PENGANTAR
Pernah nggak sih kamu janji mau mulai olahraga, udah beli sepatu lari mahal, update status "new me" eh .... besoknya malah rebahan sambil pesan food online. Gimana sih kalau bisa gitu ya? Kita bahas, tapi buruan safe biar nggak hilang, ini Sabsing, Sabda Singkat, bagian dari Sudut Pandang.
Kelakuan wacana doang kayak gini ada penjelasan psikologisnya. Contohnya juga ada yaitu perumpamaan dua orang anak yang dicatat Matius 21, 28 sampai 32. Ceritanya itu ada seorang pengusaha tajir ya, perkebunan sawit. Sorry, ..... Wk .... Wk ... perkebunan anggur. Punya dua anak, disuruh kerja. Anak satunya bilang, siap bos ..... Lip service doang. Ujung-ujungnya gak berangkat, menghilang dan menghealing. Anak satunya lagi pas disuruh malah ngegas. "Gak mau ah, capek". Tapi eh, ujung-ujungnya dia nyesel dan malah kerja beneran. Anak yang bilang, "siap bos" ..... kata bos disini di teks Yunaninya, Kirie, artinya "Tuan atau Tuhan" Ini sindiran telak Yesus di Matius 7 ayat 21 "Bukan yang sering nyebut Tuhan-Tuhan yang masuk kerajaan sorga Tapi yang melakukan kehendak Bapa" Jadi jangan gampang percaya .. ya ... sama orang yang sering bilang "Tuhan" gitu ya. Nah, anak yang bilang "siap bos, laksanakan" ini Kena jebakan Batman, yaitu .... Symbolik self-complation .... Pas dia bilang iya, otaknya ngasih dopamine hit, dia ngerasa sudah jadi anak berbakti, cuman modal kata-kata, otaknya udah ngerasa sukses dan dapat validasi tapi motivasi sesungguhnya buat kerja, panas-panasan di kebun anggur, ... menguap begitu saja, dia cuman punya goal intention, niat .... tanpa tindakan nyata .... doang, gak punya implementation intention, atau rencana "if then" sebaliknya, anak yang bilang gak mau, dia gak ada ke dopamine hit menurut "Rubicon model of action" dari Goldwitzer, anak ini masuk ke fase deliberatif dia mikir, merenung, ngerasa bersalah, lalu bikin keputusan tegas yang gak bisa ditarik lagi, istilah kerennya "menyebrangi sungai Rubicon" ini menuju peristiwa pada zamannya, "kaisar Julius Caesar menyebrangi sungai Rubicon balik lagi", si anak ini gak butuh validasi di awal, dia cuma fokus sama eksekusi nyata, tindakan nyata. So, orang yang kelihatannya berantakan tapi mau berproses dan ambil tindakan nyata, tadinya nggak mau olahraga terus beneran olahraga, lebih berharga daripada si paling suci yang image-nya sempurna tapi zero eksekusi, Zero tindakan nyata. Tuhan lebih suka aksi nyata. "To walk the talk", mengerjakan keselamatannya menjadi pelaku firman daripada lip service.
(26092026)(TUS)