Selasa, 01 September 2026

Tempo hari saya membedah khotbah ๐—ฃรจ๐˜€๐˜๐—ฒ๐—ฟ ๐—ฃ๐—ต๐—ถ๐—น๐—ถ๐—ฝ ๐— ๐—ฎ๐—ป๐˜๐—ผ๐—ณ๐—ฎ. Seorang penggemarnya berkata agar saya tidak menilai dari satu khotbah saja.

Untuk menilai seribu tusuk sate itu enak atau tidak, cukup cicipi satu tusuk saja, tak perlu makan semuanya. Kalau dua tusuk, masih bolehlah.

Untuk itu saya membedah satu lagi khotbah Mantofa. 
Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=0b-xvgHczWU 
Bacaan: Lukas 11:9-13
Tema: Mintalah Baptisan Roh Kudus & Karunia Kesembuhan

๐Ÿญ. ๐— ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ผ๐—ป๐˜€๐˜๐—ฟ๐˜‚๐—ธ๐˜€๐—ถ ๐—Ÿ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐˜€ ๐Ÿญ๐Ÿญ:๐Ÿต-๐Ÿญ๐Ÿฏ

Mari kita merekonstruksi terlebih dahulu Lukas 11:9-13. Ayat 9-13 merupakan rangkaian tak terpisahkan dari ayat 1-8. Apabila kita bagankan Lukas 11:1-13 kira-kira seperti ini:
๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—บ๐—ถ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐˜‚๐—ฟ๐—ถ๐—ฑ ➡️๐——๐—ผ๐—ฎ ๐—•๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐—ž๐—ฎ๐—บ๐—ถ ➡️ ๐˜€๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ฏ๐—ฎ๐˜ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—บ๐—ฎ๐—น๐˜‚ ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ถ๐—ป๐˜๐—ฎ ➡️ ๐—บ๐—ถ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต, ๐—ฐ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ๐—น๐—ฎ๐—ต, ๐—ธ๐—ฒ๐˜๐—ผ๐—ธ๐—น๐—ฎ๐—ต ➡️ ๐—•๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฅ๐—ผ๐—ต ๐—ž๐˜‚๐—ฑ๐˜‚๐˜€.

Itu adalah dasarnya. Sangat jelas ayat 9-13 harus dibaca dalam kesinambungan dengan ayat 1-8.

Khotbah Mantofa berpumpun pada: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.”

Lalu ayat itu dikembangkan menjadi prinsip tentang ketekunan meminta kepada Allah dan keyakinan bahwa Allah menjawab permintaan anak-anak-Nya.

Nah, di sini sudah muncul perbedaan hermeneutis yang penting.

Dari hasil rekonstruksi kita bisa bertanya: “Apa yang sedang dikatakan Lukas melalui keseluruhan rangkaian ini?”

Namun, Mantofa bertanya: “Apa prinsip rohani yang dapat kita ambil dari perkataan Yesus ini?”

Dua pertanyaan itu bisa menghasilkan khotbah yang berbeda, karena cara membaca Alkitab yang berbeda.

๐Ÿฎ. ๐— ๐—ฎ๐—ป๐˜๐—ผ๐—ณ๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ๐—ป๐—ธ๐—ฎ๐—ป “๐— ๐—ถ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต”

Apabila kita melihat secara teliti ayat 9 tidak berdiri sendiri. Sebelumnya ada perumpamaan tentang orang yang datang tengah malam, membutuhkan tiga roti, dan tidak mempunyai apa-apa untuk diberikan kepada tamunya.

Jadi, “meminta” dalam Lukas 11 bukan pertama-tama pemerian orang yang datang membawa daftar keinginannya kepada Allah. Ada konteks kebutuhan. Bahkan menarik sekali bahwa sebelumnya Doa Bapa Kami berbunyi: “๐˜‰๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜€๐—ฒ๐˜๐—ถ๐—ฎ๐—ฝ ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ค๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.”

Jadi, ada nasabah yang sangat kuat: makanan secukupnya ๐˜€๐—ฒ๐˜๐—ถ๐—ฎ๐—ฝ ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ➡️ tidak punya roti ➡️ meminta kepada sahabat ➡️ mintalah ➡️ Bapa memberikan.

Tekanan Lukas pada keterangan waktu ๐˜€๐—ฒ๐˜๐—ถ๐—ฎ๐—ฝ ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ cukup tajam. Di sini Lukas menekankan ketergantungan terus-menerus, bukan sekadar ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ค๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜จ๐˜ช๐˜จ๐˜ช๐˜ฉ, ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ.

Dalam pada itu khotbah Mantofa menjadikan ๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ฌ, ๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ค๐˜ฌ sebagai prinsip umum bahwa ketekunan dalam meminta akan menghasilkan jawaban. Di sini kita bisa mengajukan pertanyaan kritis: Apakah Lukas sedang mengajarkan mekanisme keberhasilan doa, atau sedang menggambarkan karakter Allah sebagai Bapa yang memberikan apa yang baik kepada anak-anak-Nya?

Ini penting karena ayat 13 justru menjadi kunci.

๐Ÿฏ. ๐—”๐˜†๐—ฎ๐˜ ๐Ÿญ๐Ÿฏ: ๐—”๐—ฝ๐—ฎ ๐—ถ๐˜๐˜‚ “๐—ฝ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐—ฎ๐—ป ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฏ๐—ฎ๐—ถ๐—ธ”?

Jika kita membaca secara saksama, ayat 13 terasa rada aneh. Pada ayat 11 dan 12 hal yang dibicarakan adalah makanan: ikan dan telur. ๐˜’๐˜ฐ๐˜ฌ tiba-tiba ada Roh Kudus? Tidak mudah untuk dijawab.

Lukas tampaknya menggunakan Sumber Q untuk menulis bagian ini. Matius pun juga sama.

Versi Matius 
“๐˜‘๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช, ๐˜ซ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ-๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜‰๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ถ๐˜ณ๐˜จ๐˜ข! ๐˜๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข-๐˜•๐˜บ๐˜ข " (Mat. 7:11) 

Tidak ada yang aneh pada versi Matius. Matius tampaknya sekadar mengikuti “kesimpulan logis” yang diberikan Sumber Q bahwa Allah akan memberikan ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ.

Pengarang Injil Lukas tampaknya “merenungkan” lebih lanjut kesimpulan itu: apa ya kira-kira ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ itu? Nah, menurut Lukas, ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ itu adalah Roh Kudus. Allah akan memberikan ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ, yaitu Roh Kudus. Roh Kudus di sini hendaknya jangan dipahami seperti dogma Trinitas. Lukas memang gemar berwacana tentang doa dan Roh Kudus; Roh Kudus yang bertindak dan mengubah.

Perhatikan lagi, ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ dalam Matius berubah menjadi Roh Kudus dalam Lukas. Ini bukan detil kecil.

Kalau Lukas memang hendak mengatakan: “Mintalah apa pun, teruslah meminta, dan Allah akan memberikannya,” maka penutupnya agak aneh: Allah memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.

Bukan: Allah akan memberikan apa pun yang kamu minta.

Jadi struktur Lukas justru mengarahkan pembaca dari permintaan kepada pemberian Allah yang paling baik menurut Allah. Dengan kata lain yang menentukan bukan besarnya permintaan manusia, tertapi kebaikan Bapa.

Dalam khotbah Mantofa ada kesan bahwa ketekunan manusia dalam meminta merupakan faktor utama sehingga Allah akhirnya memberikan yang diminta. Di sinilah kita perlu memberi catatan kritis.

Dalam teks Lukas: ketekunan meminta bukanlah kekuatan yang memaksa Allah. Perumpamaan sahabat yang tidak malu meminta memang berbicara tentang keberanian meminta, tetapi rangkaian itu ditutup dengan karakter Bapa, bukan kemampuan manusia mengubah keputusan Allah.

๐Ÿฐ. ๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐—ด๐—ฒ๐˜€๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป ๐—ฝ๐˜‚๐˜€๐—ฎ๐˜ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—ต๐—ฎ๐˜๐—ถ๐—ฎ๐—ป

Di atas saya mengatakan bahwa pengarang Injil Lukas gemar berwacana tentang doa dan Roh Kudus; Roh Kudus yang bertindak dan mengubah. Artinya, ujung perikop ini adalah Allah memberikan diri-Nya sendiri melalui Roh Kudus.

Dalam pada itu kalau titik berat khotbah Mantofa adalah bahwa Allah mendengar permohonan dan memberikan jawaban atas kebutuhan manusia, maka pusat gravitasinya berpindah:
dari Allah yang memberikan Roh Kudus ➡️ kepada Allah yang memberikan jawaban atas permintaan.

Mantofa menggeser tekanannya. Hal itu acap tersuakan pada khotbah pendeta seleb yang menggeser pusat perhatian dalam satu perikop ke tempat lain sesuai dengan prapaham atau ideologinya.

Penali: Dari doa kepada siapa, menjadi doa untuk apa?

Di sinilah letak persoalan utama dalam khotbah Mantofa. Lukas 11:1-13 memang berbicara tentang meminta, mencari, dan mengetuk. Akan tetapi seluruh rangkaian itu tidak dapat begitu saja dipisahkan dari konteks yang dibangun Lukas sendiri.

Yesus pertama-tama mengajarkan doa kepada murid-murid yang meminta, “๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ข.” Doa itu dimula bukan dengan kebutuhan manusia, melainkan dengan Allah: “๐˜‹๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข-๐˜”๐˜ถ; ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ-๐˜”๐˜ถ.” Baru sesudah itu muncul permohonan akan makanan yang secukupnya setiap hari, pengampunan, dan pertolongan dalam pencobaan.

Jadi, pusat doa itu ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜€๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—บ๐—ฎ๐—ป๐˜‚๐˜€๐—ถ๐—ฎ ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ถ๐—ป ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐—บ๐—ฎ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—”๐—น๐—น๐—ฎ๐—ต, melainkan ๐—ฏ๐—ฎ๐—ด๐—ฎ๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—ป๐—ฎ ๐—บ๐—ฎ๐—ป๐˜‚๐˜€๐—ถ๐—ฎ ๐—ต๐—ถ๐—ฑ๐˜‚๐—ฝ ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ ๐—ป๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—ฏ๐—ฎ๐—ต ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—”๐—น๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ž๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ท๐—ฎ๐—ฎ๐—ป-๐—ก๐˜†๐—ฎ. Hal itu semakin jelas pada bagian penutup. 

Dalam versi Lukas ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ itu tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan material. Lukas secara khas mengatakan bahwa Bapa akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya. Dengan demikian, ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ tidak tepat apabila dibaca sebagai semacam rumus: semakin gigih meminta, semakin besar kemungkinan Allah mengabulkan apa yang kita inginkan.

Lukas justru membawa pembacanya kembali kepada Allah sendiri. Yang paling baik bukanlah bahwa manusia akhirnya memeroleh segala sesuatu yang dimintanya, tetapi bahwa manusia menerima Allah yang bekerja melalui Roh Kudus-Nya.

Pada aras itu khotbah Mantofa tampaknya bergerak terlalu jauh ketika menjadikan “minta, cari, ketuk” sebagai prinsip umum untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Persoalannya bukan apakah orang Kristen boleh meminta sesuatu kepada Allah. Tentu boleh. Persoalannya adalah ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ต ๐˜๐—ฒ๐—ธ๐˜€ ๐—Ÿ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐˜€ ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ท๐—ฎ๐—บ๐—ถ๐—ป๐—ฎ๐—ป ๐—ฏ๐—ฎ๐—ต๐˜„๐—ฎ ๐—ธ๐—ฒ๐˜๐—ฒ๐—ธ๐˜‚๐—ป๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ถ๐—ป๐˜๐—ฎ ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ต๐—ฎ๐˜€๐—ถ๐—น๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐—ฝ๐˜‚๐—ป ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ธ๐—ถ๐˜๐—ฎ ๐—บ๐—ถ๐—ป๐˜๐—ฎ?

Jika memang seperti itu cara membacanya, doa mudah bergeser menjadi sarana untuk memeroleh sesuatu dari Allah. Allah ditempatkan sebagai pihak yang menyediakan apa yang diminta, sedang manusia menjadi pihak yang terus meminta sampai memeroleh. Padahal dalam Lukas doa justru membawa manusia semakin dekat kepada Allah dan Kerajaan-Nya.

Untuk itulah frase ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช dalam ๐˜‹๐˜ฐ๐˜ข ๐˜‰๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜’๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช juga penting. Yang diminta bukan kelimpahan tanpa batas, melainkan makanan yang secukupnya ๐˜€๐—ฒ๐˜๐—ถ๐—ฎ๐—ฝ ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ. Ini adalah doa tentang ketergantungan, bukan tentang akumulasi. Manusia datang kepada Bapa karena menyadari bahwa hidupnya tidak berada sepenuhnya dalam kendalinya sendiri.

Perumpamaan tentang sahabat yang tidak malu meminta memang menegaskan keberanian dan ketekunan dalam berdoa. Namun, ketekunan itu tidak boleh dilepaskan dari tujuan seluruh rangkaian pengajaran Yesus. Ketekunan dalam meminta bukanlah teknik untuk “memaksa” Allah memenuhi keinginan manusia. Ketekunan itu merupakan ekspresi kepercayaan kepada Bapa yang baik.

Dengan demikian, Lukas 11:1-13 tidak terutama berkata, “Jangan berhenti meminta sampai kamu mendapatkan apa yang kamu mau.” Pesan yang lebih dalam adalah: “๐—๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ต๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ถ ๐—ฑ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ธ๐—ฒ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐—•๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ.” Ketika datang kepada Bapa itu dilakukan terus-menerus, jawaban terbesar yang diberikan Lukas bukanlah benda, keberhasilan, kesehatan, kekayaan, atau terpenuhinya seluruh keinginan manusia. Jawaban itu adalah Roh Kudus.

Di sinilah khotbah tentang doa seharusnya berhenti. Bukan pada pertanyaan, “Apa yang akan saya dapatkan kalau saya berdoa?”, tetapi pada pertanyaan, “๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐˜€๐—ฒ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ถ ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ต ๐˜€๐—ฎ๐˜†๐—ฎ ๐—ธ๐—ฒ๐˜๐—ถ๐—ธ๐—ฎ ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐˜‚๐˜€-๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ฒ๐—ฟ๐˜‚๐˜€ ๐—ต๐—ถ๐—ฑ๐˜‚๐—ฝ ๐—ฑ๐—ถ ๐—ต๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ๐—ป ๐—”๐—น๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ ๐—ฑ๐—ผ๐—ฎ?”

Doa bukan mesin untuk menghasilkan apa yang kita inginkan. Doa adalah cara manusia tinggal dalam pernasabahan dengan Bapa, menantikan Kerajaan-Nya, menerima kecukupan untuk hari ini, belajar mengampuni, menghadapi pencobaan, dan membuka diri terhadap karya Roh Kudus.

Dengan pembacaan seperti itu ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ tidak kehilangan daya pengharapannya. Justru sebaliknya. Ketiganya tidak menjadi slogan untuk menjamin keberhasilan manusia, tetapi undangan untuk terus datang kepada Allah.

Di situlah perbedaan paling mendasar antara doa yang diajarkan Lukas dan doa yang direduksi menjadi formula keberhasilan: 
▶️ Yang diajarkan Lukas mengarahkan manusia kepada Allah.
▶️ Yang dikhotbahkan Mantofa berisiko mengarahkan Allah kepada keinginan manusia.

Tempo hari saya membedah khotbah ๐—ฃรจ๐˜€๐˜๐—ฒ๐—ฟ ๐—ฃ๐—ต๐—ถ๐—น๐—ถ๐—ฝ ๐— ๐—ฎ๐—ป๐˜๐—ผ๐—ณ๐—ฎ. Seorang penggemarnya berkata agar saya tidak menilai dari satu kho...