Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 9:35 – 10:8 (9-23) [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗜𝗜𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], 𝘽𝙚𝙧𝙞𝙠𝙖𝙣𝙡𝙖𝙝 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙜𝙧𝙖𝙩𝙞𝙨!
PENGANTAR
Minggu 14 Juni 2026, Saat ini kita memasuki Minggu ke-3 setelah Pentakosta. Pencurahan
Roh Kudus kepada orang percaya mengandung perutusan untuk melanjutkan karya pelayanan Tuhan bagi manusia. Melalui bacaan Injil kita diajak untuk meneladan karya Yesus yang didasarkan pada belas kasih. Pewartaan dengan tema “Pewarta Belas Kasih” akan lebih memusatkan perhatian pada bacaan Injil dari leksionari hari ini. Meskipun demikian bacaan pertama (PL) dan bacaan rasuli (surat-surat) dalam leksionari Minggu ini akan dijadikan
sebagai dasar mengapa pewartaan belas kasih harus dilakukan.
Kitab-kitab Injil bukanlah laporan jurnalistik historis objektif. Para pengarang Injil menulis kisah teologis tentang hidup dan karya Yesus. Kitab-kitab itu ditulis bukan untuk orang-orang Kristen di Indonesia, melainkan untuk kalangan atau jemaat tertentu yang sedang mengalami persoalan dan pergolakan dahsyat. Itulah sebabnya terjadi perbedaan kronologi, geografi, nama tokoh cerita, dan bahkan ucapan Yesus.
Meskipun kitab-kitab Injil bukan laporan jurnalistik historis objektif, dalam kisah teologis itu ada jejak sejarah. Contoh, Matius 22:7 𝘔𝘶𝘳𝘬𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘳𝘢𝘫𝘢 𝘪𝘵𝘶. 𝘐𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘱𝘢𝘴𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦 𝘴𝘢𝘯𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘪𝘯𝘢𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩-𝘱𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘬𝘢𝘳 𝘬𝘰𝘵𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢. Dari sini kita dapat menimbang bahwa Injil Matius ditulis sesudah tahun 70 ZB setelah Bait Allah II di Yerusalem diruntuhkan oleh pasukan Romawi. Kota 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 adalah kota orang Yahudi, yakni Yerusalem. Jadi, 𝗬𝗲𝗿𝘂𝘀𝗮𝗹𝗲𝗺 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗼𝘁𝗮 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝗲𝗻, apalagi kota suci.
Hari ini adalah Minggu ketiga sesudah Pentakosta. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Matius 9:35 – 10:8 yang didahului dengan Kejadian 18:1-15, (21:1-7), Mazmur 116:1-2, 12-19, dan Roma 5:1-8.
Bacaan Injil hari ini terdiri atas tiga perikop yang bersambungan. Perikop Matius 9:35-38 diberi judul 𝘉𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘵𝘦𝘳𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 merupakan bagian akhir pasal 9, perikop Matius 10:1-4 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭 𝘬𝘦𝘥𝘶𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘳𝘢𝘴𝘶𝘭 merupakan bagian awal pasal 10, sedang Matius 10:5-8 merupakan bagian awal perikop Matius 10:5-15 yang berjudul 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘵𝘶𝘴 𝘬𝘦𝘥𝘶𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘳𝘢𝘴𝘶𝘭.
𝗠𝗮𝘁𝗶𝘂𝘀 𝟵:𝟯𝟱-𝟯𝟴
Bacaan Injil diawali dengan semacam rangkuman Yesus berkeliling ke semua kota dan desa di Galilea. Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat mereka; Ia mengajar dan memberitakan Injil Kerajaan (𝘵𝘰 𝘦𝘶𝘢𝘯𝘨𝘦𝘭𝘪𝘰𝘯 𝘵𝘦̄𝘴 𝘣𝘢𝘴𝘪𝘭𝘦𝘪𝘢𝘴) serta menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan (Mat. 9:35). Rangkuman ini mirip dengan Matius 4:23.
Dalam TB II 1997 dan TB II 2023 di Matius 9:35 ada kata ganti empunya 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 (𝘢𝘶𝘵𝘰̄𝘯) dalam frase 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩-𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘪𝘣𝘢𝘥𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢. Pengarang Injil Matius hendak menyampaikan bahwa sinagog bukan lagi tempat ibadat jemaat Kristen (Jemaat Matius). Ini merupakan jejak sejarah bahwa Injil Matius ditulis sesudah Bait Allah dihancurkan oleh Romawi pada 70 ZB yang membuat kebencian pemimpin Yahudi terhadap umat Kristen memuncak. Umat Kristen dianggap biang-sial bagi umat Yahudi. Mereka kemudian mengusir dan mengucilkan jemaat Matius termasuk melarang umat Kristen menggunakan sinagog.
𝘔𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢𝘳 dalam frase 𝘐𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢𝘳 diterjemahkan dari kata 𝘥𝘪𝘥𝘢𝘴𝘬o𝘯. NRSV juga menerjemahkannya sama 𝘵𝘦𝘢𝘤𝘩𝘪𝘯𝘨, bukan 𝘱𝘳𝘦𝘢𝘤𝘩𝘪𝘯𝘨 (berkhotbah).
Melihat orang banyak itu Yesus tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan telantar seperti domba yang tidak mempunyai gembala. (Mat. 9:36)
TB II 2023 masih menggunakan kata bahasa Indonesia yang salah 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳. Frase 𝘵𝘦𝘳𝘨𝘦𝘳𝘢𝘬𝘭𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯 menerjemahkan bahasa aslinya yang hanya satu kata 𝘦𝘴𝘱𝘭𝘢𝘯𝘤𝘩𝘯𝘪𝘴𝘵𝘩e. Akar katanya adalah 𝘴𝘱𝘭𝘢𝘯𝘤𝘩𝘯𝘢 yang berarti literal usus atau isi perut, yang oleh orang Yahudi diyakini sebagai pusat emosi. Saya saat stres biasanya mengalami gangguan perut. Bagaimana dengan anda?
Frase 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢𝘪 𝘨𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢 merupakan pemerian yang diilhami dari teks-teks Perjanjian Lama (PL) seperti kitab Bilangan 27:15-17. Gembala di sini adalah metafor pemimpin politik atau keagamaan. Di luar dunia cerita tampaknya jemaat Matius, meskipun mereka mempunyai gembala, tetapi gembala yang dimetaforkan sebagai serigala berbulu domba (lih. Mat. 7:15).
Yesus kemudian berkata kepada murid-murid-Nya, “𝘛𝘶𝘢𝘪𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘱𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘛𝘶𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘶𝘢𝘪𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘐𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘳𝘪𝘮𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢-𝘱𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘵𝘶𝘢𝘪𝘢𝘯.” (Mat. 9:37-38)
Pemerian tuaian atau panen sangat lazim di PL yang kerap dipautkan dengan penghakiman Allah atau eskatologis (lih. Yes. 27:12 dan YL. 4:13). Di PB (dhi. Injil Matius) nasabah 𝘵𝘶𝘢𝘪𝘢𝘯 dan penghakiman Allah akan berlanjut ke Matius 13:36-43. Dalam konteks dua ayat di atas (Mat. 9:37-38) tidak merujuk penghakiman Allah. Penafsiran ini didukung frase 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘐𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘳𝘪𝘮𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢-𝘱𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘵𝘶𝘢𝘪𝘢𝘯. Ayat di atas merujuk orang banyak yang siap sedia menanggapi Injil yang diberitakan Yesus. Namun, pekerja-pekerja tuaian sedikit sehingga Yesus menyuruh murid-murid-Nya meminta kepada Allah, Sang Empunya tuaian, mengirim para pekerja tuaian. Untuk apa? Ya, itu tadi untuk mengurusi 𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢-𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢 𝘭𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘨𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢 tersebut. Kerap terjadi di Gereja yang hanya berpumpun pada berdoa untuk mendapatkan kolekte dan persepuluhan, tetapi lalai berdoa meminta para pekerja untuk mengurusi warga jemaat yang lelah dan telantar.
𝗠𝗮𝘁𝗶𝘂𝘀 𝟭𝟬:𝟭-𝟰
Bacaan berlanjut ke pasal 10. Yesus memanggil ke-12 murid-Nya dan memberi mereka kuasa mengusir roh-roh jahat dan menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan. Inilah nama kedua belas rasul itu: Pertama, Simon yang disebut Petrus dan Adreas saudaranya, lalu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, Filipus dan Bartolomeus, Tomas dan Matius pemungut cukai, Yakobus anak Alfeus dan Tadeus, Simon orang Zelot dan Yudas Iskariot yang mengkhianati Dia. (Mat. 10:1-4)
Inilah untuk kali pertama pengarang Injil Matius menyebut ke-12 murid tiga kali berturut-turut (Mat. 10:1, 2, 5). Angka 12 tentulah berpautan dengan 12 suku Israel. Dua belas murid menyimbolkan 𝘐𝘴𝘳𝘢𝘦𝘭 𝘉𝘢𝘳𝘶. Yesus adalah 𝘔𝘶𝘴𝘢 𝘉𝘢𝘳𝘶. Dalam Injil Matius istilah rasul (𝘢𝘱𝘰𝘴𝘵𝘰𝘭o𝘯) merujuk 12 murid (𝘮𝘢𝘵𝘩e𝘵𝘢𝘴) Yesus.
𝘔𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘬𝘶𝘢𝘴𝘢 di sini Matius hendak menyejajarkan misi ke-12 murid sama dengan misi Yesus. Dalam budaya Yahudi orang kerasukan roh jahat menjadi najis sehingga harus dikucilkan dari komunitas. Yesus memberi ke-12 murid kuasa melakukan eksorsisme agar mereka yang najis menjadi tahir. Juga, Yesus memberi mereka kuasa menyembuhkan segala penyakit dan kelemahan.
Dalam Injil sinoptis Petrus selalu ditempatkan sebagai murid nomor 1. Injil Yohanes berbeda. Petrus adalah murid nomor 3 atau murid gelombang kedua. Murid gelombang pertama adalah Andreas dan tanpa nama. Keduanya adalah (mantan) murid Yohanes Pembaptis. Tampaknya perbedaan ini adalah jejak atau petunjuk bahwa jemaat atau komunitas penulis Injil Yohanes ini dimusuhi dan didera oleh pemimpin-pemimpin Yahudi sehingga menomorduakan Petrus yang teologinya pro-Yahudi di dunia nyata.
Yang menarik adalah pasangan terakhir: Simon orang Zelot dan Yudas Iskariot 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘬𝘩𝘪𝘢𝘯𝘢𝘵𝘪 𝘋𝘪𝘢 (Yesus). Zelot adalah gerakan ultra-nasionalis. Merekalah yang mengobarkan pemberontakan terhadap Pemerintah Roma. Iskariot bukan nama diri Yudas. Diduga nama Iskariot di belakang Yudas ditambahkan atau diberikan oleh jemaat Kristen di masa kemudian. Tampaknya Yudas juga anggota Zelot. Iskariot berpautan dengan kata 𝘈𝘳𝘢𝘮𝘦𝘢 yang berarti si palsu atau penipu. Tampaknya Matius menulis 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘬𝘩𝘪𝘢𝘯𝘢𝘵𝘪 𝘋𝘪𝘢 sebagai penjelasan nama Iskariot. Ada ahli yang menduga Yudas mengkhianati Yesus karena Ia tidak mau mendukung ideologi Zelot.
Perhatikan juga cara Matius menyebut nama-nama murid. Berpasangan dua-dua. Mengapa? Tampaknya Matius suka pada nilai atau angka dua. Ayat-ayat dari Injil Matius di bawah mendukung tafsir ini:
• Anak-anak yang dibunuh Herodes adalah mereka yang berumur 𝗱𝘂𝗮 tahun ke bawah (2:16).
• Murid-murid pertama Yesus adalah 𝗱𝘂𝗮 orang bersaudara (4:18).
• Nelayan yang dipanggil Yesus untuk menjadi murid-Nya adalah 𝗱𝘂𝗮 orang bersaudara juga (4:21).
• Ajaran Yesus: jika ada yang memaksamu berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersamanya sejauh 𝗱𝘂𝗮 mil! (5:41)
• Di Gadara bukan hanya satu orang yang dirasuk setan, melainkan 𝗱𝘂𝗮 orang (8:28).
• Di perjalanan-Nya Yesus menyembuhkan mata 𝗱𝘂𝗮 orang buta (9:27).
• Jika ada suatu perkara, jumlah saksi minimum adalah 𝗱𝘂𝗮 oang (18:16).
• Yesus berjanji akan hadir jika ada minimum 𝗱𝘂𝗮 orang berkumpul dalam nama-Nya (18:20).
• Murid-murid Yesus yang meminta tempat khusus adalah 𝗱𝘂𝗮 orang bersaudara (20:20).
• Ketika keluar dari Yerikho, bukan hanya satu, melainkan 𝗱𝘂𝗮 orang buta yang disembuhkan Yesus (20:34).
• Ada 𝗱𝘂𝗮 murid yang disuruh menemukan 𝗱𝘂𝗮 keledai (21:1).
• Mahkamah Agama bahkan membutuhkan kesaksian palsu yang konsisten minimum dari 𝗱𝘂𝗮 orang saksi (26:60).
• Yesus disalib bersama dengan 𝗱𝘂𝗮 orang penyamun (27:38).
𝗠𝗮𝘁𝗶𝘂𝘀 𝟭𝟬:𝟱-𝟴
Ke-12 murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka, “𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘪𝘮𝘱𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘴𝘢 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘰𝘵𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘚𝘢𝘮𝘢𝘳𝘪𝘢, 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢-𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘶𝘮𝘢𝘵 𝘐𝘴𝘳𝘢𝘦𝘭.” (Mat. 10:5-6)
Mengapa dilarang ke Samaria? Bukankah Injil untuk segala bangsa seperti di Matius 28:16-20?
Pada mulanya umat Kristen (dhi. Jemaat Matius) dari kalangan Yahudi. Matius 10:5 adalah jejak sejarah. Umat Kristen hidup rukun dengan orang Yahudi dan bersama-sama beribadah di sinagog. Pembedanya adalah umat Kristen mengakui Yesus sebagai Kristus atau Mesias. Pada tahun 70 ZB Jenderal Titus menghancurkan Bait Allah di Yerusalem dan memadamkan pemberontakan yang dikobarkan oleh kaum Zelot. Bagi bangsa Yahudi kehancuran Bait Allah adalah akhir zaman. Mereka terguncang. Kaum Farisi, yang sejak semula menolak Yesus, mengambil alih kepemimpinan agama Yahudi. Mereka menekankan Taurat dan tradisi leluhur sebagai satu-satunya penangkal malapetaka. Umat Kristen diusir dari masyarakat Yahudi dan dikucilkan. Untuk itulah Injil Matius ditulis. Banting stir! Pengarang Injil Matius membimbing jemaatnya dari kalangan Yahudi bahwa Injil bukan untuk orang-orang Yahudi saja, melainkan untuk segala bangsa. Pembuka dan penutup Injil Matius menyingkap itu. Matius membuka Injil dengan kelahiran Yesus yang ditolak oleh Raja Herodes, tetapi diterima oleh orang-orang Majus, bangsa lain. Injil Matius diakhiri dengan perintah Yesus memberitakan Injil kepada segala bangsa.
Yesus melanjutkan, “𝘗𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩: 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘨𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵. 𝘚𝘦𝘮𝘣𝘶𝘩𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵, 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘵𝘪, 𝘵𝘢𝘩𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘬𝘶𝘭𝘪𝘵, 𝘶𝘴𝘪𝘳𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘵𝘢𝘯-𝘴𝘦𝘵𝘢𝘯. 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘳𝘰𝘭𝘦𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘮𝘢-𝘤𝘶𝘮𝘢, 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘶𝘭𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘮𝘢-𝘤𝘶𝘮𝘢.” (Mat. 10:7-8)
Kerajaan Surga atau Kerajaan Allah merupakan pusat misi dan berita yang disampaikan oleh Yesus. Dalam PB Yesus sering menjelaskan pengertian Kerajaan Surga melalui perumpamaan-perumpamaan. Hal itu menunjukkan bahwa pengertian Kerajaan Surga sebagai suatu kenyataan baru yang datang dari Allah, yang sukar diperikan dengan kata-kata. Bahkan semua perumpamaan masih belum dapat mencakup seluruh pengertian Kerajaan Surga. Contoh, Kerajaan Surga itu 𝘴𝘦𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢 𝘳𝘢𝘨𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢𝘥𝘶𝘬 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘵𝘦𝘱𝘶𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘨𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 40 𝘭𝘪𝘵𝘦𝘳 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘭𝘶𝘳𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 (Mat. 13:33, TB II 2023). Dalam Alkitab LAI versi BIS dikatakan 𝘈𝘱𝘢𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩, 𝘬𝘦𝘢𝘥𝘢𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘳𝘢𝘨𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘥𝘪𝘢𝘥𝘶𝘬 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩 𝘭𝘪𝘵𝘦𝘳 𝘵𝘦𝘱𝘶𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘨𝘶 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢! Ragi merupakan metafora untuk kenajisan dan kecemaran untuk sesuatu yang marginal di dalam masyarakat yang terklasifikasikan menurut sistem Yudaisme (lih. Kel. 12:19 “…𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘨𝘪, 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘭𝘦𝘯𝘺𝘢𝘱𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘫𝘦𝘮𝘢𝘢𝘩 𝘐𝘴𝘳𝘢𝘦𝘭,...”). Kalau Yesus mengatakan bahwa 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘨𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢 𝘳𝘢𝘨𝘪 itu berarti kekuasaan dan pemerintahan Allah tidak lagi berada di Bait Allah dengan sistem kurbannya yang dijalankan oleh lembaga imamat dari kalangan elitis imam, tetapi berada di antara kalangan yang dalam sistem puritas Yahudi tergolong marginal dan najis. Memberitakan Kerajaan Surga berarti kekuasaan dan pemerintahan Allah tidak lagi berada di Gereja dengan sistem pemerintahannya yang dikuasai kaum elitis pendeta, penatua, rama, dslb., tetapi berada di antara kalangan marginal dan najis yang setiap hari merintih atas ketidakadilan penguasa dalam mengadministrasi keadilan sosial. Memberitakan Kerajaan Surga berarti mengusir roh-roh jahat yang merasuki elitis pejabat gerejawi yang sudah 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘭𝘦𝘵 memamerkan klaim kuasa ilahi yang ada pada dirinya. Memberitakan Kerajaan Surga berarti juga membuat elitis pejabat gerejawi peka bahwa umat dan masyarakat tidak membutuhkan gatra rohaniah saja, tetapi juga badaniah seperti makan, minum, kesehatan, keamanan, dlsb.
Di ayat 8 Yesus menekankan, “𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘳𝘰𝘭𝘦𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘮𝘢-𝘤𝘶𝘮𝘢, 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘶𝘭𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘮𝘢-𝘤𝘶𝘮𝘢.” Apa yang diperoleh dengan gratis? Kuasa menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, menahirkan orang-orang yang sakit kulit, dan mengusir setan-setan. Dalam menggunakan kuasa itu para murid dilarang 𝘯𝘢𝘯𝘥𝘶𝘬 atau memasang tarif. Harus gratis juga! Para pejabat negara yang diberi kuasa menyelenggarakan negara harusnya memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan gratis. Para pejabat itu sudah diberi gaji dan fasilitas sehingga tidak ada alasan bagi mereka mengambil yang menjadi hak masyarakat. Para pejabat gereja pun juga begitu. Mereka yang diberi kuasa menyembuhkan, kuasa berkhotbah, tidak layak mengejar honor, kolekte, dan persepuluhan. Yang menyedihkan lagi cukup banyak pejabat gereja, yang digaji oleh jemaat, malas belajar, enggan mengembangkan diri (kecuali mengembangkan badan) sehingga pengajaran mereka tidak bermutu, tidak mencerdaskan jemaat.
(08062026)(TUS)