𝗞𝗵𝗼𝘁𝗯𝗮𝗵, 𝗥𝗲𝗻𝘂𝗻𝗴𝗮𝗻, 𝗱𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗺𝗮𝗵𝗮𝗺𝗮𝗻 𝗔𝗹𝗸𝗶𝘁𝗮𝗯
Dalam Gereja dan berbagai komunitas Kristen kita sering mendengar istilah 𝗸𝗵𝗼𝘁𝗯𝗮𝗵, 𝗿𝗲𝗻𝘂𝗻𝗴𝗮𝗻, 𝗱𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗺𝗮𝗵𝗮𝗺𝗮𝗻 𝗔𝗹𝗸𝗶𝘁𝗮𝗯 (𝗣𝗔) atau 𝘉𝘪𝘣𝘭𝘦 𝘚𝘵𝘶𝘥𝘺. Ketiganya sama-sama dapat menggunakan Alkitab sebagai bahan utama. Ketiganya juga sama-sama dapat disampaikan secara lisan di hadapan sekelompok orang. Namun, ketiganya tidaklah sama.
Meski tidak sama, ketiganya ada kemiripan tipis: ketiganya dapat memertemukan manusia dengan teks Alkitab. Perbedaannya besar terletak pada 𝘁𝘂𝗷𝘂𝗮𝗻, 𝗰𝗮𝗿𝗮 𝗺𝗲𝗺𝗲𝗿𝗹𝗮𝗸𝘂𝗸𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗸𝘀, 𝗽𝗼𝘀𝗶𝘀𝗶 𝗽𝗲𝗺𝗶𝗺𝗽𝗶𝗻, 𝘀𝗲𝗿𝘁𝗮 𝗮𝗽𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶𝗵𝗮𝗿𝗮𝗽𝗸𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗿𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗽𝗲𝗻𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗿.
Kekeliruan membedakan ketiganya dapat menghasilkan praktik yang tidak tepat. Renungan dapat berubah menjadi khotbah mini. Khotbah dapat berubah menjadi renungan panjang. Sebaliknya, PA dapat berubah menjadi khotbah yang diselingi beberapa pertanyaan. Padahal, ketiganya mempunyai 𝗴𝗮𝘄𝗮𝗶 (𝘧𝘶𝘯𝘤𝘵𝘪𝘰𝘯) yang berbeda.
𝟭. 𝗞𝗵𝗼𝘁𝗯𝗮𝗵: 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗳𝗶𝗿𝗺𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗿𝗱𝗮𝘀𝗮𝗿𝗸𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗸𝘀
Secara sederhana khotbah adalah pemberitaan firman Allah kepada jemaat berdasarkan teks Alkitab. Kata kuncinya adalah 𝗽𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮𝗮𝗻.
Dalam khotbah pengkhotbah bukan sekadar menyampaikan apa yang ia pikirkan mengenai sebuah teks. Ia bertanggung jawab membawa jemaat kepada pesan yang lahir dari teks tersebut, kemudian menyampaikannya kepada jemaat dalam konteks kehidupan mereka. Dengan demikian khotbah mempunyai hubungan yang sangat serius dengan teks.
Di sini saya tidak sedang berdebat kepentingan penerapan 𝘙𝘦𝘷𝘪𝘴𝘦𝘥 𝘊𝘰𝘮𝘮𝘰𝘯 𝘓𝘦𝘤𝘵𝘪𝘰𝘯𝘢𝘳𝘺 (RCL). Dalam tulisan ini saya sedang memercakapkan apabila 𝘀𝗲𝗯𝘂𝗮𝗵 𝘁𝗲𝗸𝘀 𝗱𝗶𝗽𝗶𝗹𝗶𝗵 𝘀𝗲𝗯𝗮𝗴𝗮𝗶 𝗯𝗮𝗰𝗮𝗮𝗻 𝗸𝗵𝗼𝘁𝗯𝗮𝗵, 𝗺𝗮𝗸𝗮 𝗸𝗵𝗼𝘁𝗯𝗮𝗵 𝗵𝗮𝗿𝘂𝘀 𝘀𝗲𝘁𝗶𝗮 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝘁𝗲𝗸𝘀 𝘁𝗲𝗿𝘀𝗲𝗯𝘂𝘁.
Kesetiaan kepada teks tidak berarti bahwa pengkhotbah harus mengulang isi teks secara harfiah. Pengkhotbah justru perlu melakukan pekerjaan penafsiran: memerhatikan konteks, struktur, genre, kata-kata penting, alur argumentasi, karakter, situasi historis, dan berbagai anasir lain yang diperlukan untuk memahami teks.
Semua itu harus membawa kita masuk lebih dalam ke dalam teks, bukan menjadikan teks sekadar batu loncatan menuju gagasan pengkhotbah. Di sinilah satu masalah yang cukup sering terjadi.
Sebuah teks dibacakan, tetapi setelah itu khotbah berbicara mengenai hampir segala sesuatu kecuali teks tersebut. Teks akhirnya hanya menjadi semacam 𝘀𝘁𝗲𝗺𝗽𝗲𝗹 𝗮𝗹𝗸𝗶𝘁𝗮𝗯𝗶𝗮𝗵 bagi gagasan yang sebenarnya sudah dimiliki pengkhotbah sebelumnya.
Misal, pengkhotbah membaca sebuah teks mengenai pengampunan. Ia lalu selama tiga puluh menit berbicara tentang psikologi hubungan, pengalaman masa kecil, kepentingan berdamai dengan diri sendiri, dan beraneka nasihat kehidupan. Semua itu mungkin berguna, tetapi pertanyaan akademis yang harus diajukan adalah: 𝗔𝗽𝗮𝗸𝗮𝗵 𝘀𝗲𝗺𝘂𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶𝗸𝗮𝘁𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗶𝘁𝘂 𝗯𝗲𝗻𝗮𝗿-𝗯𝗲𝗻𝗮𝗿 𝗺𝗲𝗿𝘂𝗽𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗵𝗮𝘀𝗶𝗹 𝗽𝗲𝗺𝗯𝗮𝗰𝗮𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗿𝗵𝗮𝗱𝗮𝗽 𝘁𝗲𝗸𝘀? Kalau jawabannya tidak, kita perlu berhati-hati. Khotbah bukan sekadar berbicara tentang sesuatu yang kebetulan dapat dicari ayat pendukungnya.
♦️𝗞𝗵𝗼𝘁𝗯𝗮𝗵 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗸𝘂𝗹𝗶𝗮𝗵 𝗔𝗹𝗸𝗶𝘁𝗮𝗯
Pada sisi lain kesetiaan kepada teks juga tidak berarti khotbah harus berubah menjadi kuliah eksegesis. Jemaat tidak datang ke kebaktian terutama untuk mendengarkan pengkhotbah memamerkan semua hasil penelitian mengenai sebuah teks. Khotbah bermatra 𝗽𝗿𝗼𝗸𝗹𝗮𝗺𝗮𝘀𝗶. Pengkhotbah menafsir teks, tetapi kemudian ia 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮𝗸𝗮𝗻 firman tersebut kepada komunitas iman.
♦️𝗞𝗵𝗼𝘁𝗯𝗮𝗵 𝗷𝘂𝗴𝗮 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗿𝗲𝗻𝘂𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗽𝗮𝗻𝗷𝗮𝗻𝗴
Sebuah teks Alkitab dibaca, lalu pengkhotbah menyampaikan berbagai refleksi mengenai kehidupan: keluarga, pekerjaan, relasi, keberhasilan, kegagalan, pergumulan, dan sebagainya. Semua yang disampaikan mungkin benar dan bahkan berguna. Namun, semakin jauh khotbah berjalan, semakin sedikit kita mendengar apa yang sebenarnya dikatakan teks. Khotbah akhirnya lebih banyak berisi renungan tentang kehidupan daripada pemberitaan firman berdasarkan teks.
Bayangkan sebuah kebaktian dengan teks Alkitab tentang sesuatu yang sama sekali tidak berbicara secara khusus mengenai keluarga. Namun, setelah teks dibaca, sebagian besar khotbah justru berisi nasihat mengenai hubungan suami-istri, pola asuh anak, komunikasi dalam keluarga, dan bagaimana membangun keluarga harmonis. Nasihat tersebut mungkin baik, tetapi kita patut bertanya: apakah kita sedang mendengarkan pemberitaan berdasarkan teks, atau sedang mendengarkan renungan keluarga yang panjang?
Apabila dibagankan gerakan khotbah: teks ➡️ interpretasi ➡️ pemberitaan ➡️ kehidupan jemaat.
Pengkhotbah bertanggung jawab terhadap teks sekaligus terhadap jemaat.
♦️𝗔𝗽𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶𝗵𝗮𝗿𝗮𝗽𝗸𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗽𝗲𝗻𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗿?
Dalam khotbah pendengar terutama diharapkan 𝗺𝗲𝗻𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗿𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮𝗮𝗻 𝗳𝗶𝗿𝗺𝗮𝗻, memahami apa yang diberitakan, dan menanggapinya dalam iman dan kehidupan. Tanggapan itu dapat berupa pertobatan, penghiburan, pengharapan, koreksi, penguatan, panggilan untuk bertindak, atau bentuk tanggapan iman lainnya.
Jadi, khotbah bukan terutama forum untuk menghasilkan banyak pertanyaan dari jemaat. Khotbah mempunyai otoritas komunikatif yang lebih kuat: “Inilah yang hendak diberitakan teks ini kepada kita.”
Tentu saja jemaat tetap boleh memertanyakan khotbah. Bahkan khotbah yang baik justru dapat membuka ruang bagi pertanyaan teologis. Namun, pertanyaan bukanlah mekanisme utama dalam khotbah.
𝟮. 𝗥𝗲𝗻𝘂𝗻𝗴𝗮𝗻: 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗮𝘄𝗮 𝗽𝗲𝗻𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗿 𝗯𝗲𝗿𝗵𝗲𝗻𝘁𝗶 𝘀𝗲𝗷𝗲𝗻𝗮𝗸 𝗱𝗶 𝗵𝗮𝗱𝗮𝗽𝗮𝗻 𝗳𝗶𝗿𝗺𝗮𝗻
Sekarang kita masuk ke istilah renungan. Yang dimaksud di sini bukan 𝘙𝘦𝘯𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘏𝘢𝘳𝘪𝘢𝘯 dalam bentuk buku atau tulisan yang dibaca setiap pagi. Yang dimaksud adalah renungan verbal. Misal, renungan yang disampaikan dalam reuni keluarga sebelum makan bersama, renungan di asrama mahasiswa sebelum aktivitas dimula, renungan dalam rapat, atau renungan dalam sebuah pertemuan komunitas.
Renungan berwatak berbeda dari khotbah. Kata kuncinya adalah 𝗿𝗲𝗳𝗹𝗲𝗸𝘀𝗶.
Renungan biasanya tidak bertujuan melakukan eksposisi teks secara serbacakup. Renungan mengajak pendengar 𝗯𝗲𝗿𝗵𝗲𝗻𝘁𝗶 𝘀𝗲𝗷𝗲𝗻𝗮𝗸, 𝗺𝗲𝗹𝗶𝗵𝗮𝘁 𝗸𝗲𝗵𝗶𝗱𝘂𝗽𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗽𝗲𝗿𝘀𝗽𝗲𝗸𝘁𝗶𝗳 𝗶𝗺𝗮𝗻, 𝗱𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗵𝘂𝗯𝘂𝗻𝗴𝗸𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗳𝗶𝗿𝗺𝗮𝗻 𝗧𝘂𝗵𝗮𝗻. Oleh karena itu renungan biasanya lebih 𝘀𝗶𝗻𝗴𝗸𝗮𝘁 dan lebih sederhana, tetapi 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗯𝗲𝗿𝗮𝗿𝘁𝗶 𝗱𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮𝗹.
Sebuah renungan lima menit dapat sangat bermakna, sedang sebuah khotbah empat puluh menit dapat sangat dangkal. Perbedaannya bukan terutama pada panjang waktunya. Perbedaannya ada pada gawai komunikasinya. Kalau khotbah terutama bersifat pemberitaan, renungan terutama bersifat 𝗿𝗲𝗳𝗹𝗲𝗸𝘀𝗶 𝗶𝗺𝗮𝗻.
Misal, dalam sebuah reuni keluarga sebelum makan bersama, seseorang membaca Filipi 2:1-4. Ia kemudian berbicara tentang kepentingan menghargai anggota keluarga, tidak mementingkan diri sendiri, dan bersyukur karena keluarga masih dapat berkumpul. Ia tidak harus menjelaskan seluruh struktur gramatikal Filipi 2. Ia juga tidak perlu membahas seluruh konteks surat Paulus kepada jemaat Filipi. Yang diperlukan adalah sebuah refleksi yang membawa teks itu berjumpa dengan kehidupan mereka yang sedang berkumpul.
♦️ 𝗥𝗲𝗻𝘂𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗺𝗽𝘂𝗻𝘆𝗮𝗶 𝗰𝗮𝗸𝗿𝗮𝘄𝗮𝗹𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝘀𝗲𝗺𝗽𝗶𝘁
Renungan biasanya memilih 𝘀𝗮𝘁𝘂 𝘁𝗶𝘁𝗶𝗸 𝗽𝗲𝗿𝗵𝗮𝘁𝗶𝗮𝗻. Oleh karena waktunya terbatas dan konteksnya sering nir-liturgis, renungan tidak perlu mengembangkan seluruh kemungkinan makna sebuah teks. Justru kekuatannya terletak pada kemampuan menemukan satu refleksi yang gayut (𝘳𝘦𝘭𝘦𝘷𝘢𝘯𝘵).
Misal: “Hari ini kita berkumpul sebagai keluarga. Surat Filipi mengingatkan kita agar tidak hanya mencari kepentingan diri sendiri. Mungkin selama ini kita terlalu sibuk memertahankan siapa yang paling benar di dalam keluarga. Pertemuan hari ini dapat menjadi kesempatan untuk belajar kembali mendengarkan.”
Itulah karakter renungan. Bukan eksposisi panjang. Bukan pula diskusi bersama. Ia adalah ajakan untuk merenungkan kehidupan dalam terang firman. Renungan tidak harus selalu dimula dengan masalah manusia.
Namun ada satu hal yang perlu diperhatikan. Renungan mudah sekali berubah menjadi nasihat moral yang ditempeli ayat Alkitab. Misal: “Jadilah orang baik. Jangan menyakiti orang lain. Kita harus saling mengasihi. Tuhan pasti memberkati.” Lalu ditambahkan sebuah ayat sebagai penutup. Itu bukanlah renungan Kristen yang baik. Renungan tetap harus mempunyai hubungan nyata dengan teks Alkitab.
Dengan demikian sekalipun hubungan antara teks dan refleksi dalam renungan tidak harus sedalam khotbah, teks tetap tidak boleh menjadi dekorasi.
♦️ 𝗝𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗺𝗯𝘂𝗮𝘁 𝗿𝗲𝗻𝘂𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗸𝗵𝗼𝘁𝗯𝗮𝗵 𝗺𝗶𝗻𝗶
Acara hanya menyediakan waktu lima menit untuk renungan, tetapi pembicara mencoba memasukkan pendahuluan, tiga poin, ilustrasi, aplikasi, kesimpulan, dan ajakan pertobatan. Hasilnya adalah khotbah yang dipaksa menjadi lima menit. Renungan tidak diperuntukkan khotbah mini.
𝟯. 𝗣𝗲𝗺𝗮𝗵𝗮𝗺𝗮𝗻 𝗔𝗹𝗸𝗶𝘁𝗮𝗯: 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗱𝗮𝘆𝗮𝗸𝗮𝗻 𝘂𝗺𝗮𝘁 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗮𝗰𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮
Berbeda lagi dengan Pemahaman Alkitab (PA). Kata kunci PA adalah: 𝗽𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗱𝗮𝘆𝗮𝗮𝗻.
PA bertujuan menolong umat 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗮𝗰𝗮, 𝗺𝗲𝗺𝗮𝗵𝗮𝗺𝗶, 𝗺𝗲𝗻𝗮𝗳𝘀𝗶𝗿𝗸𝗮𝗻, dan 𝗺𝗲𝗺𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮𝗸𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗸𝘀 𝗔𝗹𝗸𝗶𝘁𝗮𝗯 𝘀𝗲𝗰𝗮𝗿𝗮 𝗯𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝗴𝗴𝘂𝗻𝗴 𝗷𝗮𝘄𝗮𝗯. Untuk itulah PA berkarakter yang lebih dialogis. Dalam khotbah satu orang terutama berbicara kepada banyak orang, sedang dalam PA idealnya terjadi 𝗽𝗿𝗼𝘀𝗲𝘀 𝗯𝗲𝗹𝗮𝗷𝗮𝗿 𝗯𝗲𝗿𝘀𝗮𝗺𝗮.
Pemimpin PA bukan orang yang selalu mempunyai semua jawaban. Ia lebih tepat bergawai sebagai 𝗳𝗮𝘀𝗶𝗹𝗶𝘁𝗮𝘁𝗼𝗿 𝗽𝗿𝗼𝘀𝗲𝘀 𝗽𝗲𝗺𝗯𝗮𝗰𝗮𝗮𝗻. Tugasnya bukan membuat peserta berkata: “Wah, hebat sekali pengetahuan Pak/Bu tentang Alkitab.” Pemimpin PA harus membuat peserta sampai pada: “Oh, ternyata saya bisa membaca teks ini sendiri dan mengajukan pertanyaan terhadapnya.” Inilah perbedaan yang amat penting.
♦️ 𝗣𝗔 𝗵𝗮𝗿𝘂𝘀 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶 𝗿𝘂𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗮𝗴𝗶 𝗽𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮𝗮𝗻
Dalam PA pertanyaan bukan gangguan. Pertanyaan justru merupakan bagian dari proses belajar. Peserta perlu diberdayakan untuk bertanya:
▶️Mengapa tokoh ini melakukan tindakan tersebut?
▶️Mengapa petulis kitab mengatakan hal itu?
▶️Apa yang tidak dikatakan teks?
▶️Apa yang terasa aneh dalam teks ini?
▶️Apakah teks ini memang mengatakan apa yang selama ini kita anggap dikatakannya?
▶️Apa konteks sosial dan historisnya?
▶️Bagaimana struktur teks memengaruhi maknanya?
▶️Apakah kita sedang membaca sesuatu yang memang ada dalam teks, atau kita sedang memasukkan gagasan kita sendiri ke dalam teks?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu bukan tanda kurang iman. Justru kemampuan mengajukan pertanyaan merupakan bagian dari 𝗸𝗲𝗱𝗲𝘄𝗮𝘀𝗮𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗮𝗰𝗮 𝗔𝗹𝗸𝗶𝘁𝗮𝗯.
♦️ 𝗣𝗔 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗺𝗽𝗮𝘁 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝘁𝗮𝗸𝘂𝘁 𝗯𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮
Saya kira di sinilah letak satu gawai PA yang paling penting bagi Gereja. Gereja tidak hanya membutuhkan umat yang tahu jawaban. Gereja juga membutuhkan umat yang 𝘁𝗮𝗵𝘂 𝗯𝗮𝗴𝗮𝗶𝗺𝗮𝗻𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗷𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮𝗮𝗻.
Iman yang dewasa bukan iman yang tidak pernah bertanya. Sebaliknya iman yang dewasa mampu bertanya dengan serius tanpa harus kehilangan iman.
▶️ Apakah benar teks ini mengatakan demikian?
▶️ Dari mana kita memperoleh kesimpulan itu?
▶️Apakah itu memang ada dalam teks atau kita yang memasukkannya ke dalam teks?
▶️ Apakah konteksnya mendukung tafsiran tersebut?
▶️ Adakah kemungkinan tafsiran lain?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu justru dapat membuat umat semakin cermat dalam membaca Alkitab. Untuk itu PA tidak seharusnya dinilai terutama dari seberapa banyak jawaban yang berhasil diberikan pemimpinnya. Satu ukuran keberhasilan PA justru adalah: 𝗔𝗽𝗮𝗸𝗮𝗵 𝘀𝗲𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗶𝗸𝘂𝘁𝗶 𝗣𝗔, 𝗽𝗲𝘀𝗲𝗿𝘁𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗯𝗲𝗿𝗮𝗻𝗶 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗮𝗰𝗮 𝗔𝗹𝗸𝗶𝘁𝗮𝗯 𝘀𝗲𝗻𝗱𝗶𝗿𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗯𝗲𝗿𝗮𝗻𝗶 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗷𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝗴𝗴𝘂𝗻𝗴 𝗷𝗮𝘄𝗮𝗯 𝘁𝗲𝗿𝗵𝗮𝗱𝗮𝗽 𝘁𝗲𝗸𝘀? Kalau jawabannya ya, PA sudah melakukan tugas pedagogisnya.
♦️ 𝗝𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗣𝗔 𝘀𝗲𝗯𝗮𝗴𝗮𝗶 𝗸𝗵𝗼𝘁𝗯𝗮𝗵 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗺𝗮𝗸𝗮𝗶 𝘁𝗮𝗻𝗱𝗮 𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮
Ada kesalahan lain yang cukup kerap terjadi. Seorang pemimpin PA berkata: “Menurut Saudara, apa arti ayat ini?” Peserta menjawab. Pemimpin kemudian mengatakan: “Betul. Jadi sebenarnya maksud ayat ini adalah....” Ia lalu memberikan penjelasan selama dua puluh menit.
Pertanyaan tadi akhirnya hanya menjadi ornamen dialogis. Ini sebenarnya bukan PA yang sungguh-sungguh dialogis. PA yang sehat bukanlah khotbah yang sesekali memberikan kesempatan kepada peserta menjawab pertanyaan. PA justru harus memberikan ruang nyata bagi peserta untuk 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗺𝗮𝘁𝗶, 𝗺𝗲𝗺𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮𝗸𝗮𝗻, 𝗺𝗲𝗻𝗴𝘂𝘀𝘂𝗹𝗸𝗮𝗻 𝗶𝗻𝘁𝗲𝗿𝗽𝗿𝗲𝘁𝗮𝘀𝗶, 𝗺𝗲𝗻𝗴𝘂𝗷𝗶 𝗶𝗻𝘁𝗲𝗿𝗽𝗿𝗲𝘁𝗮𝘀𝗶, 𝗱𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝗸𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗿𝗯𝗲𝗱𝗮 𝗽𝗲𝗻𝗱𝗮𝗽𝗮𝘁.
Tentu bukan berarti semua tafsiran otomatis benar. PA bukan demokrasi tafsir: “Karena lima orang setuju, maka tafsiran itu pasti benar.” Ada disiplin hermeneutis. Interpretasi tetap harus diuji terhadap teks, konteks, bahasa, genre, konteks historis, dan keseluruhan kesaksian Alkitab. Proses menguji itulah yang membuat peserta belajar.
𝟰. 𝗖𝗼𝗻𝘁𝗼𝗵 𝗔𝘆𝘂𝗯 𝟭:𝟭-𝟮𝟮
Perbedaan ini dapat terlihat sangat jelas kalau kita memakai Ayub 1:1-22 sebagai contoh. Dalam sebuah 𝗸𝗵𝗼𝘁𝗯𝗮𝗵 berdasarkan Ayub 1:1-22 pengkhotbah dapat memberitakan tentang iman Ayub di tengah kehilangan. Ia dapat membawa jemaat melihat bagaimana teks menggambarkan penderitaan, kehilangan, dan tanggapan Ayub.
Tapiiii pengkhotbah harus berhati-hati. Ia tidak boleh begitu saja mengubah teks menjadi slogan: “Kalau kita tetap percaya kepada Tuhan, Tuhan pasti mengembalikan semuanya.” Ayub 1:1-22 sendiri tidak mengatakan demikian. Bahkan kitab Ayub secara keseluruhan justru sangat problematis terhadap pemikiran sederhana bahwa orang benar pasti hidup enak dan orang jahat pasti menderita.
Dalam 𝗿𝗲𝗻𝘂𝗻𝗴𝗮𝗻 Ayub 1:1-22 dapat menjadi bahan refleksi mengenai bagaimana manusia menghadapi kehilangan. Misal, seseorang berkata: “Kita semua pernah kehilangan sesuatu. Ayub mengingatkan kita bahwa dalam situasi ketika hidup tidak lagi berjalan seperti yang kita harapkan, iman tidak selalu berarti kita memiliki semua jawaban.” Itu dapat menjadi renungan yang baik.
Namun, dalam 𝗣𝗔 kita tidak buru-buru memberikan kesimpulan tersebut. Kita justru memula bertanya:
▶️Mengapa narator memerkenalkan Ayub sebagai orang yang saleh?
▶️Mengapa anak-anak Ayub disebutkan?
▶️Mengapa ada adegan surgawi atau sidang ilahi?
▶️Siapa sebenarnya “Iblis” dalam teks ini? Apakah ia sama dengan konsep “Satan” sebagaimana berkembang dalam teologi Kristen kemudian?
▶️Mengapa Allah mengizinkan Ayub diuji?
▶️Mengapa narator mengatakan bahwa Ayub tidak berbuat dosa?
▶️Apa gawai ucapan Ayub pada akhir bagian ini?
▶️Mengapa Ayub merobek jubah dan mencukur kepala?
▶️Apa arti kalimat: “𝘛𝘜𝘏𝘈𝘕 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪, 𝘛𝘜𝘏𝘈𝘕 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭, 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘶𝘫𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘯𝘢𝘮𝘢 𝘛𝘜𝘏𝘈𝘕.”
▶️Sebagai pertanyaan pamungkas: 𝗔𝗽𝗮𝗸𝗮𝗵 𝘁𝗲𝗸𝘀 𝗶𝗻𝗶 𝗯𝗲𝗻𝗮𝗿-𝗯𝗲𝗻𝗮𝗿 𝘀𝗲𝗱𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗷𝗮𝗿𝗸𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮 𝗺𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶𝗮 𝗵𝗮𝗿𝘂𝘀 𝗺𝗲𝗻𝗲𝗿𝗶𝗺𝗮 𝗽𝗲𝗻𝗱𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮𝗮𝗻 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗽𝗮𝘀𝗿𝗮𝗵?
Pertanyaan terakhir sangat penting. Dalam PA peserta tidak harus segera diberi jawaban. Mereka justru diajak 𝗯𝗲𝗿𝗴𝘂𝗺𝘂𝗹 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗸𝘀. Di situlah PA mempunyai gawai pedagogis yang sangat kuat.
𝟱. 𝗣𝗲𝗿𝗯𝗲𝗱𝗮𝗮𝗻 𝗽𝗼𝘀𝗶𝘀𝗶 𝗽𝗲𝗺𝗶𝗺𝗽𝗶𝗻
Perbedaan ketiganya dapat dilihat juga dari posisi orang yang berbicara.
▶️ 𝗗𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗸𝗵𝗼𝘁𝗯𝗮𝗵
Pengkhotbah terutama bergawai sebagai pemberita. Ia telah melakukan proses interpretasi dan sekarang memberitakan hasil pembacaannya kepada jemaat.
▶️ 𝗗𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗿𝗲𝗻𝘂𝗻𝗴𝗮𝗻
Pembicara terutama bergawai sebagai pengajak berefleksi. Ia menalikan firman dengan kehidupan konkret pendengar.
▶️ 𝗗𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗣𝗔
Pemimpin terutama bergawai sebagai fasilitator pembelajaran. Ia membantu peserta melakukan proses membaca dan memahami teks.
𝟲. 𝗣𝗲𝗿𝗯𝗲𝗱𝗮𝗮𝗻 𝗵𝘂𝗯𝘂𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗻𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗿
▶️Dalam 𝗵𝗼𝘁𝗯𝗮𝗵 pengkhotbah terutama bergawai sebagai pemberita. Ia telah melakukan proses membaca dan menafsirkan teks, lalu memberitakannya kepada jemaat. Pendengar terutama berada dalam posisi 𝗺𝗲𝗻𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗿𝗸𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮𝗽𝗶 𝗽𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮𝗮𝗻 𝗳𝗶𝗿𝗺𝗮𝗻.
▶️Dalam 𝗿𝗲𝗻𝘂𝗻𝗴𝗮𝗻 pembicara terutama bergawai sebagai pengajak berefleksi. Ia membawa firman ke dalam situasi konkret yang sedang dihadapi pendengar. Pendengar diajak 𝗯𝗲𝗿𝗵𝗲𝗻𝘁𝗶 𝘀𝗲𝗷𝗲𝗻𝗮𝗸, 𝗺𝗲𝗿𝗲𝗻𝘂𝗻𝗴𝗸𝗮𝗻, 𝗱𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗵𝗮𝘆𝗮𝘁𝗶.
▶️Dalam 𝗣𝗔 pemimpin terutama bergawai sebagai fasilitator proses belajar. Peserta tidak ditempatkan hanya sebagai penerima informasi, tetapi juga terutama sebagai 𝗽𝗲𝗺𝗯𝗮𝗰𝗮 𝘁𝗲𝗸𝘀 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗮𝗸𝘁𝗶𝗳. Mereka diajak mengamati, bertanya, mengemukakan pendapat, menguji tafsiran, bahkan berbeda pendapat.
𝟳. 𝗞𝗲𝘁𝗶𝗴𝗮𝗻𝘆𝗮 𝘀𝗮𝗺𝗮-𝘀𝗮𝗺𝗮 𝗺𝗲𝗺𝗯𝘂𝘁𝘂𝗵𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗻𝗮𝗳𝘀𝗶𝗿𝗮𝗻
Ada satu hal yang sering dilupakan. Membedakan ketiganya bukan berarti hanya khotbah yang membutuhkan studi Alkitab. Justru ketiganya membutuhkan pemahaman terhadap teks.
Perbedaannya adalah seberapa jauh dan untuk tujuan apa teks itu diolah.
▶️Pengkhotbah membutuhkan eksegesis agar pemberitaannya tidak menyimpang dari teks.
▶️Pembicara renungan membutuhkan pemahaman teks agar refleksinya tidak menjadi nasihat kosong yang hanya memakai ayat sebagai hiasan.
▶️Pemimpin PA membutuhkan kemampuan membaca teks agar ia mampu memfasilitasi diskusi tanpa menyesatkan peserta.
Jadi, ketiganya dapat dibayangkan seperti tiga jalan yang berangkat dari sumber yang sama, tetapi mempunyai tujuan berbeda.
𝗣𝗲𝗻𝗮𝗹𝗶
Jadi, khotbah, renungan, dan Pemahaman Alkitab bukanlah tiga versi dari kegiatan yang sama. Ketiganya adalah tiga “𝘀𝗽𝗲𝘀𝗶𝗲𝘀” yang berbeda, masing-masing mempunyai tujuan dan karakter sendiri.
Khotbah adalah pemberitaan firman berdasarkan teks. Renungan adalah refleksi iman yang menghubungkan firman dengan kehidupan konkret. PA adalah proses pembelajaran yang memberdayakan umat untuk membaca, memahami, dan memertanyakan teks secara bertanggung jawab. Ketiganya tentu sama-sama diperlukan.
Masalahnya muncul ketika ketiganya dilakukan dengan cara yang sama. Renungan berubah menjadi khotbah mini. Khotbah berubah menjadi renungan panjang. PA berubah menjadi khotbah yang diselingi pertanyaan. Akibatnya batas di antara ketiganya menjadi kabur. Padahal justru karena masing-masing mempunyai gawai yang berbeda, kita perlu memertahankan kekhasannya.
▶️Dalam khotbah umat perlu 𝗺𝗲𝗻𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗿 𝗽𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮𝗮𝗻 𝗳𝗶𝗿𝗺𝗮𝗻.
▶️Dalam renungan umat perlu 𝗯𝗲𝗿𝗵𝗲𝗻𝘁𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗿𝗲𝗳𝗹𝗲𝗸𝘀𝗶 𝗱𝗶 𝗵𝗮𝗱𝗮𝗽𝗮𝗻 𝗳𝗶𝗿𝗺𝗮𝗻.
▶️Dalam PA umat perlu 𝗯𝗲𝗹𝗮𝗷𝗮𝗿 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗮𝗰𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗿𝗮𝗻𝗶 𝗯𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝘁𝗲𝗸𝘀.
Dengan demikian persoalannya bukan memilih mana yang paling baik. Persoalannya adalah 𝗮𝗽𝗮𝗸𝗮𝗵 𝗸𝗶𝘁𝗮 𝘁𝗮𝗵𝘂 𝗸𝗲𝗴𝗶𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗮𝗽𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘀𝗲𝗱𝗮𝗻𝗴 𝗸𝗶𝘁𝗮 𝗹𝗮𝗸𝘂𝗸𝗮𝗻, 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝘁𝘂𝗷𝘂𝗮𝗻 𝗮𝗽𝗮 𝗸𝗲𝗴𝗶𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗶𝘁𝘂 𝗱𝗶𝗹𝗮𝗸𝘂𝗸𝗮𝗻, 𝗱𝗮𝗻 𝗮𝗽𝗮𝗸𝗮𝗵 𝗰𝗮𝗿𝗮 𝗸𝗶𝘁𝗮 𝗺𝗲𝗹𝗮𝗸𝘂𝗸𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗮𝗶 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗴𝗮𝘄𝗮𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝘁𝘂𝗷𝘂𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗿𝘀𝗲𝗯𝘂𝘁.