Penyangkalan diri (self-denial) sering kali menjadi komoditas kesalehan yang tampak memikat di mimbar, namun rawan terjebak dalam jebakan narsisme rohani. Kehidupan spiritual yang sejati menuntut pemisahan yang tegas antara penyembahan diri yang terselubung (performa religius) dan penundukan diri yang otentik demi melakukan kehendak ilahi. Ketika fokus sebuah tindakan bergeser dari esensi kasih kepada kemegahan tindakan itu sendiri, nilai rohaninya seketika rontok.
Untuk memahami kontras ini, kita perlu membedakan dua konsep fundamental dalam bahasa Yunani Perjanjian Baru:
Penyangkalan Diri (Aparneomai): kata ini digunakan Yesus dalam Matius 16:24. Akar kata aponeomai berarti "menolak untuk mengakui berhubungan dengan" atau "melepaskan hak sepenuhnya". Ini bukan sekadar memotong kenyamanan lahiriah, melainkan sebuah tindakan radikal di mana ego seseorang diturunkan dari takhta kehidupan agar Kristus yang bertakhta.
Kasih (Agape): kasih yang dimaksud di sini bukanlah kasih yang berbasis emosi (phileo) atau ketertarikan, melainkan kasih yang bersumber dari keputusan kehendak yang murni untuk memberi diri demi kebaikan orang lain tanpa mengharapkan keuntungan kembali. Agape tidak mencari panggung; ia mengosongkan diri.
Jika aparneomai dipisahkan dari agape, yang tersisa hanyalah legalisme teatrikal, sebuah sandiwara rohani demi validasi publik.
Rasul Paulus memberikan alarm yang sangat keras mengenai bahaya pelayanan yang terlihat spektakuler secara lahiriah namun kosong secara substansi di dalam 1 Korintus 13:3:
"Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku."
Teks ini menegaskan bahwa kuantitas pengorbanan (bahkan yang ekstrem sekalipun, seperti menyerahkan tubuh) sama sekali tidak bernilai di mata Tuhan jika penggerak utamanya (driving force) bukan kasih, melainkan pencarian signifikasi diri atau pengakuan moral.
Mari kita bedah fenomena atau anomali seorang hamba Tuhan yang menggunakan dirinya sendiri sebagai contoh di mimbar, menyatakan bahwa ia melayani tanpa imbalan demi meneladani Yesus.
1. Paradoks "kerendahan hati yang dipamerkan"
Ketika seorang pelayan Tuhan secara publik mengafirmasi bahwa dirinya sudah berkorban dalam pelayanan untuk menunjukkan bahwa ia meneladani Kristus, terjadi sebuah kontradiksi internal yang halus. Kristus meneladani pengosongan diri (kenosis) secara absolut dalam Filipi 2:7. Ketika kenosis itu diceritakan sendiri oleh sang pelayan sebagai bukti kesalehannya, tindakan tersebut berisiko berubah menjadi alat legitimasi moral untuk membangun reputasi sebagai hamba Tuhan yang suci.
2. Bahaya motivasi tersembunyi narsistik dalam homiletika
Meskipun tujuannya mungkin untuk memberikan ilustrasi konkret, menggunakan diri sendiri sebagai standar pelayanan tanpa pamrih rawan mengaburkan obyek utama khotbah. Jemaat seharusnya dibawa untuk mengagumi Kristus, namun secara psikologis-rohani justru digiring untuk mengagumi sang pengkhotbah. Di sini, pengorbanan (baik materi, waktu dll) ditukar secara tidak sadar dengan imbalan ego berupa pujian, rasa hormat, dan label hamba Tuhan yang tulus.
3. Kasih yang tersembunyi vs. tindakan yang dipertontonkan
Keindahan dari sebuah pelayanan tidak terletak pada label tulus/ gratis atau tanpa imbalan yang disandangnya, melainkan pada keheningan agape yang bekerja di baliknya. Sesuatu yang indah di hadapan Tuhan sering kali adalah apa yang dilakukan tanpa perlu diketahui oleh tangan kiri ketika tangan kanan memberi seperti pesan dalam Matius 6:3.
Pelayanan dengan pengorbanan adalah hal yang mulia, namun ia hanya menjadi sejati jika motivasi terdalamnya murni didorong oleh kasih kepada Tuhan dan sesama, bukan diolah menjadi narasi mimbar yang mempertegas eksistensi kehebatan diri. GEREJA JUGA PERLU MENYANGKAL DIRI KETIKA UANG GEREJA HABIS UNTUK PROGRAM-PROGRAM YANG TIDAK BERGUNA, ATAU BAHKAN MALAH GEREJA JADI TEMPAT MEMBENTUK KOMUNITAS SEKEDAR UNTUK KUMPUL DAN DOLAN ATAU MAEN BARENG (RELEVANKAH ALKITAB BAGI PENGHUNI GEREJA) Setiap gereja membutuhkan program. Melalui program, gereja dapat membangun persekutuan, melakukan pemuridan, menjangkau masyarakat yang kekurangan di sekitar gereja, dan melayani berbagai kebutuhan jemaat yang kekurangan. Karena itu, masalahnya bukan pada ada atau tidak adanya program. Namun yang perlu direnungkan adalah: apakah semua program yang dibuat benar-benar mendukung misi gereja untuk bersaksi, bersekutu dan melayani? Tidak sedikit gereja yang menghabiskan banyak tenaga, waktu, dan dana untuk berbagai kegiatan. Kalender penuh. Acara silih berganti. Panitia bekerja keras. Anggaran terus dikeluarkan. Tetapi setelah semuanya selesai, muncul pertanyaan yang penting: apa dampaknya?
Apakah jemaat semakin bertumbuh?
Apakah lebih banyak jiwa dijangkau? (dalam artian banyak orang makin kenal teladan Kristus lewat gereja)
Apakah pelayanan menjadi lebih efektif? Apakah jemaat kekurangan diringankan?
Apakah masyarakat sekitar merasakan kehadiran gereja?
Ataukah program tersebut hanya menjadi rutinitas yang terus diulang karena "memang dari dulu begitu"? Terkadang gereja bisa terjebak dalam kesibukan yang tidak menghasilkan banyak buah. Dana terus dikeluarkan, tetapi manfaatnya sangat sedikit. Energi terkuras, tetapi tujuan utama gereja semakin kabur. Tentu tidak semua hasil pelayanan dapat diukur dengan angka. Ada banyak pelayanan yang dampaknya baru terlihat dalam jangka panjang. Namun bukan berarti gereja tidak perlu mengevaluasi penggunaan sumber daya yang Tuhan percayakan. Uang gereja bukanlah milik pengurus, pendeta, majelis atau panitia. Itu adalah berkat yang dipercayakan Tuhan melalui jemaat untuk mendukung pekerjaan-Nya. Karena itu, setiap rupiah seharusnya digunakan dengan penuh tanggung jawab, hikmat, dan pertimbangan yang matang.
Sebuah program mungkin meriah, tetapi belum tentu bermanfaat. Sebuah kegiatan mungkin ramai, tetapi belum tentu menghasilkan pertumbuhan rohani. Sebuah acara mungkin menghabiskan anggaran besar, tetapi belum tentu mendukung misi gereja.
Karena itu, gereja perlu berani mengevaluasi dirinya. Bukan sekadar bertanya, "Apakah program ini berhasil dilaksanakan?" tetapi juga, "Apakah program ini sungguh diperlukan? Apakah program ini membawa jemaat semakin dekat kepada Tuhan? Apakah program ini mendukung panggilan gereja?"
Bukan berarti gereja harus menghentikan semua kegiatan. Bukan pula berarti segala sesuatu harus diukur dengan keuntungan.
Namun gereja dipanggil untuk menjadi pengelola yang setia atas setiap berkat yang Tuhan percayakan.
Sebab pada akhirnya, yang Tuhan cari bukanlah gereja yang paling sibuk atau paling banyak program, melainkan gereja yang setia menggunakan setiap sumber daya untuk tujuan yang memuliakan-Nya.
"Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai." (1 Korintus 4:2)