Minggu, 06 September 2026

Bedah khotbah Ronald Pekuwali (RP) dalam 𝙆𝙖𝙥𝙖𝙡 𝙈𝙞𝙣𝙜𝙜𝙪, GKI Kebayoran Baru, 25 Mei 2025
Sumber https://www.youtube.com/watch?v=mngsZUmfuvM 
Khotbah di menit 28:53 - 48:45
Judul khotbah: 𝙏𝙝𝙚 𝘼𝙙𝙫𝙤𝙘𝙖𝙩𝙚

Dalam membedah khotbah di atas saya menggunakan ulasan 𝘛𝘪𝘵𝘪𝘬 𝘗𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨 saya sebagai 𝘣𝘢𝘴𝘦𝘭𝘪𝘯𝘦 yang pernah ditayangkan di FB pada 24 Mei 2025. Lihat https://www.facebook.com/share/p/1HSeBNnLws/ 
Judul ulasan saya: 𝙈𝙚𝙣𝙜𝙖𝙩𝙪𝙧-𝙖𝙩𝙪𝙧 𝙍𝙤𝙝 𝙆𝙪𝙙𝙪𝙨

Khotbah RP pada Minggu VI Paska, 25 Mei 2025, diberi judul 𝘛𝘩𝘦 𝘈𝘥𝘷𝘰𝘤𝘢𝘵𝘦, dengan fokus pada Roh Kudus sebagai Penolong yang menyertai orang percaya setelah kepergian Yesus. Secara umum saya melihat RP berangkat dari Yohanes 14:23-29, tetapi cara ia mengembangkan teks tersebut berbeda cukup jauh dari struktur dan tekanan yang saya temukan dalam bacaan Yohanes 14:23-29.

Perbedaan itu terutama terlihat pada cara RP memindahkan pusat perhatian dari 𝗻𝗮𝘀𝗮𝗯𝗮𝗵 𝗮𝗻𝘁𝗮𝗿𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝘀𝗶𝗵𝗶 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀, 𝗺𝗲𝗻𝗮𝗮𝘁𝗶 𝗳𝗶𝗿𝗺𝗮𝗻-𝗡𝘆𝗮, 𝗱𝗮𝗻 𝗸𝗲𝗵𝗮𝗱𝗶𝗿𝗮𝗻 𝗥𝗼𝗵 𝗞𝘂𝗱𝘂𝘀 kepada pembicaraan mengenai bahasa kasih, hati nurani, doa syafaat, dan penyembahan.

𝟭. 𝗗𝗮𝗿𝗶 𝗯𝗮𝗵𝗮𝘀𝗮 𝗸𝗮𝘀𝗶𝗵 𝗺𝗲𝗻𝘂𝗷𝘂 𝗥𝗼𝗵 𝗞𝘂𝗱𝘂𝘀

RP membuka khotbah dengan pertanyaan: “Apa bukti kita mengasihi pasangan kita?” Ia kemudian  memerkenalkan 𝘛𝘩𝘦 𝘍𝘪𝘷𝘦 𝘓𝘰𝘷𝘦 𝘓𝘢𝘯𝘨𝘶𝘢𝘨𝘦𝘴 karya Gary Chapman: 𝘸𝘰𝘳𝘥𝘴 𝘰𝘧 𝘢𝘧𝘧𝘪𝘳𝘮𝘢𝘵𝘪𝘰𝘯, 𝘲𝘶𝘢𝘭𝘪𝘵𝘺 𝘵𝘪𝘮𝘦, 𝘱𝘩𝘺𝘴𝘪𝘤𝘢𝘭 𝘵𝘰𝘶𝘤𝘩, 𝘳𝘦𝘤𝘦𝘪𝘷𝘪𝘯𝘨 𝘨𝘪𝘧𝘵𝘴, 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘤𝘵𝘴 𝘰𝘧 𝘴𝘦𝘳𝘷𝘪𝘤𝘦.

Secara homiletis saya bisa memahami mengapa RP memula dari sini. Pendengar diajak masuk melalui pengalaman sehari-hari tentang cinta. Dari sana RP membawa pendengar kepada pertanyaan yang lebih besar: “Apa bukti cinta, bukti kasih kita kepada Tuhan?” Ia mmebuat jembatan.

Masalahnya muncul ketika konsep 𝘧𝘪𝘷𝘦 𝘭𝘰𝘷𝘦 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘶𝘢𝘨𝘦𝘴 tersebut seolah-olah menjadi landasan untuk membaca Yohanes 14:23: “𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪 𝘈𝘬𝘶, 𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘵𝘪 𝘧𝘪𝘳𝘮𝘢𝘯-𝘒𝘶.”

Dalam teks Yohanes Yesus sendiri sudah memberikan jawaban atas pertanyaan tentang bukti kasih kepada-Nya. Bukti itu bukan lima bahasa kasih. Bukti itu adalah 𝗺𝗲𝗻𝗮𝗮𝘁𝗶 𝗳𝗶𝗿𝗺𝗮𝗻-𝗡𝘆𝗮. OKI saya melihat pembukaan RP lebih merupakan alat retoris untuk memasuki teks daripada hasil penggalian dari teks.

RP tidak keliru sepenuhnya secara homiletis, tetapi saya perlu membedakan antara ilustrasi khotbah dan pesan teks. Jangan sampai ilustrasi akhirnya mengambil alih teks.

𝟮. 𝘼𝙥𝙖 𝙗𝙪𝙠𝙩𝙞 𝙠𝙞𝙩𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙨𝙞𝙝𝙞 𝙏𝙪𝙝𝙖𝙣?

Pada bagian ini RP justru menyentuh sesuatu yang penting. Ia menyebut berbagai hal yang sering dianggap sebagai bukti kasih kepada Tuhan: datang beribadah, saat teduh, memberikan persembahan, pelayanan kasih, bangun pukul tiga pagi untuk berdoa, mendengarkan lagu penyembahan. 

Ia lalu mengatakan bahwa Yesus memberikan standar yang lebih sederhana: “Jadi tanda Bapak Ibu mengasihi Tuhan itu menuruti firman Tuhan.” Saya kira sampai di sini RP sudah tepat. 

Yohanes 14:23 memang menghubungkan secara langsung: mengasihi Yesus ➡️ menuruti firman-Nya. Bahkan ayat 24 memberikan sisi negatifnya: tidak mengasihi Yesus ➡️ tidak menuruti firman-Nya.

Sampai di sini juga saya berpikir RP akan menjadikan bagian ini sebagai salah satu pusat khotbah. Tapiii sesudah itu RP mengajukan pertanyaan oratoris: “Firman yang mana, Bang Ronald?”

Ia kemudian menjawab bahwa seluruh Alkitab adalah firman Tuhan dan bertanya apakah manusia mampu menaati seluruh isi Alkitab. 

Di sinilah saya mula melihat persoalan, karena pertanyaan Yohanes 14:23-24 bukanlah “bagaimana saya menaati seluruh Alkitab?”, melainkan berpautan dengan 𝗳𝗶𝗿𝗺𝗮𝗻 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 dalam konteks 𝘄𝗲𝗷𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻-𝗡𝘆𝗮 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗽𝗮𝗿𝗮 𝗺𝘂𝗿𝗶𝗱 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗺𝗮𝗹𝗮𝗺 𝘀𝗲𝗯𝗲𝗹𝘂𝗺 𝗽𝗲𝗻𝘆𝗮𝗹𝗶𝗯𝗮𝗻. Teks mengatakan: “𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘵𝘪 𝘧𝘪𝘳𝘮𝘢𝘯-𝘒𝘶” dan: “𝘧𝘪𝘳𝘮𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪-𝘒𝘶, 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘉𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘵𝘶𝘴 𝘈𝘬𝘶.”

Ketika RP bergerak dari 𝘧𝘪𝘳𝘮𝘢𝘯-𝘒𝘶 menuju 𝘴𝘦𝘭𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘪𝘴𝘪 𝘈𝘭𝘬𝘪𝘵𝘢𝘣, terjadilah perluasan rujukan yang tidak dijelaskan. Padahal kita sudah tahu bahwa pada saat Kitab Injil Yohanes ditulis, jemaat Kristen belum memiliki kanon kitab PB. Bahkan diduga oleh banyak ahli ada pertarungan politis untuk menerima Komunitas Yohanes ke dalam Jemaat Kristen lebih luas sampai-sampai ada penambahan pasal 21.

𝟯. 𝙆𝙖𝙡𝙖𝙪 𝘼𝙡𝙠𝙞𝙩𝙖𝙗 𝙙𝙞𝙥𝙚𝙧𝙖𝙨, 𝙨𝙖𝙧𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙠𝙖𝙨𝙞𝙝

Ini bagian yang menarik sekaligus problematis. RP mengatakan kira-kira begini: “Kalau kita mencoba memeras isi Alkitab ini ... maka kita akan mendapatkan sari paling kecil dari seluruh pesan Alkitab ini. Isi Alkitab ini pada akhirnya bicara tentang satu hal, yaitu kasih.”

Secara retoris kalimat ini sangat kuat. Saya bahkan bisa membayangkan pendengar langsung menangkap pesannya. Namun, sebagai pembacaan Alkitab saya perlu berhati-hati, karena 𝘀𝗲𝗹𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗶𝘀𝗶 𝗔𝗹𝗸𝗶𝘁𝗮𝗯 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗮𝗸𝗵𝗶𝗿𝗻𝘆𝗮 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗸𝗮𝘀𝗶𝗵 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻𝗹𝗮𝗵 𝗸𝗲𝘀𝗶𝗺𝗽𝘂𝗹𝗮𝗻 yang diberikan Yohanes 14:23-29. Apalagi 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗮𝗱𝗮 𝗛𝘂𝗸𝘂𝗺 𝗞𝗮𝘀𝗶𝗵 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗜𝗻𝗷𝗶𝗹 𝗬𝗼𝗵𝗮𝗻𝗲𝘀 seperti halnya dalam Injil sinoptik.

Memang cinta kasih merupakan tema yang penting dalam Injil Yohanes. Namun teks yang sedang dibaca mempunyai rangkaian gagasan yang jauh lebih spesifik:
mengasihi Yesus ➡️ menaati firman-Nya ➡️ Bapa mengasihi orang itu ➡️ Bapa dan Anak datang dan diam bersama dia ➡️ Roh Kudus diutus ➡️ Roh mengajar dan mengingatkan ➡️ damai diberikan.

Dengan kata lain saya tidak perlu memeras seluruh Alkitab untuk menemukan kasih dalam Yohanes 14. Justru teksnya sendiri sudah menyediakan struktur yang lebih kaya daripada sekadar Alkitab = kasih.

𝟰. 𝗗𝗮𝗿𝗶 𝗸𝗮𝘀𝗶𝗵 𝗺𝗲𝗻𝘂𝗷𝘂 𝗽𝗲𝗻𝗴𝗮𝗺𝗽𝘂𝗻𝗮𝗻

Sesudah mengatakan bahwa kasih selalu memberi, RP bergerak ke pengampunan: “Kasih itu puncaknya adalah pengampunan.” kemudian: “Bukankah itu karya Kristus?”

Saya tidak keberatan dengan pengampunan sebagai tema Kristen. Bahkan secara pastoral ini sangat paut. Namun, saya melihat ada lompatan lagi.

Yohanes 14:23-29 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝘀𝗲𝗱𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗶𝗰𝗮𝗿𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗻𝗴𝗮𝗺𝗽𝘂𝗻𝗮𝗻. Pengampunan dimasukkan RP sebagai konsekuensi moral dari takrifnya tentang kasih.

Jadi, di sini saya membedakan antara: (1) teks mengatakan sesuatu ➡️ khotbah mengembangkan implikasinya dan (2) teks mengatakan sesuatu ➡️ khotbah mengganti fokusnya dengan tema lain yang masih berpautan.

Pada bagian ini RP bergerak ke kategori kedua.

𝟱. 𝗥𝗼𝗵 𝗞𝘂𝗱𝘂𝘀 𝘀𝗲𝗯𝗮𝗴𝗮𝗶 𝙏𝙝𝙚 𝘼𝙙𝙫𝙤𝙘𝙖𝙩𝙚

Di sinilah khotbah kembali bertemu dengan teks. RP mengutip Yohanes 14:26: “𝘛𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘩𝘪𝘣𝘶𝘳 𝘺𝘢𝘪𝘵𝘶 𝘙𝘰𝘩 𝘒𝘶𝘥𝘶𝘴 ... 𝘋𝘪𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘒𝘶𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶.”

RP menyebut 𝘗𝘢𝘳𝘢𝘬𝘭ē𝘵𝘰𝘴 dan menjelaskannya sebagai seseorang yang senantiasa berada di samping kita. Secara garis besar ini sejalan dengan pemerian Yohanes tentang 𝘗𝘢𝘳𝘢𝘬𝘭ē𝘵𝘰𝘴. Lebih penting lagi RP menangkap dua fungsi yang memang sangat jelas dalam ayat 26: 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗷𝗮𝗿 𝗱𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗸𝗮𝗻.

Ini justru bagian yang menurut saya sangat penting dalam memahami Roh Kudus menurut Injil Yohanes. Roh Kudus bukan pertama-tama diperkenalkan sebagai sumber pengalaman religius yang spektakuler.

Dalam Yohanes 14:26 Roh Kudus berpautan dengan Yesus, perkataan Yesus, pengajaran Yesus, dan ingatan terhadap perkataan Yesus. Jadi, kalau saya kembali kepada judul ulasan saya 𝘔𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘶𝘳-𝘢𝘵𝘶𝘳 𝘙𝘰𝘩 𝘒𝘶𝘥𝘶𝘴, maka pertanyaannya: Kalau Roh Kudus sendiri menurut Yohanes bekerja dengan mengajarkan dan mengingatkan apa yang telah dikatakan Yesus, apakah mungkin saya kemudian mendaku bahwa Roh Kudus memberi saya bacaan Alkitab tertentu karena saya mendapat “bisikan” pribadi? Justru di sinilah 𝘣𝘢𝘴𝘦𝘭𝘪𝘯𝘦 ulasan saya tersebut memiliki kegayutan.

𝟲. 𝗥𝗼𝗵 𝗞𝘂𝗱𝘂𝘀 𝗱𝗮𝗻 𝗵𝗮𝘁𝗶 𝗻𝘂𝗿𝗮𝗻𝗶

RP kemudian mengatakan bahwa Roh Kudus bekerja melalui dan di dalam hati nurani. Ia memberikan contoh ketika seseorang hendak melakukan kejahatan, jatuh ke dalam dosa, atau melakukan kesalahan, lalu ada suara yang mengingatkan: “Ini salah.”

RP lalu mengatakan bahwa itu adalah Roh Kudus. Saya kira di sini saya harus memberi tanda hati-hati.

Hati nurani dan Roh Kudus bukan dua istilah yang dapat begitu saja disamakan. 𝗛𝗮𝘁𝗶 𝗻𝘂𝗿𝗮𝗻𝗶 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗸𝗮𝘁𝗲𝗴𝗼𝗿𝗶 𝗮𝗻𝘁𝗿𝗼𝗽𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶𝘀 𝗱𝗮𝗻 𝗺𝗼𝗿𝗮𝗹. Roh Kudus adalah pribadi ilahi. Bahwa Roh Kudus dapat bekerja melalui hati nurani tentu dapat dipertahankan secara teologis. Namun, mengatakan: 𝘚𝘶𝘢𝘳𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘶𝘯𝘤𝘶𝘭 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘯𝘶𝘳𝘢𝘯𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘙𝘰𝘩 𝘒𝘶𝘥𝘶𝘴 𝗺𝗲𝗺𝗯𝘂𝘁𝘂𝗵𝗸𝗮𝗻 𝗮𝗿𝗴𝘂𝗺𝗲𝗻𝘁𝗮𝘀𝗶 lebih lanjut yang kuat.

Kalau setiap dorongan moral dalam batin langsung diberi label “Roh Kudus”, kita menghadapi persoalan epistemologis: Bagaimana saya membedakan suara Roh Kudus dari suara hati nurani, pendidikan moral, pengalaman masa lalu, rasa bersalah, atau bahkan keinginan pribadi saya sendiri? Justru Yohanes 14:26 memberikan kriteria yang lebih jelas: Roh Kudus 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗷𝗮𝗿 𝗱𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗸𝗮𝗻 segala sesuatu yang telah dikatakan Yesus.

Dengan begitu saya lebih aman mengatakan: 𝗥𝗼𝗵 𝗞𝘂𝗱𝘂𝘀 𝗺𝗲𝗻𝗼𝗹𝗼𝗻𝗴 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗽𝗲𝗿𝗰𝗮𝘆𝗮 𝗺𝗲𝗺𝗮𝗵𝗮𝗺𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗵𝗶𝗱𝘂𝗽𝗶 𝗽𝗲𝗿𝗸𝗮𝘁𝗮𝗮𝗻 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 ketimbang mengatakan setiap suara moral dalam batin adalah suara Roh Kudus.

𝟳. 𝗥𝗼𝗺𝗮 𝟴:𝟮𝟲 𝘁𝗶𝗯𝗮-𝘁𝗶𝗯𝗮 𝗺𝗮𝘀𝘂𝗸

RP kemudian berpindah ke Roma 8:26: “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita. Sebab kita tidak tahu bagaimana sebenarnya harus berdoa...”

Ayat itu memang berbicara mengenai Roh dan doa. Akan tetapi saya melihat perpindahan ini cukup memaksakan. Khotbah sedang membahas Yohanes 14:23-29, kemudian untuk menjelaskan pekerjaan Roh Kudus dalam doa RP menggunakan Roma 8:26.

Tidak keliru 𝘴𝘪𝘩. Namun, saya akan menyebutnya 𝘁𝗲𝗸𝘀 𝗽𝗲𝗺𝗯𝗮𝗻𝗱𝗶𝗻𝗴, 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗻𝗷𝗲𝗹𝗮𝘀𝗮𝗻 Yohanes 14, apalagi Surat Roma lebih tua daripada Injil Yohanes.

Persoalannya muncul ketika Roma 8:26 kemudian dijadikan dasar untuk berbicara panjang mengenai doa syafaat. RP mengatakan: “Itulah pekerjaan Roh Kudus yang bisa kita lakukan.” 

Di situ ada 𝗸𝗲𝗸𝗮𝗰𝗮𝘂𝗮𝗻 𝘀𝘂𝗯𝗷𝗲𝗸. Roma 8:26 mengatakan Roh membantu kita dan Roh sendiri berdoa untuk kita.

Jadi, ketika RP mengatakan bahwa doa syafaat adalah 𝘱𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘙𝘰𝘩 𝘒𝘶𝘥𝘶𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯, saya kira rumusan ini perlu diperbaiki. Roh Kudus berdoa bagi kita, sedang kita berdoa bagi orang lain. Keduanya bernasabah, tetapi bukan hal yang sama.

𝟴. 𝗗𝗼𝗮 𝘀𝘆𝗮𝗳𝗮𝗮𝘁 𝘀𝗲𝗯𝗮𝗴𝗮𝗶 𝙞𝙣𝙩𝙚𝙧𝙘𝙚𝙨𝙨𝙞𝙤𝙣

RP kemudian menjelaskan 𝘪𝘯𝘵𝘦𝘳𝘤𝘦𝘴𝘴𝘪𝘰𝘯 sebagai orang yang berdiri di antara dua pihak yang bermasalah. Secara homiletis ini menarik. Ia lalu mengajak jemaat: “Jangan hanya mau minta didoakan, tapi berdoa juga untuk orang lain.”

Itu nasihat pastoral yang baik. Namun, lagi-lagi saya melihat bahwa nasihat pastoralnya lebih kuat daripada kegayutan eksegetisnya dengan Yohanes 14:23-29.

Kalau saya sedang mengulas Yohanes 14:23-29, saya justru akan bertanya: Apa nasabah doa syafaat dengan gawai 𝘗𝘢𝘳𝘢𝘬𝘭ē𝘵𝘰𝘴 yang disebut dalam ayat 26? Nasabah itu tidak langsung diberikan oleh teks.

𝟵. 𝗥𝗼𝗵 𝗞𝘂𝗱𝘂𝘀 𝗱𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗻𝘆𝗲𝗺𝗯𝗮𝗵𝗮𝗻

RP kemudian bergerak ke: “Roh menolong kita untuk dapat menyembah Tuhan di dalam roh dan kebenaran.”

Saya menduga ayat yang ada di belakang pernyataan ini adalah Yohanes 4:23-24. Sekali lagi ini bukan ayat dalam bacaan Yohanes 14:23-29. RP lalu mengembangkan gagasan bahwa Gereja bukan panggung, jemaat bukan penonton, semua orang adalah penyembah.

Secara pastoral bagus, tetapi secara eksegetis saya harus mengatakan: RP sedang melakukan 𝘵𝘰𝘱𝘪𝘤𝘢𝘭 𝘱𝘳𝘦𝘢𝘤𝘩𝘪𝘯𝘨 dengan menggunakan beberapa teks Yohanes dan Roma, bukan membiarkan Yohanes 14:23-29 mengendalikan seluruh khotbah.

Ini perbedaan penting.

𝟭𝟬. “𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝗲𝗻 𝘁𝗼𝗺𝗮𝘁”

Bagian “Kristen tomat: tobat kumat” jelas merupakan perangkat retoris. Ini mudah diingat dan kemungkinan besar mempan bagi pendengar.

RP ingin mengatakan bahwa penyembahan tidak berhenti pada ibadah ritual hari Minggu. Hidup sehari-hari juga merupakan ibadah. Pesannya bagus. 

Namun, lagi-lagi saya harus membedakan pesan yang bagus dengan pesan yang berasal dari teks yang sedang dikhotbahkan. Keduanya tidak selalu identik.

𝟭𝟭. 𝙍𝙤𝙝 𝙙𝙞 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙠𝙞𝙩𝙖 𝙡𝙚𝙗𝙞𝙝 𝙠𝙪𝙖𝙩 𝙙𝙖𝙧𝙞𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙧𝙤𝙝 𝙙𝙞 𝙡𝙪𝙖𝙧 𝙠𝙞𝙩𝙖

Ini juga menarik. RP mengatakan: “Roh di dalam kita lebih kuat daripada roh di luar kita.” Ia lalu menggayutkannya dengan: “Jangan takut.” Secara pastoral ini memberikan rasa aman. 

Padahal Yesus berkata: “𝘋𝘢𝘮𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘩𝘵𝘦𝘳𝘢 𝘒𝘶𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘮𝘶” dan: “𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘨𝘦𝘭𝘪𝘴𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘨𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘮𝘶.” Jadi, Yohanes 14:23-29 memberikan dasar yang berbeda untuk rasa aman yang disampaikan oleh RP.

Di sini sebenarnya RP memiliki bahan yang jauh lebih kuat di dalam teksnya sendiri untuk berbicara mengenai ketakutan dan kecemasan. Ia tidak perlu mencari banyak teks tambahan. Damai sejahtera itu sendiri adalah bagian dari pesan Yohanes 14.

𝟭𝟮. 𝗕𝗮𝗴𝗶𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗽𝗮𝗹𝗶𝗻𝗴 𝗱𝗲𝗸𝗮𝘁 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗸𝘀 𝗷𝘂𝘀𝘁𝗿𝘂 𝗺𝘂𝗻𝗰𝘂𝗹 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗲𝗹𝗮𝗻𝗴 𝗮𝗸𝗵𝗶𝗿

Menjelang akhir khotbah RP kembali kepada sesuatu yang dekat dengan Yohanes 14:23-26: “Tak ada cara lain selain dekat dengan firman Tuhan.” kemudian: “Kalau kita mencintai Tuhan, kita mengikuti firman-Nya, maka Roh Kudus itu akan bekerja di dalam diri kita.”

Ini menurut saya merupakan titik kuat dari khotbah RP, karena di sini kegayutan yang dibangun Yohanes kembali muncul: mengasihi Yesus ➡️ menaati firman ➡️ Roh Kudus mengajar dan mengingatkan. RP bahkan mengatakan: “Bagaimana kita bisa mendengarkan suara roh kalau kita tidak mengerti firman Tuhan?”

Nah, ini justru pertanyaan yang sangat penting. Ironisnya pertanyaan ini sekaligus menjadi 𝗸𝗼𝗿𝗲𝗸𝘀𝗶 𝘁𝗲𝗿𝗵𝗮𝗱𝗮𝗽 𝘀𝗲𝗯𝗮𝗴𝗶𝗮𝗻 𝗸𝗼𝗻𝘀𝘁𝗿𝘂𝗸𝘀𝗶 𝗸𝗵𝗼𝘁𝗯𝗮𝗵 𝗥𝗣 𝘀𝗲𝗻𝗱𝗶𝗿𝗶. 

Semakin kita menekankan bahwa Roh Kudus bekerja melalui firman, semakin kita harus berhati-hati terhadap pendakuan: “Roh Kudus berkata kepada saya...” tanpa pengujian melalui firman.

𝟭𝟯. 𝗠𝗲𝗻𝗶𝗹𝗮𝗶 𝗸𝗵𝗼𝘁𝗯𝗮𝗵 𝗥𝗣

Meskipun khotbah sarat dengan ayat-ayat Alkitab, tidak serta merta khotbah ini menjadi alkitabiah. Barangkali lebih tepat ayatiah. 😁

Namun, saya perlu membedakan antara (1) banyak menggunakan ayat Alkitab dan (2) membiarkan teks Alkitab menjadi pengendali khotbah. Menurut saya, khotbah RP lebih dekat kepada yang pertama.

Ia mengambil Yohanes 14:23-29 sebagai titik berangkat, kemudian bergerak ke: bahasa kasih ➡️ kasih ➡️ memberi ➡️ pengampunan ➡️ Roh Kudus ➡️ hati nurani ➡️ Roma 8:26 ➡️ doa syafaat ➡️ penyembahan ➡️ Yohanes 4 ➡️ kehidupan sehari-hari ➡️ kembali ke firman Tuhan.

Jadi, struktur khotbah RP lebih bercorak 𝘁𝗲𝗺𝗮𝘁𝗶𝗸-𝗮𝘀𝗼𝘀𝗶𝗮𝘁𝗶𝗳 ketimbang eksegetis. Satu gagasan memancing gagasan berikutnya, karena semuanya masih memiliki hubungan dengan tema Roh Kudus dan kehidupan orang percaya. 

Sekilas membuat khotbah mudah diikuti, tetapi konsekuensinya adalah 𝘁𝗲𝗸𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗸𝗵𝗮𝘀 𝗬𝗼𝗵𝗮𝗻𝗲𝘀 𝟭𝟰:𝟮𝟯-𝟮𝟵 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗸𝘂𝗿𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗲𝗿𝗹𝗶𝗵𝗮𝘁.

𝟭𝟰. 𝙈𝙚𝙣𝙜𝙖𝙩𝙪𝙧-𝙖𝙩𝙪𝙧 𝙍𝙤𝙝 𝙆𝙪𝙙𝙪𝙨

Judul ulasan 𝘛𝘪𝘵𝘪𝘬 𝘗𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨 saya adalah 𝘔𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘶𝘳-𝘢𝘵𝘶𝘳 𝘙𝘰𝘩 𝘒𝘶𝘥𝘶𝘴. Saya menulis bahwa Roh Kudus bukan monopoli pejabat gereja, pendeta, atau orang yang merasa lebih religius.

Khotbah RP mengatakan sesuatu yang sudah dekat dengan itu: “Roh Kudus tidak monopoli orang yang lebih religius...” Ini bagus.

Namun, saya hendak membawa gagasan itu satu langkah lebih dalam. Apabila Roh Kudus tidak dapat dimonopoli oleh pendeta, maka pendeta juga tidak dapat mendaku otoritas khusus atas suara Roh Kudus. Kalau Roh Kudus menurut Yohanes 14:26 mempunyai gawai mengajarkan dan mengingatkan semua yang telah dikatakan Yesus, maka pendakuan tentang suara Roh harus selalu ditempatkan dalam nasabah dengan firman Yesus.

Di sini saya menemukan ironi dalam khotbah RP. RP sudah tepat ketika mengatakan: “Bagaimana kita bisa mendengarkan suara roh kalau kita tidak mengerti firman Tuhan?” Saya bersepakat. Namun, prinsip itu juga berlaku bagi siapa pun yang mengatakan: “Roh Kudus membisikkan kepada saya...” termasuk ketika seseorang mengatakan bahwa Roh Kudus membisikkan bacaan Alkitab tertentu yang harus ia khotbahkan.

Roh Kudus tidak perlu diatur-atur. Justru karena itulah saya juga tidak boleh menggunakan nama Roh Kudus untuk mengatur-atur teks Alkitab sesuai dengan kehendak saya. Di situlah Yohanes 14:23-29 menjadi jauh lebih tajam daripada sekadar berkhotbah tentang 𝘛𝘩𝘦 𝘈𝘥𝘷𝘰𝘤𝘢𝘵𝘦.


SUDUT PANDANG APAKAH GEREJA BOLEH MENERIMA PENEGUHAN PERNIKAHAN PASANGAN YANG SUDAH MBA / SALAH LANGKAH??

SUDUT PANDANG APAKAH GEREJA BOLEH MENERIMA PENEGUHAN PERNIKAHAN PASANGAN YANG SUDAH MBA / SALAH LANGKAH?? PENGANTAR MBA, Maried ...