Senin, 14 September 2026

Sudut Pandang 𝗔𝗻𝗮𝗸, 𝗦𝗶𝗱𝗶, 𝗱𝗮𝗻 𝗠𝗲𝗷𝗮 𝗣𝗲𝗿𝗷𝗮𝗺𝘂𝗮𝗻 𝗧𝘂𝗵𝗮𝗻

Sudut Pandang 𝗔𝗻𝗮𝗸, 𝗦𝗶𝗱𝗶, 𝗱𝗮𝗻 𝗠𝗲𝗷𝗮 𝗣𝗲𝗿𝗷𝗮𝗺𝘂𝗮𝗻 𝗧𝘂𝗵𝗮𝗻

Saya membaca kegundahan Boksu Joas Adiprasetya mengenai 𝘁𝗲𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶 𝗸𝗲𝗮𝗻𝗴𝗴𝗼𝘁𝗮𝗮𝗻 𝗚𝗞𝗜. Kegundahan itu menurut saya sangat beralasan. Dalam Tata Gereja baptisan dinyatakan sebagai pintu masuk ke dalam Gereja. Namun, pada saat yang sama GKI membedakan anggota baptisan dan anggota sidi. Pembedaan itu bukan sekadar istilah administratif. Dalam praktiknya pembedaan tersebut menghasilkan konsekuensi yang sangat nyata: 𝗮𝗻𝗴𝗴𝗼𝘁𝗮 𝗯𝗮𝗽𝘁𝗶𝘀𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗹𝘂𝗺 𝗱𝗶𝗽𝗲𝗿𝗸𝗲𝗻𝗮𝗻𝗸𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗲𝗿𝗶𝗺𝗮 𝗘𝗸𝗮𝗿𝗶𝘀𝘁𝗶.

Di sinilah saya mula bertanya. Jika baptisan adalah pintu masuk ke dalam Gereja, 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗽𝗮 𝘀𝗲𝘀𝗲𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗱𝗶𝗯𝗮𝗽𝘁𝗶𝘀 𝗺𝗮𝘀𝗶𝗵 𝗵𝗮𝗿𝘂𝘀 𝗺𝗲𝗹𝗲𝘄𝗮𝘁𝗶 𝗽𝗶𝗻𝘁𝘂 𝗸𝗲𝗱𝘂𝗮 𝗯𝗲𝗿𝗻𝗮𝗺𝗮 𝘀𝗶𝗱𝗶 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗱𝗮𝗽𝗮𝘁 𝗱𝗮𝘁𝗮𝗻𝗴 𝗸𝗲 𝗺𝗲𝗷𝗮 𝗣𝗲𝗿𝗷𝗮𝗺𝘂𝗮𝗻 𝗧𝘂𝗵𝗮𝗻?

Pola yang selama ini dikenal secara umum dalam GKI adalah: 𝗕𝗮𝗽𝘁𝗶𝘀 ➡️ 𝗦𝗶𝗱𝗶 ➡️ 𝗘𝗸𝗮𝗿𝗶𝘀𝘁𝗶.

Saya kira persoalannya bukan terutama pada usia berapa seseorang harus menerima sidi. Persoalannya jauh lebih mendasar: 𝗮𝗽𝗮𝗸𝗮𝗵 𝘀𝗶𝗱𝗶 𝗺𝗲𝗺𝗮𝗻𝗴 𝘀𝗲𝗰𝗮𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶𝘀 𝗵𝗮𝗿𝘂𝘀 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝘀𝘆𝗮𝗿𝗮𝘁 𝘀𝗲𝘀𝗲𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝗲𝗿𝗶𝗺𝗮 𝗘𝗸𝗮𝗿𝗶𝘀𝘁𝗶? Padahal sidi bukan sakramen. Oleh karena itu menjadi agak ganjil apabila sesuatu yang 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗮𝗸𝗿𝗮𝗺𝗲𝗻 justru dijadikan syarat untuk menerima 𝘀𝗮𝗸𝗿𝗮𝗺𝗲𝗻.

Lebih menarik lagi kalau persoalan ini kita lihat dari 𝗹𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗘𝗸𝗮𝗿𝗶𝘀𝘁𝗶 itu sendiri. Dalam liturgi Ekaristi Protestan, khususnya dalam rangkaian liturgis yang lazim kita kenal, persiapan menuju meja Perjamuan Tuhan justru menempatkan 𝗱𝘂𝗮 𝗵𝗮𝗹 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘀𝗮𝗻𝗴𝗮𝘁 𝗸𝗼𝗻𝗸𝗿𝗲𝘁.

▶️ Kesatu, 𝗯𝗲𝗿𝗱𝗮𝗺𝗮𝗶 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝘀𝗮𝘂𝗱𝗮𝗿𝗮. Hal ini dinyatakan dalam 𝘚𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘋𝘢𝘮𝘢𝘪.
▶️ Kedua, 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗺𝗽𝘂𝗻𝗶 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗿𝘀𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗸𝗶𝘁𝗮. Hal ini dinyatakan dalam 𝘋𝘰𝘢 𝘉𝘢𝘱𝘢 𝘒𝘢𝘮𝘪: 𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪, 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘱𝘶𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘪.

Dengan demikian liturgi Ekaristi sendiri membawa kita kepada persoalan 𝗿𝗲𝗸𝗼𝗻𝘀𝗶𝗹𝗶𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗻𝗴𝗮𝗺𝗽𝘂𝗻𝗮𝗻. Di sini saya tidak menemukan dalam logika liturgi Ekaristi itu sebuah syarat: “𝗦𝘂𝗱𝗮𝗵𝗸𝗮𝗵 𝗸𝗮𝗺𝘂 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮𝘁 𝘀𝗶𝗱𝗶?” Tidak ada.

Jadi, muncul sebuah ironi yang sulit diabaikan: 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗘𝗸𝗮𝗿𝗶𝘀𝘁𝗶 𝗺𝗲𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗽𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗶𝘁𝗮 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗯𝗲𝗿𝗱𝗮𝗺𝗮𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗺𝗽𝘂𝗻𝗶, 𝘁𝗲𝘁𝗮𝗽𝗶 𝗽𝗿𝗮𝗸𝘁𝗶𝗸 𝗴𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮 𝗷𝘂𝘀𝘁𝗿𝘂 𝗱𝗮𝗽𝗮𝘁 𝗺𝗲𝗻𝘂𝘁𝘂𝗽 𝗺𝗲𝗷𝗮 𝗣𝗲𝗿𝗷𝗮𝗺𝘂𝗮𝗻 𝗧𝘂𝗵𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗴𝗶 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗹𝘂𝗺 𝘀𝗶𝗱𝗶.

Jadi, yang sebenarnya menjadi syarat datang ke meja Tuhan itu apa? 𝗕𝗲𝗿𝗱𝗮𝗺𝗮𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗺𝗽𝘂𝗻𝗶, 𝗮𝘁𝗮𝘂 𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮𝘁 𝘀𝗶𝗱𝗶?

Kalau jawabannya 𝘀𝗶𝗱𝗶, kita perlu menunjukkan dasar teologisnya, karena liturgi Ekaristi sendiri tidak mengajarkannya.

𝗕𝗮𝗴𝗮𝗶𝗺𝗮𝗻𝗮 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗮𝗻𝗮𝗸?

Saya mencoba melihat persoalan ini melalui teropong Injil Yohanes. Dalam Yohanes 6 kita menemukan kisah Yesus memberi makan lima ribu orang. Kisah ini memang tampak mirip dengan kisah pemberian makan lima ribu orang dalam Injil Sinoptik. Akan tetapi menurut saya perbedaan teologisnya justru sangat penting.

Dalam Sinoptik pemberian makan kepada orang banyak ditempatkan dalam konteks 𝗯𝗲𝗹𝗮𝘀 𝗸𝗮𝘀𝗶𝗵𝗮𝗻 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀. Orang banyak itu seperti domba tanpa gembala dan Yesus tergerak oleh belas kasihan (𝘦𝘴𝘱𝘭𝘢𝘯𝘤𝘩𝘯𝘪𝘴𝘵𝘩ē). 

Yohanes menyajikan sesuatu yang berbeda. Yesus 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗻𝗴𝗮𝗷𝗮 𝗺𝗲𝗻𝘆𝗲𝗹𝗲𝗻𝗴𝗴𝗮𝗿𝗮𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗯𝘂𝗮𝗵 𝗽𝗲𝗿𝗷𝗮𝗺𝘂𝗮𝗻 𝗺𝗮𝗸𝗮𝗻. Perhatikan cara Yohanes menceritakannya: 

▶️ Yesus mengambil roti, mengucap syukur, lalu 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗮𝗴𝗶𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗻𝗱𝗶𝗿𝗶 roti itu kepada orang-orang yang duduk. Ia juga membagikan ikan-ikan itu.
▶️ Yesus tidak menyuruh murid-murid membagikan makanan. 
▶️ Yesus sendiri menjadi tuan rumah dan pelaku utama perjamuan itu.

Untuk itu saya berani menyebut peristiwa tersebut sebagai 𝗣𝗲𝗿𝗷𝗮𝗺𝘂𝗮𝗻 𝗧𝘂𝗵𝗮𝗻 dalam kerangka teologi Injil Yohanes. Tindakan Yesus pada ayat 11 tidak berhenti sebagai tindakan memberi makan. Tindakan itu justru memersiapkan apa yang kemudian dikatakan Yesus: “𝘈𝘬𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘳𝘰𝘵𝘪 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱.” (Yoh. 6:48) dan: “𝘉𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘳𝘰𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪, 𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢-𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢.” (Yoh. 6:50–51)

Yohanes 6:51–58 kemudian membawa refleksi itu semakin jauh. Makan roti tidak lagi hanya berbicara mengenai mengatasi rasa lapar. Tema makan dan minum menjadi bagian dari pewartaan mengenai Yesus sendiri sebagai sumber kehidupan.

Jadi, dalam Injil Yohanes pemberian makan lima ribu orang bukan sekadar kisah mukjizat untuk menunjukkan bahwa Yesus mampu menyediakan makanan. 
▶️ Yesus menyelenggarakan perjamuan. Yesus adalah 𝘁𝘂𝗮𝗻 𝗿𝘂𝗺𝗮𝗵. 
▶️ Yesus sendiri membagikan makanan. 
▶️ Makanan itu kemudian ditafsirkan melalui diri-Nya sebagai Roti Kehidupan.

Ada satu detil kecil yang justru menurut saya sangat menarik. Lima roti dan dua ikan itu berasal dari 𝘀𝗲𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗮𝗻𝗮𝗸 (Yoh. 6:9). Seorang anak berada di tengah peristiwa yang saya baca sebagai Perjamuan Tuhan. Anak itu tidak ditanya apakah ia sudah menyelesaikan katekisasi. Tidak ditanya apakah ia sudah menerima pengakuan percaya. Tidak ditanya apakah ia sudah angkat sidi. Ia ada di sana. Yesus menerima apa yang dibawa anak itu. 

Bandingkan dengan kisah pemberian makan dalam Injil Sinoptik. Di sana lima roti dan dua ikan berada pada pihak para murid. Dalam Yohanes justru seorang anak yang memiliki lima roti dan dua ikan itu. Detil kecil ini jangan dianggap kebetulan. Yohanes sedang membangun narasinya sendiri: anak itu hadir di tengah perjamuan yang diselenggarakan Yesus, dan apa yang ada padanya diterima serta digunakan oleh Yesus untuk memberi makan orang banyak.

Jadi, ketika kita berbicara tentang anak dalam hubungan dengan Perjamuan Tuhan, Injil Yohanes memberikan detil yang tidak diberikan oleh Sinoptik: seorang anak berada di dalam peristiwa makan yang diselenggarakan dan dilakukan oleh Yesus sendiri. Ironisnya, justru dalam Gereja kita anak yang sudah dibaptis harus menunggu mengangkat sidi sebelum diperbolehkan datang ke meja Perjamuan Tuhan.

Tentu saya tidak sedang mengatakan bahwa Yohanes 6 dapat begitu saja disamakan secara historis dengan praktik Ekaristi Gereja kemudian. Itu akan menjadi penyederhanaan eksegetis. Yang mau saya katakan adalah bahwa 𝘁𝗲𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶 𝗬𝗼𝗵𝗮𝗻𝗲𝘀 𝘀𝗲𝗻𝗱𝗶𝗿𝗶 𝗺𝗲𝗻𝗲𝗺𝗽𝗮𝘁𝗸𝗮𝗻 𝘁𝗶𝗻𝗱𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶 𝗺𝗮𝗸𝗮𝗻, 𝗺𝗮𝗸𝗮𝗻, 𝗿𝗼𝘁𝗶, 𝗱𝗮𝗻 𝗸𝗲𝗵𝗶𝗱𝘂𝗽𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝘀𝗮𝘁𝘂 𝗿𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮𝗶𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶𝘀 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘀𝗮𝗻𝗴𝗮𝘁 𝗸𝘂𝗮𝘁.

Ada hal lain yang tidak kalah penting. Dalam Injil Yohanes pada malam sebelum penyaliban, tidak ada kisah institusi Ekaristi seperti yang kita temukan dalam Injil Sinoptik. Yohanes 13–17 justru membawa kita kepada pembasuhan kaki, perintah baru, wejangan-wejangan Yesus, janji mengenai Roh Kudus, dan doa Yesus. Yohanes tidak menempatkan institusi Ekaristi pada malam terakhir. Tema roti dan makan justru memeroleh tempat yang sangat penting dalam Yohanes 6.

Oleh karena itu kalau kita hendak berbicara tentang 𝘀𝗶𝗮𝗽𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗱𝗮𝘁𝗮𝗻𝗴 𝗸𝗲 𝗺𝗲𝗷𝗮 𝗣𝗲𝗿𝗷𝗮𝗺𝘂𝗮𝗻 𝗧𝘂𝗵𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝘂𝗿𝘂𝘁 𝘁𝗲𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶 𝗬𝗼𝗵𝗮𝗻𝗲𝘀, saya kira Yohanes 6 tidak boleh begitu saja dilangkahi.

𝗕𝗮𝗴𝗮𝗶𝗺𝗮𝗻𝗮 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝘀𝗶𝗱𝗶?

Di sini perbandingan dengan tradisi Katolik juga menjadi menarik. Dalam tradisi Katolik dikenal tiga sakramen inisiasi: 𝗕𝗮𝗽𝘁𝗶𝘀, 𝗞𝗿𝗶𝘀𝗺𝗮, 𝗱𝗮𝗻 𝗘𝗸𝗮𝗿𝗶𝘀𝘁𝗶. Secara ideal ketiganya merupakan satu kesatuan inisiasi. Namun, dalam praktik sejarah dan pastoral urutannya tidak selalu linear.

Ada orang yang dibaptis ketika masih bayi, kemudian menerima Ekaristi, dan baru menerima Krisma bertahun-tahun kemudian. Bahkan bukan hal yang aneh kita menemukan banyak orang yang sudah berusia lanjut tetapi belum menerima Krisma.

Akan tetapi orang-orang tersebut tidak kemudian dinyatakan: “Kamu belum menjadi anggota Gereja Katolik sepenuhnya.” Yang dikatakan adalah bahwa 𝘀𝗮𝗸𝗿𝗮𝗺𝗲𝗻 𝗶𝗻𝗶𝘀𝗶𝗮𝘀𝗶𝗻𝘆𝗮 𝗯𝗲𝗹𝘂𝗺 𝘀𝗲𝗹𝗲𝘀𝗮𝗶, bukan bahwa keanggotaannya belum penuh.

Ini pembedaan yang sangat penting: 𝗜𝗻𝗶𝘀𝗶𝗮𝘀𝗶 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗹𝘂𝗺 𝘀𝗲𝗹𝗲𝘀𝗮𝗶 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝘀𝗮𝗺𝗮 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗸𝗲𝗮𝗻𝗴𝗴𝗼𝘁𝗮𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗹𝘂𝗺 𝗽𝗲𝗻𝘂𝗵.

Kembali pada kegundahan Boksu Joas mengenai keanggotaan GKI, jangan-jangan persoalan kita (GKI) bukan bagaimana membuat anak lebih cepat angkat sidi supaya lebih cepat boleh menerima Ekaristi. Jangan-jangan persoalannya justru adalah 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗽𝗮 𝘀𝗶𝗱𝗶 𝗵𝗮𝗿𝘂𝘀 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗯𝗮𝘁𝗮𝘀 𝗮𝗻𝘁𝗮𝗿𝗮 𝗯𝗮𝗽𝘁𝗶𝘀𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗷𝗮 𝗣𝗲𝗿𝗷𝗮𝗺𝘂𝗮𝗻 𝗧𝘂𝗵𝗮𝗻.

Kalau baptisan sudah memasukkan seseorang ke dalam Gereja, kalau sidi bukan sakramen, kalau liturgi Ekaristi sendiri tidak mengajukan syarat sidi, dan kalau Injil Yohanes memberikan kepada kita gambaran tentang Yesus yang menyelenggarakan perjamuan dengan seorang anak berada di dalam komunitas yang menerima makanan dari tangan-Nya, maka kita mempunyai alasan yang cukup kuat untuk mengajukan pertanyaan yang sangat sederhana: 𝗠𝗲𝗻𝗴𝗮𝗽𝗮 𝗮𝗻𝗮𝗸 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗱𝗶𝗯𝗮𝗽𝘁𝗶𝘀 𝗵𝗮𝗿𝘂𝘀 𝗺𝗲𝗻𝘂𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮𝘁 𝘀𝗶𝗱𝗶 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗱𝗮𝘁𝗮𝗻𝗴 𝗸𝗲 𝗺𝗲𝗷𝗮 𝗣𝗲𝗿𝗷𝗮𝗺𝘂𝗮𝗻 𝗧𝘂𝗵𝗮𝗻?

Saya kira pertanyaan ini tidak boleh dijawab hanya dengan: “Memang tradisi GKI begitu.” Tradisi gereja harus selalu bersedia diperiksa kembali oleh 𝗔𝗹𝗸𝗶𝘁𝗮𝗯, 𝘁𝗲𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶 𝘀𝗮𝗸𝗿𝗮𝗺𝗲𝗻, 𝗲𝗸𝗹𝗲𝘀𝗶𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶, 𝗱𝗮𝗻 𝗹𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶.

Pada akhirnya persoalannya bukan sekadar: “Kapan anak harus angkat sidi?” Persoalan yang jauh lebih mendasar adalah: “𝗦𝗶𝗮𝗽𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗱𝗮𝘁𝗮𝗻𝗴 𝗸𝗲 𝗺𝗲𝗷𝗮 𝗣𝗲𝗿𝗷𝗮𝗺𝘂𝗮𝗻 𝗧𝘂𝗵𝗮𝗻?”

Jangan-jangan selama ini kita terlalu sibuk menentukan siapa yang belum boleh makan, sampai lupa bertanya: 𝘀𝗶𝗮𝗽𝗮 𝘀𝗲𝗯𝗲𝗻𝗮𝗿𝗻𝘆𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗺𝗯𝘂𝗸𝗮 𝗺𝗲𝗷𝗮 𝗶𝘁𝘂?

Kalau kita percaya bahwa yang membuka meja adalah Tuhan sendiri, saya kira kita perlu sangat berhati-hati ketika Gereja membuat pagar yang tidak dibuat oleh-Nya.

(15092026)(TUS)

SUDUT PANDANG EKSPOSISI KRITIS SURAT YAKOBUS DENGAN TAJUK : LIDAH, HARTA, & MEMBEDAKAN HIKMAT, KOMUNITAS DALAM GEREJA, DOA PEMULIHAN

SUDUT PANDANG EKSPOSISI KRITIS SURAT YAKOBUS DENGAN TAJUK :   LIDAH, HARTA, & MEMBEDAKAN HIKMAT,  KOMUNITAS DALAM GEREJA, DOA PEMULIHAN ...