KETIKA PERJAMUAN KUDUS DIUBAH MENJADI DOKTRIN YANG TIDAK DIAJARKAN ALKITAB
Saudara-saudara, persoalannya bukan apakah orang Kristen harus menghormati Perjamuan Kudus. Tentu saja harus.
Persoalannya adalah: apa sebenarnya yang Yesus ajarkan ketika Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya, lalu berkata, “Inilah tubuh-Ku”?
Apakah Yesus sedang mengajarkan bahwa roti tersebut secara hakikat berubah menjadi tubuh fisik-Nya?
Ataukah Ia sedang memberikan sebuah tanda perjanjian yang menunjuk kepada pengorbanan-Nya di kayu salib?
Di sinilah kita perlu kembali kepada Alkitab, bukan kepada spekulasi filsafat abad pertengahan.
Yesus tetap berada di hadapan para murid ketika Ia mengucapkan perkataan itu. Ia memegang roti dengan tangan-Nya sendiri. Karena itu, sangat wajar apabila perkataan “Inilah tubuh-Ku” dipahami dalam bahasa tanda dan perwakilan, sebagaimana Yesus juga berkata:
«“Akulah pintu.”
“Akulah pokok anggur.”
“Kamu adalah garam dunia.”»
Tidak ada seorang pun yang memahami perkataan tersebut secara biologis.
Yesus bukan pintu kayu.
Yesus bukan tanaman anggur.
Dan “garam dunia” bukan berarti manusia berubah menjadi kristal garam.
Bahasa Alkitab berkali-kali menggunakan tanda, simbol, dan perumpamaan untuk menyampaikan kebenaran rohani.
Lalu mengapa ketika sampai pada roti Perjamuan Kudus, tiba-tiba bahasa tersebut harus dipaksa menjadi perubahan hakikat yang tidak dapat dilihat, disentuh, dicium, ataupun dibuktikan secara fisik?
Di sinilah persoalannya dimulai.
Konsep transubstansiasi kemudian dirumuskan dengan menggunakan kategori filsafat seperti substansi dan aksiden. Roti dikatakan tidak lagi menjadi roti dalam hakikatnya, sementara rasa, bentuk, warna, dan sifat fisiknya tetap seperti roti.
Dengan kata lain:
yang terlihat tetap roti,
yang terasa tetap roti,
yang berbau tetap roti,
yang secara fisik tetap menunjukkan sifat roti,
tetapi secara metafisik dikatakan telah berubah menjadi tubuh Kristus.
Pertanyaannya sederhana:
Di manakah Alkitab mengajarkan mekanisme teologis seperti itu?
Jangan sampai sebuah ajaran yang tidak dijelaskan secara eksplisit oleh para rasul justru diperlakukan seolah-olah merupakan inti iman yang wajib diterima tanpa pertanyaan.
Yesus berkata:
«“Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.”
— Lukas 22:19»
Paulus pun ketika mengajarkan Perjamuan Kudus kepada jemaat Korintus menekankan bahwa roti dan cawan tersebut dilakukan untuk “mengingat” Kristus dan memberitakan kematian-Nya sampai Ia datang (1 Korintus 11:23–26).
Fokusnya adalah Kristus yang telah mati dan bangkit.
Bukan mencari Kristus secara fisik di dalam sebuah benda.
Dan ada satu hal yang jauh lebih penting.
Salib Kristus adalah pengorbanan yang sempurna dan satu kali untuk selama-lamanya.
Ibrani 10:10–14 menjelaskan bahwa Kristus mempersembahkan diri-Nya satu kali untuk selama-lamanya. Ia tidak perlu mengulang pengorbanan-Nya setiap kali umat berkumpul.
Kristus tidak perlu disalibkan kembali.
Kristus tidak perlu dikorbankan kembali.
Kristus sudah berkata:
«“Sudah selesai.”
— Yohanes 19:30»
Karena itu, iman Kristen tidak berdiri di atas kebutuhan untuk menemukan tubuh Kristus secara material di dalam roti, melainkan berdiri di atas Kristus yang telah mati, bangkit, naik ke surga, dan akan datang kembali.
Lalu bagaimana dengan Yohanes 6 yang berbicara tentang makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya?
Apakah Yesus sedang mengajarkan manusia untuk memakan tubuh-Nya secara biologis?
Menariknya, Yesus sendiri memberikan penjelasan:
«“Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.”
— Yohanes 6:63»
Jadi jangan mengambil satu ayat, lalu mengabaikan penjelasan Yesus sendiri.
Perkataan Kristus harus dibaca dalam keseluruhan kesaksian Kitab Suci.
Yang kita makan dalam iman bukanlah tubuh manusia seperti makanan biologis. Kita menerima Kristus dengan iman. Kita bersekutu dengan Dia. Kita mengingat karya salib-Nya. Kita memberitakan kematian dan kebangkitan-Nya.
Itulah makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar memperdebatkan perubahan “zat” yang tidak dapat diamati.
Dan di sinilah kritik terhadap berbagai unsur keagamaan yang berkembang kemudian perlu disampaikan dengan jujur.
Ketika sebuah tanda akhirnya diperlakukan seperti objek yang harus disembah, kita harus berhenti sejenak dan bertanya:
Apakah kita masih menyembah Kristus yang hidup, atau mulai memusatkan perhatian kepada benda yang dianggap membawa kehadiran-Nya secara material?
Yesus tidak pernah berkata kepada murid-murid:
“Simpan roti ini dalam wadah emas, arak keliling kota, kemudian berlututlah menyembahnya.”
Perintah-Nya sederhana:
“Ambillah, makanlah.”
Perjamuan Kudus diberikan untuk mengarahkan hati kepada Kristus, bukan untuk mengalihkan penyembahan kepada benda.
Karena itu, bagi iman Protestan yang berpegang pada Sola Scriptura, pertanyaannya bukan:
“Apakah tradisi gereja mengatakan demikian?”
Pertanyaannya adalah:
“Di mana Alkitab mengajarkan demikian?”
Kalau sebuah doktrin membutuhkan penjelasan filsafat yang sangat panjang agar terlihat masuk akal, sementara teks Alkitab sendiri tidak pernah menjelaskan mekanisme tersebut, maka doktrin itu layak diuji kembali.
Jangan takut menguji tradisi.
Jangan takut bertanya.
Jangan takut membuka kembali Alkitab.
Sebab iman Kristen bukan dibangun di atas mitos, legenda, ataupun “sihir teologis”, melainkan pada fakta bahwa Yesus Kristus sungguh mati di kayu salib, sungguh bangkit dari kematian, dan sungguh menjadi satu-satunya jalan keselamatan.
Perjamuan Kudus seharusnya membawa kita kembali kepada salib.
Bukan membuat kita sibuk menyembah benda.
Kristus adalah pusat iman.
Kristus adalah korban yang sempurna.
Kristus adalah Tuhan yang hidup.
Dan hanya Dia yang layak menerima penyembahan.
Sola Scriptura.
Sola Gratia.
Sola Fide.
Solus Christus.
Soli Deo Gloria.