PENGANTAR
Dalam Alkitab baik dari kitab kejadian sampai Wahyu kepada Yohanes mengandung konsep-konseo tentang Allah dari bangsa Israel Kuno sampai Yudaisme bahkan sampai gereja masa Rasul sampai saat ini. Sastra Ibrani kuno yg berbentuk prosa dan puisi di PL, di PB utamanya Injil berubah menjadi pengajaran metafora atau perumpamaan oleh Yesus. Salah satu contoh konsep Allah yg ada di Alkitab diungkap secara sastra Ibrani kuno berbentuk prosa dan puisi ternyata memiliki kaitan atau lebih tepat kemiripan pemikiran atau nalar dengan konsep Allah dalam perumpamaan lalang gandum oleh Yesus di Injil.
Dalam Kitab Ayub, struktur naratifnya berbentuk puisi hikmat (Ḽokmah) yang menampilkan dialog antara Ayub, sahabat-sahabatnya, dan Allah, ini diapit oleh prosa di awal dan prosa di akhir. Dalam sastra Ibrani kuno prosa biasanya mengandung konsep polemiknya, sedangkan puisi mengandung konsep memahami polemik tsb, yah .... bisa disebut jembatan nalarnya. Bahasa Ibrani yang digunakan menonjolkan diksi hukum dan pengadilan, seperti kata mishpat (keadilan) dan tsedeq (kebenaran). Dalam konteks ini, Allah digambarkan sebagai hakim tertinggi yang memegang kendali penuh atas ciptaan-Nya (Ayub 1:6–12). Sementara itu, dalam perumpamaan lalang dan gandum (Matius 13:24–30), Yesus menggunakan metafora agraris yang sangat dikenal dalam budaya Yahudi. Pemilik ladang (ho despotes tou agrou) menggambarkan figur otoritatif yang memiliki kuasa penuh atas ladangnya, sama seperti Allah dalam Kitab Ayub yang berdaulat atas dunia dan kehidupan manusia. Beberapa penelitian seperti yang dilakukan oleh John Walton (The Lost World of the Israelite Wisdom Literature, 2019) menunjukkan bahwa teks-teks hikmat seperti Ayub sering kali berfungsi untuk menegaskan keteraturan kosmis di bawah kedaulatan Allah, bukan untuk menjelaskan penderitaan secara moralistik. Hal ini sejalan dengan perumpamaan Yesus yang menekankan bahwa pemisahan antara lalang dan gandum adalah hak prerogatif pemilik ladang, bukan pekerja.
Dalam Ayub 1:6, disebutkan adanya “anak-anak Allah” (bene ha’elohim) yang datang menghadap Tuhan, menggambarkan sidang ilahi (divine council)—sebuah konsep umum dalam sastra Timur Dekat kuno, di mana Allah sebagai Raja semesta memimpin dewan surgawi. Dalam konteks ini, Iblis berperan sebagai “penuduh” (ha-satan), bukan entitas yang setara dengan Allah, melainkan bagian dari struktur ilahi yang diizinkan untuk menguji manusia. Iblis tunduk pada kehendak Allah. Keterkaitan dengan perumpamaan lalang dan gandum muncul dalam peran “penabur lalang” yang melambangkan kejahatan yang diizinkan tumbuh sementara di tengah dunia yang diciptakan Allah. Seperti dalam Ayub, Allah tidak langsung melenyapkan kejahatan, tetapi menundukkannya dalam rencana yang lebih besar untuk memurnikan iman manusia. Penelitian oleh Michael Heiser (The Unseen Realm, 2015) mendukung pandangan bahwa konsep sidang ilahi dalam Ayub menunjukkan struktur otoritas surgawi yang paralel dengan penggambaran pemilik ladang dan para pekerjanya dalam perumpamaan Yesus. Kedua teks menegaskan kedaulatan Allah dan ketidakterbatasan hikmat-Nya. Dalam Ayub, penderitaan bukan hukuman, melainkan sarana pendidikan rohani. Dalam perumpamaan lalang dan gandum, penundaan penghakiman menunjukkan kesabaran dan kebijaksanaan Allah agar tidak ada yang binasa sebelum waktunya, pendidikan juga. Keduanya mengajarkan bahwa keadilan Allah tidak selalu tampak segera, ini pendidikan, untuk bersekendak dg Allah, bukan kehendakku tetapi kehendak Allah lah yg jadi, pengakuan akan kemahakuasaan Allah, tetapi akan dinyatakan pada waktu yang ditetapkan-Nya. Dalam konteks kekinian, hal ini mengajarkan umat percaya untuk tetap setia dan sabar dalam penderitaan, karena Allah bekerja di balik segala sesuatu untuk kebaikan (Roma 8:28).
Roma 8:28 (TB):
"Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah."
Ayat ini menegaskan prinsip teologis bahwa Allah berdaulat dan aktif mengatur segala peristiwa—termasuk penderitaan—untuk tujuan kebaikan rohani. Dalam Kitab Ayub, penderitaan Ayub bukan akibat dosa, melainkan bagian dari rencana ilahi untuk memurnikan iman (Ayub 1:6–12; 42:5–6). Sedangkan dalam Matius 13:24–30, perumpamaan tentang lalang dan gandum menggambarkan bahwa Allah mengizinkan kejahatan dan penderitaan sementara waktu, karena Ia memiliki rencana akhir yang sempurna untuk memisahkan dan memulihkan. Keterkaitan ketiga teks ini terletak pada tema providensia dan kedaulatan Allah bahwa segala sesuatu, baik penderitaan maupun kejahatan, berada dalam kendali Allah dan diarahkan menuju kebaikan akhir bagi umat-Nya. Secara sastra, Roma 8:28 menggunakan struktur sintaksis Yunani yang menekankan partisipasi aktif Allah (synergei ho theos “Allah turut bekerja bersama”). Ini menunjukkan bahwa Allah tidak pasif, melainkan terlibat langsung dalam proses kehidupan manusia. Dalam Kitab Ayub, bahasa Ibrani yang digunakan menonjolkan diksi hukum dan pengadilan (mishpat, tsedeq), menegaskan bahwa Allah adalah hakim yang adil dan berdaulat. Sedangkan dalam Matius 13, Yesus memakai gaya naratif agraris khas budaya Yahudi, dengan simbol “pemilik ladang” sebagai representasi Allah yang berkuasa penuh atas ciptaan-Nya. Penelitian oleh John Walton (The Lost World of the Israelite Wisdom Literature, 2019) menegaskan bahwa sastra hikmat seperti Ayub menyoroti keteraturan kosmis di bawah kedaulatan Allah, bukan sekadar menjelaskan penderitaan moral. Ini sejalan dengan Roma 8:28 yang menekankan keterlibatan Allah dalam seluruh aspek kehidupan. Dalam budaya Yahudi kuno, penderitaan sering dipahami sebagai konsekuensi moral. Namun, baik Ayub maupun Roma 8:28 menantang pandangan ini dengan menegaskan bahwa penderitaan dapat menjadi sarana pendidikan rohani. Michael Heiser (The Unseen Realm, 2015) menjelaskan bahwa konsep “sidang ilahi” dalam Ayub 1:6 menunjukkan bahwa Allah mengatur segala sesuatu melalui struktur surgawi, tetapi tetap memegang otoritas tertinggi. Hal ini paralel dengan pemilik ladang dalam Matius 13 yang menunda penghakiman demi keselamatan gandum—sebuah tindakan yang mencerminkan kebijaksanaan dan kesabaran Allah. Ketiga teks ini mengajarkan bahwa:
- Allah berdaulat atas penderitaan dan kejahatan.
- Penderitaan bukan akhir, melainkan bagian dari proses menuju kebaikan yang lebih besar.
- Hikmat Allah melampaui pemahaman manusia.
Dalam konteks masa kini, Roma 8:28 menjadi dasar penghiburan bagi orang percaya yang mengalami penderitaan, sebagaimana Ayub tetap setia di tengah ujian, dan sebagaimana pemilik ladang dalam Matius 13 menunda penghakiman demi keselamatan. Penelitian oleh N.T. Wright (Paul and the Faithfulness of God, 2013) menegaskan bahwa Roma 8:28 adalah puncak teologi Paulus tentang rekonsiliasi kosmis—bahwa Allah sedang menata ulang ciptaan menuju pemulihan akhir, sebagaimana ladang dalam perumpamaan Yesus akan dipisahkan dan dimurnikan pada waktu panen.
Allah bekerja dalam segala hal, bahkan penderitaan, untuk kebaikan umat-Nya. Kesabaran dan iman diperlukan untuk melihat rencana Allah yang lebih besar. Keadilan Allah tidak selalu tampak segera, tetapi pasti dinyatakan pada waktunya. Penderitaan dapat menjadi sarana pemurnian iman, bukan hukuman. Keterkaitan Roma 8:28, Kitab Ayub, dan Matius 13:24–30 terletak pada satu benang merah teologis: kedaulatan dan hikmat Allah yang bekerja melalui penderitaan untuk menghasilkan kebaikan dan kemuliaan-Nya. Baik Ayub yang diuji, ladang yang menunggu panen, maupun orang percaya yang menderita, semuanya berada dalam tangan Allah yang berdaulat dan penuh kasih.
Pesannya jelas di Alkitab:
- Allah berdaulat penuh atas ciptaan dan sejarah manusia.
- Penderitaan dapat menjadi sarana pemurnian iman, bukan sekadar hukuman.
- Keadilan Allah bersifat progresif dan akan dinyatakan pada waktu yang tepat.
- Manusia dipanggil untuk mempercayai hikmat Allah, bukan menilai berdasarkan pandangan terbatas.
Dengan demikian, baik kisah Ayub maupun perumpamaan lalang dan gandum menegaskan satu pesan utama: Allah adalah pemilik dan pengatur segala sesuatu, dan penderitaan yang diizinkan-Nya memiliki tujuan ilahi untuk mendidik dan memurnikan iman manusia.
(16072026)(TUS)