Pernahkah anda memilih jam ibadah karena siapa yang berkhotbah?
Mungkin anda tidak sendirian dan bolehjadi persoalannya bukan pada jemaat.
==
𝗞𝗲𝗹𝗶𝗿𝘂 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 (11/11)
𝗞𝗲𝘁𝗶𝗸𝗮 𝗞𝗵𝗼𝘁𝗯𝗮𝗵 𝗠𝗲𝗻𝗲𝗹𝗮𝗻 𝗦𝗲𝗹𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶
Satu lagi kekelirupahaman liturgis paling mencolok dalam Gereja Protestan adalah anggapan bahwa klimaks ibadah adalah khotbah. Akibatnya seluruh liturgi sering diperlakukan hanya sebagai pengantar menuju khotbah. Nyanyian, doa, pengakuan dosa, pembacaan Alkitab, bahkan Perjamuan Kudus, semuanya seolah-olah berada di bawah bayang-bayang satu bagian: khotbah. Cara berpikir ini perlahan-lahan membentuk budaya gereja yang cukup aneh.
Ada Gereja yang memiliki beberapa kebaktian Minggu dengan pendeta yang berbeda-beda. Lalu muncul fenomena yang sangat umum: warga jemaat memilih jam ibadah berdasarkan pendeta yang berkhotbah. Ada yang berkata, “𝘚𝘢𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘮 𝘥𝘦𝘭𝘢𝘱𝘢𝘯, 𝘬𝘩𝘰𝘵𝘣𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘰𝘴𝘢𝘯𝘬𝘢𝘯. 𝘓𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘮 𝘴𝘦𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩, 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘦𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘦𝘯𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳.”
Sering warga jemaat yang dipersalahkan karena dianggap “pilih-pilih pendeta”. Akan tetapi masalahnya tidak sesederhana itu. Fenomena ini justru memerlihatkan kesalahan cara Gereja memandang liturgi. Jika ibadah dipahami sebagai keseluruhan tindakan Gereja di hadapan Allah, maka perbedaan pendeta seharusnya tidak menjadi faktor penentu utama bagi warga jemaat untuk datang beribadah, karena yang dirayakan jemaat bukan khotbah seorang pendeta, melainkan ibadah Gereja itu sendiri.
Namun, di sisi lain para pendeta juga tidak boleh menutup mata terhadap kenyataan pastoral. Warga jemaat datang dengan pergumulan nyata, dengan kebutuhan rohani yang juga bersifat pribadi. Mereka tidak datang sebagai massa tanpa wajah. Setiap orang membawa cerita hidupnya sendiri-sendiri.
Orang yang hidup berkecukupan pun tetap membutuhkan penggembalaan. Tidak jarang muncul keluhan yang diam-diam terpendam, “𝘔𝘰𝘴𝘰𝘬 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘪𝘴𝘬𝘪𝘯 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘳𝘩𝘢𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯? 𝘔𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘶𝘮𝘶𝘭𝘢𝘯?” Apabila khotbah tidak pernah menyentuh pengalaman konkret jemaat, wajar saja jika mereka merasa tidak sedang diajak masuk ke dalam firman yang hidup.
Warga seperti di atas biasanya menjadi makanan empuk pendeta-pendeta dari Gereja yang menerapkan ideologi kemakmuran, “𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘢𝘺𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘯𝘥𝘢 𝘥𝘪𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘪 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯.” Terjadilah perpindahan warga kaya dari Gereja arus-utama ke Gereja berideologi kemakmuran. Warga itu merasa Gereja yang lama tidak memberikan 𝘧𝘶𝘭𝘧𝘪𝘭𝘭𝘮𝘦𝘯𝘵 pribadi.
Di sinilah tugas pengkhotbah menuntut kesungguhan yang besar. Khotbah bukanlah pemindahan bahan katekisasi ke mimbar. Ia bukan sekadar mengulang pengetahuan teologis yang sudah dikenal jemaat. Khotbah adalah pemberitaan firman yang menghadirkan kebaruan Injil di tengah kehidupan nyata umat. Pendeta harus mampu menyeimbangkan antara praksis etis dan 𝘧𝘶𝘭𝘧𝘪𝘭𝘭𝘮𝘦𝘯𝘵 pribadi.
Dalam kitab-kitab Injil ada banyak teks keseimbangan itu. Orang Kristen boleh kaya asalkan tetap peduli kepada orang-orang marginal (Lukas). Orang Kristen boleh menjadi pejabat tinggi asalkan melayani sesama (Markus dan Matius). Melayani di sini tentulah dipahami melayani seperti Yesus melayani, yakni berwawasan bagi kesejahteraan orang lain atau berpihak kepada kelompok lemah. Di sini ada keseimbangan. Ada 𝘧𝘶𝘭𝘧𝘪𝘭𝘭𝘮𝘦𝘯𝘵 pribadi dan ada praksis etis. Kaya boleh, tamak jangan.
Namun, dalam situasi seperti itu kerap muncul kesalahpahaman baru, khususnya sejak penerapan 𝘙𝘦𝘷𝘪𝘴𝘦𝘥 𝘊𝘰𝘮𝘮𝘰𝘯 𝘓𝘦𝘤𝘵𝘪𝘰𝘯𝘢𝘳𝘺 (RCL). Ada yang beranggapan bahwa karena khotbah biasanya berfokus pada Injil, maka pembacaan kitab Perjanjian Lama (PL) hanya menjadi pelengkap liturgi, cukup dibacakan tetapi tidak perlu dikhotbahkan.
Pandangan atau tuduhan ini tidak tepat, bahkan dapat menyesatkan arah pemahaman liturgi.
RCL justru disusun agar Gereja mendengar firman secara utuh, bukan sepotong-sepotong. PL, Mazmur, Surat-surat, dan Injil ditempatkan berdampingan bukan untuk saling menyaingi, tetapi untuk saling menerangi. Ini bukan kumpulan bacaan lepas, melainkan satu kesaksian iman yang bergerak menuju kepenuhannya di dalam Kristus.
Di sisi lain Gereja memang adalah tubuh Kristus. Oleh karena itu tidak mengherankan jika porsi khotbah dalam praktik sering memberi penekanan lebih pada Injil, sebab di dalamnya Gereja mendengar langsung 𝘷𝘦𝘳𝘣𝘢 𝘊𝘩𝘳𝘪𝘴𝘵𝘪, perkataan dan tindakan Kristus sendiri. Di sinilah pusat iman itu berdenyut. Namun penekanan bukan berarti pengabaian.
Justru karena Injil adalah pusat, maka bacaan-bacaan lain tidak boleh dipisahkan darinya. PL tidak kehilangan maknanya, melainkan menemukan kedalaman maknanya ketika dibaca dalam terang Kristus.
Sebagai contoh, jika dalam suatu ibadah hanya dibacakan satu teks PL secara tunggal, misal Yesaya 9:2–7, maka secara biblis teks itu berbicara dalam konteks historis Israel. Ia belum dengan sendirinya adalah berita tentang Yesus. Akan tetapi ketika teks itu dibaca beriringan dengan Lukas 2:1–14, Gereja tidak sekadar “menempelkan” Yesus ke dalam nubuat, melainkan menyaksikan bagaimana janji itu digenapi dalam peristiwa kelahiran Kristus.
Di sinilah letak seni dan tanggung jawab khotbah: bukan memilih satu teks lalu menelan yang lain, tetapi merajut seluruh bacaan menjadi satu pewartaan Injil yang utuh. Jika ini gagal dilakukan, maka yang terjadi bukanlah kekayaan firman, melainkan reduksi firman.
Di sinilah kalimat yang perlu kita ingat bersama: PL tidak dibacakan untuk dilompati, tetapi untuk dipenuhi. Injil tidak dikhotbahkan untuk berdiri sendiri, tetapi sebagai kepenuhan dari seluruh kesaksian Kitab Suci.
Khotbah yang baik bukan membuat bacaan lain menjadi tidak penting, melainkan justru membuat seluruh liturgi Sabda “berbicara”. Ketika itu terjadi, jemaat tidak hanya mendengar satu teks yang dijelaskan, tetapi mengalami Sabda yang bersuara dari keseluruhan Kitab Suci yang dibacakan di tengah Gereja.
Khotbah juga tidak harus lucu, tetapi ia harus hidup. Ia perlu mengambil contoh dari kenyataan yang dikenal jemaat: dari rumah tangga mereka, pekerjaan mereka, kegelisahan mereka, bahkan dari perubahan sosial yang mereka alami setiap hari.
Tugas ini menuntut kerendahhatian dan kesediaan untuk terus belajar. Seorang pendeta tidak hanya dipanggil untuk berbicara, tetapi juga 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗺𝗲𝗻𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗿. Ia mendengar firman, 𝗺𝗲𝗻𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗿 𝗷𝗲𝗺𝗮𝗮𝘁, dan membaca tanda-tanda zaman.
Untuk itu koreksi terhadap pemahaman liturgi tidak hanya disasarkan kepada jemaat. Para pendetalah yang pertama dan utama perlu terus mengoreksi diri. Liturgi memang tidak berpusat pada khotbah, tetapi khotbah tetap merupakan tanggung jawab yang besar. Ia menuntut kerja keras, ketekunan belajar, dan kepekaan pastoral yang terus diasah.
Ibadah bukan milik seorang pengkhotbah. Ibadah adalah tindakan seluruh Gereja. Ketika khotbah menelan seluruh liturgi, yang hilang bukan hanya keseimbangan ibadah. Yang hilang adalah kesadaran bahwa Gereja beribadah kepada Allah.
Ketika itu terjadi, warga jemaat tidak lagi datang untuk beribadah. Mereka datang untuk mendengar siapa yang berbicara hari itu. Pada titik itulah Gereja tanpa sadar telah mengubah ibadah menjadi panggung ceramah.
Apabila itu terjadi, warga jemaat memang akan memilih-milih pengkhotbah. Namun, yang lebih memprihatinkan adalah Gereja sendiri telah lupa bahwa pusat ibadah bukan mimbar, melainkan Allah yang disembah oleh umat-Nya.
Pendeta boleh berkhotbah, tetapi Gereja tidak pernah berkumpul untuk mendengarkan pendeta. Gereja berkumpul untuk beribadah kepada Allah.
Ketika khotbah menelan seluruh liturgi, ibadah lambat laun berubah menjadi pertemuan ceramah yang diselingi nyanyian. Firman Tuhan memang diberitakan dalam khotbah, tetapi liturgi mengingatkan bahwa firman itu tidak hanya didengar, melainkan dijawab, dirayakan, dan dijalani bersama oleh seluruh warga jemaat.