Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 13:31-33, 44-52 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗜𝗫 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], 𝗠𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮𝗸𝗮𝗻, 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗮𝗻𝘀𝗶
PENGANTAR
Minggu 26 Juli 2026, Dalam liturgi sesudah menyelesaikan pengedaran kantong kolekte disusul dengan doa yang biasanya dipimpin oleh penatua, tetapi kadang oleh pendeta. Dalam doa itu terkadang kita mendengar pendoa mengucapkan yang lebih-kurang, “ … 𝘬𝘪𝘳𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘣𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘥𝘪𝘨𝘶𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘳𝘭𝘶𝘢𝘴 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯-𝘔𝘶.”
Dari frase doa itu dapat diduga bahwa cukup banyak pejabat gerejawi mencerap Kerajaan Allah (atau Kerajaan Surga) sama dengan Gereja. Gereja tidak sama dengan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah juga tidak perlu diperluas karena Kerajaan Allah tak tertakrifkan dengan matra luas. Di Alkitab tidak ada perintah ekspansi Kerajaan Allah, melainkan memberitakan Kerajaan Allah.
PEMAHAMAN
Hari ini adalah Minggu kesembilan sesudah Pentakosta. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Matius 13:31-33, 44-52 yang didahului dengan 1Raja-Raja 3:5-12, Mazmur 119:129-136, dan Roma 8:26-39.
Minggu ini kembali bacaan menyajikan perumpamaan-perumpamaan Yesus. Secara khusus pengarang Injil Matius mengumpulkan tujuh perumpamaan tentang Kerajaan Allah dalam pasal 13.
✝️ Matius 13:3-9, 18-23: Perumpamaan tentang penabur dan penjelasannya (Minggu, 12 Juli 2026)
✝️ Matius 13:24-30, 36-43: Perumpamaan tentang lalang di antara gandum dan penjelasannya (Minggu, 19 Juli 2026)
✝️ Matius 13:31-32: Perumpamaan tentang biji sesawi (Minggu, 26 Juli 2026)
✝️ Matius 13:33: Perumpamaan tentang ragi (Minggu, 26 Juli 2026)
✝️ Matius 13:44: Perumpamaan tentang harta terpendam (Minggu, 26 Juli 2026)
✝️ Matius 13:45: Perumpamaan tentang mutiara yang berharga (Minggu, 26 Juli 2026)
✝️ Matius 13:47-50: Perumpamaan tentang jala besar (Minggu, 26 Juli 2026)
Bacaan Injil Minggu ini mencakup lima perumpamaan. Ayat 51-52 hendak menyajikan semacam kesimpulan.
Perumpamaan (𝘱𝘢𝘳𝘢𝘣𝘰𝘭e𝘯 atau 𝘱𝘢𝘳𝘢𝘣𝘭𝘦) merupakan metafora, perbandingan. Ketujuh perumpamaan di atas hendak menjelaskan Kerajaan Allah (atau Kerajaan Surga) dengan perbandingan. Perbandingannya dengan hal-hal yang ada di alam atau kegiatan sehari-hari. Untuk mengantarkan perumpamaan-perumpamaan itu Yesus seperti bernyanyi 𝘳𝘦𝘧𝘳𝘢𝘪𝘯: 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘨𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢 …
Meskipun demikian semua perumpamaan tersebut masih belum dapat mencakup takrif tentang Kerajaan Allah. Hal itu menunjukkan bahwa pengertian Kerajaan Allah sebagai suatu kenyataan baru yang datang dari Allah merupakan sesuatu yang sukar diperikan dengan kata-kata karena ia jauh melampaui pikiran manusia.
𝗣𝗲𝗿𝘂𝗺𝗽𝗮𝗺𝗮𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗻𝘁𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗶𝗷𝗶 𝘀𝗲𝘀𝗮𝘄𝗶
Yesus menyampaikan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya, “𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘨𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢 𝘣𝘪𝘫𝘪 𝘴𝘦𝘴𝘢𝘸𝘪, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘵𝘢𝘣𝘶𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘭𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢. 𝘔𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘫𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘫𝘦𝘯𝘪𝘴 𝘣𝘦𝘯𝘪𝘩, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘱𝘢𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘶𝘮𝘣𝘶𝘩, 𝘴𝘦𝘴𝘢𝘸𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘶𝘳𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯, 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘰𝘩𝘰𝘯 𝘴𝘦𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘣𝘶𝘳𝘶𝘯𝘨-𝘣𝘶𝘳𝘶𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘤𝘢𝘣𝘢𝘯𝘨-𝘤𝘢𝘣𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢.” (Mat. 13:31-32)
LAI menerjemahkan 𝘴𝘪𝘯𝘢𝘱𝘦o𝘴 menjadi sesawi. RSV, KJV, NIV, dan Alkitab berbahasa Inggris lainnya menerjemahkan 𝘴𝘪𝘯𝘢𝘱𝘦o𝘴 menjadi 𝘮𝘶𝘴𝘵𝘢𝘳𝘥, yang diindonesiakan menjadi moster. Sesawi bukan sawi, tetapi sesawi masuk ke dalam kelompok sayuran seperti dalam frase 𝘴𝘦𝘴𝘢𝘸𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘶𝘳𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯.
Mengontraskan yang kecil dengan yang besar merupakan ciri peribahasa Yahudi. Apabila Allah menegakkan kuasa-Nya, suasananya seperti biji sesawi yang diambil dan ditaburkan kemudian tumbuh menjadi pohon. Awal karya Yesus yang tampak amat sederhana, tidak menonjol, diumpamakan biji sesawi yang kecil itu. Secara hiperbolik biji sesawi dikontraskan dengan pohon sesawi yang menjadi tempat burung bersarang. Disebut hiperbolik karena tidaklah umum burung-burung bersarang di tanaman sesawi. Dalam Perjanjian Lama (PL) pohon besar merupakan simbol kerajaan penuh kuasa yang akan melindungi negara-negara taklukan (bdk. Yeh. 17:23; 31:6, Dan. 4:20-22). Tampaknya perumpamaan ini hendak mengatakan bahwa pemberitaan Kerajaan Surga jangan disepelekan karena pada saat Kerajaan itu datang secara penuh, orang-orang berdatangan minta perlindungan.
𝗣𝗲𝗿𝘂𝗺𝗽𝗮𝗺𝗮𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗻𝘁𝗮𝗻𝗴 𝗿𝗮𝗴𝗶
Ia menceritakan perumpamaan ini juga kepada mereka, “𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘨𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢 𝘳𝘢𝘨𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢𝘥𝘶𝘬 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘵𝘦𝘱𝘶𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘨𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 40 𝘭𝘪𝘵𝘦𝘳 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘭𝘶𝘳𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢.” (Mat. 13:33)
Ragi merupakan metafora untuk kenajisan dan kecemaran, untuk sesuatu yang marginal di dalam masyarakat yang ditatastrukturkan menurut sistem kekudusan atau puritas Yudaisme. Ragi dalam kitab Keluaran 12:19 ditunjuk sebagai penyebab kenajisan yang membuat seorang Israel dicampakkan dari komunitas. Perhatikan ucapan Rasul Paulus dalam Galatia 5:9 yang memuat metafora ragi sebagai penyebab orang menyimpang dari kebenaran dan dalam 1Korintus 5:6-8 sebagai perbuatan dosa. Dalam Markus 8:15 Yesus memeringatkan murid-murid-Nya untuk berwaspada terhadap 𝘳𝘢𝘨𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘍𝘢𝘳𝘪𝘴𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘨𝘪 𝘏𝘦𝘳𝘰𝘥𝘦𝘴.
Yesus memang radikal. Dengan berani Yesus memetaforakan Kerajaan Allah dengan ragi. 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘨𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢 𝘳𝘢𝘨𝘪 berarti kekuasaan dan pemerintahan Allah tidak lagi berada di Bait Allah dengan sistem kurbannya yang dijalankan oleh lembaga imamat dari kalangan elitis para imam, tetapi berada di antara kalangan yang dalam sistem puritas Yahudi tergolong marginal dan najis. Kekudusan Allah di tengah-tengah penajisan oleh kekuasaan kafir (Roma) atas Tanah Yudea ditemukan di antara kalangan najis. Bandingkan dengan ucapan Yesus dalam Lukas 17:21b, “...𝘴𝘦𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶.”
Tindakan Yesus yang membangun dan memasuki persekutuan dengan orang-orang najis dan marginal serta makan bersama-sama dengan mereka membentuk suatu komunitas yang anggota-anggotanya setara, egaliter. Pemberitaan Kerajaan Allah merobohkan hierarki sosial-religius yang dipertahankan dalam sistem puritas Yudaisme. Yesus tidak menghendaki rakyat dipecah-pecah dan diceraiberaikan berdasarkan sistem puritas.
𝗣𝗲𝗿𝘂𝗺𝗽𝗮𝗺𝗮𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗻𝘁𝗮𝗻𝗴 𝗵𝗮𝗿𝘁𝗮 𝘁𝗲𝗿𝗽𝗲𝗻𝗱𝗮𝗺 𝗱𝗮𝗻 𝗺𝘂𝘁𝗶𝗮𝗿𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗿𝗵𝗮𝗿𝗴𝗮
“𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘨𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮 𝘥𝘪 𝘭𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘵𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮𝘯𝘺𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪. 𝘖𝘭𝘦𝘩 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘴𝘶𝘬𝘢𝘤𝘪𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘶𝘢𝘭 𝘴𝘦𝘭𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘯𝘺𝘢, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘭𝘪 𝘭𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶.
𝘋𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘭𝘢 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘨𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘥𝘢𝘨𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘶𝘵𝘪𝘢𝘳𝘢-𝘮𝘶𝘵𝘪𝘢𝘳𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘥𝘢𝘩. 𝘚𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘵𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘳𝘨𝘢, 𝘪𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘶𝘢𝘭 𝘴𝘦𝘭𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘯𝘺𝘢, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘭𝘪 𝘮𝘶𝘵𝘪𝘢𝘳𝘢 𝘪𝘵𝘶.” (Mat. 13:44-45)
Dua perumpamaan itu saya gabungkan pengulasannya karena serupa dan berhubungan dengan cara penyampaian yang berbeda. Yang satu tentang seorang buruh peladang, sedang yang lain tentang seorang pedagang kaya. Pusat perhatian bukan pada harta terpendam dan mutiara, melainkan reaksi kedua orang itu. Meskipun reaksi kedua orang itu mirip, yakni menjual seluruh milik mereka untuk membeli ladang dan mutiara yang indah itu, tetapi kedua orang itu berangkat dengan tujuan yang berbeda. Buruh peladang bekerja tidak bertujuan mencari harta terpendam, sedang pedagang itu memang bertujuan mencari mutiara yang indah. Kedua perumpamaan itu bukan untuk menyatakan bahwa Kerajaan Surga itu sangat tinggi harganya.
Dari konteks keseluruhan pasal 13 kedua perumpamaan itu merujuk gagasan penghakiman. Pengarang Injil Matius hendak menampilkan model umat Kristen yang mau berkorban besar untuk menghadirkan Kerajaan Allah. Jika kita melongok perumpamaan tentang ragi, itu berarti umat Kristen harus mau berkorban besar untuk peduli kepada masyarakat marginal. Di sini peduli bukan saja mengangkat mereka dari kubangan kemiskinan, tetapi juga menghadirkan keadilan.
𝗣𝗲𝗿𝘂𝗺𝗽𝗮𝗺𝗮𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗻𝘁𝗮𝗻𝗴 𝗷𝗮𝗹𝗮 𝗯𝗲𝘀𝗮𝗿
“𝘋𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘭𝘢 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘨𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢 𝘫𝘢𝘭𝘢 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘵𝘦𝘣𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘭𝘢𝘶𝘵, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘶𝘮𝘱𝘶𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘫𝘦𝘯𝘪𝘴 𝘪𝘬𝘢𝘯. 𝘚𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘯𝘶𝘩, 𝘫𝘢𝘭𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘳𝘦𝘵 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦 𝘱𝘢𝘯𝘵𝘢𝘪, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘥𝘶𝘥𝘶𝘬𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘮𝘱𝘶𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘺𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘶𝘢𝘯𝘨.
𝘋𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘻𝘢𝘮𝘢𝘯: 𝘔𝘢𝘭𝘢𝘪𝘬𝘢𝘵-𝘮𝘢𝘭𝘢𝘪𝘬𝘢𝘵 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘴𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘩𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘮𝘱𝘢𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘵𝘶𝘯𝘨𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘪. 𝘋𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘳𝘢𝘵𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘳𝘵𝘢𝘬 𝘨𝘪𝘨𝘪.” (Mat. 13:47-50)
Sastra kuno memang kerap mengambil judul dari kata atau frase atau kalimat pertama, meskipun tidak memerikan isi karangan. Perumpamaan tentang jala di atas bukan tentang jala itu sendiri, melainkan hal yang terjadi sesudah para penjala menarik jala ke pantai. Perumpamaan ini mirip dengan perumpamaan lalang di ladang gandum (Minggu, 19 Juli 2026).
Di awal Injil ini Yohanes Pembaptis berkampanye bahwa Yesus adalah Mesias yang sudah siap memegang kapak untuk memotong setiap pohon dan batang yang tidak berbuah. Yohanes juga mengatakan bahwa Mesias sudah memegang alat penampi untuk menyingkirkan sekam dari gandum dan membakar sekam dalam api yang tak terpadamkan. Yohanes berpikir bahwa Yesus akan langsung menghancurkan orang-orang Farisi dan Saduki (lih. Mat. 3:7-12).
Ternyata Yesus tidak seperti yang dipikirkan dan dibayangkan oleh Yohanes Pembaptis. Yesus tidak menciptakan komunitas orang-orang bersih dan suci. Yesus bahkan tidak bersetuju dengan gagasan menyingkirkan langsung ikan tidak baik dari jala. Mula-mula semua ikan berbagai jenis bercampur baur dalam satu jala besar, baru kemudian sesudah ditarik ke pantai ikan-ikan yang baik dikumpulkan, sedang ikan yang tidak baik dibuang. 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘢𝘪𝘬 di sini dari kata 𝘴𝘢𝘱𝘳𝘢 yang berarti busuk atau rusak.
Menyingkirkan langsung orang jahat dari orang baik dipandang oleh Yesus sebagai tindakan yang salah. Yesus meminta kesabaran dengan hidup berdampingan sampai jala itu sampai di pantai, suatu kiasan tentang akhir zaman. Akhir zaman menurut Matius bukanlah hari kiamat, melainkan saat Kerajaan Allah datang secara penuh, yang orang-orang jahat disingkirkan dari orang-orang benar. Yang disebut dengan orang-orang benar adalah yang melakukan kehendak Allah (bdk. Mat. 6:33).
𝗣𝗲𝗻𝘂𝘁𝘂𝗽
“𝘔𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳𝘵𝘪𝘬𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘵𝘶?” Jawab mereka, “𝘠𝘢.” Lalu berkatalah Yesus kepada mereka, “𝘒𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘢𝘩𝘭𝘪 𝘛𝘢𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢𝘫𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘨𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢 𝘵𝘶𝘢𝘯 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘣𝘦𝘯𝘥𝘢𝘩𝘢𝘳𝘢𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢.” (Mat. 13:51-52)
𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 dan 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 di sini adalah murid-murid Yesus. Yesus menutup tujuh perumpamaan dengan perumpamaan. Frase 𝘒𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘪𝘵𝘶 seperti hendak mengantarkan kepada kesimpulan.
Perlu dicermati istilah 𝘢𝘩𝘭𝘪 𝘛𝘢𝘶𝘳𝘢𝘵 dalam frase 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘢𝘩𝘭𝘪 𝘛𝘢𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢𝘫𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘨𝘢. Frase asli dari teks sumber penerjemahan adalah 𝘱𝘢𝘴 𝘨𝘳𝘢𝘮𝘮𝘢𝘵𝘦𝘶𝘴 𝘮𝘢𝘵𝘩e𝘵𝘦𝘶𝘵𝘩𝘦𝘪𝘴 𝘵e 𝘣𝘢𝘴𝘪𝘭𝘦𝘪𝘢 𝘵o𝘯 𝘰𝘶𝘳𝘢𝘯o𝘯, yang berarti 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘨𝘢. Dalam Injil Matius istilah 𝘢𝘩𝘭𝘪 𝘛𝘢𝘶𝘳𝘢𝘵 disebut sebanyak 23 kali, tetapi hanya di ayat 52 ini gelar atau sebutan itu dikenakan kepada pengikut Kristus, yang boleh menjadi pengajar agama.
Meskipun pengikut Kristus sudah setara dengan ahli Taurat, tetapi ia harus 𝘴𝘦𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢 𝘵𝘶𝘢𝘯 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘣𝘦𝘯𝘥𝘢𝘩𝘢𝘳𝘢𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. 𝘏𝘢𝘳𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘳𝘶 disebutkan lebih dahulu daripada 𝘩𝘢𝘳𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘢. Inilah khas Injil Matius. Pengikut Kristus harus mendahulukan pengajaran dari Yesus (𝘩𝘢𝘳𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘳𝘶) dan sekaligus tidak melupakan akarnya, yakni Kitab Suci Yahudi (𝘩𝘢𝘳𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘢).
Dalam tiga hari Minggu berturut-turut (12, 19, dan 26 Juli) bacaan ekumenis mengambil perumpamaan-perumpamaan Yesus dari Matius 13 untuk menjelaskan Kerajaan Allah (atau Kerajaan Surga). Meskipun demikian masih sukar untuk membuat takrif yang memuaskan mengenai Kerajaan Allah. Yang dapat kita jumput adalah ciri-cirinya: damai sejahtera, keadilan, dan keterpaduan ciptaan.
Gereja bukan Kerajaan Allah, melainkan hamba misi Kerajaan Allah. Gereja harus menghadirkan ciri-ciri Kerajaan Allah, yakni damai sejahtera, keadilan, dan keterpaduan ciptaan kepada masyarakat di sekitarnya (partikular) dan dunia (universal) tanpa memandang SARA.
(30072023)(TUS)