Minggu, 23 Agustus 2026

Banyak orang gandrung kepada ๐—ฃรจ๐˜€๐˜๐—ฒ๐—ฟ ๐—ฃ๐—ต๐—ถ๐—น๐—ถ๐—ฝ ๐— ๐—ฎ๐—ป๐˜๐—ผ๐—ณ๐—ฎ. Kata mereka, Mantofa pengkhotbah yang bagus dan cerdas.

Saya tidak tahu Mantofa. Saya penasaran seberapa cerdas ia dalam berkhotbah, lalu saya ambil secara acak khotbahnya yang teksnya dari Injil. Sumber video https://www.youtube.com/watch?v=gUB1_68o_No 

Dari sini kita bisa melihat bagaimana Lukas 9:28-36 dirudapaksa oleh Mantofa menjadi khotbah tentang doa.

1️⃣ ๐— ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ฝ๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—ป๐—ด ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—ฟ: ๐˜๐—ฒ๐—ธ๐˜€๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐˜๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐˜€๐—ณ๐—ถ๐—ด๐˜‚๐—ฟ๐—ฎ๐˜€๐—ถ, ๐—ธ๐—ต๐—ผ๐˜๐—ฏ๐—ฎ๐—ต๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐˜๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฑ๐—ผ๐—ฎ

Kalau membaca teks Injil Lukas, pertanyaan pertama bukan: “Apa yang bisa kita katakan tentang doa dari ayat ini?”, tetapi “Apa yang sedang hendak dikatakan Lukas melalui kisah transfigurasi ini?”

Struktur Lukas 9 sangat terang: ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ธ๐˜‚๐—ฎ๐—ป ๐—ฃ๐—ฒ๐˜๐—ฟ๐˜‚๐˜€ → ๐—ฝ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐˜๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ฎ๐—ป ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐˜๐—ฎ๐—ฎ๐—ป → ๐˜€๐˜†๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐˜ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ถ๐—ธ๐˜‚๐˜ ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€ → ๐—ธ๐—ฒ๐—ฑ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ง๐˜‚๐—ต๐—ฎ๐—ป → ๐˜๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐˜€๐—ณ๐—ถ๐—ด๐˜‚๐—ฟ๐—ฎ๐˜€๐—ถ → ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐˜†๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐˜‚๐—ต๐—ฎ๐—ป ๐—ฎ๐—ป๐—ฎ๐—ธ.

Artinya, transfigurasi bukan episode yang berdiri sendiri. Ia berada tepat setelah Yesus memberitahukan penderitaan dan kematian-Nya, lalu berbicara mengenai tuntutan mengikuti-Nya.
Di dalam transfigurasi itu sendiri Lukas memberi penekanan yang sangat spesifik: Musa dan Elia berbicara dengan Yesus ๐˜๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜๐˜‚๐—ท๐˜‚๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฒ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—ด๐—ถ๐—ฎ๐—ป-๐—ก๐˜†๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ถ๐—ด๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ฝ๐—ถ-๐—ก๐˜†๐—ฎ ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฌ๐—ฒ๐—ฟ๐˜‚๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ฒ๐—บ.

Mantofa sebenarnya membaca kalimat itu. Bahkan ia mengatakannya sebagai “bukti” bahwa Yesus sedang “di-๐˜ฃ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฆ๐˜ง๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ tentang kematian-Nya.” Namun, sesudah melihat itu, Mantofa tetap menyimpulkan: “Ini adalah cerita tentang doa bukan tentang Musa dan Elia saja. Bukan hanya Yesus beralih-rupa.” Nah, di sinilah masalah hermeneutisnya.

Bukan berarti doa tidak ada dalam teks. Doa memang ada. Yesus naik ke gunung untuk berdoa, dan transfigurasi terjadi ketika Ia sedang berdoa. Namun, keberadaan doa sebagai latar tidak otomatis menjadikan doa sebagai tema utama perikop. Itu dua hal berbeda.

2️⃣ ๐— ๐—ฎ๐—ป๐˜๐—ผ๐—ณ๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ธ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—น๐—ผ๐—บ๐—ฝ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ “๐—ธ๐—ฒ๐˜๐—ถ๐—ธ๐—ฎ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฑ๐—ผ๐—ฎ” ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ “๐—ฑ๐—ผ๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ต๐—ฎ๐˜€๐—ถ๐—น๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐˜€๐—ณ๐—ถ๐—ด๐˜‚๐—ฟ๐—ฎ๐˜€๐—ถ”

Perhatikan alur argumentasi Mantofa: “Ketika Ia sedang berdoa, rupa wajahnya berubah...”, lalu Mantofa: “Doa itu ya yang pertama-tama diubahkan oleh doa itu adalah pendoanya.” 

Secara homiletis ini enak. Bahkan bagus sebagai motivasi doa. Tapiii ๐˜€๐—ฒ๐—ฐ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ ๐—ฒ๐—ธ๐˜€๐—ฒ๐—ด๐—ฒ๐˜๐—ถ๐˜€ ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐—บ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ฏ๐—ฒ๐˜€๐—ฎ๐—ฟ.

▶️ ๐—Ÿ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐˜€ ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป: Yesus berdoa → doa mengubah Yesus → maka wajah Yesus berubah.
▶️ ๐—ฌ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฑ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—Ÿ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐˜€ adalah bahwa ketika Yesus sedang berdoa, ๐—ฟ๐˜‚๐—ฝ๐—ฎ ๐˜„๐—ฎ๐—ท๐—ฎ๐—ต-๐—ก๐˜†๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—น๐—ฎ๐—ถ๐—ป ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฝ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ถ๐—ฎ๐—ป-๐—ก๐˜†๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฝ๐˜‚๐˜๐—ถ๐—ต ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ธ๐—ถ๐—น๐—ฎ๐˜‚-๐—ธ๐—ถ๐—น๐—ฎ๐˜‚๐—ฎ๐—ป.

Di sini petulis Injil Lukas sengaja memilih ๐—ฟ๐˜‚๐—บ๐˜‚๐˜€๐—ฎ๐—ป ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฑ๐—ฎ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐— ๐—ฎ๐—ฟ๐—ธ๐˜‚๐˜€. Lukas tidak menggunakan ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฑ๐˜ฉล๐˜ต๐˜ฉฤ“, tetapi ๐˜ต๐˜ฐ ๐˜ฆ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ด ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ดล๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ถ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ถ rupa wajah-Nya menjadi lain. Yang hendak diperlihatkan Lukas adalah penampakan Yesus dalam kemuliaan surgawi, ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป sebuah teori mengenai efek doa terhadap pendoa.

Lebih penting lagi kalau “doa mengubah pendoa” menjadi pesan utama, maka persoalan teologis segera muncul: ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฑ๐—ผ๐˜€๐—ฎ ๐—ถ๐˜๐˜‚ ๐—ฑ๐—ถ๐˜‚๐—ฏ๐—ฎ๐—ต ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ?

Mantofa sendiri sadar akan masalah ini: “Yesus tidak berdosa. Beda sama kita. Kita orang berdosa butuh doa... Tapi Yesus itu suci.” 

Namun masalahnya tidak selesai. Justru pertanyaan itu memerlihatkan bahwa tesis “doa pertama-tama mengubah pendoa” ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—น๐—ฎ๐—ต๐—ถ๐—ฟ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ธ๐—ฒ๐—ฏ๐˜‚๐˜๐˜‚๐—ต๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฒ๐—ธ๐˜€. Ia lahir dari kebutuhan khotbah. Tema dirudapaksa masuk ke dalam teks.

3️⃣ ๐—ฌ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—น๐—ฒ๐—ฏ๐—ถ๐—ต ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—บ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต: “๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ธ๐—ฎ๐˜ ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—น๐—ฒ๐˜„๐—ฎ๐˜ ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ ๐—บ๐˜‚๐—ฟ๐—ถ๐—ฑ ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ถ๐—น๐—ถ๐—ต ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐˜‚๐—ฟ”

Mantofa berkata sejak awal: “Kenapa ada berkat terlewat? Karena murid-murid Yesus pilih tidur daripada berdoa.”  Tesis itu kemudian terus dibangun: mereka tidur → tidak berdoa → tidak menangkap perkara Allah → kemudian melakukan kekonyolan-kekonyolan.

Padahal Lukas hanya mengatakan: “Petrus dan teman-temannya telah tertidur.” Tidak ada kalimat:
mereka memilih tidur daripada berdoa. Tidak ada pula: mereka sebenarnya disuruh berdoa tetapi sengaja memilih tidur. ๐™๐™๐™š ๐™จ๐™ฉ๐™ค๐™ง๐™ฎ ๐™™๐™ž๐™™๐™ฃ’๐™ฉ ๐™ฉ๐™š๐™ก๐™ก ๐™จ๐™ค.

Memang bisa saja orang mengembangkan aplikasi dari tidur para murid, tetapi tidak boleh mengubah kemungkinan aplikasi menjadi makna yang didaku berasal dari teks.

Ada ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ช๐˜ญ yang malah merusak argumentasi Mantofa. Murid-murid itu tertidur ketika Yesus sedang berdoa. Ketika mereka bangun, mereka melihat Yesus dalam kemuliaan dan Musa-Elia.

Di sini kita tidak mempunyai dasar tekstual untuk mengatakan: “Mereka melewatkan transfigurasi karena tidak berdoa.” ๐—๐˜‚๐˜€๐˜๐—ฟ๐˜‚ ๐—Ÿ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐˜€ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ ๐—ฏ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐˜‚๐—ป ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐—ฒ๐—น๐—ถ๐—ต๐—ฎ๐˜.

4️⃣ ๐—Ÿ๐—ฒ๐—ฏ๐—ถ๐—ต ๐—ณ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—น ๐—น๐—ฎ๐—ด๐—ถ: “๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ธ๐—ฎ๐˜ ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—น๐—ฒ๐˜„๐—ฎ๐˜” ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ ๐—ฐ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐˜๐—ฎ

Apa “berkat” yang terlewat? Mantofa mengatakan mereka melewatkan sesuatu karena tidur, tetapi teks tidak mengatakan mereka kehilangan berkat tertentu. Sekali lagi, ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ด๐˜ต๐˜ฐ๐˜ณ๐˜บ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ฏ’๐˜ต ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ญ ๐˜ด๐˜ฐ.

Mereka memang tidak menyaksikan seluruh proses percakapan Musa-Elia dengan Yesus. Akan tetapi Lukas tidak menyebut itu sebagai kerugian spiritual akibat kurang berdoa. Bahkan setelah mereka bangun, mereka melihat: Yesus dalam kemuliaan, Musa, Elia, lalu awan, lalu suara Allah. Sesudah suara itu, Yesus tinggal seorang diri. Itulah adegan yang kemudian menjadi sangat penting.
Jadi, pusat kisah dalam teks bukan: “Jangan sampai kita tertidur ketika Allah sedang memberkati.”, melainkan: “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia.”

5️⃣ ๐—œ๐—ฟ๐—ผ๐—ป๐—ถ๐˜€๐—ป๐˜†๐—ฎ: ๐— ๐—ฎ๐—ป๐˜๐—ผ๐—ณ๐—ฎ ๐˜€๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ถ๐—ฟ๐—ถ ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฐ๐—ฎ ๐—ธ๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐˜ “๐——๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ฟ๐—ธ๐—ฎ๐—ป๐—น๐—ฎ๐—ต ๐——๐—ถ๐—ฎ”, ๐˜๐—ฒ๐˜๐—ฎ๐—ฝ๐—ถ ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ถ๐—ฎ๐—ฟ๐—ธ๐—ฎ๐—ป๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ต๐—ผ๐˜๐—ฏ๐—ฎ๐—ต

Suara Allah merupakan klimaks teologis kisah transfigurasi. 
▶️ Allah tidak berkata: “Berdoalah lebih rajin.”
▶️ Allah tidak berkata: “Jangan tidur ketika Aku sedang bekerja.”
▶️ Allah juga tidak menjawab usulan Petrus: “Ide kemahmu bagus.”
▶️ Allah berkata: “๐—œ๐—ป๐—ถ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—”๐—ป๐—ฎ๐—ธ-๐—ž๐˜‚ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ž๐˜‚๐—ฝ๐—ถ๐—น๐—ถ๐—ต, ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ฟ๐—ธ๐—ฎ๐—ป๐—น๐—ฎ๐—ต ๐——๐—ถ๐—ฎ!”

Ada tiga implikasi yang sangat kuat: (1) Hanya Yesus yang dipilih. (2) Petrus harus mendengarkan Yesus, bukan Yesus mendengarkan Petrus. (3) Usulan Petrus mengenai kemah tidak relevan. 

Nah, Mantofa sebenarnya menyentuh bagian ini dengan sangat baik: “Enggak ada Tuhan enggak gubris. Dia langsung berkata... ‘Dengarkanlah dia.’” Akan tetapi setelah itu Mantofa kembali ke: “Efeknya berdoa dan efeknya tidak berdoa.” Ada perebutan pusat gravitasi. 
▶️ Teks menaruh pusat gravitasi pada Yesus. 
▶️ Khotbah memindahkannya kepada orang yang berdoa.

6️⃣ ๐— ๐—ฒ๐—ป๐˜†๐—ผ๐—ฎ๐—น ๐—ฃ๐—ฒ๐˜๐—ฟ๐˜‚๐˜€

Mantofa mengatakan tentang tanggapan Tuhan terhadap usulan Petrus: “Enggak ada itu dalam suara itu. Terima kasih Petrus untuk tenda pramuka yang kau tawarkan.” Lucu memang.

Kalau kita melongok jauh lebih dalam, masalah Petrus bukan sekadar bahwa ia mempunyai ide “tenda pramuka”. Petrus hendak membuat ๐˜๐—ถ๐—ด๐—ฎ ๐—ธ๐—ฒ๐—บ๐—ฎ๐—ต: satu untuk Yesus, satu untuk Musa, dan satu lagi untuk Elia. 

Dalam kerangka PL kata ๐˜ด๐˜ฌฤ“๐˜ฏ๐˜ข๐˜ด mempunyai cerapan dengan Kemah Suci/Kemah Pertemuan. Jadi, Petrus tampaknya hendak memertahankan pengalaman kehadiran ilahi itu dalam suatu ruang sakral, tetapi Allah justru menyela: “Dengarkanlah Dia.” Setelah suara itu: “Yesus tinggal seorang diri.”

Itu jauh lebih tajam daripada sekadar: “Jangan terlalu lama berdoa di gunung.” Pesannya bukan terutama turun gunung untuk mengerjakan tugas horizontal. Pesannya: Jangan menyamakan Yesus dengan Musa dan Elia. Jangan membuat tiga kemah. Dengarkan Yesus. Ini penting sekali.

7️⃣ ๐—ง๐—ฎ๐—ณ๐˜€๐—ถ๐—ฟ ๐— ๐—ฎ๐—ป๐˜๐—ผ๐—ณ๐—ฎ ๐˜๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐— ๐˜‚๐˜€๐—ฎ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—˜๐—น๐—ถ๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ฑ๐˜‚๐—ธ๐˜€๐—ถ ๐˜€๐—ถ๐—บ๐—ฏ๐—ผ๐—น๐—ถ๐—ธ

Mantofa berkata: “Musa mewakili hukum Taurat, Elia mewakili kuasa nabi, kuasa profesi.” Lalu: “Orang yang berdoa akan di-๐˜ฃ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฆ๐˜ง๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ sama Tuhan. Dua materi ini semakin kaya dalam dirinya.” 

Nah, di sini terjadi pergeseran besar. Musa dan Elia bukan lagi tokoh dalam cerita Lukas yang sedang berbicara dengan Yesus mengenai ๐˜ฆ๐˜น๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฏ atau perjalanan-Nya ke Yerusalem atau yang dikenal dengan ๐˜‘๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜บ ๐˜•๐˜ข๐˜ณ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ท๐˜ฆ. Mereka berubah menjadi alat ilustrasi untuk khotbah tentang kompetensi orang Kristen:
▶️ Musa → firman/hukum, 
▶️ Elia → kuasa nabi, 
▶️ orang berdoa → memeroleh keduanya. 

Padahal teks Injil Lukas justru memberi kita informasi yang sangat spesifik mengenai ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ ๐—ฏ๐—ถ๐—ฐ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป: “๐˜๐˜‚๐—ท๐˜‚๐—ฎ๐—ป ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—ท๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ป๐—ฎ๐—ป-๐—ก๐˜†๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ถ๐—ด๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ฝ๐—ถ-๐—ก๐˜†๐—ฎ ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฌ๐—ฒ๐—ฟ๐˜‚๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ฒ๐—บ.”

Jadi, kalau kita bertanya “Mengapa Musa dan Elia muncul?”, jawaban yang paling dekat dengan teks ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป “Supaya kita memeroleh dua materi setelah berdoa.”, melainkan: Mereka berbicara mengenai ๐˜ฆ๐˜น๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฏ Yesus. Perjalanan itu berpautan langsung dengan Yerusalem, penderitaan, kematian, dan akhirnya kemuliaan.

8️⃣ “๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€ ๐—ฑ๐—ถ-๐™—๐™ง๐™ž๐™š๐™›๐™ž๐™ฃ๐™œ ๐— ๐˜‚๐˜€๐—ฎ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—˜๐—น๐—ถ๐—ฎ” ๐—ท๐˜‚๐—ด๐—ฎ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—บ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ธ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐˜‚ ๐—ฑ๐—ถ๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—ฟ ๐—ฑ๐—ผ๐—ธ๐˜๐—ฟ๐—ถ๐—ป ๐—ฑ๐—ผ๐—ฎ

Mantofa mengatakan: “Yesus... di-๐˜ฃ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฆ๐˜ง๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ dulu oleh Musa dan Elia.” Lalu ia membuat analogi: “Sebelum saya naik ke sini tadi, saya juga di-๐˜ฃ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฆ๐˜ง๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ sama SM-nya...” Ini contoh bagaimana ilustrasi ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐˜‚๐—ฏ๐—ฎ๐—ต ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ต ๐˜€๐—ฒ๐—ฏ๐˜‚๐—ฎ๐—ต ๐˜๐—ฒ๐—ธ๐˜€.

Yang problematis adalah ketika kata “di-๐˜ฃ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฆ๐˜ง๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ” kemudian menjadi dasar untuk mengatakan: “Orang yang berdoa itu sedang di-๐˜ฃ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฆ๐˜ง๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ oleh malaikat.” Bahkan itu dinyatakannya eksplisit. 
Nah, ini sudah bukan lagi eksegesis Lukas 9. Ini sudah menjadi ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐—ป ๐—ฝ๐—ฟ๐—ถ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ๐—ธ๐˜€๐—ฎ ๐—Ÿ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐˜€ ๐Ÿต.

Padahal teks sedang menyampaikan rencana Allah dalam PL kepada Yesus yang berpautan dengan ๐˜ฆ๐˜น๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฏ, perjalanan Yesus menuju Yerusalem yang akan berakhir dengan kematian.

9️⃣ ๐——๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐˜๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐˜€๐—ณ๐—ถ๐—ด๐˜‚๐—ฟ๐—ฎ๐˜€๐—ถ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐˜‚๐—ท๐˜‚ “๐—ถ๐—ป๐˜๐˜‚๐—ถ๐˜€๐—ถ ๐—ฟ๐—ผ๐—ต๐—ฎ๐—ป๐—ถ”: ๐—น๐—ผ๐—ป๐—ฐ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—ท๐—ฎ๐˜‚๐—ต ๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐˜

Sesudah membicarakan Musa dan Elia, Mantofa membawa jemaat kepada pengalaman: mendapat intuisi, tahu seseorang akan menipu, merasakan “ketukan dalam spirit”, menemukan orang yang tepat, memeroleh pengetahuan setelah berdoa. 

Namun, kalau pertanyaannya “Apakah Lukas 9:28-36 mengajarkan bahwa orang yang berdoa akan memeroleh intuisi seperti itu?” jelas jawabannya: ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐—ฑ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—ฟ ๐˜๐—ฒ๐—ธ๐˜€๐˜๐˜‚๐—ฎ๐—น ๐˜‚๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ ๐—ถ๐˜๐˜‚.

๐Ÿ”Ÿ ๐—”๐—ฑ๐—ฎ ๐—บ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—น๐—ฎ๐—ถ๐—ป: ๐—ฑ๐—ผ๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—ถ๐—ป๐˜€๐˜๐—ฟ๐˜‚๐—บ๐—ฒ๐—ป ๐˜‚๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ผ๐—น๐—ฒ๐—ต “๐—ถ๐—ป๐—ณ๐—ผ๐—ฟ๐—บ๐—ฎ๐˜€๐—ถ ๐—ถ๐—น๐—ฎ๐—ต๐—ถ”

Doa diperikan oleh Mantofa sebagai: koneksi dengan pihak yang memegang kunci kehidupan, 
lalu: masuk ke ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ท๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฆ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ, lalu: memeroleh pengetahuan setelah berdoa, lalu: di-๐˜ฃ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฆ๐˜ง๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ  Tuhan/malaikat. 

Doa secara perlahan berubah fungsi: berdoa → mendapatkan informasi → mengambil keputusan dengan benar → mengalami kuasa → dipakai Allah.

Padahal kalau kita mengikuti klimaks Lukas: melihat Yesus → mendengar suara Allah → dengarkan Yesus.

Beda banget!

Doa dalam Lukas 9 bukan terutama saluran untuk memeroleh informasi tentang masa depan.
Kisah itu justru menempatkan para murid sebagai orang yang ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐˜‚๐˜€ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ฟ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€, ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป sebagai orang yang memeroleh pengetahuan khusus supaya mereka dapat mengendalikan hidup dengan lebih baik.

1️⃣1️⃣ “๐——๐—ผ๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐˜‚๐—ฏ๐—ฎ๐—ต ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ผ๐—ฎ” ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐˜€๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐—ฎ๐—ถ ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฒ๐—ธ๐˜€ ๐—Ÿ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐˜€ ๐Ÿต

Apabila dilihat sebagai nasihat pastoral “Doa mengubah pendoanya” tidak bermasalah. Mantofa memberikan kesaksian bahwa keluarganya melihat perubahan dirinya: dari keras menjadi lebih mudah berbelas kasihan, dan ia memahami bahwa hatinya dimuridkan melalui doa. Itu kesaksian pribadi.

Tapiiii masalah muncul ketika pengalaman tersebut dijadikan makna utama Lukas 9, karena Lukas tidak sedang bertanya “Apa yang terjadi pada orang yang berdoa?” Lukas sedang membawa pembaca kepada pertanyaan: “๐—ฆ๐—ถ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ต ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€ ๐—ถ๐—ป๐—ถ, ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐—ฎ๐—ฟ๐˜๐—ถ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—ท๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ป๐—ฎ๐—ป-๐—ก๐˜†๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐˜‚๐—ท๐˜‚ ๐—ฌ๐—ฒ๐—ฟ๐˜‚๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ฒ๐—บ?” Jawaban Allah: “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia!”

1️⃣2️⃣ ๐—œ๐—ฟ๐—ผ๐—ป๐—ถ ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ ๐—ธ๐—ต๐—ผ๐˜๐—ฏ๐—ฎ๐—ต ๐— ๐—ฎ๐—ป๐˜๐—ผ๐—ณ๐—ฎ

Mantofa berkali-kali mengingatkan jemaat agar mendengarkan Tuhan, jangan sekadar memelajari teori Alkitab. Ia bahkan berkata bahwa kalau orang hanya menyelidiki firman tetapi tidak datang kepada Tuhan, ia bisa menjadi seperti Farisi. 

Ironisnya ketika Lukas menulis “Dengarkanlah Dia!”, Mantofa tidak membiarkan kalimat itu menjadi pusat tafsir. Mantofa menggunakannya untuk kembali berkata: “Spend time with him.” dan kemudian kembali ke: “efeknya berdoa dan efeknya tidak berdoa.” 

Jadi, ada ironi: Khotbah yang berbicara tentang “Dengarkanlah Dia” justru lebih banyak berbicara tentang apa yang terjadi pada kita ketika kita berdoa.

1️⃣3️⃣ ๐—ง๐—ฎ๐—ณ๐˜€๐—ถ๐—ฟ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜๐—ฎ๐—ธ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ๐˜ ๐—ฑ๐—ถ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚๐—ป๐—ด๐—ท๐—ฎ๐˜„๐—ฎ๐—ฏ๐—ธ๐—ฎ๐—ป

Secara pastoral memang doa penting, doa membentuk manusia, orang Kristen tidak boleh hanya memiliki pengetahuan Alkitab, relasi dengan Tuhan pentingm, doa bukan pertunjukan, ibadah bukan show, orang perlu datang kepada Tuhan, bukan sekadar datang untuk mendengar khotbah. Bahkan beberapa pengamatannya mengenai konteks cukup bagus. Mantofa secara eksplisit mengatakan bahwa Lukas 9 harus dibaca sebagai satu kesatuan dan bahwa ayat-ayat mempunyai hubungan dengan cerita sebelum dan sesudahnya. 

Masalah yang terjadi pada khotbah Mantofa adalah: pesan pastoral yang baik itu tidak otomatis menjadi makna teks yang sedang dikhotbahkan. ๐——๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฎ๐˜๐—ฎ ๐—น๐—ฎ๐—ถ๐—ป ๐˜๐—ฎ๐—ณ๐˜€๐—ถ๐—ฟ ๐— ๐—ฎ๐—ป๐˜๐—ผ๐—ณ๐—ฎ ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ๐˜ ๐—ฑ๐—ถ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚๐—ป๐—ด๐—ท๐—ฎ๐˜„๐—ฎ๐—ฏ๐—ธ๐—ฎ๐—ป.

1️⃣4️⃣ ๐—ฆ๐—ถ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐˜€๐—ฒ๐—ฏ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ฟ๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐˜€๐˜‚๐—ฏ๐—ท๐—ฒ๐—ธ ๐—ธ๐—ต๐—ผ๐˜๐—ฏ๐—ฎ๐—ต?

Dalam teks Lukas 9: ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€ adalah ๐˜€๐˜‚๐—ฏ๐—ท๐—ฒ๐—ธ. Musa dan Elia berbicara tentang ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€. Kemuliaan muncul pada ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€. Suara Allah berbicara tentang ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€. Murid diperintahkan: Dengarkan ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€.

Dalam pada itu subjek khotbah Mantofa perlahan bergeser: orang Kristen yang berdoa. Yang menjadi pusat perhatian: bagaimana kita berdoa, apakah kita berdoa, apa yang terjadi kalau kita tidak berdoa, apakah kita mendapatkan intuisi, apakah kita siap menerima “perkara Allah”, apakah kita mendapatkan kuasa, apakah kita mendapatkan pengetahuan, apakah kita dipakai Tuhan. 

๐—ž๐—ฒ๐—ธ๐˜‚๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ต๐—ผ๐˜๐—ฏ๐—ฎ๐—ต ๐—ฃ๐—ต๐—ถ๐—น๐—ถ๐—ฝ ๐— ๐—ฎ๐—ป๐˜๐—ผ๐—ณ๐—ฎ ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ธ๐—ฒ๐˜€๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฒ๐˜€๐—ฒ๐—ฑ๐—ถ๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ถ๐—ฎ๐—ฟ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฒ๐—ธ๐˜€ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ต๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—ฑ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป๐—ป๐˜†๐—ฎ.

Orang Kristen ๐˜ค๐˜ฉ๐˜ช๐˜ญ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด๐˜ฉ dan infantil jumlahnya amat sangat besar dan ini adalah pasar. Di sinilah kecerdasan Mantofa tampak dalam memilih pasar. Dengan orasi motivasional yang piawai lalu dibalut ayat-ayat Alkitab, dagangan Mantofa laris manis ditelan Kristen ๐˜ค๐˜ฉ๐˜ช๐˜ญ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด๐˜ฉ tanpa dikunyah.

 (25082026)



Banyak orang gandrung kepada ๐—ฃรจ๐˜€๐˜๐—ฒ๐—ฟ ๐—ฃ๐—ต๐—ถ๐—น๐—ถ๐—ฝ ๐— ๐—ฎ๐—ป๐˜๐—ผ๐—ณ๐—ฎ. Kata mereka, Mantofa pengkhotbah yang bagus dan cerdas. Sa...