Sabtu, 12 September 2026

Sudut Pandang istilah sinengker dalam memahami perjamuan Kudus anak, dalam sudut pandang Rudolf Otto

Sudut Pandang istilah sinengker dalam memahami perjamuan Kudus anak, dalam sudut pandang Rudolf Otto

PENGANTAR
"Yang Kudus itu bukan Perjamuannya tapi Allah yg hadir dan disembah bahkan dikenang karyaNya dalam Perjamuan Kudus atau Ekaristi, shg kita terinspirasi hidup etis dalam pengampunan dan pertobatan", menarik perkataan kolega peneliti Saya ini, membuat saya terinspirasi menulis setelah diskusi PPA di Jumat kemaren tgl 11 September 2026, tentunya tulisan inipun masih banyak kelemahannya, hanya sekedar sudut pandang. Saya lebih setuju melihat Perjamuan Kudus sebagai sesuatu yang ritual simbolis, maknanya, ke keramatan nya,  kesakralan nya, ke khusus annya, ke Kudus annya, ke suci annya, dlsb (SINENGKER = Jawa) ada di batin kita masing - masing karena itu menyangkut hubungan pribadi kita dengan Allah, sehingga ada tidaknya anak-anak dalam perjamuan Kudus seharusnyalah tidak mempengaruhi posisi batin kita. Yang menentukan posisi batin kita, apakah makna Perjamuan Kudus bagi kita, bukan ibadah Perjamuan Kudusnya, bukan nuansa dan suasana yang dibangun dalam ibadah Perjamuan Kudus, jadi kalau boleh dikata, kekeramatan dan kesakralan serta kekhususan dan kekudusan bahkan kebenaran (sinengker dalam bahasa Jawa) Perjamuan Kudus, itu posisi batin kita dalam rangka hubungan kita dengan Allah, bukan ibadahnya, bukan suasana dan nuansa Perjamuan Kudusnya. Mohon maaf, terlalu merendahkan makna Perjamuan Kudus, kalau semua itu hanya dikaitkan dg peribadatannya, ada tidaknya anak boleh dikata pesertanya, bahkan nuansa dan suasana perjamuan Kudus, menurut saya bagian vital nya adalah posisi batin kita, masak ya ..... Posisi batin kita masih dipengaruhi hal-hal di atas, dalam rangka hubungan kita dengan Allah, ini hanya pendapat atau sudut pandang saya, silakan ..... Monggo saja berpendapat lain, itu sah dan lumrah saja. Makanya, saya berpendapat itu ritual simbolis, tapi bagi yang mempercayai bahwa roti dan anggur adalah tubuh dan darah Kristus yang berubah dan itu masuk dalam tubuh dan dan darah kita sehingga Perjamuan Kudus menjadi suatu yang keramat, suci, Kudus, dan dikhususkan (sinengker = jawa), ya ..... silakan saja gpp. Tapi, buku little kids : book of eucharist karya seorang Romo Khatolik Scoot Hans, malah memandang sebaliknya. TRANSUBSTANSIASI, perubahan tubuh dan darah Kristus dalam Ekaristi / Perjamuan Kudus itu terjadi maka karya Roh Kudus terjadi dan tidak dapat dibatasi, oleh karena itu karya Roh Kudus yang tidak dapat dibatasi, mengikut sertakan anak dalam Ekaristi atau Perjamuan Kudus adalah wajar, karena Rahmat Tuhan berlaku tanpa batas usia, karya Roh Kudus tidak dapat dibatasi usia. Transubstansi / Transubstansiasi = dari bahasa Latin  trans = "berubah" + substantia = "hakikat/zat".
Artinya: Hakikat roti dan anggur berubah seluruhnya menjadi Tubuh dan Darah Kristus.  
Sedangkan "rupa luarnya" = rasa, bau, warna, bentuk roti & anggur tetap sama. Ini istilah resmi Gereja Katolik sejak Konsili Lateran IV 1215 dan ditegaskan di Konsili Trente 1545-1563. Transubstansi bukan "perubahan kimia". Roti tetap dites di lab hasilnya tetap karbohidrat.  Yang berubah adalah "hakikat metafisika"-nya. Ini misteri iman, bukan eksperimen sains. Katekismus Gereja Katolik KGK 1376: "Dengan konsekrasi roti dan anggur terjadi perubahan seluruh substansi roti menjadi substansi Tubuh Kristus Tuhan kita dan seluruh substansi anggur menjadi substansi Darah-Nya. Gereja Katolik menyebut perubahan ini dengan tepat 'transubstansi'." "Yang berubah bukan yang kita lihat dan rasa. Yang berubah adalah 'APA' itu sebenarnya di hadapan Allah." Sudut Pandang Ortodoks Timur, Metousiosis, Sama: perubahan nyata. Tapi tidak pakai filsafat Aristoteles seperti Katolik. Sudut Pandang Lutheran, Kon-substansiasi, Kristus "hadir bersama" roti & anggur. Roti tetap roti, tapi ada Tubuh Kristus juga. Sudut Pandang Reform/Protestan, Simbolis / Lambang /  Peringatan (sudut pandang saya, ritual simbolis), Roti & anggur hanya lambang untuk mengingat atau mengenang pengorbanan Kristus. Sudut Pandang Zwingli, Memorialisme, Murni peringatan atau pengenangan, tidak ada kehadiran nyata. Sehingga, kalau ada orang gereja protestan Reformir menganggap Keikut sertaan anak dalam Ekaristi/Perjamuan Kudus itu mengganggu, ke keramat nanya, ke sakral an, ke khusus an, ke suci an, dlsb (SINENGKER = Jawa)  dari Ekaristi/Perjamuan Kudus maka sebetulnyalah dia lebih katolik daripada katolik, karena dia ada di gereja protestan Reformir yg memiliki pandangan ketat tentang Ekaristi/Perjamuan Kudus yang melebihi khatolik mengenai ke keramat annya, ke sakral annya, ke khusus annya, ke Kudus annya, ke suci annya, dlsb (SINENGKER = Jawa) nya Ekaristi/Perjamuan Kudus, karena gereja khatolik yg pemahamannya sebegitunya itu, ternyata memperkenankan anak-anak ikut Ekaristi / Perjamuan Kudus. Kata benar dan Kudus itu kompleks dalam Alkitab dari bahasa Ibrani, Aram, maupun Yunani karena tidak selalu diartikan seperti dalam bahasa Indonesia, Kudus tidak selalu diartikan suci, dan benar tidak selalu diartikan tidak salah. Bisa pula diartikan, dikhususkan atau dipilih,  shg sakramen itu artinya dikuduskan dalam pemahaman dikhususkan atau dipilih, sacramentum, itu bisa diartikan tanda dan sarana ikatan Kudus dalam artian dikhusus dan terpilih, shg banyak yg keliru memadankan istilah sakramen dg sakral, keramat atau berhubungan dengan keagungan dan penghormatan, kata Jawa yang dipadankan kemudian SINENGKER, itu beda sebetulnya. Alasan kekeramatan Perjamuan Kudus inilah yang seringkali membuat orang menolak perjamuan Kudus anak, Keikut sertaan anak dalam Ekaristi atau Perjamuan kudus. Banyak teori Teologia tentang keikut sertaan anak dalam perjamuan Kudus, dan itu berkembang, ini hanya sekedar sudut pandang.
PEMAHAMAN 
"Sinengker" dalam bahasa Jawa = yang disembunyikan, dirahasiakan, dijaga, tidak untuk umum. Akar katanya sengker = pagar, pembatas. Jadi sinengker itu sesuatu yang "dipagari" karena nilainya tinggi.
Kalau kita tarik ke ranah teologi dan hubungkan dengan sakramen, kudus, benar, dan terpilih, ini analisa saya:

1. Sinengker ↔ Sakramen
Sakramen dalam teologi Kristen Katolik/Protestan artinya tanda lahiriah dari rahmat batiniah yang dilembagakan Kristus. 
Titik temunya: keduanya sama-sama "rahasia yang diwahyukan". 

- Sinengker menekankan aspek misteri yang dijaga komunitas. Tidak semua orang boleh tahu/ikut (anak gak boleh). Ada batas inisiasi. Mirip tradisi mistik Jawa: ajaran hanya diturunkan ke yang "waskita".
- Sakramen menekankan aspek misteri yang diwahyukan secara publik tapi tetap tak terselami akal. Gereja tidak menyembunyikan sakramen, tapi tetap menyebutnya "mysterium". 
- Jadi sinengker lebih "eksklusif budaya", sakramen lebih "inklusif tapi tetap misteri". Bahayanya kalau sinengker disakralkan berlebihan bisa jadi elitis, Perjamuan Kudus kalau disakralkan berlebihan tanpa posisi batin yg benar malah menghalangi bahkan menutup Rahmat Allah, karya Roh Kudus yg bagi semua manusia tanpa batas usia. Bahayanya juga kalau sakramen didemokratisasi berlebihan bisa kehilangan rasa hormat, maka saya katakan posisi kunci nya adalah posisi batin pribadi per pribadi.

2. Sinengker ↔ Kudus
Kudus = qodesh Ibrani = dipisahkan untuk Tuhan. 
Hubungannya: sesuatu disebut kudus karena "disinengkerkan" dari yang profan.

Dalam Jawa, tempat / ajimat / benda sinengker menjadi kudus bukan karena dirinya sendiri, tapi karena ada "daya" atau "wahyu" yang menjaganya. Dalam teologi Alkitab, sesuatu kudus karena Allah sendiri yang menguduskan, bukan karena pagar manusia. Jadi kritiknya: sinengker bisa jatuh ke animisme kalau fokusnya ke bendanya. Teologi kudus menggeser fokus ke Subjek: Allah yang kudus.

3. Sinengker ↔ Benar
Benar = selaras dengan realitas dan kehendak Tuhan.
Hubungannya: dalam tradisi Jawa, yang  sinengker sering dianggap "benar" karena sudah diuji leluhur dan tidak boleh diotak-atik.

- Sinengker versi budaya: "benar karena tradisi". Otoritasnya ada di masa lalu.
- Teologi: "benar karena Firman". Otoritasnya ada di Allah. 
Konfliknya muncul ketika tradisi sinengker bertentangan dengan kebenaran wahyu. Maka teologi harus membedakan: mana sinengker sebagai bentuk penghormatan, mana yang sudah jadi berhala tradisi.

4. Sinengker ↔ Terpilih
Terpilih = eklektos = dipanggil keluar dari banyak orang untuk tujuan khusus.
Ini paling dekat. Konsep sinengker pada dasarnya menciptakan kelompok "yang boleh tahu" vs "yang tidak". 

- Sinengker Jawa: terpilih berdasarkan garis keturunan, guru, tirakat. Cenderung tertutup.
- Terpilih Alkitab: terpilih untuk melayani, bukan untuk dikuasai atau menguasai. Dipilih lalu "diutus keluar" justru untuk membuka rahasia Allah, bukan mengurungnya. Efesus 3:9 "untuk menyatakan apa isi rahasia itu".
- Jadi kritik teologis: kalau sinengker hanya untuk dikagumi segelintir orang, itu bertentangan dengan logika Injil yang "rahasia yang sekarang dinyatakan" Kol 1:26.

Konsep Inti Sinengker Koreksi/Kaya Teologis
Sakramen Misteri yang dijaga Misteri yang diwahyukan untuk semua. Kudus, Dipagari karena keramat Dipisahkan karena Allah kudus. Benar, Benar karena leluhur Benar karena Firman. Terpilih, Eksklusif, dijaga Dipilih untuk diutus membuka. Jadi sinengker bisa jadi "jembatan budaya" untuk menjelaskan kekudusan dan sakramen ke orang Jawa, tetapi bisa jadi membuat kekultusan. Tapi perlu koreksi teologis: Allah dalam Kristus justru "membuka yang sinengker". Tirai Bait Allah terbelah. 
Sinengker bagus untuk menjaga hormat. Tapi iman Kristen menekankan bahwa pusat dari segala yang sinengker itu sekarang sudah dinyatakan: yaitu Kristus sendiri. Inti persoalannya: *"sinengker" sering dipakai sebagai alasan untuk melarang anak ikut Perjamuan Kudus*. Padahal di sisi lain ada desakan teologi untuk membuka meja Tuhan bagi anak.

1. Akar "Sinengker" dalam larangan anak ikut Perjamuan Kudus

Di banyak gereja di Jawa, muncul logika ini:
> "Perjamuan Kudus itu sinengker. Sakral. Anak belum ngerti, belum bisa bedakan tubuh dan darah Tuhan, nanti tidak hormat. Jadi dipagari dulu."

- Fungsi sinengker di sini = pagar ritus. Sama seperti pusaka keraton yang tidak boleh dipegang sembarangan. 
- Tujuannya baik: menjaga tremendum - rasa gentar terhadap yang Kudus. Ini mirip misterium tremendum Rudolf Otto: Allah itu "yang benar-benar Lain", menimbulkan gentar + hormat.
- Bahayanya: kalau pagar ini dimutlakkan, Perjamuan jadi eksklusif. Yang "belum dewasa iman" disingkirkan, perjamuan Kudus menjadi ajang penghakiman tentang layak tidak layak, perjamuan Kudus menjadi ajang superioritas yg merasa layak. Padahal di budaya Jawa sendiri, anak juga diajak ke selamatan, ke kenduri, karena dianggap bagian dari komunitas.

2. Benturan dengan Teologi Perjamuan Kudus

Ada 3 pilar teologi yang "menabrak" logika sinengker yang eksklusif:

A. Teologi Anugerah: Perjamuan untuk yang lemah, bukan yang "sudah layak"
Lukas 18:16 "Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku". 
Perjamuan bukan upah karena "sudah paham doktrin". Ini anugerah. Kalau kuncinya "paham dulu baru boleh", maka kita jatuh ke legalisme. 
Anak justru gambaran Kerajaan Allah: menerima dengan tangan kosong.

B. Teologi Komunitas: Tubuh Kristus itu satu
1 Kor 12: "Kamu semua adalah tubuh Kristus". 
Kalau anak dibaptis, dia sudah masuk ke dalam tubuh. Memisahkannya dari meja sama dengan mengatakan "kamu anggota tubuh, tapi tidak boleh makan di meja keluarga". 
Dalam budaya Jawa: anak ikut slametan walau belum bisa pidato. Karena identitasnya "bagian dari keluarga".

C. Teologi Misteri: "Sinengker" justru dibuka dalam Kristus
Rudolf Otto bilang yang Kudus itu mysterium tremendum et fascinans: menimbulkan gentar sekaligus daya tarik. 
Tapi dalam PB, tirai Bait Allah terbelah Mat 27:51. Yang tadinya sinengker di Ruang Mahakudus, sekarang dibuka. 
Jadi logika PB bukan "semakin suci semakin dipagari", tapi "semakin suci semakin dibagikan". Kristus memecah roti dan memberi pada murid, termasuk Yudas dan Petrus yang belum paham penuh.

3. Analisa Kritis: 2 Bahaya Ekstrem. Ekstrem "Sinengker Tertutup" Ekstrem "Terbuka Tanpa Pagar" Alasan: Anak belum katekisasi, nanti main-main Alasan: Semua boleh, biar inklusif saja. Akibat: Anak merasa "iman ini bukan untukku". Terjadi eksklusi sakramental. Akibat: Kehilangan rasa hormat. Perjamuan jadi roti biasa
Akar: Takut penodaan Akar: Takut dianggap diskriminatif
Keduanya sama-sama tidak Injili. Yang satu memagari anugerah. Yang satu meremehkan kekudusan.

4. Jalan Tengah Teologis: "Sinengker yang Diundang"

Gereja mula-mula dan banyak gereja Reformed/Ortodoks Timur punya praktik: "open table with catechesis". 

Prinsipnya:
1. Meja Perjamuan Kudus tetap sinengker → Artinya tetap diajarkan: ini Tubuh dan Darah Tuhan. Ada doa, ada pengakuan dosa, ada sikap hormat.
2. Pagarnya bukan usia, tapi pembinaan atau pendampingan → Gereja tidak tanya "umur berapa", tapi "sudah dibaptis dan sedang dibina didampingi". Anak 5 tahun yang sudah diajar "ini tubuh Yesus untukmu" sudah baptis bisa ikut. Dewasa 30 tahun yang tidak percaya/blom baptis juga tidak boleh.
3. Peran orang tua/wali, kekuatan ekklesia domestica→ Di Jawa, anak tidak pernah ke upacara sinengker sendirian, seakan lepas dari keluarga, maka ada pemahaman orang tua/wali selalu nggandeng anak. Sama. Orang tua mendampingi, membisiki, menjelaskan. Jadi sinengker dijaga melalui relasi keluarga, bukan larangan. Bagaimana setiap waktu mendekati Perjamuan Kudus, keluarga (ekklesia domestica) selalu mengadakan waktu bersama, meninggalkan dulu rutinitas bahkan liburan, untuk punya waktu berkualitas bersama keluarga menghadapi perjamuan Kudus, dimana keluarga dapat mulai saling terbuka dan ajaran serta teladan pengampunan juga pertobatan dalam ditumbuhkan dalam keluarga (ekklesia domestica) saat peristiwa akan masuk dalam meja perjamuan Kudus.

Teolog Karl Barth bilang: Sakramen itu "tanda dan meterai janji". Janji Allah untuk anak sudah dinyatakan di baptisan. Perjamuan adalah peneguhan janji itu, dua bentuk sakrament yg diakui protestan Reformir. Menunda Perjamuan = menunda peneguhan janji.

Jadi,

1. "Sinengker" valid untuk menjaga kekudusan. Kita tidak boleh meremehkan Perjamuan Kudus, tapi intinya pada posisi batin kita. 1 Kor 11:27 "dengan cara yang tidak layak" itu teguran serius.
2. Tapi "Sinengker" harus dibaca ulang lewat Salib. Pagar Perjamuan Kudus bukan untuk mengusir, tapi untuk mengundang masuk dengan hormat. Kristus sendiri yang "memagari" dengan kasih-Nya, lalu berkata: "Ambillah, makanlah".
3. Untuk anak: Kriteria utamanya bukan IQ teologi, pemahaman, usia, dlsb tapi: sudah baptis + dalam pembinaan/pendampingan orang tua/wali + bisa membedakan "ini roti biasa vs ini roti Tuhan" secara sederhana. Sama seperti anak Jawa bisa ikut selamatan karena diajar "ini sesaji untuk leluhur, kita hormat".

Jadi pertanyaannya bukan: "Apakah anak boleh ikut yang sinengker (PK)?" 
Tapi: "Bagaimana kita menggandeng anak masuk ke dalam yang sinengker (PK) itu dengan takut akan Tuhan?"

Gereja perlu memindahkan pagar dari "usia" , "layak tidak layak" ke "pembinaan dan pendampingan".

(13092026)(TUS)

Sudut Pandang istilah sinengker dalam memahami perjamuan Kudus anak, dalam sudut pandang Rudolf Otto

Sudut Pandang istilah sinengker dalam memahami perjamuan Kudus anak, dalam sudut pandang Rudolf Otto PENGANTAR "Yang Kudus ...