Jumat, 21 Agustus 2026

Daud saja menari dengan riang sambil memuji Tuhan. Berarti menari sambil DJ-an dalam ibadah gereja itu sah-sah saja?
Benarkah begitu?

Argumen seperti ini cukup sering kita dengar ketika orang mempertanyakan penggunaan DJ, dance, atau bentuk ekspresi yang sangat meriah dalam ibadah gereja.

Memang benar, Daud menari di hadapan TUHAN. Bahkan 2 Samuel 6:14 mengatakan bahwa Daud menari-nari dengan segenap kekuatannya.

Tetapi sebelum menjadikan kisah ini sebagai dasar untuk membenarkan bentuk ibadah tertentu, kita perlu melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi saat itu.

Daud sedang membawa Tabut Perjanjian ke Yerusalem. Tabut yang menjadi tanda kehadiran Allah di tengah umat Israel itu sedang diarak menuju kota Daud.

Daud pun bersukacita. Ia menari di hadapan TUHAN, sementara peristiwa itu juga disertai sorak-sorai, bunyi sangkakala, dan berbagai alat musik.

Namun ada hal penting yang sering dilupakan:
Daud tidak sedang mengikuti liturgi ibadah di Bait Suci.

Bahkan, Bait Suci belum dibangun pada zaman Daud. Bait Suci baru dibangun kemudian oleh Salomo.

Jadi, 2 Samuel 6 sedang menceritakan sebuah peristiwa khusus dalam sejarah Israel, yaitu arak-arakan Tabut Perjanjian menuju Yerusalem. Ini bukan sedang memberikan pola liturgi ibadah yang harus diterapkan begitu saja dalam gereja.

Dengan kata lain, teks ini bersifat deskriptif: Alkitab sedang menceritakan apa yang dilakukan Daud, bukan memberikan perintah bahwa umat Tuhan harus menari dalam ibadah. Karena itu, tindakan Daud tidak bisa begitu saja dijadikan dasar untuk menetapkan bentuk ibadah gereja.

Apakah ini berarti menari sambil memuji Tuhan itu salah?

Alkitab memang mengenal musik, nyanyian, sorak-sorai, dan tari-tarian sebagai ungkapan sukacita kepada Tuhan. Mazmur 150 bahkan menyebut berbagai alat musik dalam pujian kepada-Nya.

Tetapi dari sini kita tidak bisa begitu saja menyimpulkan bahwa karena Daud menari, maka semua bentuk dance atau musik DJ dalam ibadah otomatis sah.

Demikian juga, karena Alkitab menyebut berbagai alat musik dalam pujian, bukan berarti setiap bentuk musik, suasana seperti konser, atau ekspresi apa pun otomatis cocok digunakan dalam ibadah.

Itu sudah melampaui apa yang sebenarnya dikatakan oleh teks.

Sebab persoalannya bukan hanya, “Apakah menari itu dosa?” atau “Apakah ini dilakukan untuk Tuhan?”

Kita juga perlu melihat apa yang sebenarnya diajarkan oleh teks dan apakah cara kita beribadah sesuai dengan kehendak Tuhan serta membangun jemaat.

Ketika Paulus berbicara tentang pertemuan jemaat, ia mengingatkan:
“Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur.”
(1Kor. 14:40)

Jadi, jangan menggunakan Daud sebagai alasan sederhana untuk berkata:
“Daud saja menari, jadi menari sambil DJ-an dalam ibadah gereja juga tidak apa-apa.”

Daud memang menari.

Tetapi Daud menari dalam konteks peristiwa khusus ketika Tabut Perjanjian dibawa ke Yerusalem—bukan sedang memberikan contoh liturgi ibadah yang harus diterapkan gereja.

Karena itu, kisah Daud tidak boleh dijadikan cek kosong untuk membenarkan segala bentuk ekspresi dalam ibadah.

Sebab dalam ibadah, yang penting bukan hanya “untuk Tuhan”, tetapi juga “menurut cara yang berkenan kepada-Nya.”

Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut. Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan.
– Ibrani 12:28-29

Sudut Pandang Sibuk Protes, Sibuk Meramal Hingga Kehilangan Kepekaan Iman DiTengah Dukacita Flores Nusa Bunga

Sudut Pandang Sibuk Protes, Sibuk Meramal Hingga Kehilangan Kepekaan Iman DiTengah Dukacita Flores Nusa Bunga PENGANTAR “Kita te...