Tempo hari saya membedah khotbah ๐ฃรจ๐๐๐ฒ๐ฟ ๐ฃ๐ต๐ถ๐น๐ถ๐ฝ ๐ ๐ฎ๐ป๐๐ผ๐ณ๐ฎ. Seorang penggemarnya berkata agar saya tidak menilai dari satu khotbah saja.
Untuk menilai seribu tusuk sate itu enak atau tidak, cukup cicipi satu tusuk saja, tak perlu makan semuanya. Kalau dua tusuk, masih bolehlah.
Untuk itu saya membedah satu lagi khotbah Mantofa.
Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=0b-xvgHczWU
Bacaan: Lukas 11:9-13
Tema: Mintalah Baptisan Roh Kudus & Karunia Kesembuhan
๐ญ. ๐ ๐ฒ๐ฟ๐ฒ๐ธ๐ผ๐ป๐๐๐ฟ๐๐ธ๐๐ถ ๐๐๐ธ๐ฎ๐ ๐ญ๐ญ:๐ต-๐ญ๐ฏ
Mari kita merekonstruksi terlebih dahulu Lukas 11:9-13. Ayat 9-13 merupakan rangkaian tak terpisahkan dari ayat 1-8. Apabila kita bagankan Lukas 11:1-13 kira-kira seperti ini:
๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐บ๐ถ๐ป๐๐ฎ๐ฎ๐ป ๐บ๐๐ฟ๐ถ๐ฑ ➡️๐๐ผ๐ฎ ๐๐ฎ๐ฝ๐ฎ ๐๐ฎ๐บ๐ถ ➡️ ๐๐ฎ๐ต๐ฎ๐ฏ๐ฎ๐ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐บ๐ฎ๐น๐ ๐บ๐ฒ๐บ๐ถ๐ป๐๐ฎ ➡️ ๐บ๐ถ๐ป๐๐ฎ๐น๐ฎ๐ต, ๐ฐ๐ฎ๐ฟ๐ถ๐น๐ฎ๐ต, ๐ธ๐ฒ๐๐ผ๐ธ๐น๐ฎ๐ต ➡️ ๐๐ฎ๐ฝ๐ฎ ๐บ๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ถ๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฅ๐ผ๐ต ๐๐๐ฑ๐๐.
Itu adalah dasarnya. Sangat jelas ayat 9-13 harus dibaca dalam kesinambungan dengan ayat 1-8.
Khotbah Mantofa berpumpun pada: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.”
Lalu ayat itu dikembangkan menjadi prinsip tentang ketekunan meminta kepada Allah dan keyakinan bahwa Allah menjawab permintaan anak-anak-Nya.
Nah, di sini sudah muncul perbedaan hermeneutis yang penting.
Dari hasil rekonstruksi kita bisa bertanya: “Apa yang sedang dikatakan Lukas melalui keseluruhan rangkaian ini?”
Namun, Mantofa bertanya: “Apa prinsip rohani yang dapat kita ambil dari perkataan Yesus ini?”
Dua pertanyaan itu bisa menghasilkan khotbah yang berbeda, karena cara membaca Alkitab yang berbeda.
๐ฎ. ๐ ๐ฎ๐ป๐๐ผ๐ณ๐ฎ ๐บ๐ฒ๐ป๐ฒ๐ธ๐ฎ๐ป๐ธ๐ฎ๐ป “๐ ๐ถ๐ป๐๐ฎ๐น๐ฎ๐ต”
Apabila kita melihat secara teliti ayat 9 tidak berdiri sendiri. Sebelumnya ada perumpamaan tentang orang yang datang tengah malam, membutuhkan tiga roti, dan tidak mempunyai apa-apa untuk diberikan kepada tamunya.
Jadi, “meminta” dalam Lukas 11 bukan pertama-tama pemerian orang yang datang membawa daftar keinginannya kepada Allah. Ada konteks kebutuhan. Bahkan menarik sekali bahwa sebelumnya Doa Bapa Kami berbunyi: “๐๐ฆ๐ณ๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ช ๐๐ฒ๐๐ถ๐ฎ๐ฝ ๐ต๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ช ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ค๐ถ๐ฌ๐ถ๐ฑ๐ฏ๐บ๐ข.”
Jadi, ada nasabah yang sangat kuat: makanan secukupnya ๐๐ฒ๐๐ถ๐ฎ๐ฝ ๐ต๐ฎ๐ฟ๐ถ ➡️ tidak punya roti ➡️ meminta kepada sahabat ➡️ mintalah ➡️ Bapa memberikan.
Tekanan Lukas pada keterangan waktu ๐๐ฒ๐๐ถ๐ฎ๐ฝ ๐ต๐ฎ๐ฟ๐ถ cukup tajam. Di sini Lukas menekankan ketergantungan terus-menerus, bukan sekadar ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข๐ถ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ฏ๐ต๐ข ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ค๐ถ๐ฌ๐ถ๐ฑ ๐จ๐ช๐จ๐ช๐ฉ, ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฎ๐ช๐ฏ๐ต๐ข๐ข๐ฏ๐ฎ๐ถ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ฌ๐ข๐ฃ๐ถ๐ญ๐ฌ๐ข๐ฏ.
Dalam pada itu khotbah Mantofa menjadikan ๐ข๐ด๐ฌ, ๐ด๐ฆ๐ฆ๐ฌ, ๐ฌ๐ฏ๐ฐ๐ค๐ฌ sebagai prinsip umum bahwa ketekunan dalam meminta akan menghasilkan jawaban. Di sini kita bisa mengajukan pertanyaan kritis: Apakah Lukas sedang mengajarkan mekanisme keberhasilan doa, atau sedang menggambarkan karakter Allah sebagai Bapa yang memberikan apa yang baik kepada anak-anak-Nya?
Ini penting karena ayat 13 justru menjadi kunci.
๐ฏ. ๐๐๐ฎ๐ ๐ญ๐ฏ: ๐๐ฝ๐ฎ ๐ถ๐๐ “๐ฝ๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ถ๐ฎ๐ป ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ฏ๐ฎ๐ถ๐ธ”?
Jika kita membaca secara saksama, ayat 13 terasa rada aneh. Pada ayat 11 dan 12 hal yang dibicarakan adalah makanan: ikan dan telur. ๐๐ฐ๐ฌ tiba-tiba ada Roh Kudus? Tidak mudah untuk dijawab.
Lukas tampaknya menggunakan Sumber Q untuk menulis bagian ini. Matius pun juga sama.
Versi Matius
“๐๐ข๐ฅ๐ช, ๐ซ๐ช๐ฌ๐ข ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ซ๐ข๐ฉ๐ข๐ต ๐ต๐ข๐ฉ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ช ๐ฑ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ช๐ข๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ ๐ฌ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ-๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ๐ฎ๐ถ, ๐ข๐ฑ๐ข๐ญ๐ข๐จ๐ช ๐๐ข๐ฑ๐ข๐ฎ๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช ๐ด๐ถ๐ณ๐จ๐ข! ๐๐ข ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ ๐ฌ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ฏ๐ต๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข-๐๐บ๐ข " (Mat. 7:11)
Tidak ada yang aneh pada versi Matius. Matius tampaknya sekadar mengikuti “kesimpulan logis” yang diberikan Sumber Q bahwa Allah akan memberikan ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ.
Pengarang Injil Lukas tampaknya “merenungkan” lebih lanjut kesimpulan itu: apa ya kira-kira ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ itu? Nah, menurut Lukas, ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ itu adalah Roh Kudus. Allah akan memberikan ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ, yaitu Roh Kudus. Roh Kudus di sini hendaknya jangan dipahami seperti dogma Trinitas. Lukas memang gemar berwacana tentang doa dan Roh Kudus; Roh Kudus yang bertindak dan mengubah.
Perhatikan lagi, ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ dalam Matius berubah menjadi Roh Kudus dalam Lukas. Ini bukan detil kecil.
Kalau Lukas memang hendak mengatakan: “Mintalah apa pun, teruslah meminta, dan Allah akan memberikannya,” maka penutupnya agak aneh: Allah memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.
Bukan: Allah akan memberikan apa pun yang kamu minta.
Jadi struktur Lukas justru mengarahkan pembaca dari permintaan kepada pemberian Allah yang paling baik menurut Allah. Dengan kata lain yang menentukan bukan besarnya permintaan manusia, tertapi kebaikan Bapa.
Dalam khotbah Mantofa ada kesan bahwa ketekunan manusia dalam meminta merupakan faktor utama sehingga Allah akhirnya memberikan yang diminta. Di sinilah kita perlu memberi catatan kritis.
Dalam teks Lukas: ketekunan meminta bukanlah kekuatan yang memaksa Allah. Perumpamaan sahabat yang tidak malu meminta memang berbicara tentang keberanian meminta, tetapi rangkaian itu ditutup dengan karakter Bapa, bukan kemampuan manusia mengubah keputusan Allah.
๐ฐ. ๐ฃ๐ฒ๐ฟ๐ด๐ฒ๐๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐ป ๐ฝ๐๐๐ฎ๐ ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐ต๐ฎ๐๐ถ๐ฎ๐ป
Di atas saya mengatakan bahwa pengarang Injil Lukas gemar berwacana tentang doa dan Roh Kudus; Roh Kudus yang bertindak dan mengubah. Artinya, ujung perikop ini adalah Allah memberikan diri-Nya sendiri melalui Roh Kudus.
Dalam pada itu kalau titik berat khotbah Mantofa adalah bahwa Allah mendengar permohonan dan memberikan jawaban atas kebutuhan manusia, maka pusat gravitasinya berpindah:
dari Allah yang memberikan Roh Kudus ➡️ kepada Allah yang memberikan jawaban atas permintaan.
Mantofa menggeser tekanannya. Hal itu acap tersuakan pada khotbah pendeta seleb yang menggeser pusat perhatian dalam satu perikop ke tempat lain sesuai dengan prapaham atau ideologinya.
Penali: Dari doa kepada siapa, menjadi doa untuk apa?
Di sinilah letak persoalan utama dalam khotbah Mantofa. Lukas 11:1-13 memang berbicara tentang meminta, mencari, dan mengetuk. Akan tetapi seluruh rangkaian itu tidak dapat begitu saja dipisahkan dari konteks yang dibangun Lukas sendiri.
Yesus pertama-tama mengajarkan doa kepada murid-murid yang meminta, “๐๐ถ๐ฉ๐ข๐ฏ, ๐ข๐ซ๐ข๐ณ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฅ๐ฐ๐ข.” Doa itu dimula bukan dengan kebutuhan manusia, melainkan dengan Allah: “๐๐ช๐ฌ๐ถ๐ฅ๐ถ๐ด๐ฌ๐ข๐ฏ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฏ๐ข๐ฎ๐ข-๐๐ถ; ๐ฅ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐จ๐ญ๐ข๐ฉ ๐๐ฆ๐ณ๐ข๐ซ๐ข๐ข๐ฏ-๐๐ถ.” Baru sesudah itu muncul permohonan akan makanan yang secukupnya setiap hari, pengampunan, dan pertolongan dalam pencobaan.
Jadi, pusat doa itu ๐ฏ๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐ธ๐ฎ๐ฑ๐ฎ๐ฟ ๐ฎ๐ฝ๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐บ๐ฎ๐ป๐๐๐ถ๐ฎ ๐ถ๐ป๐ด๐ถ๐ป ๐๐ฒ๐ฟ๐ถ๐บ๐ฎ ๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐๐น๐น๐ฎ๐ต, melainkan ๐ฏ๐ฎ๐ด๐ฎ๐ถ๐บ๐ฎ๐ป๐ฎ ๐บ๐ฎ๐ป๐๐๐ถ๐ฎ ๐ต๐ถ๐ฑ๐๐ฝ ๐ฑ๐ถ ๐ฑ๐ฎ๐น๐ฎ๐บ ๐ป๐ฎ๐๐ฎ๐ฏ๐ฎ๐ต ๐ฑ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐๐น๐น๐ฎ๐ต ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐ท๐ฎ๐ฎ๐ป-๐ก๐๐ฎ. Hal itu semakin jelas pada bagian penutup.
Dalam versi Lukas ๐ฑ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ช๐ข๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ itu tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan material. Lukas secara khas mengatakan bahwa Bapa akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya. Dengan demikian, ๐ฎ๐ช๐ฏ๐ต๐ข๐ญ๐ข๐ฉ, ๐ค๐ข๐ณ๐ช๐ญ๐ข๐ฉ, ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ถ๐ฌ๐ญ๐ข๐ฉ tidak tepat apabila dibaca sebagai semacam rumus: semakin gigih meminta, semakin besar kemungkinan Allah mengabulkan apa yang kita inginkan.
Lukas justru membawa pembacanya kembali kepada Allah sendiri. Yang paling baik bukanlah bahwa manusia akhirnya memeroleh segala sesuatu yang dimintanya, tetapi bahwa manusia menerima Allah yang bekerja melalui Roh Kudus-Nya.
Pada aras itu khotbah Mantofa tampaknya bergerak terlalu jauh ketika menjadikan “minta, cari, ketuk” sebagai prinsip umum untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Persoalannya bukan apakah orang Kristen boleh meminta sesuatu kepada Allah. Tentu boleh. Persoalannya adalah ๐ฎ๐ฝ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ต ๐๐ฒ๐ธ๐ ๐๐๐ธ๐ฎ๐ ๐บ๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ถ๐ธ๐ฎ๐ป ๐ท๐ฎ๐บ๐ถ๐ป๐ฎ๐ป ๐ฏ๐ฎ๐ต๐๐ฎ ๐ธ๐ฒ๐๐ฒ๐ธ๐๐ป๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ฎ๐น๐ฎ๐บ ๐บ๐ฒ๐บ๐ถ๐ป๐๐ฎ ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐ต๐ฎ๐๐ถ๐น๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฎ๐ฝ๐ฎ ๐ฝ๐๐ป ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ธ๐ถ๐๐ฎ ๐บ๐ถ๐ป๐๐ฎ?
Jika memang seperti itu cara membacanya, doa mudah bergeser menjadi sarana untuk memeroleh sesuatu dari Allah. Allah ditempatkan sebagai pihak yang menyediakan apa yang diminta, sedang manusia menjadi pihak yang terus meminta sampai memeroleh. Padahal dalam Lukas doa justru membawa manusia semakin dekat kepada Allah dan Kerajaan-Nya.
Untuk itulah frase ๐ด๐ฆ๐ต๐ช๐ข๐ฑ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ช dalam ๐๐ฐ๐ข ๐๐ข๐ฑ๐ข ๐๐ข๐ฎ๐ช juga penting. Yang diminta bukan kelimpahan tanpa batas, melainkan makanan yang secukupnya ๐๐ฒ๐๐ถ๐ฎ๐ฝ ๐ต๐ฎ๐ฟ๐ถ. Ini adalah doa tentang ketergantungan, bukan tentang akumulasi. Manusia datang kepada Bapa karena menyadari bahwa hidupnya tidak berada sepenuhnya dalam kendalinya sendiri.
Perumpamaan tentang sahabat yang tidak malu meminta memang menegaskan keberanian dan ketekunan dalam berdoa. Namun, ketekunan itu tidak boleh dilepaskan dari tujuan seluruh rangkaian pengajaran Yesus. Ketekunan dalam meminta bukanlah teknik untuk “memaksa” Allah memenuhi keinginan manusia. Ketekunan itu merupakan ekspresi kepercayaan kepada Bapa yang baik.
Dengan demikian, Lukas 11:1-13 tidak terutama berkata, “Jangan berhenti meminta sampai kamu mendapatkan apa yang kamu mau.” Pesan yang lebih dalam adalah: “๐๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ต๐ฒ๐ป๐๐ถ ๐ฑ๐ฎ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ธ๐ฒ๐ฝ๐ฎ๐ฑ๐ฎ ๐๐ฎ๐ฝ๐ฎ.” Ketika datang kepada Bapa itu dilakukan terus-menerus, jawaban terbesar yang diberikan Lukas bukanlah benda, keberhasilan, kesehatan, kekayaan, atau terpenuhinya seluruh keinginan manusia. Jawaban itu adalah Roh Kudus.
Di sinilah khotbah tentang doa seharusnya berhenti. Bukan pada pertanyaan, “Apa yang akan saya dapatkan kalau saya berdoa?”, tetapi pada pertanyaan, “๐ ๐ฒ๐ป๐ท๐ฎ๐ฑ๐ถ ๐๐ฒ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐๐ถ ๐ฎ๐ฝ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ต ๐๐ฎ๐๐ฎ ๐ธ๐ฒ๐๐ถ๐ธ๐ฎ ๐๐ฒ๐ฟ๐๐-๐บ๐ฒ๐ป๐ฒ๐ฟ๐๐ ๐ต๐ถ๐ฑ๐๐ฝ ๐ฑ๐ถ ๐ต๐ฎ๐ฑ๐ฎ๐ฝ๐ฎ๐ป ๐๐น๐น๐ฎ๐ต ๐ฑ๐ฎ๐น๐ฎ๐บ ๐ฑ๐ผ๐ฎ?”
Doa bukan mesin untuk menghasilkan apa yang kita inginkan. Doa adalah cara manusia tinggal dalam pernasabahan dengan Bapa, menantikan Kerajaan-Nya, menerima kecukupan untuk hari ini, belajar mengampuni, menghadapi pencobaan, dan membuka diri terhadap karya Roh Kudus.
Dengan pembacaan seperti itu ๐ฎ๐ช๐ฏ๐ต๐ข๐ญ๐ข๐ฉ, ๐ค๐ข๐ณ๐ช๐ญ๐ข๐ฉ, ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ถ๐ฌ๐ญ๐ข๐ฉ tidak kehilangan daya pengharapannya. Justru sebaliknya. Ketiganya tidak menjadi slogan untuk menjamin keberhasilan manusia, tetapi undangan untuk terus datang kepada Allah.
Di situlah perbedaan paling mendasar antara doa yang diajarkan Lukas dan doa yang direduksi menjadi formula keberhasilan:
▶️ Yang diajarkan Lukas mengarahkan manusia kepada Allah.
▶️ Yang dikhotbahkan Mantofa berisiko mengarahkan Allah kepada keinginan manusia.