Sudut Pandang Kenabian Yesus
PENGANTAR
Berbeda dari jabatan raja dan imam, jabatan kenabian Yesus tidak berasal dari garis keturunan atau suku tertentu. Yesus bukan nabi karena berasal dari keluarga nabi, Yesus bukan dari keluarga suku Lewi, jalur imam, bukan juga dari jalur keluarga nabi-nabi, melainkan karena Ia diutus dan diurapi oleh Allah, menerima firman dari Bapa, serta menyatakan kehendak Allah secara sempurna.
PEMAHAMAN
Dalam kerangka teologi Kristen, Yesus adalah nabi bukan hanya sebagai salah satu anggota tradisi kenabian Israel, tetapi sebagai penggenapan dan puncak seluruh fungsi kenabian. Ia adalah Anak yang melalui-Nya Allah berbicara secara definitif (Ibr. 1:1–2). Secara teologis, Kristus dipahami menjalankan tiga jabatan:
- Nabi: menyatakan kehendak dan firman Allah.
- Imam: mendamaikan manusia dengan Allah melalui pengorbanan diri.
- Raja: memerintah umat dan seluruh ciptaan.
Ketiga jabatan ini tidak berasal dari satu “silsilah jabatan” yang sama. Jabatan raja berkaitan dengan Daud, jabatan imam dengan pola Melkisedek, sedangkan jabatan nabi berakar pada inisiatif dan pengutusan langsung Allah. Dalam hal ini, kenapa penulis Injil menulis menempatkan Yesus lebih tinggi dari Yohanes Pembaptis? Kalau Yudaisme menganggap Yohanes Pembaptis sekelas nabi Elia, maka Yesus harus lebih tinggi dari nabi Elia yang diagungkan Yudaisme, Yesus harus lebih tinggi dari nabi Musa yang diagungkan Yudaisme, Yesus harus lebih tinggi dari para pejabat Romawi bahkan kaisar Roma, dan Yesus adalah Tuhan untuk melawan aliran-aliran gnostik, itu Apologetika dari umat yg ditulis penulis Injil, dalam tekanan Yudaisme, aliran gnostik, maupun Romawi. Dari mana jalur kenabian Yesus? Bukan jalur genealogis. Alkitab tidak menyatakan bahwa Yesus memperoleh jabatan nabi melalui keturunan nabi tertentu. Ia bukan anak atau cucu Samuel, Elia, Yesaya, Yeremia, atau nabi lain. Bahkan, dalam Perjanjian Lama, jabatan nabi umumnya tidak diwariskan secara genealogis seperti imamat Lewi. Seorang nabi menjadi nabi karena:
- dipanggil Allah;
- menerima firman Allah;
- diutus kepada umat;
- berbicara dengan otoritas “demikianlah firman Tuhan.”
Karena itu, pertanyaan “dari suku mana jalur kenabian Yesus?” perlu dijawab dengan hati-hati: tidak ada jalur suku kenabian yang menjadi dasar jabatan Yesus. Secara manusiawi Ia berasal dari Yehuda dan keluarga Daud, tetapi otoritas kenabian-Nya bersumber dari pengutusan Bapa. Dasar profetis dalam Ulangan 18. Teks utama yang dipakai Perjanjian Baru untuk menghubungkan Yesus dengan tradisi kenabian adalah:
“Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh TUHAN, Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan.”
Ulangan 18:15
Musa berbicara tentang nabi yang akan dibangkitkan Allah. Dalam konteks awalnya, teks ini berkaitan dengan kelanjutan penyataan Allah kepada Israel melalui nabi-nabi setelah Musa. Namun, Perjanjian Baru membaca teks ini secara kristologis sebagai penggenapan dalam Yesus:
- Kisah Para Rasul 3:22–23 mengutip Ulangan 18:15 dan menerapkannya kepada Yesus.
- Kisah Para Rasul 7:37 juga menghubungkan “nabi seperti Musa” dengan Yesus.
Jadi, jalur kenabian Yesus terutama adalah jalur penggenapan kenabian Musa, bukan jalur keturunan. Yesus adalah “seperti Musa” dalam hal Ia menjadi mediator penyataan Allah, tetapi Ia lebih besar daripada Musa karena Ia adalah Anak Allah (Ibr. 3:3–6).
Yesus sebagai nabi seperti Musa, bahkan lebih dari Musa. Ada beberapa kemiripan antara Musa dan Yesus:
Musa, Dipanggil dan diutus Allah, Yesus, Diutus oleh Bapa (Yoh. 5:36–37; 6:38). Musa, Menyampaikan firman Allah, Yesus, Berbicara menurut perintah Bapa (Yoh. 12:49–50). Musa, Menjadi mediator perjanjian Sinai, Yesus, Mediator perjanjian baru (Ibr. 9:15; 12:24). Musa, Memberi hukum bagi Israel, Yesus, Menggenapi dan menafsirkan Taurat (Mat. 5:17–48). Musa, Memimpin umat keluar dari perbudakan, Yesus, Membebaskan dari dosa dan maut (Yoh. 8:34–36; Ibr. 2:14–15). Musa, Wajahnya bercahaya setelah berjumpa dengan Allah, Yesus, Kemuliaan Allah dinyatakan dalam diri Kristus (2Kor. 4:6)
Namun, Ibrani 3:5–6 memberi batas penting: Musa adalah “pelayan” dalam rumah Allah, sedangkan Kristus adalah “Anak” atas rumah Allah. Jadi, Yesus memiliki fungsi profetis seperti Musa, tetapi identitas-Nya melampaui Musa. Ayat-ayat tentang Yesus sebagai Nabi. Kesaksian Yesus sendiri. Yesus memahami pelayanan-Nya sebagai pelayanan pengutusan dari Bapa:
- Yohanes 5:36–37, Bapa mengutus dan memberi kesaksian tentang Yesus.
- Yohanes 6:38, Ia datang bukan untuk melakukan kehendak-Nya sendiri, melainkan kehendak Bapa yang mengutus-Nya.
- Yohanes 7:16, “Ajaran-Ku tidak berasal dari diri-Ku sendiri, tetapi dari Dia yang telah mengutus Aku.”
- Yohanes 12:49–50, Yesus tidak berbicara dari diri-Nya sendiri, tetapi menyampaikan apa yang diperintahkan Bapa.
- Yohanes 14:24, firman yang didengar para murid berasal dari Bapa yang mengutus-Nya.
Ayat-ayat ini menunjukkan ciri utama seorang nabi: pengutusan dan penyampaian firman Allah. Tetapi dalam Injil Yohanes, otoritas Yesus lebih tinggi daripada nabi biasa, karena Ia bukan hanya menerima firman; Ia adalah Firman yang menjadi manusia (Yoh. 1:1, 14). Pengakuan masyarakat pada zamannya, Orang-orang mengenali Yesus sebagai nabi:
- Matius 21:11, orang banyak berkata, “Inilah nabi Yesus dari Nazaret di Galilea.”
- Lukas 7:16, “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita.”
- Yohanes 4:19, perempuan Samaria berkata, “Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi.”
- Yohanes 6:14, setelah mukjizat roti, orang banyak menyebut Yesus “nabi yang akan datang ke dalam dunia.”
- Lukas 24:19, para murid menyebut Yesus sebagai “seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa.”
Pengakuan ini benar, tetapi belum lengkap. Menyebut Yesus hanya sebagai nabi belum mencakup identitas-Nya sebagai Mesias, Anak Allah, Imam Besar, dan Tuhan yang bangkit. Nubuat tentang nabi Mesianik. Selain Ulangan 18, beberapa teks Perjanjian Lama membentuk latar belakang kenabian Mesias:
- Yesaya 42:1–9, Hamba TUHAN membawa keadilan kepada bangsa-bangsa.
- Yesaya 49:1–6, Hamba dipanggil sejak kandungan untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa.
- Yesaya 61:1–2, Roh Tuhan mengurapi seorang utusan untuk memberitakan kabar baik kepada orang miskin.
- Maleakhi 3:1, utusan Allah mempersiapkan jalan bagi kedatangan Tuhan.
- Maleakhi 4:5–6, figur Elia tampil sebelum hari Tuhan.
Yesus menerapkan Yesaya 61 kepada diri-Nya dalam Lukas 4:16–21. Ia membaca teks tentang Roh Tuhan yang mengurapi dan mengutus, lalu berkata, “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” Ini merupakan deklarasi bahwa pelayanan-Nya memiliki dimensi kenabian dan mesianik. Apakah Yesus berada dalam jalur Elia atau Yohanes Pembaptis? Tidak. Yesus tidak menjadi nabi karena merupakan reinkarnasi atau penerus genealogis Elia. Herodes dan sebagian orang memang mengira Yesus adalah Yohanes Pembaptis, Elia, atau salah satu nabi dahulu (Mat. 16:14), tetapi Yesus tidak menerima identifikasi tersebut sebagai penjelasan penuh tentang diri-Nya. Yohanes Pembaptis sendiri menolak menyamakan dirinya dengan Mesias dan menyatakan bahwa ia hanya mempersiapkan jalan bagi Dia (Yoh. 1:19–27). Yesus kemudian menegaskan bahwa Yohanes adalah nabi besar, tetapi “yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya” (Mat. 11:11). Ini menunjukkan adanya kesinambungan sekaligus perbedaan: Yesus melanjutkan tradisi kenabian, tetapi Ia adalah pusat dan penggenapnya. Kenabian dan inkarnasi. Dalam Perjanjian Lama, nabi berkata berdasarkan firman yang diterimanya dari Tuhan. Formula umum para nabi adalah “beginilah firman TUHAN.” Dalam diri Yesus, hubungan antara pewarta dan firman mencapai bentuk yang unik:
- Ibrani 1:1–2, dahulu Allah berbicara melalui nabi-nabi, tetapi pada zaman akhir Ia berbicara melalui Anak.
- Yohanes 1:14, Firman menjadi manusia.
- Yohanes 14:9, “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.”
- Kolose 1:15, Kristus adalah gambar Allah yang tidak kelihatan.
- Yohanes 1:18, Anak Tunggal menyatakan Allah.
Karena itu, Yesus bukan sekadar pembawa pesan ilahi. Ia adalah penyataan Allah yang personal dan final. Fungsi kenabian-Nya bersifat unik karena Ia menyatakan Bapa bukan hanya melalui kata-kata, tetapi juga melalui seluruh diri, tindakan, kematian, dan kebangkitan-Nya. Hubungan dengan raja dan imam..Tiga fungsi tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:
Nabi, Pengutusan langsung Allah dan penggenapan Ulangan 18. Menyatakan kehendak dan karakter Allah. Imam | Mazmur 110:4 dan pola Melkisedek. Mendamaikan manusia dengan Allah melalui diri-Nya..Raja, Perjanjian Daud, terutama 2Sam. 7:12–16. Memerintah sebagai Mesias atas umat dan ciptaan.
Ketiganya bertemu dalam satu pribadi. Sebagai Nabi, Yesus menyatakan jalan keselamatan; sebagai Imam, Ia membuka jalan itu melalui pengorbanan diri; sebagai Raja, Ia memerintah umat yang telah ditebus-Nya.
Jalur kenabian Yesus bukan berasal dari keturunan Lewi, bukan pula dari garis keluarga nabi tertentu. Jalur itu berasal dari pengutusan Allah, khususnya penggenapan janji tentang nabi seperti Musa dalam Ulangan 18:15–18, serta penggenapan figur Hamba yang diurapi Roh dalam Yesaya 42 dan 61.
Maka dapat dirumuskan: Yesus adalah Raja menurut garis Daud, Imam menurut peraturan Melkisedek, dan Nabi menurut pengutusan Allah serta penggenapan tradisi Musa dan para nabi.
Namun, dalam iman Kristen, ketiga jabatan itu tidak berdiri pada tingkat yang sama dengan tokoh-tokoh sebelumnya. Yesus lebih tinggi daripada Daud, Melkisedek, Harun, dan Musa, bahkan Elia: Ia adalah Anak yang menyatakan Allah secara definitif, Imam Besar yang mempersembahkan diri sekali untuk selama-lamanya, dan Raja Mesianik yang menerima segala kuasa (Mat. 28:18; Ibr. 1:1–4).