๐ฃ๐ฎ๐๐น๐๐ ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐๐ฎ๐ฏ๐ถ
Orang Kristen dituduh makan daging babi oleh Yahudi-Yahudi kawรฉ karena Rasul Paulus “merusak” hukum Taurat. Biasanya orang Kristen lalu sibuk membela Paulus: “Bukan Paulus! Jangan salahkan Paulus!”
Saya malah punya pertanyaan lain: Kalau memang Paulus berperan dalam perubahan sikap orang Kristen terhadap hukum makanan, ๐๐ข๐๐ฃ๐๐ฃ๐ฎ๐ ๐ธ๐ฒ๐ป๐ฎ๐ฝ๐ฎ? ๐๐บ๐ฎ๐ป๐บ๐ ๐๐ฒ๐ฟ๐ด๐ฎ๐ป๐ด๐ด๐?๐
Sekarang mari kita mengandaikan waktu berjalan linear, dari masa Sebelum Zaman Bersama (SZB) atau Sebelum Masehi (SM) lalu masuk ke masa Zaman Bersama (ZB) atau Masehi (M). Kalau kita mengandaikan kitab-kitab PL adalah SZB dan kitab-kitab PB adalah ZB, apakah kitab-kitab PB merupakan kontinuitas atau diskontinuitas PL?
Perjanjian Baru adalah ๐ธ๐ผ๐ป๐๐ถ๐ป๐๐ถ๐๐ฎ๐ ๐๐ฒ๐ธ๐ฎ๐น๐ถ๐ด๐๐ ๐ฑ๐ถ๐๐ธ๐ผ๐ป๐๐ถ๐ป๐๐ถ๐๐ฎ๐ dari Perjanjian Lama. ๐๐ผ๐ป๐๐ถ๐ป๐๐ถ๐๐ฎ๐ karena harus diakui bahwa kekristenan berakar dalam Yudaisme. Yesus, para rasul, dan jemaat mula-mula tidak muncul dari ruang kosong. PB juga merupakan ๐ฑ๐ถ๐๐ธ๐ผ๐ป๐๐ถ๐ป๐๐ถ๐๐ฎ๐ PL, karena PB ๐บ๐ฒ๐ป๐ฎ๐ณ๐๐ถ๐ฟ ๐๐น๐ฎ๐ป๐ด ๐ฃ๐ dalam terang Kristus.
Nah, soal daging babi menjadi menarik kalau dilihat dari sini. Persoalannya bukan sesederhana: ๐๐ข๐ถ๐ญ๐ถ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฉ๐ข๐ฑ๐ถ๐ด ๐๐ข๐ถ๐ณ๐ข๐ต ๐ด๐ฆ๐ฉ๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ข ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐๐ณ๐ช๐ด๐ต๐ฆ๐ฏ ๐ฃ๐ฐ๐ญ๐ฆ๐ฉ ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ข๐ฃ๐ช, karena ada satu persoalan yang sering luput: ๐ฃ๐ฎ๐๐น๐๐ ๐ฏ๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฝ๐ฒ๐ป๐ฑ๐ถ๐ฟ๐ถ ๐ธ๐ผ๐บ๐๐ป๐ถ๐๐ฎ๐ ๐๐ฟ๐ถ๐๐๐ฒ๐ป ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐๐ฎ๐บ๐ฎ.
Sebelum Paulus menjadi pengikut Kristus dan kemudian tampil sebagai penginjil, sudah ada komunitas pengikut Yesus. Paulus sendiri mengakui bahwa ia menerima dan meneruskan tradisi yang sudah ada sebelumnya (bdk. 1Kor. 15:3-5). Jadi, agak aneh kalau seluruh perubahan sikap terhadap Taurat kemudian dibebankan begitu saja kepada Paulus, seolah-olah ia datang dengan sebuah agama baru lalu membuang Taurat.
Yang terjadi jauh lebih rumit. Tradisi yang diwarisi dari Israel tetap menjadi akar kekristenan, tetapi dalam komunitas pengikut Kristus tradisi itu mengalami ๐ฝ๐ฒ๐ป๐ฎ๐ณ๐๐ถ๐ฟ๐ฎ๐ป ๐๐น๐ฎ๐ป๐ด. Paulus memang memainkan peranan penting dalam proses tersebut, terutama ketika Injil berhadapan dengan orang-orang bukan-Yahudi. Namun, ia melakukannya di tengah komunitas dan tradisi yang sudah lebih dahulu ada. Jangan lupa pula sampai Paulus mati belum ada kitab-kitab Injil kanonik seperti Injil Markus, Matius, Lukas, dan Yohanes.
Oleh karena itu pertanyaan yang lebih menarik bukan: “Siapa yang pertama mengizinkan orang Kristen makan babi?” melainkan: “Bagaimana dan mengapa komunitas Kristen mula-mula menafsir ulang Taurat?”
Kalau ternyata Paulus berperanan penting dalam proses itu, ๐๐ข๐๐ฃ๐๐ฃ๐ฎ๐ ๐ธ๐ฒ๐ป๐ฎ๐ฝ๐ฎ? ๐คฃBukankah sejak awal kita memang sedang berbicara tentang sebuah iman yang ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ฟ ๐ฝ๐ฎ๐ฑ๐ฎ ๐๐ฟ๐ฎ๐ฑ๐ถ๐๐ถ ๐๐๐ฟ๐ฎ๐ฒ๐น ๐๐ฒ๐ธ๐ฎ๐น๐ถ๐ด๐๐ ๐บ๐ฒ๐ป๐ฎ๐ณ๐๐ถ๐ฟ ๐๐น๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ฟ๐ฎ๐ฑ๐ถ๐๐ถ ๐๐ฒ๐ฟ๐๐ฒ๐ฏ๐๐?
Babi, ternyata, membawa kita kembali ke hermeneutika. ๐ท