Selasa, 15 September 2026

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 (𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗫𝗩𝗜𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔), 𝗦𝗲𝗿𝘁𝗶𝗳𝗶𝗸𝗮𝘁, Koreksi Diri, Intropeksi Diri

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 (𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗫𝗩𝗜𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔), 𝗦𝗲𝗿𝘁𝗶𝗳𝗶𝗸𝗮𝘁, Koreksi Diri, Intropeksi Diri

PENGANTAR
Saya pernah menulis “artikel” tentang keselamatan kerja (𝘴𝘢𝘧𝘦𝘵𝘺). Ada yang memertanyakan kualifikasi saya mengenai keselamatan kerja termasuk sertifikasi. Saya menanggapi komentator dengan memintanya untuk menunjukkan kekeliruan saya agar saya benahi apabila memang keliru. Saya menulis dari apa yang saya ketahui dan apa yang saya alami. Komentator itu tidak menunjukkan kekeliruan saya selain memertanyakan kualifikasi saya.
PEMAHAMAN
Bacaan Injil Minggu ini secara ekumenis diambil dari Matius 21:23-32 yang didahului dengan Yehezkiel 18:1-4, 25-32, Mazmur 25:1-9, dan Filipi 2:1-13.

Bacaan Injil Minggu ini mengisahkan Yesus mengajar di Bait Allah. Hadirin yang ada di sana termasuk imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi. Mereka bertanya kepada Yesus yang jika dibahasakan masa kini,”Kualifikasimu apa koq berani-beraninya ngajar kami?” (ay. 23). Yesus tidak terpancing dan justru balik bertanya,”Dari mana baptisan Yohanes?” (ay. 24-25a). Tentu saja pertanyaan itu membuat imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi menjadi kikuk. Jika dijawab dari Allah, maka konsekuensinya kualifikasi Yesus sah karena Ia juga dibaptis oleh Yohanes; jika dijawab dari manusia, mereka takut kepada banyak orang yang menganggap Yohanes adalah nabi. Langkah amannya mereka menjawab seperti jawaban tersangka korupsi di Indonesia,”Saya tidak tahu.” (ay. 25b-27a).

Atas jawaban itu Yesus bercerita yang menjadi ciri khas Ia mengajar. Ada seorang memiliki dua anak, Yesus mengawali cerita. Ia mendatangi anak sulung dan berkata,”Anakku, berangkat dan bekerjalah ke kebun anggur kita.” Anak sulung menjawab,”Baik, Pak!” Ternyata anak sulung itu tidak pergi ke kebun anggur. Orang itu mendatangi anak kedua,”Tolé, berangkat dan bekerjalah ke kebun anggur kita.” Anak kedua ini langsung menjawab,”Ogah, Pak!” Tidak seberapa lama anak kedua ini menyesali jawabannya dan segera ia beranjak bekerja ke kebun anggur milik keluarganya (ay. 28-30).

Yesus kemudian mengajukan pertanyaan kepada imam-imam kepala dan tua-tua itu,”Siapakah di antara kedua anak itu yang melakukan kehendak ayah mereka?” Mereka menjawab dengan malu-malu,”Yang terakhir.” Dengan telak Yesus mengajar mereka,”Yohanes (Pembaptis) datang menunjukkan jalan kebenaran, kalian melihatnya, tetapi kalian tidak percaya.” kata Yesus,” Para pemungut cukai dan perempuan sundal akhirnya percaya kepadanya. Merekalah yang mendahului kalian masuk ke dalam Kerajaan Surga.” 

Beberapa penafsir menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan anak pertama itu adalah imam-mam kepala dan tua-tua. Mereka sangat mengetahui Kitab Suci dan hukum-hukum agama. Akan tetapi mereka tidak melakukan apa yang sudah diketahui oleh mereka. Anak kedua memerikan kaum marginal dari sistem puritas Yudaik. Mereka adalah para pemungut cukai, para pelacur, para penderita kusta yang harus disingkirkan dari komunitas, dlsb. Mereka tadinya tak tertarik mendengarkan pengajaran Yesus, tetapi kemudian tertarik dan menjalankan pengajaran Yesus. Yesus hendak mengontraskan antara situasi imam-mam kepala dan tua-tua dan kaum marginal. Ciri ajaran Yesus memang radikal.

Lewat perumpamaan tersebut Yesus hendak menyampaikan bahwa bukan orang-orang yang melakukan kewajiban hukum-hukum keagamaan yang diperkenan Allah, 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴-𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗻𝗱𝗮𝗽𝗮𝘁 𝘀𝗲𝗿𝘁𝗶𝗳𝗶𝗸𝗮𝘀𝗶 𝗮𝗵𝗹𝗶 𝗮𝗴𝗮𝗺𝗮, melainkan orang-orang yang dapat melakukan dan mewujudkan kehendak Allah dalam kehidupannya sehari-hari. Orang-orang yang diperkenan Allah itu bukan orang yang sempurna, tanpa salah, melainkan orang biasa yang masih melakukan kesalahan, lalu bertobat,  yang dimaujudkan dalam kehidupannya sehari-hari.

Kalangan pejabat gereja Protestan pada umumnya mencerap khotbah adalah mahkota liturgi. Sebagai pejabat gereja tertahbiskan (𝘰𝘳𝘥𝘢𝘪𝘯𝘦𝘥 𝘮𝘪𝘯𝘪𝘴𝘵𝘦𝘳), yang  berarti sudah bersertifikat, mereka merasa paling berhak menyampaikan khotbah atau homili, Mengatur tata kelola dan tata pelaksanaan harian gereja. Ironisnya tata kelola dan tata pelaksanaan gereja sering hamburadul.tidak karuan, tidak ada sistimatika kerja bergereja, khotbah yang dicerap sebagai mahkota liturgi berisi pengajaran yang tak pernah mengarahkan pada koreksi diri dan intropeksi diri. Ini terjadi karena mereka merasa paling berhak dan paling benar sehingga mereka malas belajar, malas membaca, malas study banding ke gereja yang lain. Khotbah hanya memarafrase bacaan dan memaksa mencari pautannya dengan dogma gereja, tata kelola dan tata pelaksana gereja ya dikerjakan seadanya, seenak udelnya sendiri, sebagai pengelola dan pelaksana gereja kok malah buat komunitas, circle, club', dlsb yg hal itu malah dikritisi oleh Alkitab .... parah.

Yang menggelikan lagi banyak pemimpin gereja mengisi khotbah mereka dan menulis renungan atau sejenisnya dengan merujuk Kitab Mazmur. Mazmur adalah tehillim. Kitab Mazmur berarti Kumpulan Nyanyian. Menurut C. S. Lewis mazmur merupakan syair dan syair yang dimaksudkan itu untuk dinyanyikan, bukan risalah doktrin, juga bukan untuk khotbah. 

Dalam kehidupan sehari-hari sebuah nyanyian atau lagu bagi seseorang akan mengingatkannya pada suatu tempat, suatu momen, atau seseorang. Sangatlah tidak nyambung para pendeta menafsir sebuah mazmur kemudian dijadikan khotbah atau tulisan renungan untuk didengar dan dibaca oleh umat. Mereka menikmati atas ketaatan umat untuk mendengar siapa yang berucap, bukan apa yang diucap. Mereka menikmati tepuk tangan dari para pendegar dan pembaca. Mereka mengalami orgasme mandiri.

Bacaan Injil Minggu ini sangat tepat untuk menjadi otokritik kepada para pejabat gereja, orang-orang bersertifikat. Apakah mereka berani melakukan otokritik? Koreksi diri dan intropeksi diri?

(27092020)(TUS)

Ya, terdapat kaitan tematis antara eksposisi Kitab Amos dan Kitab Hosea, meskipun keduanya merupakan kitab yang berbeda dan tidak menyatakan...