PENGANTAR
Saban saya membedah khotbah pendeta Teologia Sukses, apalagi Pendeta yang ngaku pernah ke surga, Pendeta yang ngaku pernah ke neraka, dlsb yang merudapaksa prapahamnya masuk ke dalam teks, para pendukungnya berujar: “𝘒𝘩𝘰𝘵𝘣𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘪𝘮𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪.” Benarkah?
PEMAHAMAN
Apabila ditelisik lebih dalam sebenarnya khotbah-khotbah itu adalah ceramah motivasional yang disampaikan secara piawai oleh pengkhotbah lalu dibalut ayat-ayat Alkitab. Lalu mengapa tanggapan para pendengar, “𝘒𝘩𝘰𝘵𝘣𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘪𝘮𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪”?
Satu dari beberapa jawabannya sangat bolehjadi terletak pada kenyataan yang tidak menyenangkan: banyak orang Kristen bertubuh dewasa, tetapi cara berimannya tetap kekanak-kanakan (𝘤𝘩𝘪𝘭𝘥𝘪𝘴𝘩). Mereka bukan tidak mau makan. Mereka hanya terbiasa diberi permen. Permen memang manis. Rasanya menyenangkan. Membuat orang ingin mengambil lagi dan lagi. Namun, tidak seorang pun yang waras menganggap permen sebagai makanan pokok. Tubuh yang hanya diberi permen mungkin merasa senang sesaat, tetapi tidak bertumbuh dengan baik. Yang dibutuhkan tubuh bukan sekadar sesuatu yang enak di lidah, melainkan makanan yang sungguh-sungguh memberi gizi.
Begitu pula iman. Khotbah yang terus-menerus berkata, “𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭!”, “𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯!”, “𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘩!”, “𝘔𝘢𝘴𝘢 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘪𝘯𝘥𝘢𝘩!”, memang dapat membuat pendengar pulang dengan perasaan lebih baik. Akan tetapi merasa lebih baik 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗼𝘁𝗼𝗺𝗮𝘁𝗶𝘀 𝗯𝗲𝗿𝗮𝗿𝘁𝗶 𝗯𝗲𝗿𝘁𝘂𝗺𝗯𝘂𝗵 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗶𝗺𝗮𝗻. Terlebih merasa lebih baik, bukan bearti masalah dan tantangan yang dihadapinya selesei. Hati yang terharu bukan selalu hati yang diterangi. Tepuk tangan bukan ukuran kedalaman. Perasaan “diberkati” bukan bukti bahwa teks Alkitab telah diberitakan dengan benar. Rasul Paulus pernah menghadapi persoalan semacam itu. Kepada jemaat Korintus ia menulis bahwa ia belum dapat berbicara kepada mereka sebagai manusia rohani, melainkan sebagai manusia duniawi, sebagai bayi dalam Kristus. Oleh karena itu mereka diberinya makanan bayi, bukan makanan keras. Yang menyedihkan, masalahnya bukan sekadar bahwa mereka pernah menjadi bayi. Menjadi bayi memang bagian dari proses kehidupan. Masalahnya adalah ketika seseorang seharusnya sudah bertumbuh, tetapi tetap menuntut makanan bayi.
Surat Ibrani bahkan lebih tajam. Para pembacanya sudah seharusnya menjadi pengajar, tetapi ternyata masih membutuhkan orang lain mengajarkan kepada mereka dasar-dasar pertama. Mereka kembali membutuhkan makanan bayi ketika seharusnya sudah sanggup menerima makanan keras. Jadi, persoalannya bukan pada makanan bayi itu sendiri. Yang menjadi masalah adalah 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗿𝘁𝘂𝗯𝘂𝗵 𝗱𝗲𝘄𝗮𝘀𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗺𝗮𝗸𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗯𝗮𝘆𝗶 𝘀𝗲𝗯𝗮𝗴𝗮𝗶 𝗺𝗲𝗻𝘂 𝘂𝘁𝗮𝗺𝗮 𝘁𝗲𝘁𝗮𝗽 𝗱𝗮𝗻 𝗸𝗲𝗺𝘂𝗱𝗶𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗼𝗹𝗮𝗸 𝗺𝗮𝗸𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗹𝗮𝗶𝗻 𝗸𝗮𝗿𝗲𝗻𝗮 𝗱𝗶𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮𝗽 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝘀𝗲𝗲𝗻𝗮𝗸 𝗶𝘁𝘂.
Makanan keras berbeda. Ia harus dikunyah. Kadang rasanya tidak semanis permen. Justru makanan itulah yang membuat orang bertumbuh. Petulis Ibrani berkata bahwa makanan keras adalah untuk orang dewasa, “𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢𝘪 𝘱𝘢𝘯𝘤𝘢𝘪𝘯𝘥𝘳𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘥𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘩𝘢𝘵” (Ibr. 5:14). Kedewasaan iman bukan kemampuan untuk semakin banyak berkata, “Amin!” kepada apa yang menyenangkan kita. Kedewasaan adalah kemampuan untuk membedakan antara khotbah yang sungguh lahir dari pergumulan dengan teks dan ceramah motivasional yang kebetulan dibalut ayat-ayat Alkitab.
Di situlah barangkali kita menemukan pasar besar bagi khotbah-khotbah yang sebenarnya hanya ceramah motivasional berbalut ayat-ayat Alkitab. Pendengar yang terus-menerus diberi permen akan menganggap permen sebagai makanan pokok. Bahkan ketika kemudian dihidangkan makanan bergizi, mereka dapat merasa kecewa: “𝘒𝘩𝘰𝘵𝘣𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘵, 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢-𝘢𝘱𝘢.” Padahal mungkin justru untuk kali pertamanya mereka sedang diajak 𝗺𝗮𝗸𝗮𝗻, bukan sekadar mengisap gula.
Untuk itu ujaran “𝘒𝘩𝘰𝘵𝘣𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘪𝘮𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪” tidak boleh langsung diterima sebagai pembelaan terhadap mutu khotbah. Pertanyaannya: 𝗶𝗺𝗮𝗻 𝗺𝗮𝗰𝗮𝗺 𝗮𝗽𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘀𝗲𝗱𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶𝗯𝗮𝗻𝗴𝘂𝗻? Apakah iman yang semakin mampu membaca Alkitab dengan dewasa, bergumul dengan teks yang tidak selalu menyenangkan, menerima koreksi, bahkan membiarkan firman meruntuhkan keyakinan-keyakinan yang selama ini dianggap benar? Ataukah iman yang hanya semakin bergantung pada pengkhotbah yang pandai membuat pendengarnya merasa nyaman?
Permen memang membuat mulut manis, tetapi permen bukanlah makanan pokok bagi orang dewasa.
Gereja yang terus-menerus menghasilkan permen rohani, jangan heran apabila dipenuhi orang-orang yang sudah lama menjadi Kristen, tetapi cara berimannya tetap kekanak-kanakan. Hanya menyukai yang manis, menolak yang keras, dan menganggap setiap makanan yang tidak sesuai seleranya sebagai “tidak memberkati.”