Trifena, Trifosa, dan Persis menjadi simbol pelayan yang tidak bermegah, tetapi setia dalam tugas kecil maupun besar. Nilai moral yang dapat diambil: kerja keras yang disertai kerendahan hati adalah bentuk ibadah yang sejati, tanpa pengakuan, apalagi gerakan di ruang elit. Saya selalu mengatakan dampaknya minimal ketika kita bergerak hanya di ruang-ruang elit, seminar, dan akademisi, mau gerakan lintas iman ataupun karya bergereja apapun itu. Kita lihat mau seberapa besar apa gerakan itu tokh ... Nyatanya ruang itu tidak memberikan dampak yg signifikan di negeri ini, hanya wowww keren aja. Saya malah melihat dampak itu secara pribadi ketika kita bergerak dari aras dan arus bawah, ketika umat dilatih sedemikian rupa untuk bermasyarakat dengan baik di tengah kemajemukan dimana umat tinggal bukan di gereja atau seminar, ketika umat terlatih tanpa halangan ego mau ikut gotong royong membersihkan tempat ibadah lain dimana umat tinggal, ketika umat nyadar kita majemuk dan memandang perbedaan bukan sebagai musuh dimana umat tinggal, ketika umat mau bergerak dalam kebersamaan dg umat lain dimana umat tinggal dlsb. Gerakan elit dan akademisi sering bohong karena saya sering melihat para elit ini, akademisi, dan pemuka agama tokh dalam hidup kesehariannya tidak bertetangga dengan baik, tapi teriak wow keren untuk ruang-ruang kosong tsb, tokh para elit ini bahkan akademisi juga pemuka agama tidak bermasyarakat dengan baik, seruannya hanya ada di ruang kosong, mereka habis waktu untuk berteriak dalam ruang kosong sebab sibuk dan tidak bisa bertetangga dg baik, karena tidak dilakukan dalam keseharian dimana dia tinggal. Sehingga gerakan menciptakan ruang kebersamaan dalam kemajemukan itu hanya di aras elite atau atas atau akademisi tidak di aras bawah, shg pada kenyataaannya di negara ini, kemajemukan tetap menjadi masalah, tokh .... ruang kosong yg sejak dulu didengungkan tak memberi dampak yg signifikan di negeri ini. Gimana seorang ustad berteriak adanya ruang kebersamaan dalam kemajemukan ketika hidup kesehariannya di tengah ponpes yg seragam, bukan bertetangga yg beragam, gimana seorang akademisi ataupun pemuka agama yg lain berteriak adanya ruang kebersamaan dalam kemajemukan ketika hidupnya habis untuk mengajar dan mengurusi umatnya bukan bertetangga yang beragam, sehingga gerakan itu seperti hanya panggung saja. Untuk memahami esensi dari karya yang tidak mencari panggung atau upah, kita harus melihat fondasi kristologis dalam Filipi 2:7. Teks asli Yunani menggunakan kata "ekenลsen", dari akar kata "kenosis", yang berarti "mengosongkan diri". Kristus tidak mempertahankan hak-hak keilahian-Nya demi status, melainkan dengan sengaja mengosongkannya. Saya lebih menghargai progam interfaith atau interreligius pada lembaga pendidikan agama, dimana tafsir lintas iman menjadi pondasinya. Melihat tafsir kitab suci lintas iman secara dewasa dan dalam ranah akademisi, di tempat kami teman-teman UMS mengambil S2, S3 dalam bidang tafsir lintas iman, saya lebih menghargai ketika seseorang bermasyarakat dg baik ditengah kemajemukan memanfaatkan obrolan gardu ronda bisa memberikan pemahaman menerima perbedaan agama, suku, ras diantara tetangga yg majemuk tanpa pemaksaan dan dg lembut, hal-hal itu lebih berdampak, tanpa pengakuan dan itu kerja keras untuk kemuliaan Tuhan
PEMAHAMAN
Pengosongan diri ini mewujud dalam tindakan menjadi seorang doulos atau hamba. Sifat dasar dari seorang "doulos" pada abad pertama adalah ketiadaan hak atas pengakuan publik (recognition) atau kompensasi pribadi (reward). Seluruh eksistensinya didedikasikan untuk kehendak tuannya. Ketika konsep ini diturunkan ke dalam tindakan praktis kemanusiaan (seperti merawat yang terluka, memberi makan yang lapar, menjaga kebersihan ruang bersama, dll) tindakan tersebut berakar pada (diakonia). Pelayanan Kristen sejati (diakonia) secara radikal membalikkan logika dunia: ia tidak bergerak ke atas untuk mencari validasi, melainkan bergerak ke bawah demi pemulihan sesama. Dalam Injil Matius 6:1-4, Yesus memberikan kritik tajam yang sangat relevan dengan kecenderungan manusiawi kita yang selalu haus akan pengakuan, penghargaan, atau pengenalan:

"Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka... Janganlah engkau memegahkan dirimu seperti yang dilakukan orang munafik... supaya mereka dipuji orang."

Pada konteks Yahudi abad pertama, memberi sedekah (tzedakah) sering kali dijadikan AJANG PAMER kesalehan sosial di rumah-rumah ibadah atau di jalan-jalan raya. Yesus menggunakan istilah (hupokrites), yang secara literal merujuk pada aktor teater yang mengenakan topeng. Ketika sebuah tindakan baik (baik itu berupa bantuan material, perawatan medis, pembersihan fisik dll) dikondisikan agar terlihat oleh publik demi membangun citra diri, tindakan tersebut telah bergeser dari altruisme ilahi menjadi komodifikasi kesalehan. Upahnya telah habis dibayar seketika lewat pujian manusia yang fana. Pelayanan yang otentik menuntut kepunahan ego. Ketika seseorang menyapu lantai tempat ibadah yang sepi, membalut luka seorang anak di pelosok, atau membagikan bantuan kepada masyarakat, ujian terbesarnya bukanlah pada APA yang dilakukan, melainkan MENGAPA itu dilakukan. Kita ditantang untuk meruntuhkan hasrat purba manusia yang selalu ingin diakui (the thirst for recognition). Pelayanan sejati tidak membutuhkan lampu sorot atau tepuk tangan penonton; ia justru subur di dalam kesunyian dan ketulusan. Alkitab menekankan bahwa Bapa yang melihat "di tempat yang tersembunyi" akan membalasnya. Ini bukan sekadar janji tentang upah masa depan, melainkan kepuasan batiniah tertinggi karena kehidupan kita telah diselaraskan dengan ritme kasih Allah sendiri.

Pertanyaan untuk refleksi kita bersama: 

Ketika kita mengulurkan tangan untuk menolong sesama dalam kehidupan sehari-hari, bagian manakah dari diri kita yang sebenarnya sedang kita beri makan: kebutuhan nyata sesama kita, atau justru ego dan rasa haus kita akan pujian?
(09062026)(TUS)

Sudut ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด Matius 13:31-33, 44-52 [๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—œ๐—ซ ๐˜€๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ผ๐˜€๐˜๐—ฎ, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”], ๐— ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป, ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฒ๐—ธ๐˜€๐—ฝ๐—ฎ๐—ป๐˜€๐—ถ

Sudut ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด Matius 13:31-33, 44-52 [๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—œ๐—ซ ๐˜€๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ผ๐˜€๐˜๐—ฎ, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”], ๐— ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ...